Edmond Paris – The Secret History of Jesuits 1975 : Vatican & Jesuit Otak dibalik Perang Dunia 1 & 2

SEJARAH_JESUIT_KOMPILASI_JPGJesuit sudah melakukan evaluasi terhadap PD III / Perang Dunia ke-3, dan mencanangkan AS akan kalah, dan Vatikan tentunya yang menjadi pemenang. Karenanya Vatikan memberi dukungan kepada Moskow dan bahkan mengangkat seorang Paus yang komunis dari Polandia. Secara rahasia Vatikan mengadakan perjanjian dengan Rusia dan membiarkan paham Marksisme mendunia. Para Jesuitlah para aktor dibelakang gerakan perlucutan senjata untuk melemahkan A.S.

Suatu saat saya (penulis, Edmund Paris) bercakap-cakap denga Andrei Ouroussof, seorang Jesuit. Singkatnya: politik Vatikan membutuhkan, baik yang secara sukarela maupun dipaksa, dan Vatikan telah “mencïptakan” berjuta-juta martir dalam dua perang dunia [PD 1 & 2].

Gereja Roma selalu berhati-hati dalam melakukan aksinya. “Bonne renommee vaut mieux que ceinture doree”. Reputasi yang tanpa cacat lebih baik daripada sabuk keemasan. Vatikan sangatlah kaya, nafsu politiknya untuk mendomisi selalu dibalut dengan dalih “spiritual (keagamaan)” dan kemanusiaan, memproklamirkan “urbi dan orbi” dengan propaganda yang intens sehingga reputasi pun terjaga baik, emas tetap mengalir masuk.

Sebelumnya silahkan baca dahulu Sejarah Hitam Jesuit dan Sumpah Extrem Jesuit, Babylon Mystery Religion.

Edmond Paris – The Secret History of Jesuits 1975 [Peran Vatican & Jesuit dalam PD 1 & 2] edisi 15 Desember 2015. Gambar atau illustrasi yang berkaitan kemungkinan akan menyusul kemudian atau saudara cari sendiri di internet. Silahkan membaca. Tuhan Yesus memberkati dan membuka pikiran saudara/i semuanya. Amen.

KATA PENGANTAR

Buku ini merupakan terjemahan dan ringkasan dari “The Secret History of Jesuit” karya Edmond Paris. Paris bekerja untuk mengungkapkan tentang Kekatolikan terutama tentang Jesuit. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk kemuliaan Tuhan Yesus. Dia selalu menjadi incaran para Jesuit. Bahkan namanya pernah jatuh ke tangan DR. Alberto Rivera, sewaktu dia belum bertobat dan masih menjadi seorang Jesuit.

Dalam buku aslinya memaparkan tentang hubungan yang pararel antara keagamaan dan politik. Edmond Paris mengungkapkan penetrasi dan infiltrasi yang dilakukan Jesuit ke pemerintahan-pemerintahan dan negara-negara di dunia ini untuk memanipulasi sejarah dengan membentuk kediktatoran, dan memperlemah demokrasi seperti yang terjadi di USA, dengan menciptakan anarki di bidang sosial, politik, moral, militer, pendidikan dan keagamaan.

Berdoa tapislah terlebih dahulu sebelum membaca buku ini: Tuhan Yesus yang MahaKuasa saya hendak membaca buku ini. Mohon segala sesuatu yang bukan berasal dariMu ditapiskan dari hati dan pikiran saya. Saya hanya mau menerima kebenaran dan pengajaran yang berasal dari Tuhan Yesus saja. Dalam nama Yesus Kristus, segala rancangan dan kuasa Iblis yang mencoba menghambat saya untuk membaca buku ini dipatahkan. Tutup bungkus saya, ya..Tuhan Yesus, dengan DarahMu yang Kudus. Amin.

Selamat membaca dan Tuhan Yesus memberkati serta melindungi anda semua. Amin

BAGIAN I: BERDIRINYA ORDO JESUIT

BAB I: IGNATIUS LOYOLA

Pendiri Society of Jesus (Serikat Yesus), adalah seorang Spanyol Basque bernama Inigo Lopez de Recolde. Lahir di puri Loyola, propinsi Guipuzcoa, tahun 1491. Dia adalah salah satu biarawan paling berbahaya yang pernah dilahirkan oleh sistem Katolik. Dari semua pendiri ordo yang ada, dia mungkin seseorang yang kepribadiannya meninggalkan kesan yang mendalam pada ingatan dan tingkah laku para murid dan penerusnya. Itulah salah satu ciri dari ordo Jesuit. Ada bantahan tetapi fakta banyak yang mendukung hal tersebut. Hasil karya seorang pelukis Jepang yang menggambarkan pendaratan bangsa Portugis, dan anak-anak Loyola, secara khusus di pulau-pulau di Jepang. Ia melukiskan bayangan-bayangan hitam dan panjang serta wajah-wajah mereka yang penuh duka tetapi membekukan dan menunjukkan arogansi penguasa yang fanatik.

Seperti halnya santo-santo yang lain, Inigo – kemudian merubah namanya menjadi berbau Roma yaitu Ignatius – memandang dirinya sebagai orang yang diutus untuk memberi pencerahan kepada orang-orang yang sejaman dengannya. Masa mudanya dipenuhi dengan banyak kesalahan dan kejahatan. Sebuah laporan polisi menuliskan bahwa dia seorang yang tidak dapat diajar, brutal, pendendam. Semua yang menulis biografinya mengakui bahwa ia suka akan kekerasan. “Seorang prajurit yang tidak dapat diatur dan angkuh,” komentar salah seorang teman karibnya “kehidupannya hanya seputar wanita, judi dan perkelahian.”

Seperti kebanyakan para pahlawan Gereja Katolik Roma, hukuman fisik yang kejam diperlukan untuk mengubah kepribadiannya. Dulu dia adalah pesuruh seorang bendahara Castille, hingga suatu saat bendahara tersebut dipecat karena melakukan perbuatan aib. Kemudian menjadi sukarelawan perang untuk Viceroy of Navarre; yang karenanya dia dapat hidup seperti layaknya seorang anggota istana kerajaan. Anak muda ini kemudian memulai kehidupan sebagai seorang intel yang membela Pampeluna yang berperang melawan Perancis yang dipimpin oleh Cant de Foix. Cedera yang didapatnya selama penyamaran tersebut mengubah hidupnya dimasa depan.

Salah satu kakinya terluka oleh peluru, lalu dia dibawa oleh seorang Perancis kepada saudara lelakinya Martin Garcia, di kastil Loyola. Dia menjalani operasi tanpa dibius, yang mana dia harus menjalaninya dua kali karena yang pertama tidak sempurna. Kakinya patah lagi dan diset ulang, walaupun begitu Ignatius tetap timpang. Hiburan satu-satunya, selama terbaring karena luka dan kesakitan, adalah buku “Life of Christ (Kehidupan Kristus) dan Life of Saints (Kehidupan Para Santo), buku-buku yang hanya terdapat dalam kastil tersebut.

Walaupun ia tidak berpendidikan dan masih dipengaruhi oleh shok yang parah, penderitaan Kristus dan kesahidan para santo tersebut memberikan dampak yang tidak terhapuskan; obsesi ini menggiring prajurit timpang tersebut ke jalan kerasulan. Obsesi dan mimpinya, yang timbul karena membaca kedua buku tersebut, begitu menguasai dirinya dan tampak dalam tindakannya yang sedikit gila.

Seorang penulis menulis hal berikut: “Saya hendak menjelaskan hasil nyata praktek ilmu kebatinan yang dilakukan oleh orang-orang berintelejensia tinggi. Seseorang dengan pikiran lemah yang melakukan ilmu kebatinan berada pada posisi yang berbahaya, tetapi ilmu kebatinan yang dilakukan oleh orang yang berintelejensia tinggi menghasilkan bahaya yang lebih besar lagi, karena hasil karyanya yang lebih luas dan mendalam….Pada saat mitos mengambil alih kenyataan dalam intelejensia yang aktif, mitos itu menjadi fanatisme belaka; sebuah infeksi terhadap kehendak seseorang karena pembesaran yang tidak penuh atau terdistorsi”.

Ignatius Loyola, seorang yang berintelejensia tinggi, adalah salah satu contoh sempurna dari “active mysticism” (ilmu kebatinan yang aktif) dan “distortion of the will” (penyimpangan terhadap kehendak pribadi). Meskipun begitu, perubahan dari seorang pahlawan biasa menjadi seorang jenderal dari sebuah ordo yang paling militan dalam Gereja Roma berlangsung dengan lambat; banyak langkah-langkahnya yang goyah sebelum dia menemukan panggilannya yang sesungguhnya. Pada musim semi tahun 1522, ia meninggalkan kastil Loyola, dengan keputusan yang mantap untuk menjadi seorang santo. Lagipula, bukankah Bunda Maria menampakkan diri dihadapannya disuatu malam, sambil menggendong bayi Yesus? Setelah mengaku dosa di biara Montserrat, dia berencana pergi ke Yerusalem. Wabah penyakit menyebar luas di Barcelona dan, karena semua lalu lintas laut dihentikan, dia harus tinggal di Manresa selama hampir setahun, Disana dia menghabiskan waktunya dengan berdoa, berdoa, puasa-puasa panjang, mendera diri sendiri, mempraktekkan semua bentuk “maceration” (tindakan untuk melaparkan diri) dan tidak pernah absen dari ruang penebusan dosa. Semua ini dengan jelas menggambarkan keadaan mental dan syaraf pria tersebut. Dia mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk mewujudkan penglihatan-penglihatannya yang kaya dan beranekaragam yang mana menghantui pikirannya terus menerus.

“Semuanya ini karena sebuah penglihatan”, kata H. Boehmer, ”bahwa dia mulai mengkonsumsi daging lagi; ini adalah rentetan penglihatannya yang menyingkapkan misteri-misteri dogma Katolik dan menolongnya menjalani penglihatan tersebut: dengan cara demikian, pada saat dia merenungkan ketrinitasan diiringi suatu bentuk instrumen musik yang mempunyai akord tiga; misteri penciptaan bumi melalui “suatu” yang tidak jelas/kabur dan sinar yang memancar keluar dari pendaran sinar matahari; keajaiban akan turunnya Kristus menjadi ekaristi seperti kilatan cahaya yang memasuki air yang pekat, pada waktu seorang pastor mengangkatnya sambil berdoa; kemanusian Kristus dan Perawan Suci dalam bentuk tubuh yang berkilau mengagumkan; dan akhirnya setan sebagai sebuah bentuk yang menyerupai ular dan berkilau-kilauan serupa dengan mata yang berkilauan dan misterius. Bukankah ini merupakan awal dari pembentukan citra Jesuit yang terkenal itu?”

Mr. Boehmer menambahkan bahwa pengertian yang mendalam mengenai dogma-dogma dalam Katolik diungkapkan kepadanya, sebagai tanda istimewa dari yang diatas, melalui intuisi-intuisi yang sukar dipahami. “Banyak misteri iman dan ilmu pengetahuan menjadi jelas baginya dan kemudian dia pura-pura sudah mempelajari lebih banyak lagi dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu yang diperlukan baginya untuk belajar; tetapi dia tidak pernah bisa menjelaskan misteri-misteri apa yang tiba-tiba menjadi jelas baginya. Yang tertinggal hanya sebuah ingatan yang samar-samar, sebuah perasaan tentang sesuatu yang ajaib, seakan-akan pada waktu itu dia telah menjadi “seorang manusia yang berbeda dengan intelejensia yang berbeda”.

Semuanya ini mungkin akibat dari gangguan syaraf dan dapat disamakan dengan apa yang terjadi terhadap pengguna opium dan hasish: bahwa meningginya ego; ilusi yang membubung tinggi melampaui apa yang nyata, sensasi sesaat hanya meninggalkan ingatan yang membingungkan.

Penglihatan-penglihatan yang membahagiakan dan penerangan-penerangan mengiringi hal-hal mistik selama hidupnya.

“Dia tidak pernah meragukan realitas dari wahyu-wahyu tersebut. Dia berbicara kepada Roh Kudus seperti berbicara kepada orang lain; dia memohon persetujuan Tuhan, yang Trinitas dan Bunda Maria atas semua proyek-proyeknya dan akan menangis bahagia kalau ketiga pribadi tersebut menampakkan diri dihadapannya. Pada saat-saat seperti itu, dia dapat merasakan lebih dulu damai sejahtera dari sorga; sorga terbuka untuknya, dan Tuhan yang Trinitas terlihat jelas baginya.

Bukankah ini suatu kasus yang sempurna mengenai seseorang yang berhalusinasi? Tuhan yang Trinitas yang jelas dan dapat dilihat inilah yang ditawarkan kepada dunia oleh anak-anak rohani Loyola, tidak hanya untuk alasan-alasan politik, ketergantungan dan pujian terhadap kecenderungan yang mengakar pada hati manusia yang suka akan berhala, tetapi juga keyakinan, indotrinasi yang mendalam dan benar. Dari awal, kepercayaan kuno sudah diterapkan dalam Serikat Yesus. Serikat Yesus ini merupakan peniru ulung, terlepas dari aspek-aspek didalamnya yang membuatnya menjadi sebuah ordo yang mendunia, intelek dan terdidik. Aksioma dasar Serikat Yesus adalah “segala sesuatunya untuk seluruh umat manusia”. Seni, kesusastraan, ilmu pengetahuan dan bahkan filosofi hanyalah alat atau jaring untuk menangkap jiwa-jiwa. Toleransi tidak ada dalam kamus mereka. Bagi ordo ini, kelemahan manusia selalu dapat diperbaiki, mendorong roh dan keinginan untuk menyerah dan kembali menjadi ketaatan yang kekanak-kanakan dan tidak semarak. Jadi mereka berkarya untuk mendirikan “Kerajaan Tuhan” yang didasarkan kepada idealisme mereka.

“Perpaduan dari kesalehan dan diplomasi, pertapaan dan kata-kata bijak, ilmu kebatinan dan kalkulasi akurat; seperti halnya karakter Loyola, seperti itulah karakter ordo ini”. Seseorang benar-benar bisa menjadi seorang anak rohani Loyola setelah melalui berbagai ujian yang keras dan pelatihan yang sistematis selama tidak kurang dari empat belas tahun.

Dengan demikian, paradok ordo ini telah berlangsung selama 400 tahun, sebuah ordo yang berusaha keras menjadi “intelek” tetapi, secara simultan, selalu, dalam Gereja dan masyarakat Roma, merupakan pemenang atas watak yang paling keras.

BAB II: PENGHIKMATAN ROHANI

Akhirnya saatnya tiba bagi Loyola meninggalkan Monresa, dia tidak dapat meramalkan tujuannya, tetapi keingintahuan mengenai keselamatannya bukan lagi menjadi prioritas utama; sekarang ia menjadi misionaris , dan tidak hanya seorang peziarah biasa, ia menuju Yerusalem pada Maret 1523. Ia tiba pada 1 September, setelah melewati berbagai petualangan, sesaat kemudian ia meninggalkan Yerusalem, atas perintah orang-orang Fransiskan yang tidak antusias mengikuti perkembangan perdamaian yang tidak pasti diantara orang-orang Kristen Turki karena adanya praktek pemaksaan untuk pindah agama.

Misionaris yang kecewa itu berjalan melalui Venice, Genoa dan Barcelona untuk menuju ke Universitas Alcala dimana dia memulai pelajaran teologianya. Disana juga pengajarannya mengenai “penyembuhan Jiwa” diantara sukarelawan dimulai.

April 1527, Dewan Inkuisisi (the Inquisition ) menjebloskan Loyola ke penjara karena pengajarannya tersebut. Kemudian ia dibebaskan dan dilarang mengadakan pertemuan-pertemuan, ia pergi ke Salamonque dan melakukan hal yang sama. Kecurigaan yang sama diantara para inkuisitor membuat dia dipenjarakan kembali. Ia dibebaskan dengan syarat tidak mengadakan pertemuan-pertemuan seperti yang sudah ia selenggarakan sebelumnya. Lalu ia melanjutkan perjalanan ke Paris untuk meneruskan studinya di College ot Montaigu. Usaha-usahanya untuk mengindoktrinasi teman-teman kuliahnya dengan metode-metodenya yang khas dan ganjil, membuatnya berhadapan dengan Dewan Inkuisisi lagi. Setelah itu ia lebih menjadi berhati-hati, dia hanya mengadakan pertemuan dengan enam teman kuliahnya, dua diantaranya mau menjadi pengikutnya: Salmeron dan Lainez.

Bagaimana ia dapat menarik orang-orang muda, padahal ia seorang mahasiswa yang sudah tua ? Itu semua karena pesona yang sudah melekat padanya dan sebuah buku kecil yang dapat dibaca beberapa menit selesai. Buku ini dicetak berkali-kali sehingga jumlahnyapun tidak diketahui. Buku ini memuat 400 uraian, dan merupakan textbook-nya ordo Jesuit serta merupakan resume panjang perkembangan batin Loyola.

Ignatius menyadari bahwa cara terbaik untuk mengembangkan jati diri seorang mahasiswa adalah menjadi tuan bagi imajinasinya sendiri. Jadi semua kebenaran tentang dogma agama Katolik harus, tidak hanya direfleksikan, dihadapi dan dirasakan oleh orang yang mencurahkan dirinya sendiri untuk “penghikmatan” ini, dengan bantuan seorang “pengarah”. Dengan kata lain dia harus mengerti dengan mengenang misteri penghikmatan tersebut diiringi intensitas yang paling tinggi. Kepekaan seorang kandidat diisi dengan kekuatan-kekuatan yang menetap dalam ingatannya, bahkan dibawah alam sadarnya, akan sama kuatnya dengan usaha yang dia buat untuk membangkitkan dan membuatnya memahami penghikmatan tersebut selain penglihatan, pendengarannya, penciuman, indera perasa dan sentuhan memegang peranan masing-masing.

Pemberontakan para malaikat (malaikat iblis), Adam dan Hawa yang diusir dari Taman Eden, Pengadilan Tuhan, tempat-tempat penginjilan dan tahap-tahap Penderitaan Yesus dari Perjamuan Terakhir dan Penyaliban diceritakan ulang kali dihadapan para kandidat. Pemandangan yang muram diatur dengan ritme yang dibuat dengan rapih. Setelah empat minggu mengikuti penghikmatan dengan intensif disertai oleh seorang pengarah sebagai temannya, seorang kandidat akan siap untuk pelatihan dan perubahan berikutnya.

BAB III: PENDIRIAN ORDO

Serikat Yesus (The Society of Jesus) diresmikan pada Assumption Day (menurut ajaran Katholik merupakan hari dimana tubuh Bunda Maria diangkat ke Surga setelah kematiannya) tanggal 15 Agustus 1534 di Kapel Notre-Dame de Montmartre.

Ignatius berumur 40 tahun. Setelah Komuni Kudus, pendukung dan teman-temannya bersumpah untuk pergi ke Jerusalem, segera setelah studi mereka selesai, untuk menginjili orang-orang kafir. Tetapi tahun berikutnya di Roma, Paus, yang mengatur Perang Salib antara kerajaan Jerman dan Republik Venice melawan orang Turki, membuktikan bahwa sumpah mereka itu tidak mungkin dilakukan. Sehingga Ignatius dan teman-temannya melakukan pekerjaan misionaris di negara-negara Kristen; di Venice, penginjilannya membangkitkan kecurigaan Dewan Inkuisisi. Konstitusi Serikat Yesus dirancang dan disetujui di Roma, oleh Paul III, tahun 1540, dan Jesuit menempatkan diri mereka dibawah pengaturan Paus dan berjanji akan mematuhi Paus sepenuhnya. Pengajaran, pengakuan dosa, kotbah dan kerja amal adalah bidang-bidang yang dipegang ordo baru ini, termasuk misi-misi keluar negeri seperti tahun 1541, Francis Xavier dan dua temannya meninggalkan Lisbon untuk pergi dan menginjili di Timur Jauh. Tahun 1546, karir politik ordo Jesuit dimulai, ketika Paus memilih Lainez dan Salmeron mewakilinya di konsili Trente dengan posisi sebagai “ahli teologia Paus”.

Semangat yang menyala-nyala semakin dibangkitkan seiring dengan bertambahnya waktu. Selain misi-misi luar negeri, aktifitas anak-anak Loyola mulai diarahkan pada jiwa-jiwa, khususnya diantara orang-orang yang berkuasa. Politik adalah bidang utama mereka, semua usaha dari para “pengarah” ini difokuskan kepada satu tujuan yaitu seluruh dunia tunduk kepada Paus. Untuk mewujudkan hal ini “para kepala” (orang-orang yang memegang kekuasaan penting) harus ditaklukkan terlebih dahulu. Ada dua senjata penting guna merealisasikan ide tersebut: menjadi imam penasehat orang-orang penting dan penasehat pendidikan anak-anak dari orang-orang tersebut. Dengan begitu masa sekarang aman, masa depan dipersiapkan.

Tahta Suci (Roma) segera menyadari kekuatan yang dimiliki ordo baru ini. Pada awalnya, jumlah anggota ordo dibatasi sebanyak 60 orang, tetapi kebijakan ini dicabut. Sewaktu Ignatius meniggal, tahun 1556, anak-anaknya tidak hanya sedang bekerja diantara para penyembah berhala di India, China, Jepang, Amerika, tetapi juga dan khususnya di Eropa, yaitu Perancis , Jerman bagian Barat dan Selatan, dimana mereka berperang melawan para heresy, di Spanyol, Portugal, Italia, dan bahkan Inggris, untuk mencapai Irlandia. Sejarah mereka yang penuh dengan perubahan dan kejutan, akan menjadi jaring Roma yang coba mereka sebarkan ke seluruh dunia yang mata rantainya akan selalu dirusak dan diperbaiki.

