Apakah Isa Muslim adalah Yesus Kristus ?

Dihimpun dan disadur dari pelbagai nara-sumber kesarjanaan. Termasuk kontribusi dari sejumlah mantan Muslim seperti: Abd al-Masih, Kamil Mukamil, Abdi Yeshua-HaMashiakh, Miryam Ash, Ram Kampas dll.

APAKAH ISA MUSLIM ADALAH YESUS DI ALKITAB?

Disadur & Disusun Oleh

Hamba-hamba Tuhan

Ex-Muslim

UNTUK KALANGAN SENDIRI

Yohanes 1:14

“Islam adalah satu-satunya dari agama-agama non-Kristen yang memberi tempat bagi Kristus dalam kitab sucinya, tetapi ia juga merupakan satu-satunya dari agama-agama non-Kristen yang menyangkali keilahian, karya penebusan, dan ketuhanan Yesus Kristus dalam kitab sucinya.” Kata-kata Samuel Zwemer ini, seorang misionaris terkenal untuk Muslim, menggaris-bawahi tantangan tentang bagaimana orang Muslim menyodorkan gambaran Yesus (dalam Islam disebut nabi “Isa”) kepada kaum kristiani dewasa ini.

Muslim mendasarkan pemahaman mereka mengenai Yesus pada kitab-kitab suci mereka yaitu Quran dan Hadis. Quran sebagai teks fundamental Muslim, mengungkapkan sejarah dari kehidupanNya, sementara koleksi-koleksi hadis (tradisi-tradisi mengenai apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Muhammad dan para pengikut awalnya) menjelaskan kedudukanNya di akhir zaman dalam pandangan Muslim. Tetapi Quran diperkirakan ditulis sekitar 580 tahun setelah kematian Kristus Tuhan kita, bersama dengan Perjanjian Baru yang telah lama selesai dikanonisasi dan disetujui. Hadis sendiri bahkan ditulis lebih jauh setelah itu, setidaknya 750 tahun setelah Kristus. Jadi Alkitab memiliki klaim yang lebih baik untuk menjadi sebuah catatan akurat mengenai sejarah Kristus dan signifikansinya.

Quran juga mengklaim bahwa ia diwahyukan kepada Muhammad oleh malaikat Jibril mulai di sebuah gua; tetapi gambaran Yesus yang dipresentasikan oleh Quran berbeda secara radikal dengan pesan Gabriel kepada perawan Maria dalam Injil. (Lukas 1:26-38).

Hal ini menunjukkan bahwa malaikat Jibril yang mewahyukan Quran kepada Muhammad, bukanlah malaikat Gabriel yang ada dalam kitab suci Yahudi-Kristen.

Dan bahwa pandangan mengenai Yesus yang dikatakan telah diterima oleh Muhammad, adalah pandangan yang tidak akurat, alias bermasalah.

Konklusi ini dikonfirmasi lewat konteks pandangan Muslim awal-awal mengenai Yesus. Yaitu sejarah Islam mula-mula memperlihatkan bagaimana Muhammad secara bertahap menunjukkan permusuhan kepada orang Yahudi dan Kristen yang ada di Arabia. Jadi ayat-ayat mengenai Isa dalam Quran dan hadis haruslah dilihat sebagai bagian-negatif dari sebuah serangan permusuhan terhadap kebenaran Alkitabiah mengenai Yesus.

Adalah benar bahwa Islam memberi banyak gelar pada Yesus (yang tak bisa diingkari), seperti yang ditemukan dalam kitab suci Kristen, misalnya gelar: Mesias, Hamba, Firman Tuhan, Saksi, Nabi dan Rasul. Lebih jauh lagi, Islam menggambarkan Yesus dengan menggunakan istilah-istilah pengagungan, seperti: “Tanda”, “Perumpamaan”, “Yang Hebat”, “Yang Benar”, “Yang Diberkati”. Quran juga harus mengakui kelahiranNya dari perawan Maria, hidupNya yang tanpa dosa, mujizat-mujizatNya di publik, KenaikanNya ke surga dan kedatanganNya kembali. Jadi dalam banyak fakta (dengan para saksi mata) yang telah menjadi tuturan masyarakat luas, Isa Muslim memang tampak mirip dengan Yesus.

Namun kemiripan ini hanya ada di permukaan saja. Secara tegas Quran menyangkali keterangan Injil yang paling penting mengenai Yesus. Quran menyatakan bahwa Yesus hanya seorang manusia dan bukan Tuhan; bahwa ada seorang lain yang disalibkan untuk menggantikan tempatNya; bahwa Ia tidak pernah bangkit dari kematian; bahwa Ia akan datang kembali ke dalam dunia sebagai Muslim untuk menghancurkan Kekristenan; dan bahwa Ia jauh lebih rendah dibandingkan Muhammad! Quran menyangkal status Yesus sebagai Hakim tertinggi dan Tuhan atas segala sesuatu.

Dengan kata lain, Quran secara tegas menolak kebanyakan ajaran Perjanjian Baru, doktrin serta keyakinan orang Kristen mengenai Kristus, yang mana hal itu telah menyimpang jauh dengan apa yang diajarkan pada permulaan Kekristenan. Iman Kristen dibangun oleh Tuhan Yesus Kristus,

”Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Elohim, tidak menganggap kesetaraan dengan Elohim itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. (Filipi 2:6,7).

Jika klaim Muslim tentang Yesus/Isa itu benar, maka seluruh ajaran yang prinsipil mengenai Kekristenan perlu diintepretasikan ulang, atau diabaikan saja. [Paulus berkata: Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Elohim”. (1 Korintus 15:14,15).

Awas, ini bukan sekedar pemberitaan yang sia-sia, melainkan pemberitaan ditengah-tengah ancaman, terror, penganiayaan, dan pembunuhan yang paling kejam terhadap para pemberita Injil. Mereka harus memilih “jangan memberitakan Yesus” atau memilih “dibunuh” sebagai martir Yesus.

Booklet ini justru menggali keyakinan-keyakinan Muslim mengenai Yesus yang memperlihatkan betapa tidak seja- lannya keyakinan mereka itu dengan pengakuan orang Kristen tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat; dan sekaligus ini juga dimaksudkan untuk menyingkapkan betapa bahaya gambaran mereka itu yang diarahkan kepada integritas misi Kristen.

ISA DALAM QURAN

Deskripsi Quran mengenai Isa mengikut-sertakan sejumlah elemen-elemen Biblikal, namun seringkali berkontradiksi atau menyeleweng, tidak sejalan dengan kisah yang ada dalam Alkitab. Para sarjana telah berusaha menemukan sumber-sumber dari sejumlah materi Quran mengenai Isa, hingga mencarinya pada sumber-sumber tambahan biblikal seperti Gnostik dan injil-injil apokrifa.

Quran mendeskripsikan Isa dengan memakai kata-kata dan ungkapan yang banyak ragam, yang juga ditemukan dalam Alkitab, seperti Mesias, Rasul, Firman dari Allah dan sosok Roh dari Allah. Tetapi Quran hanya memakai kata-kata ini hanya sebagai sekedar nama atau gelar, tetapi tidak memaknainya dengan arti yang hakiki sesuai dengan makna Biblikal.

ISA BUKAN ANAK ALLAH

Dengan tegas Quran menyangkali keilahian Isa, keilahaianNya sebagai Anak Allah dan konsep Trinitas. Mempercayai keilahian Kristus dan Trinitas adalah dosa yang tidak terampuni dan dianggap sebagai dosa “shirik”, karena dianggap telah menambahkan seorang sekutu kepada Allah yang adalah satu-satunya. Ini adalah dosa terbesar dalam Islam dan merupakan dosa yang tidak terampuni.

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.5:17)

Quran mengklaim bahwa orang-orang Kristen percaya pada sebuah keluarga-illahiah dimana Allah dan Maria melakukan hubungan seks, sehingga melalui hubungan itu lahirlah anak mereka yang bernama ISA. Hal ini telah dilabelkan Islam secara sepihak terhadap kekristenan, sehingga mereka harus menolak pandangan najis seperti ini:

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS.6:101).

Muslim melontarkan isu ‘Anak Allah’ secara gegabah dan keliru. Buktinya sangat terbuka dan sederhana untuk diperlihatkan. Yaitu tatkala mereka mencoba menjawab pertanyaan balik atas apa yang mereka sendiri tuduhkan: “Apakah yang ada dibenak kalian saat menuding kami orang Kristen mentuhankan ‘Anak Allah’? Deskripsi ‘Anak Allah’ yang bagaimanakah yang kalian tuduhkan kepada kami?”.

Soalnya, istilah “Anak” disini telah salah dipahami oleh Muhammad sebagai kelahiran anak (walad) hasil hubungan biologis. Tetapi ditempat lain malaikat Jibril/Gabriel (baik di Quran dan di Injil) telah sama-sama menyatakan bahwa Isa/ Yesus itu dilahirkan hanya melalui seorang Perawan (Maria), bukan hasil hubungan sex suami istri seperti yang dituduhkan. Maka apa yang ditudingkan Muslim kepada orang Kristen tentang “Anak Allah” sudahlah salah kaprah ketika hanya dikonfrontasikan dengan rujukan maklumat Gabriel itu! Isu ini akan kita bicarakan lebih lanjut pada pasal mendatang.

Berdasarkan Quran, Isa adalah seorang nabi sama seperti kebanyakan nabi-nabi Islam lainnya. Pesan utama yang disampaikan oleh Isa adalah TUNDUK (submission, arti kata Islam) kepada Allah. Jadi Muslim melihat Isa sebagai sosok yang setara dengan nabi-nabi sebelum dia, dan bukan sosok yang lebih tinggi.

Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri.” (QS.3:84).

Dilain pihak, penciptaan Isa yang tidak setara dengan nabi-nabi lainnya itu harus dianggap sebagai hal yang biasa sama seperti Adam, yaitu seorang yang diciptakan tidak dari hubungan suami istri, melainkan dari debu tanah yang ada di bumi ini:

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS.3:59).

Padahal, dimanapun Isa tidak terlacak datang dari tanah bumi seperti Adam. Sebab Isa hanya dan hanya datang dari Zat Atas, yaitu dari Kalimat Allah dan RuhNya! Itu sebabnya Isa, berlainan dengan Muhammad dan SEMUA nabi-nabi lainnya, selalu berwahyu dalam setiap KALIMAT yang diucapkannya! Ia tak perlu menunggu turunnya wahyu cicilan dari Allah sewaktu-waktu! Ia berfirman setiap berkalimat (Matius 24:35; Yoh.12:48-50) karena Ia adalah Firman (Yoh.1:1; Wahyu 19:13), dan Ia Firman yang berinkarnasi (bukan dicipta) menjadi manusia (Yoh.1:14).

KITAB INJIL ISLAMI

Kepada Isa juga dikatakan telah Allah beri sebuah kitab (yaitu Injil) dan sebuah hukum yang disebut sebagai petunjuk dan cahaya yang menerangi:

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS.5:46, lihat juga QS.3:3).

Tetapi sungguh tidak benar dan tidak terbuktikan bahwa Isa pernah menerima sebuah KITAB dari Allah disepanjang pelayanannya selama 3 tahunan. Menurut Qur’an, ‘kitab’ yang diturunkan kepada Isa adalah Injil. Istilah yang asing ini tidak berasal usul dari Alkitab, tidak juga berasal dari sorga atau bahasa asli Arab atau dari nabi manapun termasuk Yesus . Istilah ini hanyalah berasal aslinya dari Gerika, euanggelion, yang berarti ‘Kabar Baik’ dan dibawah Muhammadlah terjadi pengkorupsian nama ini dengan mengatasnamakan wahyu.

Kabar Baik adalah rujukan Yesus sendiri untuk message-Nya (Lukas 4:16-21). Jadi expresi euanggelion tidak dirujukkan kepada sebuah “teks-jadi” yang diwahyukan, dan sama sekali tak ada bukti bahwa Yesus pernah menerima (dan menulis) dan meneruskan sebuah buku/kitab wahyu dari Elohim. Kitab yang muncul adalah hasil pengilhaman dan penulisan kesaksian biografis tentang Yesus, yang dilakukan oleh murid-murid Yesus: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Disinilah Muhammad telah mendapat gagasan yang keliru tentang “Sebuah Kitab” yang dia sendiri sebut kitab “Injil”. Dia telah salah mengira bahwa Allah-lah yang menurunkan-nya langsung kepada Isa. (Tetapi Muslim malah menuduh lebih jauh: Injil asli telah hilang; yang ada hanya Injil yang palsu belaka. Bisakah firman yang diberikan langsung oleh Allah sendiri, dilenyapkan oleh manusia?). Muhammad gagal menjelaskan apa/siapa yang menjadi sumber transmisi wahyu bagi Isa dan bagaimana terjadinya Kitab Injil Islami. Dia tahu bahwa Isa mendapat pengajaran langsung dari Allah (QS.3:48). Tetapi apakah wahyu itu lewat vision, bermukamuka dengan Allah, lewat bisikan ruh, Jibril, Rohulqudus, secara serentak atau berangsur-angsur? Dan yang teramat penting: apa isi Injil yang sesungguhnya?

Quran mengakui bahwa Injil adalah kebenaran dengan petunjuk dan cahaya bagi kemanusiaan (QS.3:3), namun justru apa-apa isi dan cahaya pokoknya terkosongkan dari Quran. Semisal Hukum yang Paling Utama, Ajaran kasih, Pengampunan, Berkat Sorgawi, Keselamatan pasti, Kelahiran baru, Roh Kudus dan perannya, Kuasa mengusir setan, dll). Akibatnya, Muslim yang terus berusaha mencari jejak-jejak Injil yang asli – hingga sekarang inipun – tidak mendapatkan solusi! Akhirnya – demi pembenaran Islam – Muslim terpaksa memilih potong kompas dengan meletakkan tuduhan naïf bahwa Injil yang ada sekarang ini hanyalah Injil-Palsu!

Sebagai Nabi Allah yang membenarkan Alkitab/Injil sampai puluhan kali, namun tidak sekalipun Muhammad berusaha untuk mencaritahu atau menjaga keberadaan dan keasli-annya. Nabi Terakhir tidak seharusnya melawan dirinya (kontradiksi) dengan hanya BERKATA BERULANG-ULANG membenar-benarkan Alkitab disatu pihak (QS.6:34; 10:64,94; 48:23; 2:41,89,91,136; 3:3; 4:136, dst), namun dilain pihak juga menuduh-nuduh terjadinya korupsi Alkitab (QS.2:42, 75, 79, 146; 3:71,78; 4:46; 5:13 dst)! Tetapi bukankah dia sendiri tokoh TERAKHIR yang seharusnya BERTINDAK demi menjaga keaslian dan kehadiran Kitab-kitab Allah tsb. Terlebih lebih harus, karena menyangkut nama AHMAD (Muhammad), yang katanya ada ternubuat dalam Taurat dan Injil! (QS.61:6; 7:157, lihat pasal berikut).

Jikalau Allah sengaja menandai dan memuliakan nama “Ahmad” ke dalam Taurat dan Injil, maka Muhammad tidak bisa tidak harus menjagai Kitab tsb senekad-nekadnya!

Sebagai penguasa Arabia (termasuk menguasai kaum Yahudi disana) Muhammad tidak akan sulit untuk mendapatkan sebuah Alkitab/Injil Islami (kalau memang exist), misalnya dengan meminjam (atau kalau perlu dengan “menjarah” sekalian) Kitabullah tsb dari tangan Yahudi/Nasrani atau dari Waraqa bin Naufal. Satu dan lain hal karena Kitab tersebut dinyatakan Allah ada disisi mereka, antara lain merujuk kepada QS.7:157; 2:41,89,91; 3:93; 5:43,44,47 dst. Satu copy Injil Islami ditangan Muhammad sungguh akan menjadi pengamanan akan keasliannya, dan sekaligus sebagai bukti sejarah atas kebenaran nama AHMAD, nabi Allah! Tetapi adakah Nabi Allah ini ada mengamankannya, sebagaimana seharusnya Kitab Taurat juga sudah dijagakan keberadaannya turun temurun dari nabi ke nabi?

Maka siapakah sekarang yang bersalah dan yang harus bertanggung jawab? Allah-kah, Muhammad-kah, atau orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani yang tidak berbuat lancang apapun terhadap Kitab Suci mereka kecuali memeliharanya secara ketat? (Taurat, Ulangan 4:2; 12:32; Wahyu 22:18,19).

Demikian pula halnya dengan Kitab Zabur, ternyata gagasan Muhammad juga menyimpang dan kacau. Sehingga oleh Muslim, Zabur dianggap berisi hukum-hukum penerus dari Allah atau pengganti/pelengkap terhadap Taurat bagi kaum Israel. Tentu saja anggapan ini salah besar, sebab Kitab Mazmur atau Zabur tiada lain merupakan koleksi dari puji-pujian, hikmat nubuat dan penyembahan dimana Daud dan pemazmur lainnya mendapatkan pengilhaman dari Roh Tuhan. Daud sendiri adalah orang Israel yang senantiasa berpegang pada Hukum Taurat Musa! Daud berkata sejak dari permulaan Mazmur-nya:

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”. (Mazmur 1:1,2). Dalam pandangan/tafsir ulama Islam (yang lagi-lagi keliru, bahkan tidak mesti merupakan pandangan Quran per se), Injil justru dianggap telah dikorupsi (dengan tanggung jawab Kristen, bukan Muhammad), dan oleh karena itu kitab suci ini sekarang telah dicabut (digantikan) dan dikoreksi oleh Quran yang lebih sempurna karena difinalkan lewat pewahyuan kepada Muhammad, yang dianggap sebagai nabi terakhir dan yang terbesar… Begitukah nalar dan alih tanggung jawabnya ???

NUBUAT TENTANG AHMAD

Lebih jauh, orang Muslim percaya bahwa Isa dari mulutnya sendiri telah menubuatkan kedatangan Muhammad:

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS.61:6).

Muhammad yang buta huruf tidak pandai baca Injil, tetapi sangat pandai dengar-dengaran dari mulut orang perorang, termasuk dengar-dengaran akan nubuat Yesus tentang akan datangnya sosok Penolong yang lain setelah Yesus (Yohanes 14:16,17,26; 16:7 ff). Tentu saja Muhammad memimpikan dirinya sebagai sosok nabi yang ternubuat, karena itulah mimpinya sejak muda sebagai penggembala kambing (M.H.Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, p.60). Dia menyadari akan ketekoran “tanda kenabian dirinya” yang memang belum tersokong itu. Maka inilah peluang baginya untuk memperteguh tanda kenabiannya, sehingga turunlah ayat diatas dan disusul dengan QS.7:157, “Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…”. Akan tetapi, Muhammad hanya bisa ditandai dengan keummiannya, sesuatu yang pasti bukan tanda sorgawi, melainkan tanda duniawi, atau bahkan bukan TANDA samasekali (!) karena kasus “buta-aksara” memang praktis dipunyai oleh SELURUH keluarga Arabia dikala itu! Jadi, dari ILAHI-kah tanda itu? Atau selfmade sign?

