Kesepian Membuat Aku Masuk Penjara | Syaiful Hamzah (ex Muslim)

“Lalu tiba-tiba dia cuma bilang bahwa mereka percaya Yesus itu adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Lalu saya berpikir… ‘Sombong sekali Yesus itu… Siapa sih Dia? Main nunjukin jalan aja…’ “ Pikiran saya seperti itu.

  • karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (Ibrani 10:20).

Shalom, begini kisahnya :

Sejak kecil hingga remaja Syaiful sangat dimanjakan oleh ibunya, namun perlakuan manja dari ibunya itu tidak dapat mengisi rasa kesepian dari dalam diri Syaiful. Kesibukan kerja kedua orangtuanya membuat Syaiful jarang bertemu dengan orangtuanya.

“Saya merasa sepi di rumah. Jadi karena kesepian itu saya akhirnya mencari teman… Ternyata teman-teman yang saya dapati anak-anak tukang nongkrong,” ujar Syaiful.

Namun pergaulannya dengan mereka telah membawa Syaiful mulai mengenal minuman keras bahkan Syaiful sering bolos sekolah sambil minum minuman keras hingga mabuk. Hingga suatu hari, orangtua Syaiful melihat perubahan pada anaknya.

“Ketika saya pulang dari sekolah, saya selama ini nutup-nutupin. Kedua orang tua saya selama ini hanya dengar dari orang, tapi sewaktu saya pulang, papi tahu saya mabuk, jadi dia marah sekali, dia merasa bahwa selama ini dia dan mami mengasihi saya tapi mengabaikan kasih mereka. Padahal papi dan mami menginginkan saya sebagai seorang yang baik. Papi marah dan ia menyilet saya. Ketika disilet, saya menangkis dan terkena tangan saya,” kisah Syaiful ketika ia ketahuan pulang dalam keadaan mabuk oleh ayahnya.

“Akhirnya mami keluar membela saya. Itulah saya melihat mami luar biasa dan menyayangi saya. Jadi jika selama ini papi marah dengan keadaan saya, mami selalu membela.” tambah Syaiful.

Lulus dari STM, Syaiful melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi di Medan. Setelah kuliah beberapa semester, Syaiful mendengar bahwa ibunya sakit dan dia pun pulang ke Jakarta lalu menemui ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. ]

103_Kesaksian Syaiful Hamzah_KSB_JPG

“Di rumah sakit Cipto, saya dikasih uang oleh mami saya 3 juta dari balik bantalnya. Saya diminta pulang ke Medan tidak usah pikirkan mami. ‘Tetap kau sekolah di Medan,’ ujar mami saya. Lalu saya akhirnya pulang juga ke Medan karena waktu itu mau ujian semester. Saya pulang ke Medan untuk melanjutkan sekolah, tiba-tiba saya dengar kabar setelah beberapa bulan bahwa mami meninggal,” kisah Syaiful.

“Lalu akhirnya saya tambah kecewalah dengan keadaan seperti ini. Tidak ada lagi orang yang mau memanjakan saya, mendengarkan saya, maka itu saya banyak menelan obat-obatan agar saya cepat mati. Ternyata itu tidak berpengaruh saya tidak mati dan masih hidup sampai saat ini,” kisah Syaiful mengenai kepedihannya setelah kematiannya ibunya.

Syaiful semakin larut dalam minuman keras, bahkan untuk mendapatkan uang untuk membeli minuman keras itu Syaiful tidak segan-segan untuk melakukan penodongan. Namun kejahatan Syaiful tercium oleh polisi, Syaiful pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Ketidaknyamanan di dalam penjara membuat Syaiful ingin cepat-cepat keluar dari dalam penjara. Dia merasa menyesal dan berjanji pada dirinya tidak akan melakukan penodongan lagi. Akhirnya Syaiful pun keluar dari penjara. Lalu Syaiful pergi merantau ke Halmahera untuk mencari pekerjaan.

“Saya jadi berpikir, saya juga gak mau jadi seperti begini terus… Hanya seperti ini yang saya lakukan… Mabuk, tidur pagi, bangun sore, mabuk, tidur pagi, bangun sore… Apa yang saya dapat dari ini semua? Dan saya melihat kawan-kawan saya sudah mulai ‘jadi.’ Yang dulu teman kuliah saya mulai bekerja dengan baik. Dan saya tidak ada pekerjaan akhirnya saya mulai mencoba mencari sebuah pekerjaan. Saya ingin hidup baru, saya ingin punya rumah, saya ingin punya keluarga. Itu tujuan saya ke Halmahera,” Syaiful menceritakan keinginannya setelah ia memiliki keinginan tujuan hidup yang baru.

Suatu hari Syaiful dengan beberapa temannya sedang bercakap-cakap di pinggir pantai sambil minum minuman keras. Lalu datanglah seorang pria mendekati Syaiful dan dia pun menawarkan pekerjaan kepada Syaiful.

“Saya bekerja di pelabuhan sebagai Shipping Quality Control. Di situlah saya bekerja,” ujar Syaiful.

Suatu hari Syaiful mencari tempat makan dan Syaiful menemukan sebuah warung makan di dekat tempat kerjanya. Kemudian Syaiful sering makan di warung itu. Akhirnya Syaiful akrab dengan keluarga pemilik warung itu. Mereka adalah ibu Sin Che, suaminya bernama Yansen, dan anaknya bernama Hendrik.