BAB IV: JIWA DARI ORDO JESUIT

Para Jesuit dulunya ingin menjatuhkan keabsolutan sistem monarki ke bawah Gereja Roma dan mempertahankan Gereja tersebut dalam masyarakat sipil sehingga para Paus bisa dianggap sebagai perwakilan sementara Bapa Sorgawi, kepala para orang Kristen. Selama para penguasa ini sepenuhnya patuh kepada perintah tuannya Jesuit dan Roma), para Jesuit akan menjadi pendukung yang setia. Sebaliknya kalau para pangeran/penguasa tersebut melawan, maka Jesuit berubah menjadi musuh yang paling menyebalkan.

Kita telah melihat melalui semangat penghikmatan, bagaimana pendiri Ordo ini tertinggal pada jamannya dalam hal pemahamannya yang sederhana, disiplin para rohaniawan dan secara umum, konsep mengenai bawahan. Konstitusi dan penghikmatan, dua hal penting dalam sistem ini, membuat kita tidak ragu akan ordo ini. Apapun yang mungkin dikatakan oleh muridnya Loyola, kepatuhan mendapat tempat yang istimewa.

Perjalanan ordo ini mengalami pasang surut karena tidak ada satu negarapun yang tidak menolaknya dan hal ini membuatnya dikenal oleh semua pemerintahan yang ada, bahkan oleh orang Katolik sendiri. Dengan memasukkan orang-orang yang benar-benar setia pada ordo ini, untuk mengajar orang-orang kelas atas, Serikat Yesus adalah penguasa universal atau Ultramontanism dan dikenal sebagai ancaman terhadap kedaulatan masyarakat sipil, karena aktivitas yang dilakukan oleh ordo ini semakin lama semakin berubah mengarah ke politik.

BAB V: HAK ISTIMEWA ORDO JESUIT

Setelah 1558, Lainez, ahli siasat konsili Trente yang licik, diangkat menjadi Jenderal Dewan Jemaat wilayah tersebut dan mempunyai kekuasaan untuk mengatur ordo Jesuit menurut inspirasinya sendiri. Deklarasi yang ia rancang bersama Salmeron dimasukkan ke dalam konstitusi ordo Jesuit dalam membentuk sebuah uraian. Mereka mempraktekkan kekuasaan mutlak untuk memilih jenderal seumur hidup ordo Jesuit. Seorang supervisor, ahli keuangan dan para asisten yang berasal dari Roma juga membantunya untuk mengatur ordo Jesuit yang kemudian dibagi ke dalam lima jemaat wilayah yaitu Italia, Jerman, Perancis, Spanyol, Inggris dan Amerika, setiap wilayah dibagi menjadi propinsi yang menyatukan ordo-ordo Jesuit yang berbeda-beda pembentukannya. Hanya supervisor dan para asisten yang dicalonkan oleh dewan jemaat wilayah. Sang Jenderal menunjuk semua stafnya, mengumumkan perintah-perintah, mengatur kekayaan ordo sesuai dengan kemauannya dan mengarahkan segala aktifitas ordo yang mana akan dia pertanggungjawabkan hanya kepada Paus saja.

Karena misi-misinya sangat tergantung kepada pemimpinnya dan memerlukan otonomi yang lebih luas agar aksi-aksinya menjadi efektif, paus memberikan hak-hak istimewa yang tampaknya bagi ordo-ordo yang lain hak tersebut melebihi batas yang wajar.

Karena konstitusinya juga, para Jesuit bebas dari kewajiban untuk mengasingkan diri yang umumnya biasa dilakukan oleh para pastor Katolik. Nyatanya mereka adalah para biarawan yang hidup “didunia” dan dari luar mereka sama sekali tidak berbeda dengan penatua biasa. Tetapi berlawanan dengan hal tersebut dan dengan jemaat wilayah lainnya, mereka tidak tunduk kepada otoritas uskup. Pada awal 1545, sebuah dokumen resmi dikeluarkan Paus Paul III yang mengijinkan para Jesuit untuk berkotbah, mendengarkan pengakuan dosa, mempersiapkan dan mengedarkan sakramen, dan hak untuk mengadakan misa; pendek kata menjalankan fungsi-fungsi mereka tanpa bertanggungjawab kepada uskup. Hanya pemberkatan pernikahan saja yang tidak boleh mereka lakukan.

Mereka mempunyai kekuasaan untuk memberikan pengesahan, mengubah sumpah atau bahkan membatalkan sumpah tersebut. Kekuasaan Jenderal Jesuit bahkan lebih besar lagi. Dia dapat mencabut hukuman yang menimpa para anggota Serikat Yesus sebelum atau sesudah mereka menjadi murid ordo tersebut.

Paus memerintahkan kepada para pangeran dan raja untuk menghargai semua hak istimewa kaum Jesuit, kalau tidak mereka diancam akan dicabut hak keanggotaan gerejanya .

Dengan memberikan semua hak istimewa tersebut, kepausan tidak hanya menyediakan bagi mereka senjata ampuh untuk melawan “para orang kafir“, tetapi juga menggunakan Jesuit sebagai pelindung untuk kekuasaan mereka didalam Gereja dan yang melawan Gereja. Kalau kepausan didukung oleh Jesuit, keseluruhan keberadaan Jesuit tergantung kepada spritual dan supremasi kepausan, sehingga kepentingan kedua pihak terikat satu sama lain.

Saat ini ada kurang lebih 33.000 anggota resmi Serikat Yesus yang beroperasi di seluruh dunia dengan berbagai tingkatan jabatan, prajurit dalam pasukan rahasia angkatan bersenjata yang mana berisi juga pemimpin partai politik, para pejabat tinggi, para jenderal, para penegak hukum, para dokter, para profesor fakultas, dan lain-lain. Semuanya berjuang untuk mewujudkan “I’Opus Dei“, Pekerjaan Tuhan, dalam dunia nyata sebenarnya rencana-rencana kepausan.

BAGIAN II: JESUIT di EROPA SELAMA ABAD 16 dan 17

BAB I: ITALIA, PORTUGAL, SPANYOL

Perancis adalah tempat kelahiran Serikat Yesuit, tetapi di Italia-lah program dan konstitusinya diterima. Di Italia, Serikat Yesus mengakar dan menyebar ke luar Italia. Italia sukar dijangkau oleh gerakan reformis. Berdasarkan sebuah laporan dari Jesuit, Emmanuael Phillibert of Savoy melakukan penghakiman berdarah terhadap para Heresi (orang-orang yang tidak sejalan dengan pengajaran Katolik Roma) tahun 1561. Hal yang sama terjadi di Calabria, Casal di San Sisto dan Guardia Fiscale.

Jesuit sangat berkuasa di Parma, dan Napoli selama abad ke-16 dan ke-17. Tetapi di Venice, dimana mereka sebelumnya diterima dengan segala kemurahan hati, kemudian dipaksa keluar dari kota tersebut pada 14 Mei 1606. Mereka kembali lagi tahun 1656, tetapi pengaruh mereka di Republik Venice tersebut tidak ada lagi.

Portugal adalah negara pilihan ordo ini. Para pastor Katolik Roma paling berpengaruh di Portugal dibandingkan di negara manapun. Mereka tidak hanya bertindak sebagai penasehat keagamaan keluarga kerajaan, tetapi raja dan para menterinya selalu berkonsultasi dengan para pastor tersebut mengenai hal-hal penting. Dari salah satu pengakuan mereka, kita mengetahui bahwa tidak satu tempatpun dalam administrasi negara dan gereja dapat diperoleh tanpa seijin Jesuit tersebut, bahkan seringkali para biarawan, orang-orang kelas atas dan masyarakat saling memberikan ijin hanya untuk memenangkan hati dan persetujuan masingmasing. Politik luar negeri Portugal juga dipengaruhi oleh para Jesuit.

Pada kenyataannya, kita bisa melihat keadaan Portugal yang tidak menggembirakan. Seluruh energi dan kecerdasan yang dimiliki oleh bangsawan Pombal, dipertengahan abad ke-18, dikerahkan untuk melepaskan Portugal dari cengkraman Ordo Jesuit.

Di Spanyol, penetrasi Ordo Jesuit berlangsung lamban. Terjadi konflik yang berkepanjangan antara Jesuit dengan biarawan yang lebih tinggi dan kaum Dominikan, Charles U dan Philip LL, pada saat menerima servis Jesuit, tidak mempercayai para pasukan Paus ini dan takut kekuasaan Jesuit berkembang di luar batas. Tetapi dengan kelicikannya ordo ini dapat mengalahkan perlawanan tersebut.

 

BAB II: JERMAN

Eropa Tengah : Perancis, Belanda, Jerman, Polandia secara histories merupakan situs pertempuran antara kaum Katolik dan Protestan. Negara-negara ini adalah ladang utama pertempuran bagi Serikat Yesus.

Di Bavaria, seorang Duke(bangsawan) muda Albert U, seorang Katolik fanatik dan terpelajar di Ingoistadt, sebuah kota Katolik kecil, meminta pertolongan Jesuit untuk berperang melawan para “heresy“ (kaum sesat).

Pada 7 Juli 1556, 8 pastor dan 12 guru jesuit memasuki Ingoistadt. Dimulailah era baru bagi Bavaria. Konsepsi Katolik Roma mengatur arah politik para pangeran dan tingkah laku para bangsawan Bavaria. Tetapi konsepsi itu hanya menjangkau kalangan atas saja, tidak rakyat biasa, walaupun demikian disiplin besi yang diterapkan oleh negara dan gereja membuat masyarakat Bavaria menjadi umat Katolik yang setia, patuh, fanatik dan tidak toleran terhadap para “heresy“.

Mayrhofer of Ingoistadt, seorang Jesuit, mengajarkan bahwa kami (Jesuit) tidak akan dihakimi jika kami memerintahkan untuk membunuh kaum Protestan, lain halnya kalau kami diminta menjatuhkan hukuman mati untuk para pencuri, pembunuh, penghianat dan para pelaku revolusi.

Sesaat setelah para pastor Jesuit tiba di Bavaria, kelakuan Albert V terhadap kaum Protestan dan semua yang simpatik terhadap Protestan semakin kejam dan menjadi-jadi. Sejak tahun 1563, tanpa belas kasihan dia memusnahkan semua orangorang yang tidak patuh dan juga para penganut Anabaptis, mereka ditenggelamkan, dibakar, dipenjarakan dan dirantai, semua tindakan Albert V itu disetujui oleh Jesuit Agricola. Akhir tahun 1586, para penganut Anabaptis dari Movaria berhasil menyembunyikan 600 korban yang selamat dari penyiksaan Duke Guillaume. Ini satu contoh yang membuktikan bahwa beribu-ribu dan bukan beratus-ratus yang dimusnahkan, kekejaman yang mengerikan yang menimpa negara berpopulasi rendah ini. Secara perlahan, semua pengajaran di Bavaria diserahkan kepada Jesuit dan bumi Bavaria menjadi pusat penetrasi Jesuit ke Jerman bagian barat, timur dan selatan.

Archduke (bangsawan agung) Charles of Styrie, putra terakhir Ferdinand menikah dengan seorang putri bangsawan Bavaria tahun 1571. Dibawah pengaruh putri ini, Charles bekerja keras memusnahkan para heresi dari kerajaannya dan ketika ia meninggal, tahun 1590 dia meminta anaknya dan sekaligus penggantinya, Ferdinand, bersumpah untuk melanjutkan pekerjaannya. Ferdinand tentu saja siap untuk hal tersebut. Selama lima tahun sebelumnya Ferdinand adalah seorang murid Jesuit di Ingolstadt; lagipula dia seorang yang berpikiran dangkal sehingga baginya tidak ada tugas yang lebih mulia daripada membangun kembali Gereja Katolik di negaranya itu. Tidak peduli apakah itu merupakan suatu keuntungan bagi negaranya atau tidak, bukanlah urusan Tuhan, katanya, Saya lebih suka berkuasa atas negara yang tinggal puing belaka daripada atas negara yang dikutuk.

Tahun 1617, Archduke Ferdinand dimahkotai sebagai Raja Bohemia. Dipengaruhi oleh Viller, seorang Jesuit, Ferdinand berperang melawan kaum Protestan. Tindakannya itu merupakan awal perang agama berdarah, yang selama 30 tahun ke depan, mencengkram Eropa dalam ketakutan. Tahun 1618, Prague mulai memberontak secara terbuka, Kaisar Mathias mulanya mencoba untuk kompromi, tetapi dia tidak mempunyai cukup kekuatan untuk membuat semua keinginan menang atas raja Ferdinand, yang didominasi oleh para Jesuit; sehingga akhirnya harapan untuk menyelesaikan konflik tersebut sirna sama sekali. Pada saat yang bersamaan negara-negara Bohemia mengeluarkan deklarasi bahwa semua Jesuit harus keluar dari Bohemia, karena mereka menyadari bahwa Jesuitlah promotor perang sipil tersebut. Kemudian disusul oleh Moravia dan Silesie, dan kaum Protestan Hongaria dimana Jesuit Pazmany memerintah dengan tangan besi, memberontak juga. Tetapi pertempuran di White Mountain (1620) dimenangkan oleh Ferdinand, yang kemudian diangkat kembali menjadi Kaisar setelah kematian Mathias.

Jesuit membujuk Ferdinand untuk mengenakan hukuman yang kejam kepada para pemberontak. Protestanisme dicabut sampai keakar-akarnya di seluruh negara tersebut. Akhirnya di penghujung perang akan selesai, negara itu benar-benar hancur.

Setelah perang 30 tahun tersebut selesai, dan perjanjian perdamaian dibuat menjamin kaum Protestan Jerman mempunyai hak politik yang sama dengan orang Katholik, tetapi Jesuit terus “berperang“.

Jesuit mempunyai murid Leopold I, yang kemudian memerintah sebagai kaisar, dan berjanji untuk mengeksekusi orang-orang Protestan di seluruh negerinya, terutama Hungaria. “Dikawal“ oleh pasukan bersenjata berat kekaisaran, Jesuit menjalankan tugas meng-Katholik-an orang Hungaria tahun 1671. Rakyat Hungaria memberontak, perangpun dimulai dan berlangsung hampir satu generasi. Para pemberontak menang, dibawah kepemimpinan Francis Kakoczy. Sang pemenang mengusir keluar Jesuit dari negara-negara yang jatuh ke dalam kekuasaannya, tetapi ordo tersebut berhasil menunda tindakan itu dan pengusiran Jesuit baru terjadi tahun 1707.

Setelah perang agama, yang tersisa di Jerman adalah kekuatan politik yang lemah, keruntuhan secara intelektual dan moral, penurunan populasi penduduk yang tajam dan kemiskinan di seluruh Jerman akibat dari aksi-aksi Jesuit.

BAB III: SWISS

Selama abad ke-17 Jesuit mampu memantapkan dirinya di Swiss, setelah ditolak oleh beberapa kota konfederasi selama 50 tahun terakhir di abad ke-16. Uskup Agung Milan, Charles Barromee, menyadari apa yang akan terjadi karena tindakantindakan Jesuit. Charles menulis surat kepada penasehatnya bahwa Serikat Yesus akan menjadi sangat kuat. Dia akan menguasai raja dan pangeran dan mengatur urusan-urusan spiritual, institusi kepausan telah kehilangan maknanya, kita harus menghancurkan ordo ini.

Setiap rencana yang dibuat di Roma atau oleh kekuatan asing lainnya, untuk melawan Protestanisme di Swiss dapat dipastikan mendapat dukungan penuh dari Jesuit. Tahun 1620, Jesuit berhasil membuat populasi Katolik di Veltlin bangkit melawan kaum Protestan dan membunuh 600 orang Protestan. Paus memanjakan orang-orang yang ambil bagian dalam rencana tersebut. Tahun 1656, mereka menimbulkan perang diantara anggota-anggota dari berbagai macam aliran agama. Sekali lagi sebuah perang agama baru diprakarsai oleh Jesuit.

Tahun 1712, perundingan perdamaian diadakan di Aarau, Lucerne dan Uri baru saja menerima perjanjian damai tersebut ketika Jesuit, atas perintah dari Roma, melakukan segala cara untuk membalikkan keadaan. Jesuit menolak menghargai orang-orang yang enggan mengangkat senjata. Mereka memproklamirkan bahwa setiap orang tidak diharuskan menepati janjinya kepada kaum ”heresi”; mereka membuat para anggota dewan menjadi tersangka dan mencoba menyingkirkan mereka dari posisinya serta melakukan provokasi, di Lucerne, ada ancaman untuk membangkitkan perlawanan rakyat terhadap pemerintah. Orang Katholik kalah dalam peperangan dan terpaksa menandatangani perjanjian damai.

Sejak saat itu pengaruh jesuit di Swiss semakin mengecil. Saat ini UUD Swiss pasal 51 melarang Serikat Yesus mengadakan aktifitas kebudayaan dan pendidikan di wilayah territorial konfederasi, dan usaha-usaha untuk menghapuskan pasal 51 ini selalu dapat dikalahkan.

BAB IV: POLANDIA dan RUSIA

Dominasi Jesuit di Polandia merupakan yang terburuk dibandingkan di negara-negara lain. Jesuit sepenuh bertanggungjawab terhadap pengerusakan dan kemerosotan Polandia dimulai bahkan sebelum mereka tiba di negeri ini. Dari semua negara, Polandia yang memiliki berjuta-juta Kristen Ortodoks, sudah sepantasnya mengakui toleransi beragama sebagai seluruh satu prinsip utama dalam politik dalam negerinya. Jesuit tidak menyukai hal tersebut.

Kolonel Beck, menteri luar negeri Polandia dari tahun 1932-1939 berkomentar (setelah Perang Dunia II) : ”Vatikan adalah penyebab utama tragedi di negeri saya. Saya terlambat menyadari bahwa kami telah menjalankan politik luar negeri untuk kepentingan gereja Katolik“.

Tahun 1581 Pastor Possevino, berusaha mempertemukan Czar Ivan the Terrible dari Moskow dan Gereja Roma. Ivan menerima. Penuh dengan harapan, Possevino, tahun 1584, menjadi mediator perdamaian di Kirewora Gora antara Rusia dan Polandia, sebuah perjanjian perdamaian yang menyelamatkan Ivan dari kesulitan-kesulitan yang tidak mudah dielakkan. Sebenarnya ini yang diharapkan oleh penguasa yang licik itu, Ivan. Tidak ada lagi pembicaraan mengenai pengkatolikkan Rusia. Possevino meninggalkan Rusia tanpa hasil. Dua tahun kemudian kesempatan bagi para pastor/biarawan yang lebih baik muncul untuk menguasai Rusia : Grisehka Ostrepjew, -seorang mengungkapkan bahwa dia sebenarnya Dimitri, putra Czar Ivan, yang telah dibunuh- berjanji untuk menyerahkan Rusia kepada Roma karena dia adalah pewaris tahta Czar. Tanpa pikir panjang, Jesuit memperkenalkan Ostrepjew kepada keluarga Palatine of Sandomir yang kemudian menikahkan putrinya dengan Ostrepjew. Mereka berhasil membangkitkan tentara Polandia untuk melawan Czar Boris Gondovnov. Sebagai hadiahnya, Dimitri palsu menyerahkan, dalam nama Ostrepjew, dan menjanjikan pembentukan ordo Jesuit di Moskow, dekat Kremlin, setelah kemenangannya atas Boris.

Tanggal 27 Mei 1606, Dimitri palsu membunuh beberapa pengikut Polandia. Aliansi antara Austria dan Sigismond III untuk melawan Turki, yang tentunya didukung oleh Ordo Jesuit. Polandia merupakan negara yang paling menderita karena dominasi Jesuit, dan Portugal merupakan negara dimana Jesuit begitu berkuasa. Polandia tidak hanya memiliki seorang raja para Jesuit, tetapi juga seorang raja Jesuit tulen, Jean-Casimir, penguasa milik ordo Jesuit sebelum pengangkatannya sebagai raja tahun 1649.

BAB V: SWEDIA dan INGGRIS

Di negara-negara Skandinavia, paham Lutheran menenggelamkan segala sesuatunya, dan sewaktu para Jesuit balik membalas, mereka tidak menemukan seperti apa yang terjadi di Jerman : partai Katolik termasuk kelompok minoritas tetapi tetap kuat.

Harapan mereka satu-satunya adalah berusaha mengkatolikkan penguasa yang secara rahasia disukai oleh Kekatholikkan yaitu raja Jean III lagipula dia menikahi seorang putri Polandia, Catherine, seorang Katolik Roma tahun 1568. Tahun 1574, Pastor Nicolai dan Jesuit lainnya dikirimankan untuk mendirikan sekolah teologia dimana mereka menjadi para “penginjil” (proselytizers) Roma yang emosional. Kemudian sang negosiator yang pandai, Possevino berhasil mengkatholikkan Jean III dan mengatur pendidikan putranya Sigismond, yang akan menjadi Sigismond III, raja Polandia, ketika saatnya tiba untuk menyerahkan Swedia kepada Tahta Suci, keadaan raja : pernikahan para pendeta, penggunaan bahasa daerah dalam misa dan komuni, yang semuanya telah ditolak oleh kaum Curia Roma, membuat negosiasi-negosiasi menemui jalan buntu. Lagipula, raja yang telah kehilangan istri pertamanya ini, menikah kembali dengan seorang Lutheran dari Swedia, Jesuit akhirnya harus meninggalkan negara tersebut.

50 tahun kemudian ordo Jesuit memperoleh kemenangan besar di Swedia. Ratu Christine, putri Gustave-Adolphe, keturunan terakhir dari keluarga Wasas, menjadi Katolik karena konflik. Karena pindah agama, Ratu Christine pun harus turun tahta tanggal 24 Juni 1654.