Kita semua merasakan bahwa memang tak ada sosok yang memeteraikan kenabian Muhammad secara legal ilahiah. Quran kosong dari pentahbisan kenabian Muhammad. Hanya Khadijah-lah yang paling ngotot “menabikan” suaminya, Muhammad, dengan metode “testing-kenabian” yang dia ciptakan sendiri (Ibn Ishaq, Sirat Rasul Allah, p.107). Celakanya, testing ini, yang dipersaksikan oleh seorang wanita nilainya baru separuh kesaksian satu lelaki, jauh dari persyaratan kesaksian duniawi sekalipun. Ya, testing dengan pendekatan sexual ini sungguh merisihkan. Namun lebih tragis lagi, (hasil) testing ini disetujui pula oleh Muhammad! Maka Nabi-lah dia!

Seharusnya, dan satu-satunya cara paling sahih untuk bukti kenabiannya adalah jikalau Muhammad bertindak mengamankan satu Kitab Injil Islami dimana nama “Ahmad” (Muhammad) benar ternubuat di Kitabullah sebagai nabi yang akan datang, lengkap dengan tanda-tanda ilahiahnya yang mencengangkan. Tidak ada hal lain yang lebih penting lagi bagi Islam untuk meyakinkan dunia selain daripada bukti Ilahi yang satu ini.

Namun tindak pengamanan ini ditiadakan oleh Muhammad maupun pengikut-pengikutnya, yang mana malah mengkuatkan kesan bahwa ayat “Ahmad” (QS.61:6) itu hanya sisipan susulan dari sipenulis Quran semata demi klaim kenabiannya. (H.Hirschfeld, New Researches into the Composition and Exegesis of the Quran, pp.18 ff). Bilamana itu adalah nama yang sungguh datang dari Allah, maka selayaknya Muhammad menggantikan nama lamanya menjadi AHMAD untuk seterusnya, sama seperti Tuhan telah menggantikan nama Abram menjadi Abraham, sekali dan seterusnya (Kejadian 17:5). Namun nyatanya Allah — setelah memberinya nama Ahmad — tetap saja menyebutkan nama lamanya ‘Muhammad’. Itu dapat kita saksikan dalam ayat yang secara kronologis lebih belakangan diturunkan kepadanya, yaitu di Surat Al-Fath 48:29! How come?

Muhammad hanya lantang berseru “membenar-benarkan maupun menuduh-nuduh pemalsuan” Alkitab/Injil serta mengklaim nama Ahmad disitu. Tetapi itu hanya NATO – no action, talk only — padahal Muhammad mudah sekali ber-action seperti yang pernah dia lakukan terhadap para ahli kitab: “Tunjukkanlah bukti kebenaran kamu (kitabmu) jika kamu orang yang benar. Namaku ada disitu” (lihat QS.2:111). Dan kenapa Muhammad tidak meminta kepada Jibril (atau sebaliknya) menunjuki ayat “Ahmad”nya disepanjang bulan Ramadhan, ketika mana Jibril dikatakan mengunjungi Nabi setiap malam untuk me-review ayat-ayat Quran yang sudah diturunkan (Shahih Bukhari, 5 no.1; 31 no.126 dll). Why? How come?

Kini simak ayat QS.61:3, dan jejerkan dengan ayat Ahmad dalam QS.61:6, yaitu saling selisih 3 ayat saja. Dikatakan disana betapa murka Allah atas sikap Muslim yang NATO, “Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” Itu adalah ayat peringatan keras dalam satu periscope yang pasti disadari oleh Muhammad akan konsekwensi kebencian Allah bagi dia yang setelah berseru-seru, tetapi tidak berbuat!

Akhirnya semua kita layak bertanya, adakah nubuat kedatangan “Ahmad” ini pernah disambut, diantisipasi dan ditunggu-tunggu sebelumnya, baik oleh hawariyyun ini maupun terlebih-lebih oleh orang-orang Arab yang memang akan menjadi tuan rumah bagi kedatangan Nabi Besarnya? Tak ada! Bila tak ada kaum Arab manapun yang menunggu “Ahmad yang ummi” ini sebelumnya, maka mubazir-lah ayat nubuat Allah ini yang tadinya dikhususkan bagi mereka. Total mubazir-lah (100%) Quran Surat 61:6 sekalipun ayat telah tergores di Lauh Mahfudz disurga disisi Allah sejak  dahulu kala! Jadi masih wahyukah ayat tersebut atau hanya sisipan manusia belaka seperti yang telah disinyalir oleh Hirschfeld?

Sesungguhnyalah, Yesus tidak menubuatkan kedatangan nabi atau rasul lainnya dalam rupa manusia. Dia berkata diatas kayu salib: “Sudah selesai!”, dan selesailah keseluruhan misi Yesus dalam penyelamatan umat manusia akibat kejatuhan Adam. Kini seluruh misi fase baru memasuki bentuk peperangan rohani dan iman yang tidak kelihatan dalam diri setiap manusia. Maka nubuat Yesus disini bukan ditujukan kepada kedatangan seorang manusia lain yang bernama Ahmad. Juga bukan Rasul ummi yang baru akan datang dikelak kemudian hari setelah “vaccum-rasul” 600-an tahun kemudian. Tetapi Yesus menubuat tentang akan datangnya — SEGERA dan URGEN — satu sosok Roh Penolong (bukan manusia) untuk membantu dan menguatkan para murid Yesus yang kini harus berjuang keras sendirian tanpa kekuatan dan backing siapapun! Roh Penolong ini harus berasal dari sumber asali yang sama dengan Yesus , “dua-duanya keluar dari Bapa” (Yohanes 8:42 dan 15:26). Bahkan Roh Kebenaran (Roh Kudus) ini hanya bisa datang atas pengutusan Yesus dan akan diam didalam diri murid-murid Yesus untuk selamanya (Yohanes 17:16 ff). Apakah Muhammad diutus oleh Yesus, dan tinggal selamanya dalam diri hawariyyun Isa yang justru sudah dianggap punah saat ini?.

DISKRIMINASI ALLAH

Orang Muslim menganggap murid-murid Isa yang benar adalah orang-orang Muslim yang sejati (bukan orang Yahudi dan Kristen), yaitu mereka yang patuh dan mengakui Isa Muslim:

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan (wahyukan, terjemah Zakir) kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” (QS.5:111).

Tanpa disadari oleh si penulis Quran, pengakuan ini telah merebakkan isyu yang mendiskreditkan Muhammad sebagai nabi Allah. Dalam hal apa?

Disini Allah mengakui telah berwahyu dan berdialog langsung dengan para pengikut Isa, padahal Muhammad sendiri bahkan tidak pernah berdialog langsung dengan Allah-nya! Allah SWT juga telah berfirman langsung kepada Adam, Ibrahim, Musa, dll nabi hingga kepada Zakaria, Yahya dan Isa. Sedangkan semua pewahyuan Allah kepada Muhammad hanya dilakukan lewat agenpenyampai wahyuNya, yaitu Jibril. Jadi kenapa Allah tampak begitu mendiskriminasikan Nabi terakhirNya sendiri, dengan lebih memfavoritkan penyampaian wahyu langsung bahkan sampai ke level murid-murid Isa?

Lebih kacau lagi, setelah memfavoritkan para hawariyyun (karena kepatuhan mereka sebagai Muslim yang mengakui Isa Muslim), Allah pula-lah yang membiarkan mereka punah bersama dengan Injil Islami yang tak tercari dalam sejarah. Bukankah sumber Islamik mengatakan bahwa mereka semua ini akhirnya hilang lenyap “disapu habis” oleh ajaran palsu Paulus yang mentuhankan Yesus? Padahal mereka ini adalah murid-murid yang diridhoi Allah yang dipercayakan meneruskan Kitab Injil Islami? Tetapi kini yang tertinggal adalah justru semua pengikut Yesus yang senantiasa menjunjung dan memproklamirkan ketuhanan Yesus, dan yang tidakpernah mengenal Injil selain Injil Salib!

KELAHIRAN ISA

Maria ibu Isa digambarkan sebagai Maryam, yang dipanggil oleh Allah sebagai “saudara perempuan Harun”, dan yang dipelihara oleh Zakaria ayah dari Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya, QS 3:35-37; 19:28). Sebutan mana merupakan kesalahan total berdasarkan kronologi waktu.

…dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya (Maryam). Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS.3:35-37).

Muhammad memang diakui luas sebagai buta aksara, dengan akibat bahwa ia juga buta geografi dan tradisi Yahudi. Faktanya, Zakaria tidak pernah menjadi wali atau pemelihara Maryam karena keduanya tidak tinggal sekota. Zakaria adalah salah satu imam besar yang tinggal disebuah kota dipegunungan Yudea, dan yang melakukan tugas-tugas keimaman di Bait Suci Yerusalem. Sedangkan Maryam berdiam di Nazaret di Galilea yang jauhnya seratusan kilometer dari Yudea.

Hukum Yahudi melarang seorang wanita tinggal sendirian didalam Bait Elohim. (Allah SWT juga melaknatinya, bukan?) Tetapi Maryam dikatakan berdiam di MIHRAB, dan mendapat makanan setiap hari dari langit. Bila kisah itu benar, pasti terjadi kehebohan besar di seluruh Yudea dan Israel yang tak mungkin disembunyikan lagi. Dan pasti cerita tentang Maryam akan berakhir dengan lain sekali, apalagi diikuti dengan kehamilan tanpa suami! Ia mungkin akan diangkat jadi Allah-wanita, atau setidaknya tak usah minggat sendirian (sampai dua kali, menurut Quran) ketempat yang jauh karena takut dihakimi masyarakat!