“Saya merasakan mereka baik dengan saya. Kadang-kadang saya belum gajian, kadang-kadang gak usah bayar. Nanti aja bayarnya, kata mereka. Lalu mereka menawarkan saya tempat kepada saya. Saya melihat dari keluarga Om Sen ini dengan anaknya itu sangat baik, dan dia menganggap saya sebagai bagian dari keluarga mereka. Padahal mereka tahu bahwa saya ini tukang mabuk dan segala macam. Walaupun saya bekerja, tetapi selesai bekerja saya minum. Saya melihat bahwa keluarga ini… Memiliki Tuhan yang disembah adalah Tuhan Yesus… Saya ingin tahu mengapa mereka bisa sebaik ini,” kisah Syaiful mengenai keluarga penuh kasih yang pernah ditemuinya ini.

Lalu Syaiful bertanya kepada Om Sen tentang siapakah Tuhan Yesus itu…

“Lalu tiba-tiba dia cuma bilang bahwa mereka percaya Yesus itu adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tidak ada yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Lalu saya berpikir… ‘Sombong sekali Yesus itu… Siapa sih Dia? Main nunjukin jalan aja…’ Pikiran saya seperti itu. Akhirnya perkataan Om Sen ini membuat saya tertarik, lalu setelah itu Om Sen memberikan saya Alkitab karena saya ingin tahu lebih lagi siapa sih Yesus itu,” cerita Syaiful mengenai pertama kali ia mendengar penjelasan Om Sen tentang siapakah Yesus itu.

“Dan salah satu hal yang menyentuh saya adalah tentang perempuan yang tertangkap berzinah. Cerita ini mengatakan bahwa Yesus berkata kepada perempuan itu… ‘Dosamu telah diampuni, dan jangan diulang lagi.’ Cerita inilah yang membuat rhema di hati saya,” kisah Syaiful.

Syaiful melanjutkan, “Dosa yang begitu besar ternyata Tuhan beri pengampunan. Akhirnya saya mulai lebih sering membaca Alkitab itu. Lalu saya mulai yakin bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Saya melihat keberadaan hidup saya. Saya melihat dosa saya yang dahulu, suka jahat sama papi saya juga mami saya. Akhirnya saya menjadi seorang pemabuk. Bahwa saya juga adalah orang yang berdosa, siapakah yang bisa mengampuni hidup saya? Siapakah yang bisa melakukan agar orang berbuat baik kepada saya lagi kalau orang melihat keadaan saya seperti ini?”

“Saya berdoa kepada Tuhan di dalam kamar, ‘Apakah Tuhan Engkau sebagai Tuhan, tolong tunjukkan saya.’ Tapi Tuhan tidak menunjukkan diri Dia. Tetapi Ia memberikan pengertian ke dalam hati saya bahwa- Engkau adalah anak-Ku, setiap perbuatan yang kau lakukan jika Engkau menerima Aku maka engkau akan Aku ampuni. Ia tidak ingin saya mati binasa tetapi Ia inginkan saya menjadi pewaris Kerajaan Allah. Lalu akhirnya saya menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ketika saya menerima Yesus sebagai Tuhan, saya merasakan sukacita, suatu hidup baru. Lalu saya merasakan bebas. Bebas seperti sewaktu saya keluar dari penjara saya merasakan bebas,” Syaiful menceritakan apa yang ia rasakan sewaktu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Sumber :

http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=081212234044

Testimony Syaiful Hamzah

“Memang sewaktu saya bertobat untuk meninggalkan minuman itu terasa agak berat, tapi saya bilang sama Tuhan… ‘Tuhan tolong ubahkan saya…’ Tapi Tuhan sampai saat itu belum memberikan jawaban, tapi akhirnya saya sendiri yang memutuskan…’Tuhan saya mau berhenti, saya tidak mau seperti ini lagi. Saya sudah kenal Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, karena itu saya mau berhenti Tuhan”

Perubahan dalam diri Syaiful dapat dirasakan oleh teman dekatnya, Hendrik Hein Tindage.

Hendrik Hein Tindage : “ketika Syaiful tidak lagi menjadi seorang pemabuk, itu adalah hal mustahil baginya. Karena ia tahu Syaiful sudah menjadi pemabuk sedari kecil. Hal yang mengagetkan dirinya juga adalah ketika ia mengetahui bahwa Syaiful tidak lagi menjadi seorang perokok. Lalu ditambah lagi ketika ia melihat Syaiful yang emosinya suka meledak-ledak menjadi hilang begitu saja, karena Syaiful menjadi pribadi yang tidak penuh emosi lagi.” Bagi Hendrik, ini adalah suatu mujizat…!

—– Demikian Syaiful mengakhiri kesaksiannya …

(Kesaksian ini ditayangkan 24 Juni 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel). Sumber kesaksian: Syaiful Hamzah.

  • karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, (Ibrani 10:20).

Link untuk dibagikan : http://wp.me/p6mxNc-gH

Tetap Mengasihi Sesama manusia. Tetap Semangat. Tuhan Yesus Memberkati. Amen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s