Di Inggris sebaliknya, situasi tampaknya berpihak pada Serikat Yesus ini dan berharap, walaupun untuk sementara, membawa negara ini kembali di bawah kekuasaan Tahta Suci. Pada waktu Elisabeth naik tahta tahun1558, seluruh penduduk Irlandia adalah umat Katholik, sedangkan Inggris mencapai 50% dari total penduduk pada tahun 1542.

Seminari-seminari dibentuk dibawah arahan Jesuit, dengan tujuan untuk melatih para misionaris Inggris, Irlandia dan Skotlandia. Dalam perjanjian dengan Philip II dari Spanyol, Roma bekerja untuk menyingkirkan Elizabeth demi kepentingan Mary Stuart yang Katolik. Jesuit yang telah tiba di Inggris tahun 1580, ambil bagian dalam sebuah pekerjaan besar Katolik di Southwork.

Jesuit,secara rahasia, mencetak selebaran yang mennetang Ratu dan Gereja Anglikan. Salah satu dari Jesuit itu, Pastor Campion, akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Mary Stuart pun dihukum mati tahun 1587.

Kemudian datanglah ekspedisi Spanyol yang membuat Inggris gemetar untuk sesaat dan hal ini membuat Jesuit sedikit leluasa untuk bergerak. Walaupun Jesuit tidak bisa melanjutkan proyek-proyek besarnya dan hanya melatih pastor-pastor Inggris di Valladolid, Seville, Madrid dan Lisbon, tetapi propaganda rahasianya masih berlanjut di Inggris dibawah arahan Pastor Garnett. Dibawah Raja James I, pengganti Elizabeth, Garnett ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung juga.

Dibawah pemerintahan Raja Charles II, yang bersama Louis XIV menandatangani perjanjian rahasia untuk mengembalikan Kekatolikan di Inggris, Jesuit mengira akan menang. Tetapi mereka salah, Charles II menggantung 5 pastor Jesuit dengan tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi. Demikian juga pada masa Raja James II, yang berpura-pura akan mengkatolikkan Inggris dan mengijinkan Jesuit di negaranya. Jesuit kembali tertipu.

Semua peristiwa diatas menjadi penyebab revolusi 1688. Jesuit terlalu lemah untuk melawan arus. Di Inggris, perbandingannya adalah 20 orang Protestan untuk 1 orang Katolik. Raja terjungkal; semua anggota Jesuit dimasukkan ke dalam penjara atau bahkan dibinasakan. Jesuit telah kalah di Inggris.

BAB VI: PERANCIS

Tahun 1551, ordo Jesuit mulai menancapkan kukunya di Perancis, setelah 17 tahun sejak pendiriannya di Kapel Santo Denis di Montmartre.

Mereka memperlihatkan diri mereka sebagai musuh gerakan reformasi yang telah memenangkan sepertujuh populasi Perancis, tetapi rakyat Perancis mencurigai para Jesuit ini sangat loyal terhadap Tahta Suci sehingga penetrasi Jesuit berlangsung lamban pada awalnya. Seperti layaknya di negara lain dimana mereka tidak disukai oleh rakyat kebanyakan, mereka mendekati pejabat-pejabat pengadilan, kemudian melalui orang-orang ini, mereka masuk ke kalangan kelas atas. Tetapi di Paris, anggota Parlemen dari kalangan universitas dan bahkan Pendeta tetap menunjukkan sikap bermusuhan. Hal itu tampak jelas sewaktu Jesuit hendak membuka sebuah sekolah (college).

Walaupun demikian para Pastor Jesuit diijinkan menetap di Billom, sudut kota Auvergue. Dari daerah ini, mereka mengatur sebuah aksi besar melawan gerakan reformasi di propinsi-propinsi di Perancis bagian Utara.

Ordo Jesuit akhirnya berhasil mendirikan College of Clermont berkat Ibu Suri Catherine of Medici, yang mana akhirnya terjadi persaingan dengan pihak Universitas. Perlawanan dari Universitas, Pendeta dan Parlemen berkurang karena konsesi, secara verbal, yang dibuat ordo tersebut yang berjanji untuk menyetujui hak azasi manusia; tetapi pihak Universitas telah berjuang lama dan keras melawan slogan “Manusia disuap dengan dibiayai oleh Perancis untuk mempersenjatai mereka sendiri melawan Raja”, menurut Etienne Pasquier, dan yang kata-katanya kemudian terbukti benar.

Dalam College of Clermont dipraktekkan hal berikut “Jacques Clement telah melakukan perbuatan terpuji yang diilhami oleh Tahta Suci…….. jika kami bisa berperang melawan raja (Perancis), maka mari kita berperang; jika kita tidak bisa berperang melawan raja, maka mari kita bunuh dia……..” dan berikut ini “Kita membuat kesalahan besar pada hari Santo Bartholomew; seharusnya kita menumpahkan darah anggota kerajaan.”

Tahun 1592 Barriere yang mencoba membunuh Henry IV mengaku bahwa Pastor Varade, Rektor Ordo Jesuit di Paris, telah membujuknya untuk melakukan percobaan pembunuhan tersebut. Tahun 1594, lagi usaha pembunuhan dilakukan oleh Jean Chatel, mantan murid Jesuit yang telah mendengarkan pengakuan Barriere sebelum melakukannya. Latihan-latihan untuk melakukan pembunuhan tersebut dilaksanakan dikediaman Pastor Guignard. Pastor tersebut kemudian dihukum gantung di Greve. Kemudian Raja mengeluarkan maklumat agar Parlemen menghancurkan ordo Jesuit dari kerajaannya, karena mereka adalah “Koruptor, perusak kedamaian umum dan musuh Negara dan Kerajaan Perancis………………..”

Maklumat tersebut tidak dijalankan dengan sepenuhnya, tahun 1603, maklumat tersebut dicabut oleh Raja tanpa menghiraukan nasehat dari Parlemen. Aguaviva, Jenderal Jesuit, pandai dalam melakukan manuvernya dan dapat meyakinkan Raja Henry IV bahwa bila ordo Jesuit didirikan kembali di Perancis, akan melaksanakan kepentingan negara dengan loyal. Bagaimana dia bisa mempercayai bahwa orang-orang Roma yang fanatik akan menerima maklumat Nantes (1498) yang menetapkan hak-hak orang Protestant di Perancis, dan bahkan lebih buruk lagi mereka (Ordo Jesuit) akan mendukungnya (Henry IV) melawan Spanyol dan Kekaisarannya ? Kenyataannya, Henry IV memilih Pastor Cotton, seorang anggota ordo Jesuit yang paling menonjol, sebagai penasehat dan pembimbing keluarga Dauphui. Tanggal 16 Mei 1610, pada malam kampanye Henry IV untuk melawan Austria, dia dibunuh oleh Ravaillac yang mengaku bahwa ia telah diilhami oleh tulisan-tulisan Pastor Mariana dan Suarez.

Parlemen menyatakan bahwa Ravaellac hanyalah alat dari ordo tersebut dan memerintahkan untuk membakar buku-buku Mariana.

Berkat Pastor Cotton, Serikat Yesus dapat keluar dari permasalahan ini. Kekayaannya, institusi-institusi yang didirikannya bertumbuh dengan cepat. Sewaktu Louis XIII naik tahta, dan Richelieu memegang kuasa pemerintahan, terjadi benturan-benturan kepentingan. Kardinal tidak membiarkan seorangpun melawan kebijakan politik Richelieu Caussin seorang Jesuit dan penasehat Raja, mengetahui hal tersebut sehingga ia dimasukkan ke dalam penjara, atas perintah Richelieu, sebagai musuh negara.

BAGIAN III: MISI

BAB I: INDIA, JEPANG, CINA

Menarik orang-orang kafir menjadi Katholik merupakan tujuan pertama ordo Jesuit. Walaupun kebutuhan untuk memerangi kaum Protestan di Eropa melibatkan murid-murid Jesuit, dan secara politik dan keagamaan, menjadi tugas utama mereka, mereka kemudian melalui penginjilan di negara-negara yang jauh.

Idealisme mereka adalah menaklukkan dunia dibawah kekuasaan Tahta Suci, sehingga mereka harus pergi keseluruh dunia untuk menaklukkan jiwa-jiwa.

Francis Xavier, salah satu teman Iganitius yang pertama, adalah pendukung terbesar penginjilan di Asia. Tahun 1542, dia mendarat di Gaa dan mendapatkan bahwa disana sudah ada seorang Uskup, sebuah Katedral dan ordo Fransiscan yang bersama dengan para pendeta Portugis sudah memulai penyebaran ajaran Kristus. Sebenarnya ia tidak lebih dari hanya seorang pelopor dan “penggembira” daripada seseorang yang dapat menghasilkan sesuatu yang abadi. Berapi-api, antusias, selalu mencari “ladang” baru, dia tidak lebih seorang penunjuk jalan daripada seorang yang melapangkan jalan. Di Malaka, pulau Banda, Makasar dan Srilangka, ia memenangkan 70.000 orang kafir terutama dari kasta rendahan karena kepribadiannya yang menyenangkan dan kemampuan pidatonya yang mengagumkan. Ia berhasil karena tidak memandang rendah terhadap dukungan politik dan militer Portugis. Hal ini juga berdampak terhadap meningkatnya kepentingan terhadap misi serupa di Eropa dan kemashyuran terhadap Serikat Yesuit.

Francis Xavier kemudian meninggalkan India menuju Jepang. Tahun 1552, ia meninggal saat hendak memasuki Canton, Cina. Pengganti Francis Xavier di India, Robert de Nobile, dengan sukses menerapkan metode yang sama yang diterapkan di Eropa. Ia masuk ke kalangan atas dengan cara mengadopsi cara berpakaian mereka, kebiasaan, cara hidup kaum Brahmana, dan mencampur upacara keagamaan mereka dengan Kekristenan. Dia mengaku telah memenangkan 250.000 jiwa, tetapi seabad setelah kematiannya, sewaktu dilakukan observasi oleh Paus Benedict XIV, ke – 250.000 tidak tampak batang hidungnya.

Francis Xavier yang mendarat di Jepang mulai melakukan tugasnya, bersama dengan seorang penduduk asli Jepang yang telah menjadi seorang Katolik, Yagiro.Setahun kemudian dia mengaku telah memenangkan 100.00 jiwa. Tahun 1587 terjadi peperangan antar klan di Jepang. Jesuit memanfaatkan perang ini dan bekerja sama dengan pedagang Portugis. Karena kerja samanya ini, penguasa Jepang yang menang tidak mempercayai Jesuit lagi. Akibatnya gereja Katolik di Jepang dihancurkan, 6 pastor ordo Fransiskan dan 3 pastor ordo Jesuit disalib, orang-orang Katolik Jepang dibunuh dan ordo Jesuit pun dilarang.

Peristiwa diatas tidak menyurutkan semangat Jesuit. Mereka tetap bertahan di Jepang dan melakukan kegiatannya dengan rahasia. Tahun 1614, Shogun pertama, Tokugawa Yagasu, tidak menyukai aksi berhala mereka mulai mengeksekusi para Jesuit. Tahun 1638 pemberontakan oleh para Kristen Nagasaki ditumpas. Berakhirlah petualangan Jesuit di Jepang.

Di Cina, Jesuit diterima dengan baik dan kebanyakan berperan sebagai ilmuwan dan tunduk kepada upacara keagamaan yang telah berusia beratus-ratus tahun. Ilmu yang ditransfer kepada orang Cina yaitu meteorologi dan kenyataan bahwa bumi adalah bulat. Lagipula orang Cina tidaklah sefanatik orang Jepang. Sebelumnya seorang pastor Italia, Ricci, telah membuka jalan ke Cina. Dia menjadi seorang astronomi. Astronomi dan matematika memegang peranan penting dalam institusi-institusi ilmiah di Cina.

Sebenarnya cukup menggelitik untuk diketahui bahwa para pastur di Peking sibuk meralat kekeliruan-kekeliruan dalam astronomi Cina, sedangkan di Roma, Tahta Suci terus menghujat sistem Copernicus dan hal tersebut terjadi sampai 1822 !

Tahun 1599 gereja Katolik pertama di Peking berdiri. Kemudian Ricci meninggal dan digantikan oleh seorang Jerman, Pastur Shall von Bell, seorang ahli astronomi yang juga menerbitkan beberapa tulisan dalam bahasa Cina; tahun 1644, dia diberi gelar “Presiden Matematika”, yang tentu saja menimbulkan keirian di antara orang-orang Cina sendiri. Tahun 1617, semua orang asing di usir keluar Cina; kemungkinan karena para pastur yang baik itu dikirimkan ke Portugis dalam kurungan kayu; tetapi kemudian mereka dipanggil kembali karena mereka merupakan para ahli astronomi yang terampil. Kaisar melihat suatu ramalan adanya bahaya karena penetrasi dari Pasifik.

Tidak hanya dalam astronomi, dalam penginjilanpun mereka terampil. Mereka menginjili di 41 daerah di Cina, 159 gereja didirikan dan 257.000 anggota dibaptis. Tetapi kemudian mereka diusir lagi dan Pastur Shall akan dihukum mati. Tetapi dia selamat karena adanya gempa bumi dan kebakaran di istana kekaisaran yang dengan cerdiknya diubah menjadi sebagai tanda bahwa sorga sedang murka, dan dia meninggal 2 tahun kemudian dengan damai. Rekan-rekannya akhirnya harus meninggalkan Cina.

Tahun 1669, atas penghargaan yang tinggi kepada para Jesuit Kaisar Kang-Hi memanggil mereka kembali dan memerintahkan upacara pemakaman yang khidmat terhadap sisa tulang Lam Lo Vam (Jean-Adam Shall). Seorang pastur Belgia, Verbiest, menggantikan Shall. Kang-Hi yang memerintah selama 61 tahun sangat menghargai segala hal yang telah dilakukan oleh Verbiest.

Tetapi di Cina seperti halnya di Malabar, Katolik tidak akan bertahan kalau tidak disertai dengan kelicikan-kelicikan Jesuit men-campur-aduk-kan doktrin Roma dengan pengajaran Cina, Tuhan disamakan dengan Tien atau Chang-Ti, mencampur ritual Kristen dengan Ritual Cina, menerima pengajaran Konfusius, pemujaan para leluhur dan lain-lain.

Paus Clement XI mengecam cara Jesuit tersebut dan akhirnya pekerjaan Jesuit di Cina hancur. Pengganti Kang-Hi melarang kekristenan dan para pastur terakhir di Cina meninggal dan tidak digantikan.

BAB II: AMERIKA: PARAGUAY, NEGARA JESUIT

Misionaris Serikat Jesuit di benua Amerika jauh lebih mudah daripada di Asia, karena:

  1. Tidak ada peradaban yang maju seperti astronomi di Cina.
  2. Tidak ada agama yang mapan
  3. Suku-suku yang miskin dan barbar
  4. Secara rohani tidak ada kekuatan.

Di Canada, suku Huron menerima Jesuit sedangkan suku Iroguois, musuh suku Huron menyerang pos-pos Jesuit di benteng Sainte-Marie dan membunuh penghuninya. Tahun 1649, 300 orang yang selamat meninggalkan Canada.

Tahun 1546, Portugis memanggil para Jesuit untuk bekerja di daerah-daerah yang dikuasai Portugis di Brasil; terjadi banyak konflik antara Jesuit dengan penguasa sipil dan ordo-ordo lainnya.

Tetapi Paraguay adalah negeri untuk dijadikan koloni Jesuit; negeri ini terbentang dari Atlantik sampai Andes dan meliputi daerah-daerah, yang sekarang menjadi milik Brasil, Uruguay dan Argentina. Awal abad 17, Paraguay dijadikan propinsi oleh Jenderal Ordo Jesuit yang mendapat kuasa dari pemerintah Spanyol.

Jesuit menerapkan disiplin keras terhadap masyarakat baru ini suku Guarani. Semua yang dimiliki seorang Kristen adalah kepunyaan Tuhan. Anak yang menyusui harus dalam perlindungan ibunya…….kalau dia sudah bisa berjalan, dia ada di bawah kekuasaan pastur. Pada saat beranjak dewasa, anak perempuan diajar memintal, dan yang laki-laki diajar membaca dan menulis. Ketika yang perempuan berusia 14 dan laki-laki 16 tahun, mereka dinikahkan. Tidak satupun dari mereka dapat menjadi pastur, biarawan, apalagi seorang Jesuit…….tidak ada kebebasan……….Jesuit mengawasi mereka dan juga menghukum mereka atas kesalahan-kesalahan yang paling kecil sekalipun.

Suku Guaranis ini harus menerima semua metode ala Jesuit selama lebih dari 150 tahun, sampai para Jesuit meninggalkan Paraguay pada abad 18. Suku Guaranis kembali lagi ke hutan mereka, kembali ke sifat asal mereka: malas, picik, sensual, rakus, jorok dan menjalankan kebiasaan kunonya lagi, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

BAGIAN IV: PARA JESUIT di MASYARAKAT EROPA

BAB I: PENGAJARAN JESUIT

Bunda Maria sangat dipuja dalam pengajaran Jesuit, karena Loyola sendiri menganggap Bunda Maria merupakan hal terpenting dalam hidupnya. Pemujaan terhadap Maria merupakan dasar imannya dan hal tersebut diterapkan dalam ordonya sendiri. Pemujaan tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga terkadang dianggap bahwa pemujaan tersebut merupakan agama Jesuit yang sebenarnya.

Seorang Jesuit mendapat penglihatan bagaimana Maria melindungi Serikat Jesuit dengan jubahnya sebagai tanda sebuah perlindungan yang istimewa. Yang lainnya, Rodrigue de Gois, yang terpesona oleh kecantikannya melihat Maria membumbung tinggi di udara. De Gois, orang baru di Jesuit dan meninggal di Roma tahun 1581, dibela oleh Maria dalam peperangannya melawan godaan-godaan iblis; menguatkannya, memberinya setetes “darah Yesus” dari waktu ke waktu dan “kenyamanan dalam dekapannya”.

Doktrin Duns Scop mengenai konsepsi Immaculate diadopsi oleh Ordo Jesuit yang kemudian di tahun 1854 berhasil menjadikannya sebuah dogma oleh Pius IX.

Di gereja St. Michael di Munich, terdapat kerudung Maria, beberapa helai rambutnya dan sisirnya. Benda-benda ini dipuja secara khusus oleh Jesuit. Pemujaan ini berlangsung terus.

Ignatius menginginkan muridnya memiliki kesalehan yang sensual sama seperti yang ia miliki. Tidak heran kalau mereka sukses dengan suku Guarani yang cocok dengan pemujaan yang erotis. Tanpa rasa lelah mereka bekerja mempropagandakan semangat pemujaan tersebut dan praktek-praktek berhala; karena pengaruh Jesuit yang begitu kuat terhadap Tahta Suci, Jesuit dapat memaksakan praktek-praktek tersebut dalam gereja Roma.

Selama 200 tahun pemujaan ini terus berkembang dan menghiasi gereja Roma tersebut. Sampai sekarang anak-anak Loyola mencoba menyesuaikan konsep ini dengan semangat zaman sekarang.

Instruksi-instruksi yang diberikan oleh Jesuit lebih berkesan menyolok daripada mendalam, atau sekedar bersifat formalitas belaka. Mereka menolak kebebasan karena kebebasan dapat berakibat fatal terhadap pengajaran-pengajaran yang diberikan.

Sebenarnya guna relatif pengajaran Jesuit akan berkurang kalau ilmu pengetahuan dan metoda pendidikan yang maju dan berkembang, didasarkan pada konsep kemanusiaan (Humanity) yang luas dan mendalam. Semakin maju suatu masyarakat, Jesuit semakin kehilangan pijakannya, hal tersebut tidak semata-mata karena kemerosotan yang dialami mereka sendiri, tetapi karena perubahan-perubahan cara berfikir masyarakat di sekitar mereka …………… selama abad 16, Jesuit-lah yang terdepan, tetapi selama abad 18 mereka ketinggalan.

BAB II: MORAL PARA JESUIT

Semangat untuk menaklukkan, keinginan yang menyala-nyala untuk menarik hati nurani dan menguasainya, hanya menyebabkan para Jesuit tersebut lebih toleran dengan orang-orang yang menyesal daripada para pengaku dosa yang berasal dari ordo lain atau biarawan biasa. “Kami tidak menangkap lalat dengan cuka”, begitu perumpamaannya.

Pengakuan dosa sebenarnya jarang dilakukan di Abad Pertengahan, tetapi karakter gereja Roma yang keras dan dominan membuat praktek pengakuan dosa menyebar dan bertumbuh dengan cepat. Kenyataannya selama abad ke 16, pengakuan dosa menjadi kewajiban beragama yang harus diteliti dengan cermat. Ignatius menganggap pengakuan dosa itu penting dan menyarankannya kepada murid-muridnya. Hasilnya cukup mengagumkan. Pengakuan dosa menjadi sebuah simbol kekuatan dan kegiatan ordo tersebut.

Karena hal pengakuan dosa inilah, Jesuit bisa masuk ke kalangan atas yang memerlukan para Confessor (pastur yang mendengarkan pengakuan dosa mereka) daripada misa bagi para pendosa biasa.

Selama abad ke-17, para Confessor ini tidak hanya mempunyai pengaruh politis dimana-mana, tetapi juga diterima dan kadang-kadang mempunyai fungsi atau pos secara politis. Dengan dipakainya para Confessor tersebut, hal ini menguntungkan ordo dan Roman Curia. Mereka juga mempelajari aturan-aturan dengan teliti dan penerapannya terhadap semua kasus yang disidangkan; catatan mereka tentang teologi moral membuat ordo tersebut terkenal dengan reputasinya yang dapat halus mendistorsi dan menyesatkan kewajiban-kewajiban moral dalam pengadilan.