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”. (QS.19:27,28).

Ini adalah salah satu (diantara berpuluh-puluh anakronisme) dari “wahyu-keliru-sosok” yang merisihkan Islam. Para ahli Islam merasa sangat perlu untuk menutupinya dengan cara menggeserkan panggilan “sister Harun” dari makna asli “biological sister” (saudara perempuan sekandung) menjadi semacam “social sister” seperti panggilan “bro atau sis” yang dikenakan bagi setiap anggota umat.

Mereka harus membela dengan sengit.

PERTAMA: “Dalam Arabic kata “ukht” pada suatu kalimat tidak selalu berarti saudara perempuan dalam arti biologis, bisa berarti lain “tergantung pada kalimatnya”. Tetapi kalimat ayat tersebut justru telah menunjukkan sangat jelas bahwa “sister” itu bermakna lingkaran sedarah, bukan se-sosial masyarakat! Lihat, di ayat tersebut telah mencantumkan seluruh sosok keluarga besar biologisnya, yaitu: Maryam, anaknya, ayahnya, dan ibunya, dan SAUDARANYA yang bernama Harun! Maka itulah Maryam yang tidak bisa lagi diplintirkan lain daripada “sister kandung Harun” !

KEDUA, Muhammad terpeleset lebih jauh dengan memposisikan Imran sebagai ayah Maryam.

Surah At Tahrim 66:12

“Dan Maryam puteri Imran, yang telah memelihara kehormatannya…”

Karena ummi, Muhammad lemah dalam mengenal nama-nama asing (orang, tempat, dan waktu) dari hasil dengar-dengaran saja. Ia agaknya mendengar kisah bahwa Amran atau Imran (logat Arab) itu punya anak-anak yang bernama MIRIAM dan Harun (dan Musa). Ia sempat menduga bahwa MARYAM (ibu Isa) itu MIRIAM puteri Amran, yang sekaligus adalah saudaranya Harun! (Keluaran 6: 20). Maka nama Maryam (ibu Isa) itupun jadi tertukar dengan Miryam (saudaranya Harun). Dan jarak perbedaan antara Maria (ibu Yesus) disatu pihak, dengan pihak Imran, Musa, Harun dan Miriam, adalah sekitar 1.400 tahun!

KETIGA, akhirnya—dan ini paling tuntas—Muslim kurang paham akan tradisi Yahudi yang tidak pernah memanggil “saudara” untuk seorang moyangnya, kecuali memanggilnya “bapak” (eg. bapak kami Abraham) atau sebaliknya “anak” (eg. anak Daud). Muhammad terlanjur berspekulasi dengan silsilah dan tradisi Israel yang tidak dipahaminya. Akibatnya naas terjadi terus bagi “sejarah hidup” Maryam, yang telah dibawa berputar-putar dalam Quran dalam kaitan yang keliru dan tak masuk akal. Kita masih akan menyaksikan putaran “sejarah” aneh ini seperti paparan berikutnya ini.

KELAHIRAN YANG MISTERIUS

Selanjutnya, kisah kelahiran Isa Muslim dalam Islam sangatlah misterius dan total terbalik dengan kisah Yesus dalam Injil. Maryam dalam kehamilan tuanya dikisahkan minggat dari rumah — dua kali entah kenapa dan entah kemana (QS.19:16 dan 22) — dan terakhir berjuang sendirian disuatu tempat terasing tanpa nama lokasi. Kemudian Maryam-pun melahirkan Isa dengan susah payah dibawah sebatang pohon kurma (QS.19:23). Maryam – wanita pilihan Allah yang paling sabar, taat dan teruji – ternyata kalah, putus asa, menghadapi penderitaan dan kesakitan yang dideritanya sehingga lebih memilih mati dan dilupakan sejarah saja (ayat 23). Ini sebuah kisah solo. Tidak ada siapapun yang menjadi saksi atas sejarah Maryam ini. Lebih dari itu, kelahiran Isa yang penuh aneh dan misteri ini tidak pernah dinubuatkan dan tanpa saksi mata, padahal ia telah ditetapkan sebagai Ayatullah, tanda dan rahmat terbuka bagi segenap manusia. (ayat 21). Itulah bagian dari Kitab Injil Islami, yang kini diulangi narasinya secara amat berbeda oleh Muhammad.

Sebaliknya, Injil Kristus mencatat lurus bahwa Maria melahirkan Yesus ditempat yang sudah ditetapkan khususkan oleh Tuhan jauh sebelumnya, yaitu di Betlehem seperti yang sudah dinubuatkan Tuhan dalam Kitab Nabi 700 tahun sebelumnya (Mikha 5:2). Bayi lahir dikandang ternak, bukan dibawah pohon kurma. Tidak sendirian, melainkan disaksikan oleh utusan Tuhan sendiri, yaitu para malaikat, juga para gembala, dan dibawah penjagaan Yusuf, suami Maria (yang menjaga kehormatan Maria, Matius 1:24,25)! Kelahiran Yesus dinyatakan oleh para malaikat sebagai kesukaan besar untuk segenap bangsa (Lukas 2:10). Semuanya adalah event historic dan public, menafikan Yesus dilahirkan misterius dan senyap-senyap tanpa sambutan alam raya! Jadi sejak paling awal, Isa Muslim yang misterius ini sudah total berbeda identitasnya/ jatidirinya dengan Yesus Kristus yang historis.

Mungkinkah diatas kisah natal Yesus yang terang benderang, Allah SWT kembali mengulangi kisah natal versi kedua, dimana “Yesus Muslim” kini dipenuhi dengan kisah yang berantakan? Mungkinkah semua jatidiri Yesus yang sudah ternubuat dan tervalidasi dalam Injil, kini diubah menjadi sosok Isa dalam kisah solo tanpa saksi mata dan bukti rinci yang telah ada sebelumnya?

Isa kelak masih terus didongengkan berbicara ketika masih dalam buaian bayi. Dan diantara sejumlah mukjizat-mukjizat yang dibuatnya adalah termasuk menghembuskan nafas kehidupan kedalam burung-burungan tanah liat (QS.3:46; 5:110). Artinya, Isa berkuasa memberikan kehidupan, suatu kuasa yang hanya dipunyai seorang Tuhan.

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizinKu, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keteranganketerangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”” (QS.5:110).

Para pembaca sering tidak menyadari betapa kompleksnya ayat ini. Simaklah baik-baik keanehan wahyu ini yang dibawa sangat berputar-putar. Ayat ini bukan ayat percakapan Allah dengan Isa selama ia masih berada di Israel, melainkan percakapan di surga, sebab selama di Israel wahyu demikian tentu mubazir dan tak bernilai bagi Isa untuk diingat-ingat. Jadi, setelah Isa sudah berada di surga barulah diingatkan Allah kembali akan semua mukjizat yang telah diperbuatnya di abad ke-1, dan ini diwahyukan kembali ke dunia di abad ke-7 dalam kisah-ulang Allah demi untuk diketahui oleh Muhammad dan Muslim! Tidakkah itu sebuah percakapan pengulangan yang kacau dengan maksud Allah yang sulit bisa dimengerti, bahkan sulit dipercaya? Artinya Quran yang sudah tertulis dalam lempeng Lauhul Mahfudz masih harus ditambahkan ayat peringatan bagi Isa? Padahal Isa tahu akan hal yang gaib (QS.3:49), tak ada yang terlupa sehingga perlu diingat-ingatkan kembali? Tapi disini tampak bahwa Allah SWT lah yang justru “lupa” bahwa Ia SUDAH mewahyukan kepada Muhammad tentang daftar mukjizat-mukjizat Isa sebelumnya yang sudah dinyatakanNya langsung dalam QS.3:49. Jadi kenapa kini disusulkan lagi kedalam Quran seruanNya yang tidak logis kepada Isa, ketika Isa telah ada di surga? Tak ada jawaban yang memadai kecuali bahwa “Allah” merasa perlu meminjam otoritas Isa untuk penegasan tambahan, namun yang berakhir tidak wajar dan tidak masuk akal.

PENYALIBAN DAN KEMATIANNYA

Secara kategorikal, Quran menolak kematian Isa di atas kayu salib, dengan akibat menolak pula kebangkitan dia dari kubur, dan naik kesorga sesudahnya:

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.4:157,158).

Tetapi semua orang Israel – kawan dan lawan — menyaksikan penyaliban Yesus. Fakta mutawatir yang tak tergoyah oleh siapapun dan yang dipercayai oleh dunia sejak awal Masehi. Tetapi 600 tahun kemudian, datanglah Muhammad dengan “kisah korektif” bahwa Allah secara rahasia telah melakukan tipudaya penglihatan terhadap si tersalib. Isa yang asli telah dipertukarkan Allah dengan Isa-gadungan (yang mirip-mirip Isa) secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun juga. Sehingga yang disalibkan itu hanyalah seorang Isa-isa-an, sedangkan Isa asli diangkat kesisi Allah ke surga (ayat 158).

Muhammad dan Muslim dalam dilemma! Sebab fakta riil bukan hanya menyangkut tipuan wajah, melainkan bagaimana Muhammad dapat “menyerasikan” 7 kalimat yang diucapkan Yesus (sejak dinaikkan ke tiang salib hingga putus nyawanya) kepada seseorang gadungan lain? Diantaranya kalimat termulia dan yang berotoritas yang mustahil dapat diucapkan dari mulut seorang Isa-isa-an:

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan “Aku berkata kepadamu (penjahat yang tersalib disebelah Yesus), sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:34,43). Ini adalah ucapan dari sosok yang berkapasitas dan berotoritas ilahi! Bukan manusia misterius yang gadungan!

