Preman Bersusuk Ular Bertobat | Budi Sihombing

Kurang lebih ada 100 dukun yang pernah dijumpai Budi sehingga dia harus merawat setiap pemberian yang “guru-guru” itu berikan. Ada seorang dukun memberikannya dua tongkat kecil berkepala ular yang harus dikenakan ke tubuhnya, sehingga ketika datang serangan, Budi tidak bisa kena.

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).

Kesaksian Budi Sihombing (Bang Ucok). Preman bersusuk ular tobat ikut Tuhan Yesus. Shalom, begini kisahnya :

Sejak masa kanak-kanaknya, Budi Sihombing sudah terbiasa dengan perkelahian. Dia memalak teman-temannya demi mendapatkan jatah uang jajan. “Sejak saya kecil sudah dikenal, saya punya ambisi untuk dikenal lagi lebih luas. Itu yang membuat saya pergi mencari dukun ke dukun yang lain sehingga saya punya kekuatan yang luar biasa yang orang lain tidak miliki.” tutur Budi.

Budi : “Semenjak saya masuk sekolah saya sudah terbiasa dengan perkelahian. Akhirnya saya dikenal sebagai ketua pemalak / pemeras uang begitu ya.”

Adegan :

Di sebuah bar … tahun 1991

Teman Budi : “Hai Ucok kalau kamu pengen pegang daerah ini, tidak cukup kalau cuma cuma pegang duit saja sekarang ini. Mereka itu adalah orang-orang hebat yang punya pegangan diri.”

Budi (Ucok) : “Oke. Lu liat saja nanti siapa yang lebih kuat.”

Budi : “Semenjak kecil saya pengin dikenal lebih luas lagi. Itu yang mendorong saya untuk pergi dan pergi … mencari dukun dari dukun yang satu ke dukun yang lain, sehingga kekuatan saya itu menjadi kekuatan yang benar-benar luar biasa yang orang lain tidak miliki.”

79_Kesaksian Budi Sihombing_KSB_JPG

Kurang lebih ada 100 dukun yang pernah dijumpai Budi sehingga dia harus merawat setiap pemberian yang “guru-guru” itu berikan. Ada seorang dukun memberikannya dua tongkat kecil yang harus dikenakan ke tubuhnya, sehingga ketika datang serangan, Budi tidak bisa kena.

Budi : “Seperti ada tongkat kecil yaitu ada kembar ya … dengan kepala ular. Lalu itu harus saya kenakan ke daging saya. Ketika nanti ada serangan berupa tusukan atau apa itu, maka tidak mempan.”

Ingin menjadi penguasa di Batam tahun 1991, dia harus mengalahkan penguasa di sana. Jadi suatu hari ketika dia melakukan aksinya, dia mengambil botol yang dipecahkan lalu mulai menghajar pemimpin geng tersebut. “Ketika saya melihat parang atau senjata, justru dorongan begitu kuat untuk mengejar bukan mundur, untuk mengejar orang yang memegang senjata itu. Saya seperti ingin menghisap darahnya.

Budi : “Waktu itu saya merasa hebat. Saya tidak menggunakan kekuatan tenaga saya, tetapi menggunakan anak buah saya untuk menjaga lokalisasi. Dan saya hanya melakukan … biasalah kalau seorang preman itu ya … heppy … heppy …”

Sejak menjadi penguasa, Budi mempekerjakan teman-temannya untuk mengawasi tempat tersebut, dia pun punya banyak uang untuk dihambur-hamburkan. Namun, dampak lain dari menggunakan ilmu, tubuh Budi panas dingin tidak karuan, dia selalu ingin mencari lawan berkelahi. “Melihat darah yang keluar itu, itu suatu kepuasan, itu yang kita cari, itu yang kita butuhkan, keinginan yang terpuaskan.” ujarnya.

Di dalam rumah, perbuatan Budi pun tak kalah sadisnya. Dia berani membawa perempuan lain ke dalam rumah, istrinya yang bernama Sunita diakuinya sebagai pembantu. “Perempuan itu disuruh mandi, tukar baju di kamar kita, saya sediakan lagi makan mereka,” ujar Sunita istri Budi, .”Mereka tidur lagi di situ, saya tidur di ruang tamu. Air mata ini sudah tidak bisa lagi keluar, udah kering ya, sudah sering menangis sehingga tidak bisa lagi menangis,” demikian penuturan Sunita isteri Budi..

Perbuatan Budi terhadap wanita lain pun biadab. Dia menyiksa mereka demi mendapatkan kesenangan. “Kita aniaya dulu, baru kita melakukan seks. Di hati kecil saya sudah tidak ada rasa kasihan, di pikiran saya sudah tidak ada akal sehat. Jadi dampak dari ilmu yang saya pakai itu, tubuh ini dipakai untuk merusak orang.” jelas Budi alias Bang Ucok.

Sudah hal yang biasa, jika ada kelompok-kelompok lain yang ingin merebut kekuasaannya, maka perkelahian pun tak dapat dihindari. “Bekas anak buah saya sendiri, yang melihat kekuasaan itu, dia menginginkannya sehingga dia pun ingin membunuh saya,” ujar Budi. Maka anak buahnya pun bersekongkol dengan lawannya.

Namun lama-kelamaan bosan melanda Budi. “Bosannya ngurusin orang setiap hari. Kalau lagi makan pun kita harus buru-buru keluar. Jadi saya jenuh dengan masalah-masalah yang harus saya hadapi tiap hari.” Kata Budi.

Temannya yang tahu akan hal itu mengatakan bahwa Budi bisa mati jika melepaskan ilmunya, karena dia punya banyak musuh. “Jadi, saya tidak bisa keluar dari situ gitu,” ujarnya.