Contohnya “Anda tidak boleh bersaksi palsu”;”Kesaksian palsu terjadi hanya kalau seseorang yang bersumpah menggunakan kata-kata yang dia tahu akan mengelabui hakim, jadi penggunaan istilah yang mempunyai 2 arti diperbolehkan dan bahkan keberatan atas keadaan mental seseorang dalam situasi tertentu diperbolehkan……..” “ Jika seorang suami menanyakan istrinya yang berselingkuh bahwa dia sudah merusak tali perkawinan mereka, sang istri dapat berkata “tidak” tanpa keraguan kalau ikatan tersebut masih ada kalau sang istri sudah meraih pengampunan dosa pada saat mengaku dosa, dia dapat berkata “ Saya tidak berdosa”, jika, pada waktu dia mengatakan hal tersebut, dia menganggap bahwa pengampunan dosalah yang mengangkat beban dosanya. Jika suaminya masih meragukannya, dia dapat meyakinkannya dengan mengatakan bahwa ia tidak berselingkuh, dan jika dia berselingkuh lagi dia diharuskan mengakuinya.

Contoh lain: dalam sepuluh perintah Tuhan yaitu: jangan engkau membunuh. Tetapi tidak berarti setiap orang yang membunuh itu berdosa. Sebagai contoh: jika seorang bangsawan diancam akan dipukul, dia dapat membunuh pengancam tersebut; tetapi tentu saja hak tersebut hanya berlaku untuk para bangsawan. Contoh lain adalah pastor Benzi, dia menyatakan bahwa memegang dada biarawati adalah pelanggaran ringan. Peraturan-peraturan lain yang menguntungkan Jesuit antara lain: adalah sah untuk membunuh para tiran yang terbukti bersalah karena tidak mengerjakan kepentingan Tahta Suci; seorang biarawan diijinkan untuk membunuh siapa saja yang memfitnah dia atau komunitasnya.

Jadi Ordo Jesuit menetapkan hak-hak bagi dirinya sendiri untuk memusnahkan lawan-lawannya dan bahkan anggota ordo itu sendiri yang, sudah keluar dari ordo tersebut, yang berbicara terlalu banyak mengenai Ordo Jesuit.

Caramuel, anak rohani Loyola, mengatakan bahwa aturan-aturan tersebut harus dipegang erat dan dipertahankan: “ Seorang Pastor dapat menggunakan aturan-aturan tersebut sebagai alasan untuk membunuh wanita dan mempertahankan kehormatannya sebagai seorang pastor.”

Teori-teori tersebut juga dapat digunakan untuk menutupi kejahatankejahatan yang dilakukan oleh para rohaniawan dan mungkin dipakai untuk menutupi kasus pastur Uruffe tahun 1956.

BAB III: KEMUNDURAN ORDO JESUIT

Kesuksesan Serikat Yesuit yang diperoleh di Eropa dan negara-negara asing lainnya walaupun diselingi dengan beberapa ketidakberuntungan, meyakinkan Serikat ini akan keadaan yang lebih besar untuk jangka waktu yang panjang. Tetapi, seperti yang sebelumnya sudah disebutkan, waktu tidak berjalan seturut keinginannya. Adanya perubahan dalam berpikir dan kemajuan ilmu pengetahuan cenderung untuk merubah cara-cara berpikir, orang-orang biasa dan kerajaan menganggap semakin lama semakin sulit mempertahankan kekuasaan serikat ini.

Juga penyalahgunaan, yang lahir akibat dari kesuksesannya, mengganggu serikat ini secara interen. Selain terlibat secara mendalam dalam politik, terhadap pelecehan kepentingan nasional, aktifitasnya yang membabi buta justru membuatnya jatuh dalam bidang ekonomi.

Para pastor Jesuit terlibat terlalu dalam dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan keagamaan, yaitu dalam perdagangan, pertukaran mata uang, sebagai likuidator perusahaan-perusahaan yang bangkrut. Roman College, yang seharusnya menjadi model intelektual dan moral semua college Jesuit justru memproduksi kain dalam jumlah besar di Macerata dan menjualnya dengan harga murah. Pusat kegiatan Jesuit di India, Antilles, Mexico dan Brasil melakukan perdagangan produk-produk para penjajah negara-negara tersebut. Di Martinique, seorang agen membuka perkebunan yang sangat luas dan mempekerjakan budak-budak negro.

Inilah sisi-sisi komersial misi-misi yang dilakukan sampai sekarang. Gereja Roma tidak pernah meremehkan hasil pengedukan keuntungan sementara dari para penakluk “spiritual” – nya. Jesuit sebenarnya sama seperti ordo-ordo lainnya; mereka bahkan melebihi Jesuit sendiri. Dalam beberapa kasus, kita tentunya mengetahui sekarang ini, para pastor putih (The white fathers) adalah pemilik-pemilik tanah terkaya di Afrika Utara.

Di Mexico, mereka memiliki pertambangan dan penyulingan gula; di Paraguay perkebunan teh dan coklat, pabrik karpet; mereka juga beternak dan mengekspor bagal (sejenis keledai) 80.000 setiap tahunnya.

Agar dapat memperoleh keuntungan lebih besar, para pastor tersebut tidak segan-segan menipu menteri keuangan negara, seperti pada kisah terkenal dimana kotak-kotak yang katanya berisi coklat yang diturunkan di Cadix ternyata berisi bubuk emas.

Uskup Palafox, menulis kepada Paus Innocent VIII tahun 1647 bahwa: “Semua kekayaan Amerika Selatan ada di tangan Jesuit”.

Bidang keuangan juga memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi Jesuit. Di Roma, bendahara ordo mengirimkan ke kedutaan besar Portugis atas nama pemerintah Portugis. Sewaktu Auguste Le Fort berangkat ke Polandia, para pastor Vienna dengan Jesuit Varsovie memberikan kredit kepada anggota-anggota kerajaan. Di Cina, para pastor Jesuit meminjamkan uang kepada pedagang dengan bunga 25%, 50%, dan bahkan 100%.

Ketamakan dan tidak bermoralnya Ordo Jesuit serta turut campurnya dalam politik dan mencampuri hak prerogatif para biarawan membuat ordo ini dibenci dimana-mana. Di kalangan atas, ordo Jesuit telah kehilangan reputasinya, di Perancis, segala usahanya untuk mempertahankan masyarakat Perancis dalam situasi keagamaan yang penuh formalitas dan mistik tidak berhasil.

Walaupun demikian, kekayaan secara material, posisi di pengadilan dan dukungan dari Tahta Suci, memungkinkan Jesuit tetap bertahan, walaupun sebenarnya dia berada di jurang kehancuran. Sekalipun mereka mendapat banyak aral rintangan, hampir setiap saat, mereka mampu kembali lagi untuk merebut posisi mereka yang hilang.

Suatu hal yang aneh terjadi, ketika gereja Katolik Portugal, yang mana pengaruhnya mengakar kuat di Eropa, menyerang Ordo Jesuit.

Perjanjian penetapan perbatasan di Amerika yang melibatkan Spanyol dan Portugal tahun 1750, memberikan Portugis sebuah teritorial yang sangat luas di sebelah timur sungai Uruguay dimana Jesuit juga bekerja. Akibatnya, para pastor Jesuit mundur sampai mencapai daerah Spanyol. Para Jesuit ini mempersenjatai para Guaranis, berperang gerilya dan akhirnya dapat mempertahankan daerah di sebelah timur sungai Uruguay yang akhirnya dikembalikan kepada Spanyol.

Bangsawan Pombal, Perdana Menteri Portugis, merasa terhina. Selain itu, Pombal yang merupakan murid Jesuit tidak menampilkan ciri khas Jesuit dan menggunakan inspirasi yang berasal dari para filosofi Perancis dan Inggris. Tahun 1757, dia mengusir para Jesuit dari keluarga kerajaan dan melarang mereka berkotbah, kemudian ia menyebarkan pamflet kepada publik yang akhirnya membuat Ordo Jesuit terusir keluar dari seluruh teritorinya.

Peristiwa tersebut menjadi sensasi di Eropa, dan khususnya Perancis dimana segera setelah kebangkrutan pastor La Valette terungkap; dia ternyata seorang “businessman” yang menangani transaksi gula dan kopi dalam jumlah besar untuk Jesuit. Jesuit menolak membayar hutang-hutang pastor ini. Parlemen, setelah mempelajari konstitusinya, memutuskan keberadaan Ordo Jesuit di Perancis tidak sah dan mengecam 24 macam pekerjaannya.

Tanggal 6 April 1762, Parlemen Perancis mengeluarkan pernyataan bahwa Ordo Jesuit tidak dapat diterima keberadaan di negara beradab manapun, karena sifatnya yang bermusuhan terhadap semua agama dan pemerintah. Singkatnya doktrin Jesuit digambarkan sebagai berikut: “Sesat, menghancurkan agama dan kejujuran, menghina moral Kekristenan, pembunuh masyarakat sipil, musuh hak-hak asasi, kerajaan dan bahkan keamanan serta ketaatan penguasa negara; dapat menciptakan kekacauan besar, menciptakan dan mempertahankan sifat korupsi dalam hati manusia.”

Di Perancis, kekayaan ordo tersebut diambil alih untuk kepentingan raja dan tidak seorang pun anggota ordo tersebut diijinkan tinggal di dalam kerajaan kecuali dia mau mengucapkan kaul dan bersumpah untuk mengikuti peraturan umum kependetaan di Perancis.

Di Roma, Jenderal Jesuit, Ricci, memperoleh pernyataan dari Paus Clement XIII yang menegaskan hak-hak istimewa ordo tersebut dan menyatakan ketidakterlibatan ordo dalam perkaranya. Tetapi terlambat, di Spanyol, orang Bourbon melarang semua bentuk-bentuk dari ordo tersebut. Maka berakhirlah negara Jesuit Paraguay. Pemerintah Napoli, Parma dan Malta juga mengusir keluar semua pengikut Loyola. 6000 pengikut Loyola di Spanyol mengalami peristiwa aneh setelah mereka dijebloskan ke penjara. “Raja Charles III mengirim semua tahanan ke paus disertai sebuah surat yang menyatakan bahwa dia menyerahkan mereka ke dalam kebijaksanaan dan pengawasan Tahta Suci.” Tetapi ketika mereka tiba di Civita dan Vecchia, para tawanan itu disambut dengan hujan peluru yang ditembakkan atas perintah jenderal mereka sendiri.

Paus Clement XIII yang terpilih 6 Juli 1758, selalu menolak permintaan beberapa negara yang menginginkan Jesuit untuk dilarang selamanya. Tanggal 3 Februari 1769, ia merancang pertemuan dan memberitahu para kardinal mengenai penyelesaian masalah Jesuit; sehari sebelum tanggal tersebut dia tiba-tiba sakit dan meninggal.

Kardinal Ganganelli menggantikannya dan mengambil nama Clement XIV. Keluarga Courts terus memaksa dikeluarkan pelarangan total terhadap Jesuit. Tetapi kepausan tidak terburu-buru dan empat tahun berlalu sebelum Clemet XIV menyetujui hal tersebut, Ricci, jenderal Jesuit bahkan dipenjarakan di kastil Saint Ange dan meninggal disana.

Ganganelli (Clement XIV) mengetahui bahwa dia akan mati (terbunuh) karena pelarangan tersebut dan dia benar, poster-poster mulai bermunculan bertuliskan: I.S.S.S.V; dan tidak seorangpun yang mengetahui artinya kecuali Clement. I.S.S.S.V. (In Settembre, Sara Sede Vacante) berarti pada bulan September Tahta Suci akan kosong (= paus akan meninggal). Pada tanggal 22 September 1774, Paus Clement XIV meninggal karena diracun.

Di Austria Ratu Marie-Therese, juga telah mengusir semua Jesuit dari negaranya. Hanya Frederik dari Prussia dan Catherine II, Ratu Rusia, yang menyambut para Jesuit sebagai pendidik. Tetapi di Prussia, mereka hanya bertahan selama 10 tahun sampai 1786. Tahun 1820 mereka diusir dari seluruh Rusia tetapi karena situasi politik mereka menjejakkan kaki mereka lagi di Eropa Barat setelah ordo tersebut didirikan kembali oleh Paus Pius VII tahun 1814.

BAB IV: KELAHIRAN KEMBALI ORDO JESUIT SELAMA ABAD 19

Revolusi Perancis memberikan keuntungan bagi ordo Jesuit. Napoleon I menganggap ordo ini sangat berbahaya; dia harus dilarang di seluruh kerajaan. Tetapi ketika aliansi Tahta Suci menang, kerajaan yang baru tidak menolak bantuan mereka untuk membuat orang-orang kembali kepada kepatuhan yang mutlak terhadap Tahta Suci.

Di Perancis Louis XVIII, seorang ateis dan politisi yang cerdas, mencoba untuk menahan gerakan Jesuit. Tetapi di bawah Charles X, seorang yang berpikiran dangkal dan beriman, Jesuit bebas bertingkah. Tahun 1828 Charles X membatalkan hak ordo untuk mengajar, tetapi terlambat. Dinasti itu jatuh 1830.

Anak-anak Loyola tetap berada di Perancis tetapi tersembunyi, karena secara resmi ordo ini sebenarnya masih dilarang. Louis-Philippe dan Napoleon III memberikan toleransi kepada mereka. Republik Perancis menceraiberaikan mereka tahun 1880 dibawah pemerintahan Jules Ferry.

Selama abad 20, sejarah ordo ini di Amerika dan setengah Eropa mengalami masa turun dan naik. Pada saat orang-orang yang berpikiran liberal berkuasa, Jesuit dienyahkan. Sebaliknya, jika orang-orang berpikiran sempit berkuasa, Jesuit akan bangkit mempertahankan mahkota dan altarnya.

Hanya di negara-negara mayoritas Protestan, Jesuit dapat hidup dengan damai: Inggris, Swedia, Denmark, USA. Mungkin mengherankan tetapi sebenarnya di negara-negara tersebut, para pastor tidak pernah dapat melakukan politik praktis. Tetapi sejujurnya, kekebalan negara-negara Protestan terhadap Jesuit jauh dari sempurna.

Ketakutan-ketakutan yang dimiliki oleh M. Fulop-Miller bahwa kelahiran kembali Jesuit merupakan sesuatu yang tidak menggembirakan, terbukti benar satu abad kemudian.

BAB V: KEKAISARAN KEDUA dan HUKUM FALLOUX – PERANG 1870

Selama pemerintahan Napoleon III di Perancis, keberadaan Serikat Jesuit sangat ditoleransi. Mereka menuntut hak untuk mengajar orang-orang muda. Negara, sebaliknya, menuntut hak untuk mengerahkan publik bagi kepentingan negara sendiri. Pertentangan ini terjadi karena pendapat-pendapat; ide dan emosi yang menyimpang antara pemerintah dan gereja. Keduanya ingin mempengaruhi generasi baru untuk memperkokoh kedudukan dan bagi kepentingan mereka sendiri. Kita tidak mempercayai bahwa semua ikatan antara gereja dan penguasa sipil harus diputuskan untuk menghentikan penyimpangan ini. Sayangnya, menteri agama Perancis umumnya berseberangan dengan kepentingan demokratis; mengijinkan Jesuit mendirikan sekolah-sekolah tanpa pengawasan adalah untuk mendorong mereka mengajar orang yang tidak menyukai revolusi dan kebebasan.

Louis Napoleon Bonaparte, yang diangkat menjadi presiden tanggal 10 Desember 1848, mengumpulkan semua menteri-menterinya, salah satunya adalah M. De Falloux yang merupakan alat Jesuit. Tanggal 4 Januari 1849 de Falloux membentuk komisi yang bertugas untuk: “ mempersiapkan perubahan secara legislatif pendidikan dasar dan menengah”…

Tanggal 15 Maret 1850 tersusun suatu rumusan hukum yang memberi kekuasaan besar kepada Jesuit untuk bergerak di bidang pendidikan. Hal ini tentu diprotes oleh banyak orang, tetapi pemerintah Napoleon tidak mempedulikannya. Hukum tersebut akhirnya disahkan. Tidak pernah sebelumnya Jesuit mengalami kemenangan besar di Perancis.

Semua ini terjadi 100 tahun yang lalu. Tetapi masih terasa sampai sampai sekarang. Revolusi tahun 1848 menimbulkan perlawanan orang-orang terhadap Paus Pius IX, yang telah melarikan diri ke Gaete, republik Roma di proklamirkan. Sebuah resimen Perancis menyerbu Roma tanggal 2 Juni 1849 dan memulihkan kekuasaan Kepausan tersebut; dan berhasil mempertahankan diri berkat bantuan sebuah divisi dari Perancis yang akhirnya meninggalkan Roma segera setelah pecah perang Franco-Jerman tahun 1870.

Kudeta tanggal 2 Desember 1851 memproklamirkan Kerajaan Perancis. Louis Napoleon, Presiden Republik Perancis mendapat sanjungan dari Jesuit. Sebagai seorang Kaisar ia menolak mengampuni lawan-lawan politiknya.

Tetapi setelah 2 tahun ia memerintah terjadi peperangan secara beruntun. Louis Napoleon seharusnya menyadari bahwa motif yang mendasari bersatunya Perancis dan Jesuit: untuk mempertahankan kepentingan Gereja Roma. Salah satu dari perang tersebut adalah perang Crimean. Perang ini dianggap sebagai hadiah bagi perluasan Roma. Perang ini disyukuri oleh semua pastur. Mengapa ? Karena ada pertentangan antara gereja-gereja Ortodoks dan Latin menyangkut perlindungan terhadap tempat-tempat kudus (di Palestina). Siapa yang mengawasi gereja-gereja Betlehem, yang memegang kunci, yang mengatur pekerjaan ? Yang berada dibelakang para biarawan Latin adalah Partai Katholik di Perancis; sedangkan dibelakang Ortodoks adalah Rusia.

Kaisar Rusia meminta perlindungan terhadap Gereja Ortodoks kepada Inggris yang didukung oleh Perancis, tetapi ditolak dan pecahlah perang. Perancis kehilangan 100.000 Prajurit. Menurut Monseigneur Sibour, Uskup Agung Paris: Perang Crimean antara Perancis dan Rusia bukanlah perang politik tetapi perang suci, perang salib.

Tahun 1863, dilakukan ekspedisi ke Mexico yaitu untuk mengubah Republik tersebut menjadi Kerajaan dan menawarkannya kepada Maximilien, Pangeran Austria. Austria adalah pilar utama Kepausan. Tujuan lainnya adalah untuk mendirikan penghalang yang dapat menahan pengaruh Protestan USA terhadap negara-negara di Amerika Selatan, benteng gereja Roma.

Tahun 1867, setelah pasukan Perancis pergi, Maximiliem dipenjara setelah Queretaro menyerah dan ditembak mati, membuka jalan terbentuknya sebuah Republik dimana Juarez menjadi Presiden.

Waktu semakin mendesak karena Perancis harus membayar harga yang sangat mahal karena dukungan politisnya terhadap Vatikan pada saat pasukan Perancis semakin melemah, Prussia mulai melakukan ekspansi kekuatan militernya untuk mempersatukan negara-negara Jerman dalam satu blok. Austria adalah korban pertamanya. Perjanjiannya dengan Prussia untuk menangkap Pangeran Denmark Schleswig dan Holstein, Austria ditipu oleh antek-anteknya. Peperangan kemudian dimenangkan oleh Prussia di Sadowa tanggal 3 Juli 1866.

Napoleon III hamba ‘utusan Tuhan’, diberi kehormatan untuk membalas kekalahan di Sadowa. Pasukan Perancis tidak siap. Perancis menyatakan Perang tahun 1870 yang terbukti oleh sejarah hasil pekerjaan Jesuit.

BAB VI: PARA JESUIT di ROMA

Jesuit memainkan peranan yang besar di Perancis, sama seperti di Tahta Suci. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, mereka adalah dan akan tetap sebagai penyebar ajaran “Ketaatan mutlak, lama atau baru”, kesalehan yang tampak jelas dari luar ini membuat masyarakat khususnya kaum wanita secara berlebihan mencermati masalah keagamaan.

Kita harus mengakui bahwa mereka adalah kaum realis atau kaum yang cenderung memetingkan kebenaran yang harafiah dan pragmatis. Saat akhirnya tiba, dibawah Napoleon III-ketika masyarakat secara keseluruhan, yang terpelajar dan yang acuh, sangat berminat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan teologi. Secara intelektual, paham ke-Katholik-an sudah berakhir.

Dipaksa oleh suatu kebutuhan, anak-anak Loyola, berusaha keras selama abad 19 dan sampai saat ini, membangkitkan keagamaan yang berdasarkan tahayul, diantara kaum wanita, yang dalam jumlah mendominasi kawanan ini.

Untuk pendidikan menengah bagi para gadis, ordo Jesuit memprakarsai berdirinya beberapa perkumpulan-perkumpulan keagamaan untuk wanita. Yang paling terkenal dan aktif adalah Cougregation des Dames Du Sacre-Coeur; tahun 1830; yang terdiri dari 105 kepala-keluarga dengan 4700 guru dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat kalangan atas.

Pemujaan terhadap Maria sangat menolong Jesuit, dengan “Penampakan diri” Bunda Maria terhadap seorang penggembala kecil di Lourdes; yang terjadi 2 tahun setelah Pius IX menyebarkan dogma konsepsi Immaculata (1854), yang dilakukan atas dorongan dari Serikat Jesuit. Tujuan utama dari pengajaran ini adalah untuk memperoleh kemenangan bagi para Jesuit yang mana cengkramannya terhadap masyarakat Roma semakin kuat.