Muslim mendalilkan bahwa Allah tidak mungkin membiarkan UtusanNya (Isa) untuk dibunuh para kafir. Salah! Disepanjang sejarah kenabian penganiayaan dan pembunuhan sudah terjadi berulang-ulang pada nabi-nabi Allah sebelumnya (QS.2:61; 3:21). Muslim kurang menalar bahwa Allah dapat dengan mudah “menyelamatkan” Isa dari musuh-musuhnya dengan sepatah kata “KUN” saja. Tak ada perlunya Allah menipukan wajah Isa-isaan kepada seseorang siluman lalu Isa yang asli diangkat diam-diam ke surga. Sebab justru hasil penipuan Allah itulah yang membuat kebingungan kepada semua orang dan itu terus berlanjut hingga sekarang. Cara penyelamatan begitu tidak akan sejalan dengan hikmat, kebesaran, dan kepentingan Allah sendiri. Apalagi karena penyelamatan yang berbasiskan pendustaan diam-diam itu termasuk mendustai ibunya Yesus, Maria, dan murid-muridnya yang lain. (Yohanes 19:25-27).

Tetapi inilah rupanya cara yang dihalalkan Allah sendiri untuk membenarkan rekayasa-Nya demi melawan fakta mutawatir yang sudah terjadi 6 abad yang lalu. Secara mengagetkan Allah membuat dan meng-klaim diriNya sebagai “Khairul Maakiriin” (Penipudaya Terbesar), lihat sura 3:54 juga 8:30. Maka pertanyaan mendasar untuk direnungkan dalam-dalam oleh setiap Muslim: Jikalau Allah sendiri yang menipu-daya dan menyesatkan penglihatan orang-orang tentang penyaliban Isa, maka siapakah yang bersalah jikalau semua para pengikut Isa seterusnya percaya bahwa Isa memang betul mati disalib?].

Ya. Kebanyakan komentator Muslim telah mengintepretasikan ayat tersebut dalam pengertian bahwa seorang pengganti telah dibuat terlihat sama seperti Isa dan disalibkan di tempat Isa, sementara Isa sendiri diangkat naik ke surga (tanpa kematian). Namun demikian, tetap ada sejumlah komentator Muslim lainnya yang berbeda paham, diantaranya Ibn Abbas (jurubicara Quran yang terpercaya) menegaskan bahwa Isa memang meninggal. Al-Baydawi (wafat tahun 1284) dan Ibn Kathir (wafat tahun 1373), menerima kematian Isa yang sesungguhnya (walau bukan penyalibannya), sebagai salah satu kemungkinan intepretasi.

Agaknya hal ini harus mereka akui karena melihat kenyataan bahwa Quran sendiri menyaksikan betapa kematian Yesus telah dinyatakan secara eksplisit pada tiga pasal berikut ini:

A). “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal (yauma amuta) dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS 19:33).

Ayat ini diucapkan oleh Isa sendiri segera setelah ia dilahirkan. Tentu ini diucapkan oleh sang Orok dalam satu rangkaian utuh yang menunjukkan perjalanan masa hidupnya sendiri didunia. Mulai dari lahir – mati – dan dibangkitkan kembali! Tetapi oleh para ulama Islam yang tidak mempercayai kematian Isa didunia ini, maka wahyu lurus dari Bayi Isa ini dipotong-potong dan dibengkokkan menjadi dua bagian:

(1) penggalan masa “Isa lahir hingga hampir dibunuh”adalah masamasanya Isa hidup di bumi di awal masehi.

(2) penggalan masa “Isa mati dan bangkit kembali” adalah loncatan ke masa-masa dekat akhir zaman, yang akan terjadi kelak ketika Isa datang kembali ke bumi untuk kedua kalinya! Jadi terdapat vaccum masa ribuan (atau jutaan) tahun kemudian?

Tafsiran wahyu Allah sedemikian akrobatiknya menyangkal kematian Isa, sehingga semua common sense dan bukti dan saksi mutawatir disampahkan. Akan tetapi, jikalau azaz mutawatir ini bisa disampahkan begitu gampang, maka bagaimana Muslim bisa membenarkan kenabian Muhammad dan semua kompilasi Quran dan hadis-hadisnya?

B). Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (inniy mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat” (Qs.3:55).

Ayat ini jelas sekali menunjukkan betapa Allah yang mematikan Isa (di salib) dan yang mengangkatnya ke surga.

C). Setelah Isa diangkat Allah ke surga, Quran mengisahkan sebuah percakapan antara Isa dengan Allah di surga sbb : “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku (falamma tawaffaytaniy), Engkau-lah yang mengawasi mereka…” (Qs.5:117).

Ayat ini membuat jelas bahwa Isa telah mati sebelum ia diangkat ke surga. Bila tidak demikian, maka Isa mustahil dapat berbicara tentang kematiannya dalam past tense. Maka tampaklah kepada kita betapa ketiga ayat Quran diatas berkontradiksi dengan Quran (Qs.4:157).

Para ulama Islam berusaha memlintirkan tafsirannya demi untuk menyerasikan semua ayat tentang ketidak-matian Isa. Usaha mana tidak pernah memuaskan sampai kapanpun, dan tetap menyisakan kabut gelap yang terselubung! Fakta mutawatir tentang kematian Isa tak tergoyah oleh siapapun, dan itulah yang dipercayai oleh semua rasul dan pengikut-pengikut Yesus sejak awal Masehi.

KEILAHIAN ANAK ALLAH YANG DIINGKARI

Kita kembali kepada isu yang sempat sedikit disinggung didepan. Yaitu bahwa Quran menolak keras gagasan Isa sebagai Anak Allah: Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (QS.19:89-92).

Seperti yang telah dikatakan, Isa Muslim hanyalah manusia yang diutus Allah. Ia adalah Putra Maryam dan samasekali bukan Anak Allah. Sedikitnya Allah menegaskan 17 kali dalam Quran bahwa Allah tidak mempunyai anak. Sekalipun begitu, Muslim tidak bisa jernih menjawab pertanyaan: “Anak Allah seperti apa persisnya yang kalian tuduhkan kepada orang-orang Kristen”? Sebab “Anak Allah” yang difahami dan yang dinistakan oleh Muhammad adalah pula “Anak Allah” yang ditolak oleh orang Kristen! Ia tidak ada kaitannya dengan apa yang diimani orang Kristen tentang Yesus, Anak-Elohim! Tak akan ada “langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh”! Yang ada hanyalah bahwa laknat Islam yang ditujukan kepada Kristen (karena mengucapkan Isa itu anak Allah, QS. 9:30) itu sungguh salah alamat! Mari kita membicarakannya secara lebih mendasar disini.

Sesungguhnya apakah alasan yang sah dari Muhammad bahwa Allah betul-betul tidak mungkin mempunyai ‘Anak’ bilamana Allah Yang Mahakuasa sendiri yang berkenan? Bukti utama yang Muhammad sodorkan untuk itu hanya tertuang dalam dua ayat Quran yang sesungguhnya jauh dari bukti:

(1).“Bagaimana Allah mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri” (6:101). Disini “bukti mempunyai anak” telah didasarkan oleh Quran/Muhammad kepada keharusan untuk berhubungan sex, suatu hal yang justru telah ditolak oleh Maria sendiri, di Injil dan di Quran! Tak ada Kristen yang menganggap Yesus adalah Anak Allah, yang dilahirkan (walad) dari hasil hubungan sex! Tetapi itulah yang didampratkan Allah bagi orang-orang Kristen lewat mulut Nabi:

“… Sesudah itu (sesudah mendamprat orang Yahudi) orang-orang Kristen akan dipanggil dan akan ditanyakan kepada mereka, ‘Siapa yang biasanya kalian sembah?’ Mereka akan berkata, ‘Kami biasa menyembah Yesus, Anak Allah.’ Maka akan dikatakan kepada mereka, ‘Kalian penipu, sebab Allah tidak pernah mengambil siapapun sebagai istri ataupun anak” (Shahih Bukhari 60, no.105).

Tak ada yang menipu Muslim, melainkan Muslim sendirilah yang kurang memahami hakekat Allahnya yang terbatas kuasa dan ilmuNya, sehingga harus menjadikan dirinya Khairul Makiriin (Penipu Terbesar, 3:54)! Awas, jangan tertipu lagi: sebutan ‘Anak Elohim’ bukan bikinan orang Kristen. Itu melainkan datangnya dari Tuhan sendiri.

Kita justru mau bertanya: Jikalau Muslim konsekwen percaya apa yang dikatakan Quran bahwa “Allah tidak mungkin mempunyai anak karena Dia tidak mempunyai istri “, lalu kenapa Muslim mengklaim bahwa Maryam bisa mempunyai anak tanpa punya suami? Bukankah hal ini membatasi kemahakuasaan Allah dimana Maryam dapat melakukan sesuatu yang Allahnya sendiri tidak mampu?

Setiap orang dapat melihat kekonyolan tuduhan ayat ini. Sebab tak ada Kristianitas manapun yang percaya bahwa, (1) Allah ada beristri, dan (2) Maryam itu adalah istriNya, dan (3) Maryam itu sang Ilahi (Tuhan dalam kekekalan sejak awal)!

Dan (2) “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya (biasa) memakan makanan” (QS 5:75).