Suatu kesaksian di televisi membuat hatinya tergoncang, namun ada pula suatu perasaan untuk mematikan TV tersebut, sehingga pergumulan Budi terlihat dari hidup mati hidup matinya TV. “Di pikiran saya saat itu, benarkah preman seperti saya bisa diterima gitu?”

Sejak memutuskan ingin berhenti, Budi dihantui rasa takut mati di dalam mimpi-mimpinya. Dia merasa dibelit oleh seekor ular dan ada suara-suara yang hendak membunuhnya. “Saya ingat tempat itu gelap sekali, kosong hampa.”

“Saya merasakan ketakutan yang luar biasa, saya tidak bisa membaringkan tubuh atau menutup mata ya. Dengan mimpi yang seram luar biasa, akhirnya saya menjadi depresi,” ujar Budi.

Sunita : “Disudut-sudut matanya seperti mencari-cari begitu. Kayak seperti orang ketakutan. ‘Jangan-jangan deket … jangan-jangan deket … katanya begitu…’ Tengah malam dia menjerit. Setiap malam itu. Didalam pikiran saya bertanya kenapa dia seperti itu. Saya kasihan … kok begini suami saya. Aku bilang ‘Aku tidak mau kayak gini … ‘ Saya bilang ‘Aku sayang sama kamu … bang’ … ‘Kamu jangan takut …’ saya bilang begitu. ”

Tengah malam seringkali Budi menjerit. Bahkan di hari ketika penyerahan anak, dia merasa suara itu masih terus berbicara. Akhirnya, dia meraih mic yang dipegang pendeta dan mengeluarkan uneg-unegnya. Dia ingin dibebaskan namun tak tahu caranya. Pendeta tersebut mengatakan dia harus berpuasa tiga hari lamanya.

Pendeta : “Untuk melakukan peperangan rohani ini kami harus berpuasa selama 3 hari terlebih dahulu.”

Setelah itu, mereka melakukan pelepasan. Beberapa jemaat dan pendeta datang dan mendoakannya.

Budi : “Saya bilang saya siap … bagitu … Saya mulai menjatuhkan air mata. Pendeta dan beberapa jemaat semua menaikkan pujian.”

Sunita : “Langsung minyak urapan itu disiramkan ke dia. ‘Dalam nama Yesus’. Langsung dia melawan, memberontak … terus … terus … ”

Ketika itu terjadi, Budi memberontak karena serasa ada api dalam tubuhnya. “Dia seperti desis ular itu, keluar dari pori-porinya itu keringat, lendir semuanya. Baunya begitu luar biasa, sampai ga tahan orang nyiumnya.” Demikian penuturan Sunita .. istri Budi.

Budi : “Kemudian saya pegang kepala ini kuat-kuat, rasanya seperti mau copot begitu. Pada saat diucapkan ‘Darah Yesus …’ seketika itu terasa kepala saya seperti terpisah …. begitu. Dan setelah ada kelepasan itu saya tidak pernah lagi bermimpi. Saya tidak merasa ketakutan dan ngeri lagi. Saya benar-benar terlepas.”

Setelah lepas dari semuanya, Budi tidak pernah lagi bermimpi aneh, tak pernah lagi merasa ngeri. “Memang saya akui tidak sedikit juga persoalan yang saya hadapi, tapi ketika terus mendekatkan diri kepada Tuhan, yang saya dapatkan adalah ketenangan di dalam Tuhan.”

Kini Budi mendapatkan kedamaian dan ketenangan jiwa. Budi pun sekarang mendapat pekerjaan.

Budi : “Pertolongan pertama yang saya dapatkan dari Tuhan adalah kedamaian, ketenangan jiwa. Inilah yang dari dulu saya cari. Nah, kedamaian dan ketenangan jiwa inilah yang membuat saya mulai berubah pikiran terhadap Tuhan yang selama ini saya tidak kenal. Ternyata inilah yang namanya Yesus itu yang memberikan saya hidup yang baru.”

Sunita : “Perubahannya dia itu sayang dan mesra. Kalau kemana-mana mau merangkul. Ndak dilepas … malah saya yang malu. ‘Jangan ditengok orang malu …’ Senyum … ketawa … gitu … sayang sama anak-anak.”

Sumber Kesaksian : Budi Sihombing

http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/131205112027/limit/0/Kisah-Nyata-Preman-Bersusuk-Ular.html

Kisah nyata preman bersusuk ular

Teladan Yesus membuatnya belajar kasih dan itulah yang dia lakukan kepada istrinya. Bahkan, dia membuka pintu rumahnya yang sederhana bagi anak-anak yang lahir karena prostitusi. Seumur hidupnya, janji Budi, akan terus bersama Tuhan dan tidak mau kembali lagi seperti dulu, karena semuanya bohong belaka. Hanya Tuhan yang menepati segalanya.

Budi : “Saya tidak pernah berpikir saya akan melakukan seperti ini. Saya hanya pernah berpikir ‘ndak lama lagi saya akan mati.’ Sebab banyak musuh yang menanti saya. Tetapi setelah saya terima Yesus, Yesus membuktikan bahwa semua itu adalah kebohongan. Puji Tuhan saya bisa ikut Tuhan. Bisa … lepas. Dan saya sudah berjanji sama Tuhan seumur hidup saya akan ikut Tuhan. Ndak akan pernah mau kembali ke masa lalu. Semuanya itu adalah kebohongan.”

—– Demikian Budi Sihombing alias Bang Ucok mengakhiri kesaksiannya …

  • Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. (Kisah Para Rasul 4:12).

Link untuk dibagikan lewat BBM, dll : http://wp.me/p6mxNc-2O

Tuhan Yesus Memberkati. Tetap mengasihi sesama apapun keyakinannya. Tetap semangat. Amen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s