Tahun 1864, Pius IX mengeluarkan surat penggembalaan “Quanta Cura”; diakui dengan “Syllabus” yang mengutuk prinsip-prinsip politik terbaik masyarakat kontemporer.

“Kutukan terhadap hal tersebut merupakan harga yang mahal bagi Perancis modern. Perancis Modern menginginkan kemerdekaan dari negara pengaruh Jesuit: ‘Syllabus’ menetapkan bahwa kekuasaan kepausan harus menjalankan otoritasnya tanpa persetujuan dan ijin dari kekuasaan sipil Perancis Modern menginginkan kebebasan hati nurani dan kebebasan untuk beribadah; syllabus menetapkan bahwa Gereja Roma mempunyai hak untuk menggunakan kekerasan dan menghidupkan kembali inkuisisi. Perancis Modern menerima keberadaan beberapa bentuk ibadah; ‘syllabus’ menetapkan bahwa agama Katholik adalah satu-satunya agama negara. Perancis Modern menyatakan bahwa rakyatlah yang berkuasa; Syllabus menentang hak pilih yang berlaku secara umum. Perancis Modern mengakui bahwa semua orang sama dihadapan hukum; Syllabus menegaskan bahwa para rohaniwan bebas dari pengadilan pidana dan perdata.”

“Doktrin-doktrin tersebut diajarkan oleh para Jesuit di akademi-akademinya. Misi mereka terdiri dari mendidik kaum muda untuk menentang prinsip-prinsip yang mana masyarakat Perancis bertumpu, prinsip-prinsip yang diletakkan oleh generasi sebelumnya, berapapun harga yang harus dibayar. Dengan pengajaran mereka, mereka mencoba untuk membelah Perancis dan membangkitkan keraguan yang

semuanya dilakukan sejak 1789. Kami menginginkan keharmonisan, mereka menginginkan perselisihan, kami ingin memerdekakan Perancis, mereka ingin memperbudak Perancis, mereka adalah masyarakat yang suka bertempur yang menerima perintah dari luar.”

Keinginan Tahta Suci untuk mendominasi masyarakat sipil ditegaskan kembali, seperti yang telah dituliskan oleh Renan tahun 1848: “Kekuasaan rakyat, kebebasan hati nurani dan semua kebebasan modern dikutuk oleh gereja Katholik. Gereja menganggap bahwa Inkuisisi adalah konsekuensi logis dari seluruh sistem Ortodoks. Kalau gereja mampu, dia akan membangkitkan inkuisisi lagi; jika tidak, itu karena ia tidak mampu.”

Kekuasaan Jesuit atas Vatikan, semakin kuat beberapa tahun setelah Syllabus, karena diumumkannya secara resmi dogma bahwa Paus tidak pernah bersalah. Pengikut Abbe Brugerette menulis bahwa dogma ini untuk menutupi peristiwa tragis yang menimpa Perancis 1870-1871 dan Gereja Perancis sudah pindah ke Roma. Monsiegneur Pie (Uskup Poiters) menambahkan bahwa dogma tersebut merupakan pengorbanan otoritas dasar, doktrin dan hak asasi; dogma tersebut meletakkan ketiga hal itu dibawah kekuasaan Paus dan trompet berbunyi mengatakan:” Pauslah raja kita, tidak hanya keinginan dan perintahnya, tetapi harapannya adalah perintah bagi kita.”

Kejatuhan kependetaan di Perancis ke tangan Roma menjadi nyata dan karenanya Katolik Perancis patuh terhadap penguasa, yang berlindung dibalik dogma dan moral, yang tentunya akan memaksakan kehendak politiknya terhadap Perancis. Protes kaum Katolik liberal terhadap Tahta Suci yang memaksakan hukumnya hanya kesia-siaan belaka dengan meng-atas-nama-kan Roh Kudus. Seorang Kandidat doktor teologia menyatakan didepan Fakultas Paris bahwa dogma tersebut bukanlah penipuan dan bahkan hukuman diberikan kepada Galileo (karena menyatakan bumi itu bulat) adalah hal yang benar.

Jesuit yang merupakan agen bagi Pius IX dan semua penguasa konsili, tidak menaruh minat terhadap pengakuan dosa, pengampunan, perasaan dosa yang mendalam atau pemulihan, pada saat mereka hampir mencapai tujuan mereka di Konsili Trente, pertengahan abad 16.

Sebelumnya tidak satu konsilipun menyetujui dogma tersebut, tetapi karena “kesabaran dan ketekunan” Jesuit dalam bekerja sehingga kependetaan Perancis menyerahkan kebebasannya sendiri; kenyataan bahwa kekuasaan sementara Paus hampir runtuh-terjadi sebelum voting dalam konsili-penguatan kembali otoritasnya sesuai dengan doktrin supremasi kepausan. Argumen bermunculan dan Gregory VII, ketua teologi kuno, memenangkan pemilihan pada pertengahan abad 19.

Dogma baru dimunculkan dan dipusatkan pada otoritas tidak terbatas Serikat Jesuit dalam Gereja Roma. Jesuit memantapkan dominasi dalam Vatikan sejak semua negara menolak kehadirannya. Dia berambisi dan berkonsentrasi untuk mempertahankan doktrin mereka yang mematikan, berpengaruh tetapi memalukan terhadap gereja Roma.

Jesuit adalah kelompok elit Vatikan, mereka memberikan inspirasi, mengatur, merambah kemana-mana, dan membentuk sistem pemerintahan. Melalui Syllabus 1864 yang dirancang oleh Jesuit sendiri, Pius IX menyatakan perang terhadap kebebasan dalam berpikir.

Banyak alasan yang mendorong reorganisasi Serikat Jesuit ini. Tahta Suci menyadari bahwa Serikat Jesuit setia dan diperlukan. Pastor-pastor dilatih selama abad-19 dan sampai sekarang, beberapa bagian diambil alih oleh Vatikan: seperti ada ungkapan:”Pena-nya Paus adalah Jesuit.” Pengaruh mereka yang jelas adalah dalam penyembahan terhadap “Bunda Berhati Kudus” dan dogma konsepsi Immaculata, Syllabus dan juga infallibiliti (“Paus tidak berdosa”).

Tidak perlu diucapkan, Jesuit dengan segala kekuasaannya di Roma bermaksud untuk menonjolkan Kepausan dalam politik Internasional. M. Louis Roguelin menulis bahwa sejak kehilangan kekuasan sementaranya, Gereja Roma akan menggunakan segala cara untuk kembali ke dunia politik; dengan cerdiknya ia akan memecahbelah untuk memerintah; ia akan mengambil untung dari setiap konflik yang terjadi.

Dogma “Infallibility” sangat menguntungkan Jesuit dihadapan Tahta Suci, yang kenyataannya dapat diukur dari kebanyakan negara, yang mempunyai perwakilan diplomatik Vatikan. Dibawah perlindungan dogma dan moral-moral, Paus sekarang ini mengatur otoritas tidak terbatas terhadap hati nurani kaum beriman.

Selama abad 20, kita melihat Vatikan secara aktif terlibat dalam politik luar negeri dan dalam negeri suatu negara. Kita dapat melihat bagaimana dukungannya terhadap manusia-manusia yang sudah ditakdirkan seperti Mussolini dan Hitler, yang karena pertolongannya menimbulkan malapetaka terburuk yang pernah ada.

Para pengikut Kristus telah memberitakan pekerjaan-pekerjaan Jesuit ini. Para anak iblis ini (Jesuit) sudah najis, tetapi mereka dapat bertinggi hati karena pengakuan sepenuhnya terhadap mereka oleh Paus S.S. (Pius XII), yang adalah Jesuit Jerman. Hari ini, seperti juga kemarin, anak-anak Loyola akan selalu mengikuti jejak pendahulunya dengan ekstrim.

BAB VII: PARA JESUIT di PERANCIS 1870-1885

Setelah kejatuhan Kerajaan Perancis tanggal 2 Desember 1871, Jesuit semakin berani. Mereka bertindak seperti seorang Tuan. Siapa yang lupa akan manifestasi kesombongan Jesuit dan ancaman-ancaman yang keluar dari mulut besar mereka dimasa lalu ?

Gaston Bally menjelaskan : “Selama kekacauan terjadi, Jesuit akan kembali kesarangnya dengan cepat meninggalkan Perancis, yang berusaha untuk menyelematkan diri. Tetapi pada saat keadaan Negara mulai membaik, invasi ‘Gelap’ terjadi lagi. Negeri ini baru saja keluar dari mimpi buruknya dan saat itulah yang tepat untuk mengendalikan massa yang panik.” Merupakan fakta yang tidak perlu diragukan bahwa gereja Roma selalu mendapatkan keuntungan dari kekacauan massa; bahwa kematian, kesedihan dan penderitaan mendorong masyarakat untuk mencari penghiburan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Dengan cara demikian, kekuasaan Jesuit menguat. Dua perang dunia yang terjadi timbul karena konsekuensi yang sama terjadi tahun 1870.

Perancis ditundukkan; sebaliknya hal itu merupakan kemenangan bagi Serikat Jesuit yang pada 1873, ketika sebuah hukum diloloskan mengijinkan pembangunan Basilica Bunda Hati Kudus di Montmartre Hill. Gereja ini merupakan lambang kejayaan Jesuit. Sekilas hal ini tidak membahayakan.

Gaston Bally menulis : “Untuk mengerti bahaya yang akan timbul kita harus melihat bagian dalam gedung tersebut, dimana manipulasi terjadi dan adanya tujuan-tujuan dari asosiasi-asosiasi mereka yang bermacam-macam : The Brotherhood of “Perpetual Adoration”, The Brotherhood of the “Guard of Honour”, The Apostolate (Kerasulan) of Prayer; The Reparative Communion, dan lain-lain. Persaudaraan, asosiasi, rasul-rasul, para misionaris, para pendoa, para fanatik, pasukan kehormatan, para pengantara dan lain-lain tampaknya cenderung untuk menyatukan penghormatan mereka terhadap 9 paduan suara malaikat.

Bangunan Basilica tersebut sangat mengerikan. Bangunan ini melambangkan “pertobatan” Perancis dan mengekpresikan niat kami untuk memperbaiki kesalahan kami (Jesuit). Tampaknya “surga” diiringi kemarahan dari Perancis yang tidak dapat ditenangkan oleh pembangunan Basilica tersebut, dengan perlahan-lahan muncul.

Sebenarnya rakyat Perancis diam-diam melawan terhadap dominasi politik gereja Roma. Secara keseluruhan negara ini mencintai agama tetapi momok teokrasi dibangkitkan kembali oleh pihak oposisi.

Para biarawan beserta Jesuit berusaha membujuk rakyat Perancis untuk bersumpah menghentikan semangat kaum republik ! Yang menjadi sasaran Jesuit adalah kalangan kelas menengah ke bawah melalui sekolah-sekolah yang didirikan oleh Jesuit, yang mengajarkan untuk menentang bentuk republik…..

Situasi membuat kaum republik bersikap defensif (bertahan). Sebuah undangundang, diajukan tahun 1879 oleh Jules Ferry, dimaksudkan untuk menyingkirkan para biarawan dari dewan pengajaran publik dan memberikan hak kepada fakultasfakultas negeri untuk menilai kualitas para guru. Pasal 7 dari undang-undang ini menyebutkan “Tak seorang pun diijinkan untuk ambil bagian dalam pengajaran publik atau bebas jika dia terikat kepada kongregasi agama yang tidak resmi.” Para Jesuit terkena pasal 7 ini, Jesuit tentunya tidak menerima dan mengadakan perlawanan. Pasal 7 ini akhirnya ditolak senat, tetapi Jules Ferry memohon undang-undang mengenai kongregasi yang telah ada tetap berlaku.

Pada tanggal 29 Maret 1880 “Journal officiel” berisi 2 keputusan yang memaksa Jesuit untuk bubar, dan semua kongregasi tidak resmi harus memperoleh pengakuan dan persetujuan dan status resmi dalam 3 bulan…..

Leo XIII protes…….”Sekarang saatnya semua uskup mempertahankan perintah agama.” Jesuit tersingkir. Tapi tidak semudah itu, Jesuit memang menyerahkan sekolah-sekolahnya kepada orang-orang awam, tetapi setiap hari pada jam-jam tertentu mereka akan datang ke sekolah-sekolahnya untuk memberikan pengarahan dan pengawasan. Tetapi hal ini terbongkar juga dan sekolah-sekolahpun Jesuit ditutup.

Keputusan tahun 1879 dikenakan terhadap 32 kongregasi yang menolak untuk mengajukan permohonan status resmi. Pengusiran pun terjadi dan dilaksanakan oleh militer. Para kongregasi ini tidak hanya menolak pengajuan status resmi, tetapi juga menolak menandatangani deklarasi yang menentang semua ide oposisi terhadap rezim republik. Ketika ordo tersebut memutuskan untuk menandatangani deklarasi, sudah terlambat dan M. de Freycinet, presiden dewan harus mundur karena dia berusaha menegosiasikan persetujuan ini yang tentunya berlawanan dengan kehendak parlemen dan koleganya di kabinet.

Sebenarnya deklarasi tersebut tidaklah seekstrim dan berbahaya jika dibandingkan dengan sumpah setia para uskup Jerman ketika terjadi perjanjian (konkordat) antara Jerman dan Tahta Suci, 20 Juli 1933. Para Uskup bersumpah untuk setia kepada para pemerintah Jerman (Nazi) dan negara.

Sumpah yang diterapkan di Perancis dengan di Jerman sangat jauh berbeda. Di Perancis bersifat demokratis dan Liberal yang tentunya dibenci gereja Roma sedangkan Jerman ekstrim dan tanpa toleransi.

Perancis akhirnya memutuskan untuk mengenakan pajak terhadap kekayaan gereja ini beserta cabang-cabangnya. Mereka protes keras, karena mereka memang tidak mau tunduk terhadap hukum. Tetapi akhirnya kongregasi-kongregasi tersebut mau membayar.

Tahun 1883, indeks sebuah kongregasi yang didalangi oleh Jesuit mengecam beberapa buku terutama tertentu tentang pengajaran moral dan kewarganegaraan. Lebih dari 50 uskup mengumumkan secara resmi dekrit indeks, dan salah satunya, Monseigneur Isoard, menyatakan dalam surat pastoralnya tanggal 27-2-1883 bahwa guru-guru, orang tua dan murid-murid yang menolak menghancurkan buku-buku tersebut akan dilarang mengikuti sakramen.

Hukum yang dikeluarkan tahun 1886, 1901 dan 1904 menyatakan bahwa tidak seorang anggota kongregasi pun yang bisa berkecimpung dalam dunia pengajaran, hal ini tentunya menimbulkan protes dari Vatikan dan Keuskupan “Perancis”. Sebelum perang, jumlah SD Katolik di Perancis adalah 11.655 dengan 824.595 murid. Jumlah tersebut menurun karena beberapa faktor yang tidak ada hubungannya dengan hukum yang berlaku. Superioritas pengajaran universitas diakui oleh sebagian besar orang tua adalah faktor utama peningkatan popularitas Jesuit. Serikat Jesuit secara sukarela mengurangi jumlah sekolahnya.

BAB VIII: JESUIT dan JENDERAL BOULANGER

JESUIT dan KASUS DREYFUS

Permusuhan antara pemerintah republik dan partai yang setia kepada Jesuit memberi dampak positif tahun 1873, usaha untuk memulihkan kekuasaan kerajaan mengalami kegagalan, kendati didukung penuh oleh keluarga pastoral, karena kaum pretender menolak untuk menggunakan bendera 3 warna, dianggap sebagai lambang revolusi.

Kekatolikan tampaknya terikat kepada politik loyalitas terhadap kerajaan Gerlgs dari generasi ke generasi di dalam keluarga kerajaan. Juga di kelas menengah dan rakyat kebanyakan, di kantong-kantong Katolik di barat dan selatan.

Hal di atas merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya peristiwa tahun 1873 tersebut. Bahkan para pastur menekan umat bahwa siapapun yang memilih orang-orang yang berpikir liberal dicap sebagai “bandit”, “sampah” dan “maling”, dan berdosa selamanya (tidak terampuni). Bahkan ada yang menyatakan perempuan yang berzinah lebih mudah diampuni daripada orangtua yang mengirim anaknya bersekolah di sekolah umum, yang lainnya mengatakan lebih baik mencekik seorang anak daripada mendukung kaum liberal dan lain-lain.

Perbuatan berlebihan dari keluarga pastoral yang dipengaruhi oleh Jesuit ini tidak diterima karena adanya kenyataan bahwa mereka berasal dari “rohaniawan yang dibayar oleh pemerintah, karena konkordat masih dijalankan.”

Sebagian besar dari publik sendiri tidak menyukai tekanan-tekanan terhadap akal sehat mereka. Peta politik rakyat Perancis identik dengan peta keagamaannya………daerah-daerah dimana agamanya kuat; akan memilih para kandidat Katolik; sedangkan di tempat lain mereka secara sadar memilih para senator dan deputi yang anti rohaniawan…….Mereka tidak menginginkan terbentuknya “pemerintahan para pastur”.

Bagi sebagian besar umat Katolik, fakta bahwa pastor, manusia pembuat onar mencampuri – melalui instruksi-instruksi dalam kotbah dan pengakuan dosa – rencana-rencana, perasaan, tindakan, makanan dan minuman, bahkan keintiman dalam kehidupan perkawinan sudah berlebihan dan harus dihentikan; mereka bermaksud sedikitnya membatasi kerajaan pastor tersebut dengan melindungi kemerdekaan mereka sebagai warga negara.

Walaupun demikian, Jesuit tidak peduli dan terus memburu dalam setiap kesempatan untuk melawan rezim pemerintahan yang mereka benci. Mereka mendapatkan “seorang pilihan” yaitu Jenderal Boulanger, menteri perang tahun 1886 yang bisa mengatur personilnya dengan baik, dan dicanangkan sebagai diktator masa depan. Terjadilah perjanjian rahasia antara jenderal tersebut dengan Katolik. Dia juga membuat perjanjian dengan anggota parlemen seperti Baron de Mackau dan Count de Muh, yang merupakan pejuang setia gereja Katolik di majelis Perancis.

Menteri dalam negeri Perancis, Constans, mengancam akan menangkap Jenderal Boulanger, pada tanggal 1 April dia melarikan diri ke Brusseis, beserta istrinya. Leo XIII, tahun 1878 menggantikan Pius IX berpura-pura menasehati para pengikut setia Katolik di Perancis untuk mendukung rezim republik. “Boulangist” menurun dengan drastis dan Perancis pun pulih keadaannya.

Agustus 1889, Dubes Jerman untuk Vatikan berpura-pura bahwa paus meramalkan bahwa Jenderal (Boulanger) orang yang akan menghancurkan Republik Perancis dan mendirikan kerajaan, sebuah artikel dalam “Monitor of Rome” memperkirakan di masa depan bahwa calon diktator ini akan mengambil alih kekuasaan dan gereja akan mendapat keuntungan yang besar….Jenderal Boulanger mengirim para prajuritnya ke Roma untuk menyampaikan surat kepada Leo XIII yaitu bahwa ia berjanji kepada paus “bahwa kelak kalau dia berkuasa di Perancis, dia akan sepenuhnya mengakui hak-hak kepausan”.

Krisis Boulangist ini ternyata mengungkapkan dengan benar aksi yang dipimpin oleh partai religius melawan Republik Perancis, yang berlindung di balik nasionalisme. Tetapi aksi tersebut dapat dikalahkan karena perlawanan dari sebagian besar masyarakat. Namun taktik-taktik yang bersifat patriotik dan berlebih-lebihan tersebut ternyata terbukti efektif terutama di Paris, seperti biasa murid-murid Loyola-lah dibelakang gerakan ini.

Tahun 1890 kasus Dreytus terkuak. Kasus ini dimulai dengan dihukumnya dan diasingkannya Kapten Artileri Alfred Dreytus untuk seumur hidup. Tiga bulan sebelumnya badan intelijen Perancis menemukan daftar dokumen yang berhubungan dengan pertahanan nasional di kedutaan besar Jerman, tulisan dalam daftar tersebut mirip dengan tulisan Kapten Dreytus. Dreytus adalah seorang yang lurus dan bereputasi baik; dia dijadikan kambing hitam.

Tetapi ada kebocoran lagi setelah penangkapan Dreytus dan Komandan Picquart, kepala badan interlijen setelah Juli 1895, mengetahui adanya proyek yang disebut “Petit Bleu” (surat-surat ekspres), antara atase militer Jerman komandan Perancis. Ester Hazy (asli Hungaria); seorang yang bereputasi buruk dan sangat membenci Perancis. Tetapi seorang pegawai di Badan Intelijen(BI), Komandan Henry, menambahkan ke dalam dokumen Dreytus. Sebuah dokumen palsu yang seolah-olah asli untuk menjatuhkan Dreytus; dia juga menghapus dan menulis ulang nama Esterhazy pada “petit bleu” untuk memberi kesan bahwa dokumen tersebut dipalsukan. Picquart pun dipermalukan pada Nopember 1896.

Pengakuan yang dapat dipercaya dapat ditemukan dalam buku “Carnets de Schwartz Koppen”, diterbitkan setelah kematiannya tahun 1930. Penulis buku ini menerima dokumen-dokumen pertahanan nasional Perancis tersebut dari Esterhazy bukan Dreytus.

“Di bulan Juli, Dicquart memutuskan sudah waktunya untuk memperingati kepala staff Jenderal tentang kecurigaannya terhadap Esterhazy. Pertemuan pertama terjadi 5 Agustus 1896. Jenderal de Boisdeffre menyetujui semua yang telah dilakukan Picquart dan mengijinkannya untuk melanjutkan penyelidikannya.