Disini Muhammad menafikan keilahian Isa dan Maryam atas dasar keduanya biasa makan dan minum! Tetapi dari mana Muhammad mendapat kepastian bahwa Allah-nya tidak bisa melakukan apa yang manusia bisa lakukan? Tidak bisa menjadikan diriNya, Isa dan ibunya (atau bahkan malaikat) untuk makan dan minum? Dia lupa bahwa bilamana Allah berkehendak, Dia bahkan mampu berbuat segalanya, termasuk yang paling mustahil, seperti membinasakan atau “menelan habis” Isa dan ibunya (QS. 5:17).

Muhammad mendasarkan premis-nya atas dilemma yang keliru, yaitu Al-Masih harus mutlak salah satu diantara dua kemungkinan saja: Dia Ilah/Allah atau Dia manusia! sambil mengesampingkan nature inkarnatif yang Tuhan bisa menjelmakan diriNya lewat Kalimat dan RuhNya nuzul menjadi Yesus Al-Masih (QS.4:171; 21:91; 66:12, awas terhadap terjemahan yang melenceng dari aslinya; bandingkan dengan Matius 1:20, Lukas 1:35, Yohanes 1:1,14). Yesus dalam bentuk inkarnasi secara metafisik itulah yang disebut sebagai “Anak Elohim”, suatu istilah dari Elohim sendiri, dan bukan buatan-buatan manusia. (Lukas 1:35, Matius 3:17).

Sebutan Anak Elohim tiada lain untuk merujukkan diri sang Anak sebagai Ahli Waris Elohim yang mewarisi semua hakekat Bapa-Nya termasuk keilahianNya, yang kini menjadi Anak Manusia! (Yoh.14:7; 1:14). Jadi sekarang, ketika sang Anak ini yang menjelmakan diri menjadi manusia, maka tentu saja Dia dapat beraktifitas seperti manusia, yang dipastikan bisa makan! Tak ada yang salah pada Tuhan, dan tak ada istilah ‘Anak’ yang boleh digugat, disalahkan, atau dianggap kontradiktif.

Sebaliknya yang perlu digugat adalah kontradiksi ketika Muhammad mengucapkan satu hal disini yang bertentangan dengan hal yang diucapkan dilain tempat. Contoh yang mengagetkan, Muhammad justru mengatakan bahwa Allah itu sempat SAKIT dan MINTA MAKAN dan MINUM! Lihat Shahih Muslim no. 2569, dimana Allah dibuat untuk berkata:

“Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak mengunjungi Aku. Aku minta makanan kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku makan. Aku meminta engkau memberi-Ku minum dan engkau tidak memberi-Ku minuman…”.

Hadis ini jelas memperlihatkan betapa Muhammad berplagiat meniru kata-kata Yesus yang tercatat dalam Kitab Matius 25:31-46. Yesus dalam natur inkarnatif-Nya memang bisa merasa lapar dan haus sebagai manusia. Tetapi Allah SWT sendiri tentu mustahil sakit, lapar dan haus sampai-sampai meminta-minta makanan dari manusia! (walau Allah bisa saja makan bila Ia mau).

Akhirnya, Quran bukan saja menolak Isa sebagai Anak Allah dengan alasan “Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan”, tetapi juga memanggil Isa sebagai Putra Maryam, dan bukan Putra Allah. Tetapi panggilan “Putra Maryam” ini jelas membawa masalah baru yang serius. Muhammad tidak mengetahui bahwa adat dan tradisi Yahudi hanya member-lakukan panggilan seseorang dari keturunan ayahnya, dan bukan ibunya, kecuali panggilan untuk semacam penghinaan terhadap “anak haram”. Murid-murid Yesus selalu meng-hormati Yesus dengan panggilan Guru atau Tuhan. Dan orang-orang Yahudi berkata sesamanya: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal?” (Yohanes 6:42). Tetapi diluar dugaan, Quran terlanjur mengisahkan murid-murid Isa yang memanggil Gurunya dengan konotasi anak haram:

“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?.” (QS.5:112).

Inilah musibah besar dari sipenulis Quran yang tidak menyadari tradisi tetangganya.

Muhammad tahu betul bahwa konsepsi anak di rahim Maryam hanya terjadi karena zat ilahiah: Kalimat Allah yang ditiupkan dan Ruh Allah sendiri (4:171; 21:91; Lukas 1:3 dll). Jadi semestinyalah beliau menyebut Isa sebagai Putra Allah (Penyandang zat ilahiah) ketimbang Putra Maryam, jikalau ia nabi yang konsisten. Sebutan “Putra Maryam” hanya dilakukan oleh manusia naïf yang tidak paham akan TANDA ILAHI dibalik kelahiran Isa. Mereka tidak tahu ada DNA Ruh dan Kalimat Allah dalam konsepsi Isa. Namun semua Nabi, Malaikat dan bahkan Setan (pun) – semuanya telah tahu hal ini – dan telah menyebutnya sebagai “Anak Elohim” secara mutawatir, termasuk Elohim sendiri (Matius 3:17, Lukas 1:32,35; 3:22, Markus 3:11; 5:7).

KETUHANAN ISA DITOLAK LEWAT MULUT ISA

Quran terus berusaha menolak ketuhanan Isa. Kali ini, Isa ditolak dengan menggunakan pengakuan Isa sendiri dihadapan Allah! Mari kita lihat dengan teliti ayat yang juga dibawa berputar-putar seperti berikut ini.

Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS.5:116)

Untuk memuluskan Quran secara gampang (tanpa direcoki wahyu-wahyu Injil yang banyak tidak selaras dengan Quran), maka Islam terpaksa harus melancarkan tuduhan bahwa Injil itu produk yang korup dan sesat. Dan koreksi harus dilakukan Quran dimana mulut Isa sendiri dimanfaatkan dan dipakai Allah (via mulut Muhammad) agar memaklumatkan dirinya dan ibunya sebagai bukan Tuhan!

Namun Muslim digalaukan dengan pertanyaan:

“Kapan terjadi-nya pengakuan Isa semacam ini? Muslim terpecah disini, lalu menjawabnya dengan tafsirnya yang bersayap dua:

(1). Bila wahyu Quranik baru diturunkan 600 tahun kemudian setelah Injil demi mengkoreksi iman yang sesat dari para pengikut Isa, maka kesesatan miliaran manusia selama 6 abad itu tentulah terlalu jauh terlambat dibiarkan Allah. Dan siapa yang salah? Allah pulalah yang salah karena Dia membiarkan (mengizinkan) Isa bermukjizat sedahsyat seperti Allah yang hanya Allah sendiri yang dapat melakukannya, yaitu antara lain membangkitkan orang mati, memberi/menurunkan makanan dari surga, mengetahui hal-hal ghaib, kuasa mengubah hukum Taurat, mencipta kehidupan (dari burung-burungan tanah liat), dll. Dan menurut Quran, siapapun yang dapat melakukan hal-hal ini, dialah yang disebut TUHAN! (QS. 27:65; 46:33; 22:73; 32:9). Para ulama Islam menyadari kesulitan tafsiran ini, yang akan menempatkan Allah dipihak yang dipersalahkan karena telah “mengizinkan” Isa bermukjizat ala Allah sendiri!.. . Karena tafsir ini tidak memadai, maka dihadirkanlah

tafsir kedua sbb:

(2). Teks wahyu walau diturunkan kebumi kepada Muhammad, namun sebagian Ulama justru menafsirkan ayat tersebut sebagai firman yang akan dipertanyakan Allah kelak kepada Isa pada Hari Penghakiman! Tafsir (al. oleh Ibn Abbas) beralih menjadi:

“Ketika Allah berfirman (pada Hari Penghakiman), “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia (dalam masa hidupmu di dunia): ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’…

Pertama-tama, betulkah ayat ini adalah “ayat kelak” di surga? Darimana Muslim bisa tahu itu “ayat kelak” jikalau tidak ditegaskan oleh Allah sendiri didalam (atau diseputar) ayat tersebut? Muhammad tidak berani menafsirkannya sejauh itu. Beliau justru berkata bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang dunia ghaib, apalagi “ayat kelak” disurga (6:50; 7:188). Ada banyak kontradiksi diluar nalar yang dipaksakan agar cocok…

Dikisahkan bahwa Isa meminta kepada manusia untuk menjadikan dirinya dan diri ibunya sebagai Tuhan selain Allah (Take me and my mother for two gods beside Allah). Ini tentu mengada-ada, karena dimanapun dan dalam sejarah agama, tidak pernah terjadi bahwa ada seseorang manusia meminta kepada manusia lainnya agar dia dijadikan Tuhan Allah! Diseluruh Injil, Yesus tidak pernah menempatkan diri ibunya sebagai Tuhan, tetapi Diapun tidak pernah mengingkari keilahiannya atau menolak untuk disembah dengan berkata: “Aku bukan Tuhan. Jangan menyembah Aku”!

Bagi orang-orang Kristen, ayat Allah yang sengaja meman-faatkan mulut Yesus untuk mengingkari kesejatian dirinya adalah ayat fitnah yang paling menjijikkan! Memang banyak fitnah islami harus digulirkan demi membenarkan banyak kekeliruan Quran yang terlanjur telanjang. Tetapi ketuhanan Yesus justru terus diberitakan oleh SETIAP murid Yesus sejak awal, bukan direkayasa oleh Paulus seperti yang dituduhkan Muslim. Ingat otoritas Yesus tidak memerlukan pengakuan malaikat, setan, apalagi Muhammad. Namun tetaplah malaikat dan setan (pun) telah mengakuinya dengan serta merta (Lukas 2:11; 1:32,35; Markus 5:7).

Yesus yang datang dari Surga adalah sosok yang paling rendah hati. Ia datang sebagai hamba pelayan dan tidak membutuhkan penghormatan manusia. Ia berkata dalam pelbagai event berturutturut, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini”. “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” dan “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia”. (a.l. Yoh.8:23; Mat.20:28; Yoh5:41).

Itulah essensiNya yang humble yang membuat kita percaya apa yang dikatakanNya tentang diriNya. Namun demi azaz kebenaran, Ia harus pula mengklaim diriNya sepenuh otoritas keilahian yang dimilikiNya, yang mustahil berani diklaim oleh manusia manapun:

  • “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.
  • “Aku akan menjadi Elohimnya, dan ia akan jadi anakKu”.
  • Thomas (murid Yesus) berkata: “Ya Tuhanku dan Elohimku!”
  • “Aku dan Bapa adalah satu”.
  • ”Segala milikKu adalah milikMu dan milik-Mu adalah milikKu”.
  • “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Elohim, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”

“Verily, verily, I say unto you, ‘Before Abraham was, I AM”. *) [Yoh 13:13; 20:28; 10:30; 17:10; 8:58; Wahyu 1:8; 21:7].

NB.*) Inilah pengakuan Yesus yang sangat terbuka tentang keilahiannya, yang mana Muslim sering tidak paham. Kalimat dalam bahasa Indonesia untuk ayat ini tidak terlalu jelas meng-ekspresikan ketuhanan Yesus. Kata “I AM” disini bukan sekedar “AKU ADALAH”, melainkan ISTILAH yang dipakai YAHWEH secara khusus untuk merujukkan keberadaan diriNya yang ilahiah dan senantiasa exist secara kekal. Disini Yesus meng-echokan kembali existensinya sebagaimana Tuhan menegaskan diriNya dalam Kitab Musa, Keluaran 3:14. Yesus tidak berkata “I was” tetapi “I AM” untuk meghadirkan dirinya yang kekal dalam kesatuannya dengan Bapa (Yohanes 1:1). Istilah ini dipahami orang-orang Yahudi sebagai penghujatan, sehingga Yesus langsung mau dirajam batu (lihat ayat sesudahnya, Yoh. 8: 59).

Bertanyalah kepada diri Anda sendiri,

apa sebabnya para pemimpin Yahudi mau membunuh Yesus berkali-kali? Kejahatan besar apa yang me-nyebabkan Ia harus dihukum mati disalib? Jawabnya hanya satu: I AM. Yesus dianggap menghujat kekudusan Elohim, karena mengaku diriNya Anak Elohim dan Elohim! (Yoh 5:18; Luk.22:70). Tetapi pada akhirnya, semua malaikat, manusia dan segala ciptaan harus menyembah Yesus, Putera Elohim (Ibr 1:6).

Dan dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Filipi 2:11).

NAMA ALMASIH ITU ISA?

Dunia dibingungkan lebih lanjut oleh pernyataan Quran – tentunya atas otoritas “Injil Islami” yang sudah tiada – bahwa nama Al-Masih adalah Isa Putera Maryam dan bukan Yesus Putera Elohim. Dari mana asal nama Isa itu dimunculkan? Ternyata berasal dari dua tahapan wahyu tentang kelahir-annya yang terpisah.

Yang pertama dicatatkan dalam Surat Maryam pada awal wahyu di Mekah, dimana Jibril (yang menampakkan dirinya sebagai lelaki yang sempurna) menyampaikan kabar gembira yang pertama kalinya kepada Maryam. Dan sayang bahwa “kabar-gembira” ini ternyata kelolosan menyebutkan siapa nama sang ANAK yang akan dikandung Maryam! Dan setelah bertahun-tahun kemudian, hal ini baru disadari setelah Muhammad hijrah ke Medinah. Maka Allah susulkan sekali lagi wahyuNya pada Surat Ali Imran dipenggalan waktu akhir dari Surat-surat Madaniyyah. Disitulah baru tampil nama ISA – Al Masih Isa Putera Maryam – setelah bertahun-tahun Muhammad dan para pengikutnya tidak mengenal siapa nama Putera Maryam tersebut! Anehnya lagi, makna “Isa” dan maksud dari pemberian nama susulan tersebut tidak disertakan sama sekali oleh Allah. Akibatnya Isa kosong makna, dan tidak ada saksi yang mengkonfirmasikannya:

Ia (jibril) berkata (kepada Maryam): “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak lakilaki yang suci.” (QS.19:19).

(Ingatlah), ketika para Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS.3:45).

Perhatikan bahwa wahyu pertama di Mekah disampaikan oleh satu ruh tanpa nama (belakangan dianggap Jibril) yang dimunculkan sebagai seorang lelaki sempurna (QS.19:17). Tetapi wahyu susulan di Medinah disampaikan oleh para malaikat, bukan satu ruh dan tidak dalam ujud lelaki. Wahyu di Medinah kini dilengkapi dengan nama ISA dan panggilan terhadap nama ibunya. Wahyu di Mekah samasekali kosong dari nama-nama penting tersebut! Betapa kusutnya wahyu yang disampaikan oleh Sang Pewahyu, dan betapa ia bertentangan dengan apa yang dislogankanNya:

“Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu”. (QS.11:1).

APA MAKNA NAMA “ISA”?

Asal mula nama “Isa” sampai sekarang tidak jelas. Injil tidak mengenal nama tersebut. Yesus dan muridnyapun tidak. Muhammad sendiripun tidak mengerti apa maknanya. Kata inipun bukanlah sebuah terjemahan bahasa Arab dari nama “Yesus”, maka ada berbagai pandangan/pendapat beragam diseputar nama ini, a.l.:

  • Nama ini tidak memiliki kekhususan, melainkan ciptaan Muhammad sendiri untuk menyelaraskannya dengan ritme sajak (untuk Quran).
  • Sebuah nama cenderung untuk orang Arab ketimbang Ibrani.
  • Sebuah kata yang dibentuk dengan menyusupkan struktur Ibrani yang membentuk nama Yesu’a (Yoshua = Yesus)
  • Nama ini kemungkinan merupakan bentuk Aramaik dari Yesu’a, yang melambangkan warna putih yang bercampur dengan warna merah.
  • Kata ini kemungkinan terkait dengan kata Esau dalam bahasa Ibrani [dimana orang-orang Yahudi biasa melontarkan ketidaksenangan mereka akan seseorang (semisal Yesus) yang diibaratkannya dengan Esau (yang dilafalkan mirip dengan “isa” dalam lafal Arab].

Kebingungan Islamik ini memperlihatkan bahwa nama “Isa” tidak punya kaitan dengan figur Biblikal dan sejarah Yesus dari Nazaret, yang diakui oleh orang Kristen sebagai Juru Selamat dan Elohim. Nama Isa bahkan telah menghilangkan makna orisinil YESUS yang ilahiah, yang artinya adalah “Yahweh Menyelamatkan”.

Jelas, nama asing ISA yang disusulkan (baca: dikoreksikan) Allah ini bermasalah sejak ia dimunculkan begitu terlambat di Medinah dengan narasi yang berbeda-beda dengan wahyu Mekah. Nama Isa ini tidak ada makna dan arahnya, kecuali terkesan adanya suatu penolakan tersembunyi terhadap nama asali dan makna hakikinya. Secara rohani, ini mengarah kepada pelecehan bahkan penghujatan ter-sembunyi dari sebuah roh kegelapan. Nama YESUS telah diberikan dua kali oleh malaikat Gabriel berturut-turut kepada Yusuf, lalu kepada Maria, di abad ke-satu. Itu adalah nama Ilahi. Tidak ada nama yang Tuhan berikan secara untung-untungan. Tidak mungkin Tuhan memberi nama tanpa makna dan tujuan, apalagi sampai kosong melompong. Gabriel berkata:

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” (Lukas 1:31).

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21).

Di seluruh Kitab Perjanjian Baru, nama Yesus muncul 975 kali! Orang Arab Nasrani sejak awal-awal Masehi selalu menyebut nama ini sebagai “Yasu’u”, (Yesus, dari Yehoshua, Yesu’a) artinya “Yahweh menyelamatkan”. Bahkan Yesus telah menyebut dirinya dengan nama Yesus dengan menyertakan otoritasNya. (Yohanes 17:3, Kisah 22:8, Wahyu 22:16). Tetapi Muhammad menolak untuk memakai nama Yasu’u yang pasti telah dia dengar dari sumber-sumber Nasrani, seperti Waraqah bin Naufal dll. Rupa-rupanya ruh Muhammad tidak bisa menerima nama demikian, sehingga harus digantikannya dengan melawan fakta.

Muslim sibuk mencari-cari pembenaran terhadap nama ini dari segala sudut. Namun tak ada satupun yang mampu menjawab: Apa makna nama tersebut? Maka kita semua layak bertanya,

“Atas otoritas siapa maka nama Yesus yang disampaikan dua kali oleh Gabriel, dan yang dipakai oleh Yesus untuk dirinya sendiri itu bisa digantikan sewenang-wenang oleh Muhammad dengan sebuah nama kosong? Dan dapatkah Muslim menerima bilamana Paus atau Penginjil Billy Graham atau Mirza Ghulam Ahmad misalnya mengubah nama Muhammad menjadi Mumet”?

TRINITAS

Dalam pandangan Quran, kesatuan Allah meniadakan kemungkinan konsep Trinitas. Mempercayai Trinitas adalah sebuah penghujatan:

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka … janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS.4:171)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekalikali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS.5:73).