“Menteri Perang, Jenderal Billot, juga diberitahu mengenai kecurigaan Picquart. Esterhazy telah mencoba menggunakan koneksinya dengan deputi Jules Roche, agar ditempatkan sebagai Menteri Perang. Salah satu surat diberikan kepada Picquart yang untuk pertama kalinya, menyadari bahwa tulisan Esterhazy sama dengan tulisan pada daftar tersebut. Dia menunjukkan foto surat tersebut kepada Du Paty dan Bertillon, tentu tidak memberitahu siapa yang menulis surat tersebut………. Bertillon berkata : “Itukan tulisan dalam daftar tersebut”; menyadari bahwa tuduhan terhadap Dreytus salah alamat, Picquart memutuskan untuk berkonsultasi tentang “dokumen kecil ini” yang telah disampaikan hanya kepada para hakim. Di dalam kantornya Picquart membuka amplopnya Henry, yang diparaf oleh Henry dengan tinta biru…………. Dia sadar dan untuk pertama kalinya mengetahui bahwa Dreytus tidak bersalah. Hari berikutnya Picquart menulis surat kepada Jenderal de Bois Deffre dimana ia mengungkapkan semua tuduhan terhadap Esterhazy dan penemuannya yang terbaru. Ketika membaca tentang “Dokumen Rahasia” tersebut, Jenderal de Bois Deffre terkejut dan berkata :”Mengapa dokumen tersebut tidak dibakar seperti yang sudah dijanjikan ?”

Kita dapat melihat bahwa kalau Esterhazylah yang bersalah. Aktor utama di belakang Afair Dreyfus ini adalah Pastor du Lac dari Serikat Yesus. Jenderal de Bois Deffre sendiri menemui pastor ini setiap hari. Kepala staf jenderal ini tidak akan mengambil keputusan sebelum berkonsultasi dengan direkturnya (du Lac).

Dreyfus sendiri mengalami siksaan fisik yang luar biasa, apalagi setelah ia dilaporkan mencoba melarikan diri dari pulau tempat pengasingannya. Setiap malam kakinya dirantai , yang setelah 40 hari engkelnya dipenuhi dengan darah dan harus diperban; para penjaganya berbelas kasihan sehingga selalu membalut kakinya sebelum merantainya. Esterhazy sendri bebas dari tuduhan dan kabur ke Inggris dan akhirnya, mengakui bahwa dialah penulis “daftar” yang terkenal itu.

Kebanyakan para pastor dan uskup yakin bahwa Dreyfuslah yang bersalah. Dunia Kekatolikan bersatu menolak pemeriksaan kembali perkara Dreyfus. Semua kekuatan politik Gereja memang selalu menentang Dreyfus.

BAB IX: MASA-MASA SEBELUM PERANG – 1900-1914

Tahun 1899, menteri pertahanan Republik Perancis memutuskan Pastor Picard (petinggi Assumptionists), Pastor Bailly dan 10 anggota Jesuit lainnya dibawa ke pengadilan karena pelanggaran hukum. Kongregasi “Assumptionist” pun ditutup.

Tahun 1901, sebuah hukum dikeluarkan bahwa tidak sebuah kongregasi pun dapat dibentuk tanpa seijin dari yang berwenang, dan siapa yang tidak mengajukan ijin sepanjang tenggang waktu yang diberikan akan ditutup. Akibat dari peraturan ini, masyarakat berhak untuk mengawasi asosiasi-asosiasi yanga da di wilayah mereka. Hal ini tidak menyenangkan bagi Kekatolikan. Penolakan dari pihak Katolik justru semakin meneguhkan pemerintah untuk mengambil langkah tersebut.

Tahun 1904, dibawah PM Combes, dikeluarkan peraturan untuk menghapuskan ordo-ordo yang bergerak di bidang pendidikan. Hal ini semakin memperuncing hubungan pemerintah Perancis dan Tahta Suci.

Pius X, segera setelah diangkat, mengeluarkan pernyataan bahwa kekuasaan paus harus berlaku di semua bidang, dan politik bagi kepausan bukanlah suatu hak tetapi kewajiban. Sebagai sekretaris negara, dia mengangkat Monseigneur Merry del Va, berumur 38 tahun dan pro-Jerman tetapi anti-Perancis. Masih di tahun 1904, presiden Republik Perancis M. Loubet, mengadakan kunjungan balasan ke Italia. Dia berharap dapat bertemu dengan paus, tetapi ditolak dengan alasan paus tidak dapat menerima kepala negara yang diketahui secara hukum “mengambil alih” negara Perancis yang merupakan negara milik kepausan.

Tanggal 29 Juli 1904, pemerintah Perancis memutuskan hubungan diplomatik dengan Vatikan. Hal ini mengakibatkan agama dipisahkan dari politik. Pastor Wernz, Jenderal Jesuit, menyatakan secara tertulis bahwa Perancis adalah dibawah kekuasaan Gereja, jadi otoritas sekuler juga dibawah otoritas kepastoran dan hal ini harus dipatuhi. Doktrin ini merupakan teokrasi, para konselor juga yang menjalankan perintahnya-perintahnya, yang membuat mereka terikat kepada Vatikan, saat ini tidak mudah membedakan antara paus hitam dan paus putih; mereka adalah satu dan sama. Kalau kita melihat politik Vatikan, maka kita bercermin pada politik Jesuit. Jesuit sudah mendominasi Vatikan. Melalui surat gembala “Vehe menter” tanggal 11.02.1906, Pius X mengecam pemisahan antara negara dan agama tersebut.

Tahta Suci ternyata memberikan perlakuan yang berbeda terhadap Katolik Perancis dan Katolik Jerman. Jesuit memecah belah rakyata Perancis melalui “Dreyfus Affair”, sebaliknya di Jerman mereka berusaha mempersatukan rakyat Jerman. Mengapa? Perang Dunia I akan mengungkapnya dan Monseigneur Fruhwirth menyatakan tahun 1914 bahwa Jerman adalah harapan besar bagi paus.

BAGIAN V: LINGKARAN SETAN

BAB I: PERANG DUNIA I

Ketakutan timbul di kalangan Vatikan karena aliansi Franco-Rusia. Franco memutuskan untuk tidak berdiri sendiri untuk menghadapi Vatikan dan aliansi Austria-Hungaria.

Sementara itu Gereja Ortodoks tetap menancapkan kukunya di wilayah Balkan, khususnya Serbia, dimana perjanjian Bukarest mengakhiri konflik di Balkan, yang telah membuatnya menjadi pusat perhatian rakyat Slav Selatan dan yang khususnya berada di bawah kendali Austri. Rencana Vatikan yang ambisius dan kerajaan apostolik Hapsburgs merupakan catatan yang sempurna, seperti di masa lalu. Bagi Roma dan Vienna, meningkatnya kekuatan Serbia membuatnya menjadi musuh yang harus disingkirkan. Hal ini terbukti dalam dokumen diplomatik yang ditemukan dalam kumpulan dokumen Austria-Hungaris, yang menyatakan: untuk kepentingan PM Austria Berchtold, pada pembicaraan dengan Pangeran Schonburg di Vatikan pada Oktober-November 1913; bahwa Paus mengatakan akan lebih baik kalau Austria-Hungaria menghukum Serbia atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.

Perang urat syaraf yang disebabkan sentimen Pius X itu pun terjadi tahun 1913. Tetapi, tanggal 28 Juni 1914, bangsawan Francois-Ferdinand terbunuh di Sarajevo. Pemerintah Serbia tentunya tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini karena pembunuhan ini dilakukan oleh seorang mahasiswa Makedonia, tetapi pembunuhan tersebut dijadikan alasan yang sempurna bagi Francis-Joseph untuk memulai perang. Gereja Roma memang bukan simbol perdamaian, tetapi hanya seorang provokator licik.

Pengganti Pius X, Benedict XV, menunjuk Kardinal Ferata sebagai sekretaris negara. Tetapi sang kardinal tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena pada tanggal 20.10.1914 (dia memulai tugasnya akhir September) dia meninggal mendadak di meja kerjanya. Dokter yang memeriksa kardinal tersebut menyadari adanya suatu situasi yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Konsultasi kilat diadakan dengan 6 rekannya yang lain. Akhirnya diputuskan untuk tidak mengeluarkan cacatan medis; sedangkan yang dipublikasikan kepada masyarakat tidak ditandatangani oleh pada dokter tersebut. Diduga kardinal tersebut telah diracun.

Kardinal Ferrata adalah kardinal yang netral, kematiannya terjadi pada saat yang tepat. Penggantinya adalah Kardinal Gasparri, yang berusaha keras untuk melakukan yang terbaik bagi pemerintah pusat. Paus Benedict XV pun berusaha keras agar Italia tetap melakukan intervensi dalam perang tersebut demi menyenangkan Jesuit.

Tanggal 1915, Kardinal Gasparri menandatangani suatu ketetapan bahwa diperintahkan untuk menetapkan satu hari untuk berdoa demi mempercepat perdamaian. Perancis menolak hal ini karena cara ini hanya untuk memperlambat usaha pasukan perang Perancis dan hanya menguntungkan pasukan Jerman yang sudah terdesak. Paus bukanlah seseorang yang suka akan Perancis; dia lebih suka kepada Jerman. Aksi-aksi Jesuit, yang juga merupakan asi-aksi Vatikan, tidak hanya dirasakan di Italia dan USA, tetapi di semua tempat.

Saran-saran untuk memulai perang, yang berasal dari Paus dan PM Italia, yang ternyata seorang Jesuit, mulai dilemparkan. Serbia sendiri, yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Francois-Ferdinand berusaha mempertahankan perdamaian dengan melakukan semua keinginan-keinginan pemerintah Austria yang sebelumnya telah mengirimkan surat ancaman ke Belgrade.

Pihak Vatikan terus menyangkal isu-isu yang beredar bahwa Paus turut campur dalam usaha untuk memecah belah negara-negara Kristen melalui perang. Sekretaris negara Vatikan, Merry del Val melayangkan surat bantahan kepada Count Palffy, seorang wakil Austria di Vatikan, tanggal 29.7.1914. Padahal sebelumnya, tanggal 27.7.1914, keduanya mengadakan pembicaraan. Pernyataan Vatikan tersebut tentunya bertentangan dengan kenyataan, karena tanggal 26.7.1914, Baron Ritter, perwakilan Bavaria untuk Vatikan melayangkan surat kepada pemerintahnya yang menyatakan bahwa adanya persetujuan Paus agar Austria menindak keras Serbia.

Tahta Suci sadar sepenuhnya resiko besar yang ditimbulkan oleh konflik antara Austria dan Serbia, tetapi Tahta Suci tetap melakukan segala cara untuk mendorong konflik itu menjadi parah. Paus dan para Jesuit tidak peduli dengan penderitaan yang dialami oleh “negara-negara Kristen”, sudah berkali kali negaranegara tersebut diperalat untuk kepentingan politik Roma. Jerman diadu dengan Rusia Ortodok, Perancis dan Inggris sudah pernah diperalat oleh Roma.

Empat puluh tahun setelah kematian Pius X, 20.8.1914, dia dinyatakan oleh Pius XII sebagai santo dan menyatakan “ Pius X melakukan segala usaha untuk mencegah timbulnya perang tahun 1914 dan dia meninggal dalam penderitaan dan penyesalan sewaktu dia memperkirakan dan melihat penderitaan akibat perang tersebut. Usulan perdamaian oleh Paus, Agustus 1917, kepada negara-negara Perancis, Inggris, USA, dan khususnya Italia ditolak mentah-mentah.

Empat tahun kemudian, 22 April 1921, terungkap bahwa usulan perdamaian yang diajukan Agustus 1917 tersebut, sebelumnya telah didahului oleh perjanjian rahasia antara Tahta Suci (yang diwakili oleh Monseigneur Pacelli, calon Paus Pius XII) dan Jerman. Paceli mulai menyusun aksinya dengan melempar intrik dari pembentukan Republik Jerman sampai mempersiapkan balas dendam yang akan dilakukan tahun 1939 dengan mendorong Hitler menjadi penguasa.

Para sekutu yang menandatangani Perjanjian Versailles, Juli 1919, menyadari adanya campur tangan Vatikan dalam Perang Dunia I, tetapi mereka tidak memberi sanksi kepada Vatikan dan Jesuit sehingga mereka harus menuai bencana 20 tahun kemudian, bencana terburuk dalam sejarah manusia.

BAB II: PERSIAPAN UNTUK PERANG DUNIA II

Tahun 1919, rencana-renacan Jesuit gagal semuanya. Perancis tidak mau tunduk, Slavia Ortodok lepas dari Roma. Rusia menjadi marxis. Walaupun begitu merupakan hal tabu bagi Jesuit untuk mengakui dosa-dosanya. Setelah Benedict XV meninggal tahun 1922, dan digantikan oleh Paus Pius XI yang seorang Jesuit, Jesuit mulai menyusun rencananya kembali.

Masa Paus Pius XI adalah masa persiapan, dimulai dengan mendirikan Russian College yang diatur oleh Jesuit. Ia juga mengelola “Oriental Institute”, The Institute of St. John Damaslene, Polish College dan Lithuanian College. Mereka memanfaatkan Revolusi Rusia yang menjatuhkan Czar, pelindung Gereja Ortodoks. Di Italia, mereka mendukung Don Sturzo, seorang pendiri partai yang terkenal di Italia, kemudian Mussolini pun didukungnya. Di Eropa secara keseluruhan, mereka berusaha untuk menghentikan kebangkitan paham demokrasi.

Italia menjadi kawasan dimana aksi Jesuit dimulai. Mussolini telah mengadakan negosiasi-negosiasi rahasia dengan para agen Pius XI. Salah satunya adalah Pastor Tacchi Venturi, sekretaris Serikat Yesus dan bapak rohani Mussolini, yang telah melakukan misinya dengan sangat baik. Tanggal 16.11.1922 Parlemen Italia memilih Mussolini menjadi pemimpin. Sepuluh tahun kemudian manuver yang sama membuahkan hasil yang sama juga di Jerman. Paham NAZI mulai unjuk gigi.

Berawal di Italia, tahun 1922, paham fasisme mulai disebarkan oleh Jesuit di Eropa. Mussolini menetapkan Katolik Roma sebagai agama negara, menghadiahkan Tahta Suci 1.750.000.000 lira (± _ 20.000.000) dan kekuasaan atas daerah kota Vatikan. Italia telah membiarkannya dirinya jatuh ke tangan Roma yang licik. Mussolini dipersiapkan untuk membalas kekalahan tahun 1918. Dari Italia, paham fasisme memasuki Jerman. Hitler menerimanya dengan terbuka. Tahun 1923, Facism (pimpinan Mussolini) bergabung dengan National-Socialism (pimpinan Hitler); Mussolini sangat bersahabat dengan Hitler. Paham Nazi mulai menggeliat, musuhnya ada dua: Protestanisme dan demokrasi.

Setelah perang 1914-1918, Jenderal Jesuit, Halke von Ledochowski membuat rencana besar yaitu membentuk negara-negara federasi di Eropa tengah dan timur: Austria, Slowakia, Bohemia, Polandia, Hungaria, Kroasia dan Bavaria. Kerajaan baru ini akan berperang di dua front: sebelah timur melawan Uni Soviet dan disebelah barat melawan Prusia, Inggris-Protestan dan republik Perancis.

Tahun 1924 Tahta Suci menandatangani konkordat dengan Bavaria (Jerman). Tahun 1927 dalam “Cologne’s Bazette” ditulis Pius XI adalah paus “yang sangat Jerman” yang pernah duduk di Tahta Suci. 20 Juli 1932 langkah pertama yang diambil untuk memuluskan kediktatoran Hitler adalah dengan memproklamirkan pengepungan kota Berlin dan para menteri memecat “manu militari”. Pemilihan baru dipersiapkan yang tentunya untuk memantapkan kesuksesan para Nazi.

Di Italia, partai Katolik Don Sturzo mendukung Mussolini untuk berkuasa; di Jerman, Monseigneur Kaas (kepala partai “Catholic Centre”) melakukan hal yang sama kepada Hitler, dan kedua peristiwa itu konkordat ditandatangani. Hitler berkuasa pada tanggal 30 Januari 1933. Selama tahun 1933 itu juga selain terjadi pemusnahan dan pembunuhan terhadap bangsa Yahudi yang dilakukan oleh Nazi, juga terdapat 45 kamp konsentrasi di Jerman, dengan 40.000 tahanan yang berasal dari berbagai latar belakang pandangan politik, tetapi kebanyakan adalah yang liberal.

Tahun 1937, Pius XI , dibawah tekanan dunia, “mengecam” teori rasial yang bertentangan dengan doktrin-doktrin prinsip Katolik. Rasialis Nazi dikecam, tetapi tidak mengecam Hitler. Di Jerman, “salib Kristus” dan swastika bekerja sama; Benito Mussolini menaklukkan Ethiopia, dengan berkat dari Bapa yang Kudus. Kepausan tidak mengecam politik Mussolini dan membiarkan para biarawan Italia bebas bekerjasama dengan pemerintah Fasis. Para Fasis kemudian mengagresi Albania pada Jumat Agung 1939, yang tentunya merupakan keuntungan untuk Gereja, karena dari 1 juta penduduk Albania ada 68% Muslim, 20% Ortodoks Yunani dan hanya 12% Katolik Roma….dari sudut pandang politik, aneksasi suatu negara oleh sebuah kekuatan Katolik dapat meningkatkan posisi Gereja dan menyenangkan Vatikan.

Apa yang telah dilakukan di Italia dan Jerman, juga dilakukan di Spanyol. Petualangan Jenderal Franco dimulai pada pertengahan Juli 1936. Sebelumnya pada tanggal 21 Maret 1934, Pakta Roma ditandatangani antara Mussolini dan para kepala partai pembangkang di Spanyol, salah satunya adalah M. Goicoechea, ketua “Renovacian Espanola”. Berdasarkan pakta ini, partai fasis Italia mensuplai para pemberontak dengan uang, material perang, senjata, aviasi dan ‘tenaga sukarela’ . Bagi Vatikan, orang yang beriman harus menghargai pemerintah yang sah, maka dia menekan Spanyol dengan ancaman-ancaman. Paus bahkan memproklamirkan perang spiritual antara Tahta Suci dan Madrid, yang kemudian dikembangkan menjadi perang sipil. Vatikan bahkan mengakui pemerintahan Franco pada tanggal 3 Agustus 1937, 20 bulan sebelum perang sipil berakhir.

Belgia juga dikuasai oleh Kekatolikan. Persiapan-persiapan dilakukan untuk menyongsong invasi yang dilakukan oleh pasukan Fuhrer (Hitler). Dengan dalih pembaharuan spiritual, injil Fasis Hitler disebarkan oleh Monseigneur Picard (seorang Jesuit), Pastor Arendt, seorang Jesuit, pastor Foucart, seorang Jesuit, dll. Seorang anak muda Belgia menyatakan bahwa para pemuda terobsesi dengan Fasisme. Moseigneur Picaard mengatakan bahwa Mussolini adalah seorang yang jenius. Bersama 300 orang murid lainnya, dia pergi ke Italia, setiap orang, dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing memberi hormat dengan gaya Roma, dan menyanyikan Giovinezza.

Nazi berkembang dengan cepat. Pada tahun 1919 anggotanya hanya 7 orang. Dibawah Hitler, propaganda dilakukan secara aktif di seluruh Jerman. Pertemuan-pertemuan Nazi selanjutnya dihadiri beberapa ratus, bahkan ribuan orang.

Pasukan Jerman mengalahkan pertahanan Belgia karena Belgia dikhianati oleh Leon Degrelle, yang sering berhubungan dengan Monseigneur Picard. Leon sendiri diserahi tugas penting untuk mengurusi perusahaan percetakan baru pada pusat “Catholic Action”, yang diberi nama Christus Rex. Di Radio Berlin, Degrelle mengatakan bahwa dia telah meminta Fuhrer untuk membom Anvers untuk membuat kota tersebut menjadi kota tanpa pelabuhan atau pelabuhan tanpa kota. Anvers sendiri dibom selama 6 bulan, siang dan malam. Pemboman ini dirahasiakan dengan baik, sehingga sekarang ini kemartiran kota Anvers dan Liege secara umum diabaikan.

Monseigneur Picard (orang penting), menyangkal pernah melihat atau mendengar tentang Leon Degrelle. Ternyata kedua pemimpin “Catholic Action” Belgia ini, yaitu Monseigneur Picard dan Canon Cardijn yang sama-sama bekerja dibawah Kardinal van Roey, tidak pernah bertemu satu sama lain! Canon kemudian diangkat menjadi monseigneur oleh Pius XII dan direktur gerakan “Jocist” di seluruh dunia. Monseigneur Cardijn pun menyangkal pernah bertemu dengan Leon Degrelle. Suatu keanehan, bukan? Mungkinkah karena suatu perjanjian khusus, keduanya tidak saling mengetahui bahwa mereka saling bekerja sama dan keduanya tidak menyadari hal tersebut? Tetapi fakta-fakta tidak dapat disangkali. Degrelle menjadi pemimpin “Rex” karena Monseigneur Picard, yang berada dibawah otoritas Kardinal Van Roey dan Monseigneur Micara.

Degrelle, sendiri dalam sebuah buku yang dicetak terbatas, mengakui bahwa dia pernah bertemu dan berkonsultasi dengan Kardinal van Roey. Kardinal ini adalah seorang fanatik terhadap Gereja Katolik dan menganggap segala sesuatunya penting selama hal tersebut untuk kepentingan Gereja Katolik. Gereja Katolik sudah merambah ke segala bidang: keagamaan (bidangnya sendiri), partai, surat kabar, kerjasama di bidang pertanian, institusi perbankan yang tentunya dapat menjamin kelangsungan Gereja itu sendiri. Bagi Kardinal perang sudah berakhir dan kolaborasi merupakan hal suatu kemungkinan yang harus dilakukan. Banyak orang Katolik datang ke Kardinal ini untuk meminta nasehatnya mengenai moralitas, kegunaan atau perlunya kolaborasi.

Pada tanggal 29 Mei 1940, sehari setelah penundukan Belgia, Kardinal van Roey menyatakan bahwa invasi Hitler ke Belgia merupakan hadiah dari surga. Tetapi tampaknya Hitler hanyalah sebuah alat yang dipakai untuk menghukum masyarakat Belgia. Propaganda yang dilakukan Hitler sepenuhnya didukung oleh Tahta Suci sesuai dengan surat yang dikirimkan Pius XI kepada seknegnya Kardinal Gaspari tanggal 26 Juni 1923

Tahun 1924 Paus Pius XII menyampaikan ucapan turut berduka cita kepada pemerintah Perancis atas kematian kardinal Baudrillart. Ucapan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa aneksasi ke Perancis Utara oleh Jerman diakui oleh Paus Pius XII. Sebuah gerakan Katolik, Christian Front, dibentuk untuk memfasilitasi intervensi ke USA, dan organisasi ini dipimpin oleh Pastor Caughlin, seorang Jesuit dan pro-Hitler. Organisasi ini tidak pernah kekurangan suatu apa pun dan menerima banyak suplai berupa materi propaganda yang dipersiapkan oleh Kantor Goebbel. Melalui publikasi “Keadilan Sosial” dan siaran radio, Pastor Caughlin, rasul swastika, menjangkau masyarakat luas. Sebuah dokumen rahasia Wilhelmstrasse mengklarifikasikan hak berikut: “mengamati evolusi anti-semit di USA, kami mencatat bahwa jumlah pendengar siaran radio Pastor Caughlin yang terkenal karena antisemitnya, melebihi 20 juta pemirsa”.

Hal lain yang terungkap adalah ‘Mein kampf’, buku yang menentang keras demokrasi barat, ternyata ditulis oleh Pastor Jesuit Staempfle dan ditandatangani oleh Hitler. Banyak yang tidak peduli akan fakta ini – Serikat Yesuslah yang menyempurnakan program Pan Jerman yang dipaparkan dalam buku tersebut, dan Hitler menyetujuinya.

BAB III: AGRESI JERMAN DAN JESUIT

AUSTRIA-POLANDIA-CEKOSLOWAKIA-YUGOSLAVIA

AUSTRIA

Politik dalam negeri Austria dikendalikan oleh Monseigneur Seipel, seorang Jesuit. Penerusnya melakukan apa yang telah dilakukannya, sehingga Austria pun masuk dalam blok Jerman. Keputusan yang diambil untuk menekan kebangkitan kaum buruh, membuatnya dijuluki “Keine Milde Kardinal” (kardinal tanpa belas kasih). Awal Mei 1936, von Papen melakukan perundingan rahasia dengan Kanselir Austria, Dr. Schussnigg, untuk menunjukkan betapa menguntungkannya melakukan rekonsiliasi dengan Hitler karena hal itu juga untuk kepentingan Vatikan. Schussnigg yang merupakan murid Jesuit setuju untuk melakukan hal tersebut.

Tanggal 11.03.1938 Schussnigg mengundurkan diri, digantikan oleh Seyss-Inquart, pemimpin Nazi Austria. Sehari setelahnya pasukan Jerman memasuki Austria dan pemerintahan boneka Seyss-Inquart mengumumkan penyatuan negara tersebut dengan “The Reich” (Jerman).

Kardinal Innitzer, wakil gereja Roma di Austria, menyambut gembira hal tersebut. Dalam deklarasi yang dibuatnya, tertulis “Und Heil Hitler!” (Hidup Hitler!). Dalam deklarasi ini juga, kardinal tersebut mengundang para pemimpin organisasi kepemudaan untuk mempersiapkan penyatuan mereka dengan organisasi Jerman yang serupa . Tentunya hal ini sama saja dengan menyerahkan para pemuda “Kristen” untuk dilatih dengan menggunakan metode Nazi.

POLANDIA

Polandia pun berada dalam situasi yang sama dengan Austria sewaktu Hitler mencaplok sebagian dari negara tersebut, segera setelah dia menginvasinya. Nada yang sama juga dikeluarkan oleh Vatikan. Monseigneur Cortesi, seorang pastor di Warsawa, “memaksa” pemerintah Polandia untuk menyerahkan segalanya kepada Hitler: Dantzig, “daerah koridor”, yaitu daerah dimana minoritas Jerman hidup. Deklarasi tahun 1772 yang ditulis oleh Paus Clement XIV untuk Ratu Austria, Marie Therese, dikeluarkan lagi tahun 1939 dengan tanpa perubahan sedikitpun: “Invasi dan terbagi-baginya Polandia dilakukan bukan untuk alasan-alasan politik; tetapi hal tersebut berhubungan dengan kepentingan agama, dan untuk keperluan spiritual Gereja, bahwa kekuasaan Vienna seharusnya melebarkan dominasinya atas Polandia seluas-luasnya”.

CEKOSLOWAKIA

Di Cekoslawakia, tindakan Vatikan lebih baik lagi. Vatikan telah menyiapkan seseorang untuk dijadikan pemimpin Ceko, yang merupakan negara satelit bagi Jerman-Nazi. Ancaman ala Hitler menggema di seluruh Republik Cekoslowakia dan aroma perang terasa di udara.

Nazi pertama-tama mencaplok Sudetenland, dengan bantuan Partai Sosial Kristen dan Republik tersebut pun terbagi. Tetapi Hitler berkeinginan untuk mencaplok Slovakia dan berkuasa penuh atasnya. Hal ini tidak terlalu sulit bagi Hitler karena sebagian besar pemimpin politik Slovakia adalah pengikut Katolik, termasuk seorang pastor bernama Hlinka (seorang Jesuit). Kita mengetahui, berdasarkan Kanon (hukum dalam lembaga Katolik), tidak seorang pastor pun bisa mempunyai kedudukan baik di publik maupun di dunia politik tanpa persetujuan Tahta Suci. Jadi karena persetujuan Tahta Sucilah, seorang pastor dapat mempunyai kedudukan dalam parlemen Cekoslowakia.

Tanggal 15 Maret 1939, Hitler mencaplok seluruh Bohemia dan Moravia, dan membuat Republik Slovakia “dalam perlindungannya”. Pada pucuk pimpinan, dia menempatkan Moseigneur Tiso (Jesuit) yang berambisi untuk menyatukan paham Katolik dan Nazi, karena keduanya mempunyai persamaan dan keduanya bergandengan tangan untuk merubah dunia.

Regim Tiso di Slovakia berusaha menekan pengaruh seperlima populasi Protestan ke tingkat paling minimum, dan bahkan berusaha untuk melenyapkannya…dengan mengirim para anggota berpengaruh Gereja Protestan ke kamp-kamp konsentrasi. Terhadap orang-orang Yahudi, Tiso melakukan hal yang sama. Tahun 1941, rombongan pertama orang Yahudi dari Slovakia dan Silesia tiba di Auschwitz. Siapapun yang tidak bisa bekerja dengan baik di kirim ke kamar gas. Kesaksian ini ditulis oleh Lord Russell dari Liverpool, konselor hukum pada pengadilan penjahat perang.

Setelah perang dunia II berakhir, Tiso diserahkan oleh Amerika Serikat kepada Cekoslowakia, dan diputuskan hukuman mati untuknya tahun 1946. Dia dihukum gantung.

YUGOSLAVIA

Di Kroasia, muncul organisasi teroris bernama Oustachis yang dipimpin oleh Pavelitch, seorang yang haus darah dan juga dijuluki “Pembunuh yang menggunakan nama Tuhan”. Oustachis terkenal di kalangan masyarakat Perancis karena telah membunuh Raja Alexander I dari Yugoslavia dan menteri luar negeri Perancis Louis Barthou, 1934.

Oustachis disewa oleh Mussolini untuk membantu Italia di pantai Adriatik. Tahun 1941, Hitler dan Mussolini menginvasi dan memecah Yugoslavia. Pavelitch dijadikan pemimpin “Negara Merdeka Kroasia”. Tanggal 18 Mei 1941, Paus Pius XII menerima Pavelitch beserta rekan-rekannya. Pada hari itu juga, pembunuhan besarbesaran terhadap kaum Ortodoks Kroasia mencapai puncaknya, mereka dipaksa menganut paham Katolik. Para Oustachis juga memburu kaum minoritas Serbia. Andrija Artukovic adalah perancang utama dari pembunuhan besar-besaran tersebut.

Sewaktu Artukovic hendak diekstradisi dari USA ke Yugoslavia, dia dibela oleh seorang R.P. Jesuit Lackovic yang bermukim di USA juga, sekretaris Monseigneur Stepinac, uskup agung Zagreb. Lackovic menyatakan bahwa antara 1941 sampai 1945, dia selalu bertemu dengan Artukovixc di kantornya. Dia selalu meminta nasehat Stepinac terhadap semua tindakan yang diambilnya. Kenyataannya Monseigneur Stepinac adalah anggota parlemen Oustachis dan selalu mengenakan atribut-atribut organisasinya itu.

Tanggal 22 Juli 1941, Pius XII menerima kunjungan 100 anggota “Croation Security Police” (Polisi Keamanan Kroasia) pimpinan Eugen Kvaternik-Dido, kepala polisi Zagreb. Grup ini adalah bagian dari S.S. Kroasia yang bertugas menjemput dan menyiksa para terhukum di kamp-kamp konsentrasi. Kvaternik-Dido adalah seorang penjahat besar, sehingga membuat ibunya bunuh diri karena putus asa melihat anaknya.

Mile Budak, seorang Katolik dan menteri agama Kroasia, mencanangkan sebuah program. 300.000 orang Serbia dan Yahudi dideportasi dan lebih dari 500.000 dibunuh. Hal ini memaksa 240.00 umat Ortodoks menjadi penganut Katolik…tetapi kembali menjadi Ortodoks begitu mereka bebas.

Sewaktu pihak sekutu menang dalam perang dunia II, Pavelitch dan 4000 Oustachisnya melarikan diri ke Austria, kemudian ke Italia. Mereka meninggalkan sebagian harta benda mereka berupa fil, foto, perhiasan, logam emas, gelang, cincin, dsb., yang diambil dari orang-orang miskin yang mereka bunuh. Sebagai pelarian, mereka memanfaatkan “Pontifical Commission for Assistance” yang melindungi penjahat perang. Roma menyembunyikan mereka di Austria dan Italia, dan memberikan paspor palsu sehingga mereka bisa bepergian ke negara-negara yang “bersahabat”, dimana mereka bisa menikmati hasil rampasannya. Pavelitch sendiri terungkap keberadaannya di Argentina tahun 1957. Pavelitch meninggalkan Argentina menuju Paraguay, kemudian ke Spanyol dimana dia meninggal tanggal 28 Desember 1959 di sebuah rumah sakit Jerman di Madrid.

Monseigneur Stepinac diajukan ke pengadilan Zagreb tahun 1946. Hukuman yang harus dijalani adalah kerja paksa, tetapi nyatanya dia dikembalikan ke desa asalnya. Semasa kekardinalannya, di Gornji Karlovac (bagian dari wilayah keuskupannya) dari 460.000 orang Ortodoks yang hidup disana, 50.000 bersembunyi di pegunungan, 50.000 dikirim ke Serbia, 40.000 pindah ke paham Katolik karena teror dan 280.000 dibunuh.

Kolusi antara Vatikan dan Oustachis adalah nyata. Bahkan Tahta suci sendiri memaksa Monseigneur Stepinac untuk berkolaborasi dengan Oustachis guna membunuh penganut Ortodoks dan Yahudi. Tanggal 10 Februari 1960, Alois Stepinac meninggal di desa asalnya, Karlovice.

BAB IV: GERAKAN JESUIT DI PERANCIS

SEBELUM DAN SELAMA PERANG DUIA II 1939-1945

Aksi Jesuit dimulai ketika Mussolini berkuasa dan berakhir tahun 1940 karena jatuhnya pertahanan nasional. FNC (Federation Nationale Catholique = Federasi Nasional Katolik) pun didirikan dan dipimpin oleh Jenderal de Castelnau, seorang figur militer hebat berusia 78 tahun!

FNC, pasukan bersenjata Katolik, difokuskan tugasnya kepada “Sacred heart of Jesus” (Hati Kudus Yesus), sebuah acara ibadah yang diatur oleh Jesuit. Basilikanya terletak di Lembah Montmartre, darimana Ignatius of Loyola dan rekanrekannya berikrar untuk menaklukkan dunia. Sang jenderal, seperti yang dituliskan dalam buku mengenai FNC, menegaskan bahwa FNC terbeban untuk mendirikan kembali kekuasaan Tahta Suci (baca = Jesuit) di seluruh Perancis. Pengajaran Gereja Katolik yang melarang kebebasan beribadah, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan dalam berpikir, kebebasan pers, semua pengajaran tersebut harus ditegakkan kembali. Itulah tujuan utama FNC.

Di Perancis, kejadian yang sama berulang. Para pastor sibuk membentuk kolaborasi. Franz von Papen menungkapkannya: “Pertemuan pertama kami terjadi tahun 1927, dimana seorang delegasi Jerman berkunjung menemui Paus untuk menghadiri “Social Week of the Catholic Institute”, dibawah pimpinan Monseigneur Baudrillart. Pertemuan ini juga menandai awal pertukaran kunjungan antara orang-orang penting dari Perancis dan Jerman”.

Tanggal 14 Juni 1940, bendera swastika berkibar di seluruh perancis. Goebbels, kepala propaganda Hitler, sudah memprediksi hal tersebut tanggal 14 Maret 1940 dan serangan jerman pun terjadi tanggal 10 Mei 1940. Hal ini tidak mengherankan kerena para pengkhianat sudah terpilih jauh sebelumnya. Seorang agen rahasia 654J.56, yang bekerja untuk Jerman S.S., mengirimkan surat rahasia kepada Himmler, tanggal 5 Juli 1939, bahwa “Perancis dibawah kendali kita. Segalanya sudah siap untuk “J Day” dan semua agen sudah pada posisinya. Dalam beberapa minggu, sistem militer dan kekuatan polisi akan runtuh.”

Pembayaran untuk para pengkhianat Perancis (Luchaire, Bucard, Deat, Doriot dan Abel Bonnard) dilakukan oleh Jerman SR dan diberikan karena pekerjaan mereka yang efektif. Doriot sebelumnya seorang yang sedang menanjak namanya, tetapi karena kebutuhan akan masa depan dan untuk mengamankan posisi transisi diperlukan figur lain, Doriotpun tersingkir. Figur lain itu adalah seorang perwira militer yang dihormati dan sanggup “mendandani” kekacauan dan menghadirkannya sebagai “pemulihan nasional.” Dia adalah Petain.

Selama masa pendudukan Perancis, Jerman disanjung oleh Gereja Roma Katolik. Pierre laval, pendukung paus mengatakan,”Saya berharap Jerman memperoleh kemenangan. Perang ini adalah perang agama.” Pastor Coughlin (Jesuit) berkomentar : “Perang Jerman adalah perang untuk Kekristenan.” Kardinal Baudrillart, rektor Institut Katolik di Paris, mengatakan: “Perang Hitler adalah untuk mempertahankan kebudayaan Eropa.”

Setelah sekutu menang, Perancis meminta Vatikan untuk menarik pulang 30 uskup dan uskup agung. Ternyata akhirnya, hanya 3 saja yang ditarik. La Croix, salah satu orang berbahaya dari Jesuit, diadili di Paris tahun 1944. Judge Raoult memutuskan kasus dibatalkan. Ternyata diketahui bahwa M. de Menthon, menteri kehakiman, telah menolong La Croix.

Pers Katolik sepenuhnya dikontrol oleh Jesuit. Mereka menyuarakan kepentingan kepausan dan segala hal yang berhubungan dengan La Croix, para kardinal, para uskup agung serta Hitler adalah masa lalu dan dilupakan. Sejarah diselewengkan. Kolaborasi antara paus dan Jerman tahun 1940-1944 dipalsukan, para Jesuit dijadikan pahlawan, Hal ini dilakukan agar generasi yang akan datang menaruh hormat kepada “para pahlawan Gereja Roma dan Tanah Air.”

BAB V: GESTAPO DAN SERIKAT YESUS

Hitler adalah seorang yang setia kepada Vatikan. Dia berjanji untuk “mencekik” para anti-paus. Mereka (Pius XI, Pius XII, Hitler) mengirimkan kaum liberal dan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Nasib bangsa Yahudi sudah ditentukan (oleh Hitler): dibunuh atau disuruh bekerja sampai kehabisan tenaga kemudian dibinasakan.

Pada hari kematian Hitler, 3 Mei 1945, surat kabar “Reforme” mempublikasikan pernyataan Franco (yang sebenarnya merupakan suara Tahta Suci) bahwa “Adolf Hitler, anak kesayangan Gereja Katolik, meninggal mempertahankan Kekristenan. Dia seorang martir, Tuhan memberi Hitler mahkota kemenangan”. Hitler pantas menerima penghormatan dari Gereja Roma karena dia sangat seta ia melayaninya.

Hitler mengakui bahwa dia belajar banyak dari Ordo Jesuit. Organisasi S.S. dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip Ordo Jesuit, baik itu berdasarkan peraturanperaturannya, maupun latihan spiritual yang “diresepkan” oleh Ignatius de Loyola; sedangkan struktur perintah/birokrasi meniru susunan hirarki Gereja Katolik. Salah satu prinsip yang dijunjung tinggi pihak kepausan adalah pembunuhan yang terorganisir, yaitu inkuisisi. Apakah inkuisisi hanya terjadi di masa lalu? Tidak! Apakah bisa terjadi pada masa sekarang? Ya. Mengapa? Karena prinsip yang dijunjung tinggi itu tidak berubah!

Hitler, Joseph Goebbel, Himmler dan sebagian besar anggota Nazi adalah Katolik. Hitler sendiri menganggap Himmler, pimpinan Gestapo, sebagai Ignatius de Loyola-nya Nazi. Hitler mempunyai alasan untuk menyebutnya demikian. Kurt Heinrich Himmler, Reichsfuhrer (Jenderal) S.S., Gestapo dan pasukan polisi jerman adalah seorang yang paling banyak diisi oleh paham Kekatolikan dibandingkan dengan anggota-anggota Katolik lainnya dalam grup Hitler. Ayahnya seorang direktur sekolah Katolik di Munich, guru pribadi Pangeran Ruprecht dari Bavaria. Saudara lakilakinya seorang biarawan Benedictine. Pamannya memegang posisi penting di Mahkamah Bavaria.

Tetapi apakah karena kemampuannya dia bisa memperoleh posisi sebagai kepala Gestapo? Seorang jeniuskah dia sehingga diperbandingkan dengan Ignatius de Loyola? Bagaimana halnya dengan Hitler? Seorang pemimpin sejatikah dia? Master sejati untuk Jerman, seorang negarawan jenius yang akan memutarbalikkan dunia? Hitler sendiri mengakui bahwa dia hanyalah sebuah klarion (alat musik sejenis trumpet). M. Francois-Poncet, duber Perancis untuk Berlin, mengkonfirmasikan bahwa Hitler hanya melakukan sedikit kerja, tidak gemar membaca dan membiarkan kaki tangannya bekerja sendiri-sendiri. Ternyata para pahlawan Nazi adalah orang-orang yang tidak mempunyai intelektual dan karakter. Hanya satu yang “normal” Franz von Papen, dialah yang mengerjakan semuanya. Hitler hanyalah legenda yang sengaja diciptakan, sama seperti Mussolini.

Di Italia dan Jerman, ada beberapa negarawan dan pemimpin sejati, dibandingkan dengan Hitler dan Mussolini. Tetapi mereka terlalu pandai sehingga Vatikan, khususnya von Ledochowski (seorang paus hitam), tidak dapat mengendalikan mereka. Awalnya rencana Ledochowski adalah membentuk federasi negara-negara Katolik di Eropa Tengah dan Timur, dimana Bavaria dan Austria (pemerintahannya dipimpin oleh Jesuit Seipel) akan mempunyai peranan yang menonjol. Bavaria harus dipisahkan dari Republik Jerman Weimar. Tetapi kesempatan untuk mewujudkan federasi ini semakin kecil, sewaktu Monseigneur pacelli menyadari kelemahan Republik Jerman, yaitu kurangnya dukungan. Rencana pun dimodifikasi.

“Hegemoni Prussia Protestan harus dihindari dan pada saat jerman mendominasi Eropa –untuk mencegah federalisme orang Jerman- seorang “Reich” harus dibentuk kembali dimana Katoliklah yang menjadi tuannya”.

BAB VI: KAMP KEMATIAN dan PERANG Anti-SEMIT

Para Katolik adalah para tuannya Nazi Jerman yang melaksanakan prinsipprinsip kepausan. Gereja Roma merasa berhak untuk memusnahkan siapa saja, baik dengan cara lambat atau cepat, yang menghalanginya, yaitu orang-orang liberal dan kaum Yahudi, dikirim ke Auschwitz, Dochau, Belsen, Buchenwald dan kamp-kamp kematian lainnya.

Vatikan sendiri cuci tangan terhadap kekejaman ini, seperti yang dinyatakan oleh Pius XII kepada Dr. Nerin F. Gun, jurnalis Swiss yang mempertanyakan mengapa paus tidak menolong orang-orang malang tersebut: “Kami mengetahui bahwa, karena asalan politik, adanya pembunuhan kejam terjadi di Jerman, tetapi kami tidak pernah diinformasikan seperti apa penindasan Nazi yang tidak berperikemanusiaan itu”. Tahta Suci diketahui terlibat dalam pendeportasian 528 misionaris Protestan dari penjara, oleh orang-orang Jepang, di Kepulauan Pasifik dan diasingkan ke kamp-kamp konsentrasi di Filipina. Cukup banyak bukti yang menyatakan keterlibatan Gereja Roma dalam hal-hal yang dilakukan Oustachi, Nazi, pemusnahan kaum Ortodoks dan bangsa Yahudi. Gereja Roma tidak pernah mengakui bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama.

Dalam sebuah surat kepada “SS Haupsturmfuhrer” Danneker tanggal 21 Juli 1942, diperintahkan untuk mendeportasi anak-anak Yahudia yang diambil dari ibunya ke Auschwitz. Selama lebih dari 5 tahun, Nazi adalah sumber kebiadaban, ketidaksenonohan, hujatan dan kejahatan. Nazi membunuh 6 juta orang Yahudi, dimana 1,8 juta diantaranya adalah anak-anak. Gerakan anti-Semit di USA juga didalangi oleh Jesuit karena sejalan dengan doktrin Gereja Roma. Tokoh utama dalam gerakan tersebut adalah Pastor Caughlin (seorang Jesuit, tentunya). Dia sangat terkenal dengan paham anti-Semitnya, dan melalui siaran radionya, dia berhasil mengumpulkan pendengar sebanyak 20 juta lebih.

BAB VII: JESUIT DAN “COLLEQUIM RUSSICUM”

Salah satu penyebab Vatikan memulai perang dunia II, dengan memaksa Kaisar Austria –Francis Joseph- untuk “menghukum Serbia”, adalah untuk menyerang Gereja ortodoks, lawan Vatikan yang paling dibenci dan hal itu sudah berlangsung berabad-abad. Sasaran Vatikan sebenarnya, selain Serbia, adalah Rusia yang merupakan pelindung kaum Ortodoks di daerah Balkan dan Eropa Timur. Roma yakin kemenangan bisa diraih dengan menciptakan bencana raksasa. Paus Pius X yakin pasukan Perancis dan Rusia tidak akan menang atas Jerman.

Ternyata semua perhitungan meleset. Perang dunia I, yang memporakporandakan Utara Perancis dan menyebabkan jutaan meninggal, gagal memenuhi ambisi Roma. Austria dan Hungaria terpecah dua, sehingga melemahkan pengaruh Vatikan di Eropa. Pukulan berikutnya adalah Revolusi Rusia yang membuat Rusia terlepas dari kontrol Vatikan. Kekalahan total! Tetapi Gereja Roma tidak berputus asa. Usaha baru dilakukan tetapi dikombinasikan dengan ambisi-ambisi Pan-Jerman : Perang Dunia II, dimana 25 juta meninggal di kamp konsentrasi, 32 juta serdadu tewas dalam pertempuran dan 29 juta cedera dan cacat. Gereja Roma mengira tujuannya telah tercapai. Vatikan dan Berlin menandatangani pakta yang mengijinkan para misionaris Katolik dari Russicum College (Colleqium Russicum) menguasai daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh Jerman. Katolikisasi Rusia dicanangkan dan Kroasia pun dikenai hal serupa, tetapi dalam skala yang jauh lebih besar. Semuanya diperlukan untuk kedigjayaan Roma!

Yang terjadi ternyata mengecewakan, Hitler terhenti di Moskow dan von Paulus beserta pasukannya terperangkap di Stalingrad pada hari Natal 1942! Pius XII yang tadinya mengeluarkan seruan kepada “negara-negara Kristen” untuk mendukung “Perang Salib Suci Modern” itu, berbalik dengan mengatakan bahwa perang Hitler tersebut bukanlah perang salib yang sebenarnya. Pius XII juga mengeluarkan sanggahan terhadap ucapan Kardinal Baudrillart (“Perang Hitler adalah untuk mempertahankan kebudayadaan Eropa, 30 Juli 1941) bahwa “Gereja Katolik tidak pernah mengidentifikasikan dirinya dengan kebudayaan barat”.

La Coix mengatakan, berdasarkan penampakan Bunda Maria 1917 di Fatima, bahwa “Perawan Fatima telah berjanji untuk menobatkan Rusia (menajdi umat Katolik Roma) jika semua orang Kristen dengan tulus dan bersuka cita melaksanakan perintah hukum Injil”. Janji dari Perawan ini dimeteraikan lagi pada penampakan tahun 1951 di halaman Vatikan, yang hanya diperuntukkan bagi Pius XII saja. Sekalipun ada penampakan tersebut, yang menentukan ternyata bukanlah Perawan Fatima! Inggris memperkuat dirinya untuk menghadapi Nazi, USA ikut ambil bagian dalam peperangan (walaupun Pastor Coughlin, seorang Jesuit, berusaha keras untuk mencegahnya), sekutu mendarat di Afrika Utara dan operasi militer Rusia adalah bencana bagi Nazi. Impian Halke von Ledochowski, Jenderal Jesuit, tidak tercapai. Jesuit mundur teratur. Sang jenderal pun meninggal karena kesehatannya menurun drastis akibat bencana kekalahannya tersebut.

Colleqium Russicum adalah seminari Rusia yang diciptakan oleh Pius XI, bersama dengan “Oriental Pontifical Institute” dan “Roman College”. Ketiganya diatur oleh Serikat Yesus. Aktifitas ketiganya saling terkait dan bervariasi. Contohnya: bersama-sama dengan Fasis Italia dan sisa-sisa Nazi jerman, Jesuit mengorganisir dan mengkoordinir kelompok-kelompok anti Rusia. Tujuan utamanya adalah menumbangkan pemerintahan-pemerintahan Eropa timur. Keuangan disediakan oleh organisasi – organisasi keuskupan yang berkuasa.

Suatu saat saya (penulis, Edmund Paris) bercakap-cakap denga Andrei Ouroussof, seorang Jesuit. Singkatnya: politik Vatikan membutuhkan, baik yang secara sukarela maupun dipaksa, dan Vatikan telah “mencïptakan” berjuta-juta martir dalam dua perang dunia.

BAB VIII: PAUS YOHANES XXIII MENANGGALKAN TOPENG

Gereja Roma selalu berhati-hati dalam melakukan aksinya. “Bonne renommee vaut mieux que ceinture doree”. Reputasi yang tanpa cacat lebih baik daripada sabuk keemasan. Vatikan sangatlah kaya, nafsu politiknya untuk mendomisi selalu dibalut dengan dalih “spiritual (keagamaan)” dan kemanusiaan, memproklamirkan “urbi dan orbi” dengan propaganda yang intens sehingga reputasi pun terjaga baik, emas tetap mengalir masuk.

Tanggal 7 Januari 1960 di Roma diadakan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) yang mempertemukan para pemimpin negara-negara Timur dan Barat untuk menciptakan perdamaian diantara dua ideologi: komunis dan demokrasi. Tentu saja Vatikan mengambil peranan dalam KTT ini. Di USA, Kardinal Spellman meminta umat Katolik untuk menyambut Khrushchev (seorang pemimpin Soviet), yang menjadi tamu presiden USA, dengan ramah.

Dalam pesan Natalnya, Paus Yohanes XXIII mengharapkan perdamaian tercipta di dunia ini. Sejauh ini Vatikan menampakkan wajah manisnya.

Kegemparan terjadi pada 7 Januari, Kardinal Ottaviani, calon sekretaris Tahta Suci, menyampaikan pidato yang mengagumkan di Basilika “Saint-Marie-Majeure”. Dia menyerang otoritas Soviet dan menggambarkan para pemimpin Rusia sebagai “anti Kristus baru” yang pantas “di deportasi, dipenjara , dibunuh “. Perjalanan ke ruang angkasa hanyalah menghina surga dan menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Ottaviani juga menyerang para politisi dan negarawan Barat yang dianggapnya “tumbuh bodoh karena teror”.

Kata-kata yang dramatis ini tentu tidak membuat kita lupa bahwa Vatikan juga dapat menggunakan kata-kata manis untuk mencapai tujuannya, seperti yang dilakukan Franco di Spanyol dimana orang-orang Protestan dianiaya. Dilihat berdasarkan cara Vatikan memperlakukan para orang sesat (heresi); tidak mengherankan kalau Vatikan secara sistematis menghujat usaha-usaha yang memisahkan istilah antara negara-negara “Kristen” dan ateis. Bagi Vatikan, keduanya sama.

Isu disebarkan bahwa pendirian kardinal Ottaviani bukanlah cerminan dari pemikiran Tahta Suci. Hal ini sebenarnya tidak mungkin. Tidak mungkin Ottaviani mengucapkan kritikan tajam tanpa persetujuan atasannya, Paus sendiri. Paus Yohanes XXIII tentu tidak dapat menyampaikan kritik itu sendiri, tetapi dengan memerintah orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam kepausan untuk mengambil alih tempatnya, dia ingin kerjasama yang dilakukan secara rahasia terpampang jelas ke setiap orang.

Kebetulan, yang lain dan cukup aneh, terjadi pada saat bersamaan sebuah artikel dalam “Osservatorie Romano” mengecam sosialisme karena berlawanan dengan kebenaran Kekristenan. Siapapun yang mempraktekkan politik itu masih mempunyai harapan untuk tidak masuk neraka-tetapi tidak dapat menghindari Api Penyucian.

Segala usaha dilakukan oleh Roma untuk menanamkan pengaruhnya. Contohnya penampakan Perawan Maria di Bukit Fatima tahun 1917, yang menyatakan bahwa Rusia akan bertobat; kebangkitan Hitler walaupun akhirnya kalah, tetapi kekalahan tersebut tidak membuka mata Roma atas ambisinya yang konyol.

Ambisi besar Roma lainnya adalah agar Roma dapat “bebas” di Polandia, Hungaria dan Cekoslowakia. Untuk itu, Vatikan bergabung kepada pasukan Jerman. Vatikan menempatkan Chancellor Konrad Adenauer sebagai pemimpin Federal Jerman, sehingga dia selalu menyuarakan Vatikan. Adenauer, yang dijuluki serigala tua, berusaha untuk mempersenjatai kembali negara tersebut, baik pemuda Jerman maupun penduduknya secara umum. Maka dari itu, posisi-posisi penting dalam pemerintahan Jerman Barat dipegang para mantan pengikut Hitler dan penjahat perang. Semua ini dilakukan sebagai aksi balas dendam bersama-sama dengan Vatikan.

7 Januari 1960 diadakan kebaktian di Sainte-Maire-Majeure beberapa hari sebelum kunjungan Konrad Adenauer ke Roma. Adenauer dan Menteri Luar Negeri, Mr. Von Brentano, diterima dengan ramah oleh Paus Yohanes XXIII. Paus menyampaikan bahwa Tuhan telah memberi peranan kepada rakyat Jerman untuk menjadi pelindung dunia Barat terhadap ancaman dunia Timur.

Sebenarnya Perang Dingin yang langsung sangat penting bagi kekuatan Politik Vatikan, dan keuangannya, sehingga Vatikan tidak ragu-ragu untuk mengulang sudut pandang politik seperti itu, walaupun yang pertama ditolak. Usaha-usaha untuk memulihkan hubungan Barat-Timur selalu dilakukan.

Jesuit akan selalu menggunakan segudang tipuannya untuk menentang perdamaian antara negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan. Untuk meruntuhkan struktur atau organisasi yang kompleks, mereka tidak akan menyisakan perangkap dan kontra perangkap yang mereka miliki. Serikat Yesus akan melaksanakan perang, perang suci, tanpa kekhawatiran terhadap bencana yang ditimbulkan.

Catatan Penerbit :

Edmond Paris kurang waspada terhadap perubahan yang terjadi terhadap “Pelacur dalam Kitab Wahyu” [Vatikan] untuk memenuhi nubuatan dalam Alkitab. Dia sudah siap terhadap semua kemungkinan yang terjadi.

Jesuit sudah melakukan evaluasi terhadap PD III dan mencanangkan AS akan kalah, dan Vatikan tentunya yang menjadi pemenang. Karenanya Vatikan memberi dukungan kepada Moskow dan bahkan mengangkat seorang Paus yang komunis dari Polandia. Secara rahasia Vatikan mengadakan perjanjian dengan Rusia dan membiarkan paham Marksisme mendunia. Para Jesuitlah para aktor dibelakang gerakan perlucutan senjata untuk melemahkan A.S.

Moskow akan menjadi otot Vatikan untuk menaklukkan bangsa-bangsa sehingga Katolik Roma menjadi satu-satunya agama di dunia. Rusia akan dipaksa untuk menyerang Israel, sesuai dengan nubuatan dalam Alkitab (Yeh 38 & 39) dan anti-Kristus dari Vatikan tinggal menunggu kehancurannya pada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya.

Kesimpulan :

  1. Jesuit adalah pasukan rahasia Kepausan.
  2. Jesuit banyak beraksi dalam kancah kegemarannya yaitu politik di berbagai negara.
  3. Dalam menerapkan hukumnya, Jesuit tidak pernah memperhatikan kepentingan nasional suatu negara. Terkadang terjadi konflik antara Tahta Suci, Jesuit dan apa yang dilakukan Jesuit tidak selalu menguntungkan kedua belah pihak.
  4. Jesuit lebih berbahaya kepada temannya sendiri daripada kepada musuhnya.
  5. Jesuit mempunyai pengaruh yang kuat dalam Vatikan karena reputasinya mencengangkan, musuhnya sebanyak temannya, dihormati dan juga ditakuti.
  6. Kekristenan Roma merupakan kerajaan yang absolut, didirikan sekarang dan selamanya atas dasar infalibiliti paus (paus tidak pernah bersalah).
  7. Sulit untuk membedakan apakah suatu tindakan dilakukan oleh Vatikan atau Jesuit. Ordo ini, yang merupakan tulang punggung Gereja Roma, cenderung untuk mendominasi. Para uskup tidak lebih sebagai “pegawai negeri”, yang menerima perintah dari Roma.
  8. Melalui media massa Katolik, mereka menciptakan ilusi kepada para pembaca mengenai bentuk kemerdekaan, terbuka terhadap ide-ide baru.
  9. Seperti memberi permen kepada seorang anak yang penurut, demikian juga dilakukan Vatikan terhadap orang-orang yang mau menganut pahamnya. Murid yang tidak pandai lulus ujian tanpa menemui kesulitan, Profesor diberi kedudukan sesuai dengan keinginannya, dokter akan bertambah pasiennya kalau mau mengikuti beberapa perkumpulan, dan sebagainya. Untuk mencapai tujuannya, dia juga menjangkau para profesional dan intelektual dalam bidang pendidikan (universitas), administrasi (kementerian dan departemen), dan pemerintahan.
  10. Antara tahun 1939-1945, aksi Jesuit membunuh 57 juta orang dan menghancurkan Eropa, belum dihitung jika ditambahkan perang dunia 2 di Asia. Kita harus waspada, dia tidak akan berhenti. Kita perlu memberi tahu setiap orang mengenai aktifitas licik dari para fanatik yang tidak pernah mundur sebelumnya.

PENUTUP:

Bagi saudara yang telah membaca buku ini, tentu menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui. Bila hendak membagikan buku ini, berdoalah untuk meminta hikmat kepada Tuhan kepada siapa buku ini layak diberikan.

Apabila anda mempunyai saudara, sanak keluarga, teman, atau siapa pun dia yang beragama Katolik, berdoalah bagi mereka. Kita, yang sudah mengetahui kebenaran yang sungguh, harus mengasihi mereka dengan berdoa tidak hentihentinya untuk mereka agar Tuhan Yesus menjamah hati mereka, mencurahkan Kasih Karunianya ke dalam kehidupan mereka, agar seturut dengan waktu dan rancanganNya, saudara-saudara kita yang beragama Katolik itu boleh mengetahui bahwa agama Katolik tidak membawa keselamatan bagi hidup mereka. Kalau mereka mau selamat dan memperoleh hidup kekal, mereka harus mau keluar dari sistem tersebut.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, saya mengucap syukur karena dapat membaca buku ini sampai selesai. Segala kebenaran dan pengajaran yang bukan berasal dari Tuhan Yesus, ditapiskan dari hati dan pikiran saya, di dalam nama Yesus. Bapa, saya berbelas kasih kepada para umat Katolik yang telah disesatkan oleh sistem yang mereka anut. Beri saya roh keberanian dan roh hikmat, Tuhan Yesus, untuk memberitakan mengenai bagaimana sesungguhnya sistem yang mereka jalankan itu. Layakkanlah saya untuk menyampaikan FirmanMu dan Kebenarannya kepada mereka. Jamahlah hati mereka agar mereka mau menerima. Amen.

Tambahan :

Setan dibawah kendali Lucifer semenjak adam dan hawa ditaman eden sudah berusaha menguasai manusia. Didalam kitab Wahyu 13, Binatang pertama adalah Vatican dan binatang kedua adalah Amerika. Amerika dibentuk dan dirancang sebagai bentuk nyata dari gerakan Tata Dunia Baru. Dibawah Amerika, gerakan illuminati hendak mengadakan penyatuan dunia dibawah 1 pemerintahan dunia, 1 pemimpin dunia, 1 mata uang dunia, dan 1 agama dunia. Pembentukan illuminati berhubungan erat dengan Vatican dan Jesuit.

Skenarionya adalah memunculkan kekuatan raksasa, Cina dan Rusia. Kedua negara ini akan dijadikan suatu kekuatan untuk menghancurkan Amerika dan dunia. Amerika dibuat kuat dan digunakan untuk menguasai bangsa-bangsa, kemudian dirombak [dihancurkan] beserta seluruh bangsa-bangsa di dunia dalam skenario perang dunia ke-3. Jangan lupa bahwa illuminati atau kekuatan antikristus selalu bermain didalam dua sisi pihak-pihak yang berperang.

Khusus Rusia akan dijadikan kekuatan untuk merombak Amerika, Eropa dan Timur Tengah. Nanti tiba masanya kerajaan Utara akan menyerang Yerusalem, Israel. Illuminati tidak menyukai Israel, tetapi Israel sudah terkumpul dan terbentuk [mereka jugalah yang membentuk disamping memang kehendak Tuhan juga] dalam negara Israel tahun 1948 untuk kemudian diserang dan dihancurkan. Kekuatan AntiKristus akan dihancurkan pada saat kedatangan Yesus yang kedua kalinya nanti.

Saat ini persiapan perang dunia ke-3 sudah direncanakan oleh illuminati dan organisasi pendukungnya. Bungker sudah dibuat dimana-mana, terutama di Amerika, Eropa, termasuk Rusia dengan berbagai macam kegunaan. Pemimpin dunia terpilih sudah mempunyai tempat persembunyian apabila perang dunia ke-3 pecah.

Tujuan antiKristus salah satunya adalah menguasai Yerusalem sebagai markas. Mereka tidak bisa melakukan hal ini dikarenakan nantinya Tuhan Yesus sendirilah yang akan mengalahkan mereka bersama bala tentara surga dalam perang Armageddon, sebelum masa 1000 tahun pemerintahan Yesus Kristus.

Video Pendukung :

THE JESUITS, PRIESTHOOD OF ABSOLUTE EVIL EXPOSED

Who are the Jesuits- – James Arrabito

Vatican Assassins – Eric Phelps on the Jesuits

Ex Jesuit Alberto Rivera and others Speak on Jesuit infiltration

Lucifers New World Order, Exposing the Jesuits by Walter Veith

An Experience with a Jesuit: Jesuit Rule of America Exposed!

Sekilas gambar skenario kekuatan Jesuit di Amerika.

6008-Jesuit-Universities-America

Sumber : amazing discoveries

59e53616d0f5be0a9cbae1797128c3daf704b1d0

Sumber : before its news

jesuit-usa-structure

Sumber : intheknow7

68010provinces

Sumber : grand design exposed

apstolatesmap

Sumber : jesuits central southern org

Sumber : geocities jesuit PDF, baca online spiritually smart The Secret History of Jesuits 1975 PDF, dll

  • Matius 24:15-25 : (15) Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel–para pembaca hendaklah memperhatikannya– (16) maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan. (17) Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya, (18) dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya. (19) Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu. (20) Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat. (21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. (23) Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (25) Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.
  • Wahyu 13:1-18 : (1) Dan ia tinggal berdiri di pantai laut. (13-1) Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat. (2) Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. (3) Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu. (4) Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?” (5) Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. (6) Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga. (7) Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. (8) Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih. (9) Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (10) Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus. (11) Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga. (12) Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh. (13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. (14) Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. (15) Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh. (16) Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, (17) dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. (18) Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.
  • 2 Tesalonika 2:1-12 = (1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.
  • Wahyu 14:9-11 = (9) Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: “Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, (10) maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. (11) Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.”
  • Wahyu 17:12-14 = (12) Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu adalah sepuluh raja, yang belum mulai memerintah, tetapi satu jam lamanya mereka akan menerima kuasa sebagai raja, bersama-sama dengan binatang itu. (13) Mereka seia sekata, kekuatan dan kekuasaan mereka mereka berikan kepada binatang itu. (14) Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”
  • Wahyu 19:19-20 = (19) Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya. (20) Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.
  • Aku (Yesus) dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30).
  • Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa [yang berada di Sorga], kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6).
  • Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18:36).

Link untuk dibagikan : http://wp.me/p6mxNc-Kq

Tetap semangat menjalani hidup ini. Tetap mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan Yesus memberkati. Amen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s