Muslim selalu menuduh bahwa Tuhan Trinitas adalah buah ciptaan manusia. Buktinya dan dalilnya adalah bahwa istilah “trinitas” tidak bisa ditemukan di Kitab Sucinya sendiri. Maaf, mereka ini tidak sadar bahwa dalil yang sama bisa dibalikkan boomerang kepada Muslim karena istilah “Tauhid” juga tidak terdapat dalam Quran. Tapi bacalah Alkitab dengan rasa lapang tanpa beban. Maka akan tampak bahwa sekalipun istilah trinitas tidak ada dalam Alkitab, namun konsep keberadaan sosok Tuhan yang bercirikan trinitas sungguh bertaburan diseluruh Alkitab. Konsep ini bahkan mulai tampak dari 3 ayat pertama dari Kitab Kejadian, dan terus dinyatakan dalam Perjanjian Lama, dan yang makin diintensifkan oleh Yesus sendiri dalam Perjanjian Baru. Sebuah progressive revelation.

Muhammad yang ummi (buta huruf) tidak mendapat akses bacaan dari Alkitab dan Injil Yesus yang berotoritas tentang konsep trinitas yang “supra rasional” ini. Maka tidak heran terdapat begitu banyak kekeliruan Quran tatkala Muhammad mengecam “Trinitas” nya kristianitas yang tidak difahaminya sendiri. Kita lihat dua versi ayat yang terkenal yang dilontar-kannya ketika mengecam kaum Ahli Kitab/Nasrani, yang mana memperlihatkan kebingungan Muhammad sendiri:

1.“Hai Ahli Kitab… Janganlah kamu katakan ‘Tuhan itu tiga’ (QS.4:171).

  1. “Kafirlah orang yang mengatakan: “Allah salah satu dari tiga” (QS.5:73).

Pertama-tama, apa yang Muhammad fahami tentang “Tiga Tuhan”? Ia mengartikannya sebagai 3 Ilah yang saling eksklusif, dan hal itu dianggapnya tidak mungkin karena Ilah-ilah itu akan saling bercakaran dengan melibatkan pihak-pihak yang dia ciptakan: “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” (QS.23:91).

Tampak jelas betapa Muhammad keliru tentang makna trinitas yang sedang dikecamNya. Semua dengan sangkaan yang salah bahwa Nasrani DAN Yahudi (“Wahai Ahli Kitab”) menyembah tiga Tuhan eksklusif. Muhammad tidak mampu melihat cakupan konsep rohaniah dari kesatuan Elohim, satu substansi ilahi, dalam tiga pribadi yang “inklusif senyawa”, yang tidak memungkinkan saling cakar-cakaran, dan yang TIDAK DIPERSEKUTUKAN dengan apapun/ siapapun yang bukan diriNya sendiri! Nasrani maupun (apalagi) Yahudi mutlak tidak menganut triteisme/politeisme (Taurat, Ulangan 6:4, Yesaya 44:6, Markus 12:29, Yakobus 2:19, 1 Timotius 17, dll). Itu hal yang sangat diharamkan Yahweh Elohim dan seluruh Rasul dan murid Yesus, dan bukan hanya Paulus. Untuk issue sebegitu doctrinal, seharusnya Muhammad mengetahuinya, jikalau ia Nabi dari sumber yang sama!

Lebih jauh Muhammad juga terlanjur melaknati Nasrani DAN kaum Yahudi yang dianggap menyembah Anak Allah-nya masing-masing (termasuk tuduhan Uzair, sebagai Anak Allah Yahudi, 9:30). Tentu ini salah kaprah, karena gagasan ‘Anak Allah’ yang ada dibenak Muhammad adalah anak yang dilahirkan (walad) hasil hubungan biologis Allah dengan sang istri. Kesalahan diperparah karena Allah SWT dikatakan mendamprat kaum Yahudi yang dituduh telah menyembah Uzair sebagai Anak Allah, padahal monoteisme Yudaisme tidak pernah mengenal siapapun sebagai Anak Elohim apalagi menyembah-nya!

“Maka orang-orang Yahudi akan dipanggil dan akan di tanyakan kepada mereka, ‘Siapa yang biasanya kalian sembah?’ Mereka akan berkata, ‘Kami biasa menyembah EZRA, Anak Allah.’ Maka akan dikatakan kepada mereka, ‘Kalian penipu, sebab Allah tidak pernah mengambil siapapun sebagai istri ataupun anak” … Kemudian kalimat yang sama ditujukan pula kepada orang-orang Kristen yang menyembah ISA. (Shahih Bukhari 60, no.105).

Selanjutnya, atas nama Allah, Muhammad berseru , “Kafirlah orang yang mengatakan: “Allah adalah yang ketiga dari tiga” (Allah is the third of three, 5:73, terjm Pickthall). Yaitu Allah oknum yang ketiga diantara tiga oknum yang disembah. Jadi siapakah dua yang lain (yang bukan Allah) selain Allah? Disini Muhammad bukan lagi mempersoalkan TIGA TUHAN sebagaimana yang tadinya dipermasalahkannya dalam (4:171), melainkan satu Allah diantara DUA NON-ALLAH, yaitu Maryam dan Isa yang dipersekutukan kepada Allah! (lihat QS. 5:116). Dimanapun Muhammad tidak pernah mengindikasikan bahwa “Tuhan itu tiga” adalah terdiri dari Allah/ Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai oknum-oknum trinitas.

Alhasil, Trinitas “Tiga Tuhan” versi Quran (Trinitas Islamik) yang dituduhkan kepada orang Kristen itu adalah total keliru sasaran, jikalau tidak mau diatakan “keliru wahyu”.

Keliru soal “tiga” yang eksklusif (yang bisa saling mengalahkan). Keliru sosok oknumnya, terkosong dari Roh Kudus – dan diganti dengan Maryam. Keliru Anak Allah sebagai mahkluk hasil kawin mawin Allah dengan isteri, menghasilkan Anak, yang ketiganya merupakan “keluarga Ilahi”. Keliru kontradiktif antara ayat (4:171) dengan (5:73) yang satu merujuk kepada 3 Tuhan, yang lain merujuk kepada satu Allah dan dua mahkluk yang dipersekutukan denganNya. Keliru menuduh Yahudi mentuhankan Uzair sebagai Anak Allah! Dst…

Trinitas Yang Kudus adalah masalah supra rasional, bukan kontra rasional. Dapatkah seekor semut memahami Anda sebagai sosok tuan rumahnya? Dapatkah deskripsi Anda tentang siapa diri Anda dipahami oleh semut rumah Anda, walau diungkapkan dengan pelbagai macam ragam? Tidak dipahami disini bukanlah buah kesalahan atau kontra-rasional, melainkan suatu supra rasional bagi kita yang kerdil dalam memahami Sang Khalik.

Maka kesulitan untuk memahami sosok Tuhan bukanlah isu yang harus merisaukan kita. Justru tatkala sosokNya bisa gampangan dipahami, maka kita harus merisaukannya.

“Tidak sesuatupun yang serupa/setara dengan Dia” (Surat Al-Ikhlas; 42:11) justru mengindikasikan kepada Muslim bahwa hakekat Allah tak mungkin terjangkau oleh manusia. “Apa yang dapat digambarkan tentang Allah itu bukan Allah”, demikian menurut para ulama Islam. Maka Allah yang dapat dipahami berhakekat ‘mutlak satu’, ‘satu tok’ (seperti halnya yang kita pahami tentang angka SATU), maka Dia itu BUKANLAH ALLAH! Jadi tegasnya, Allah itu satu tetapi bukan ‘satunya’ angka satu! Maka kita bersyukur bahwa ‘Satu-nya Allah’ tidak ada kesetaraannya dengan SATU-nya dunia, dan seperti itu pulalah yang dipahamani orang-orang Kristen tentang ke-esaan Tuhan Elohim mereka yang Trinitas! Elohim dalam kesatuanNya menyebut diri sebagai Echad (unified one, jamak) dan bukan Yachid (absolute numeric one, satu mutlak). Lihat bagaimana Ulangan 6:4 memakai Echad secara tepat,

“Dengarkanlah hai Israel, YAHWEH, Elohim kita, YAHWEH itu Esa (Echad)”.

Lihat, Dia juga dipanggil sebagai ELOHIM (satu Tuhan plural) dan bukan semata EL (satu Tuhan singular). Dan itulah sebutan yang tepat karena mampu menggambarkan Tuhan yang esa dalam senyawa yang jamak! Dan gambaran hakekat Elohim seperti inilah yang telah dinyatakan oleh Yesus kepada kita dalam pelbagai cara dan redaksi ungkapan, yang kita istilahkan Trinitas yang kudus, yang berlainan sama sekali dengan trinitas islamik yang tidak dikenal oleh orang-orang Kristen.

Tampaklah bahwa Muslim menolak trinitas bukan karena intrinsictrinitasnya yang bermasalah, melainkan karena simpang siur kekeliruan dan kenaifan pandangan islamik bahkan kekosongan wahyu Quran tentang hakekat Tuhan (yang sesungguhnya sudah dinyatakanNya).

Disatu pihak keberadaan Allah diharuskan bisa dipahami secara sederhana-primitif (angka fisikal satu yang mutlak) tetapi selebihnya harus misterius atau kosong sepenuhnya (dan hanya Allah sajalah yang tahu).

CONTOH KHUSUS. Berlainan dengan Injil, Quran samasekali tidak berbicara/tahu-menahu tentang peran apa yang membedakan Nabi Yahya dengan Isa sehingga keduanya perlu diutus oleh Allah pada satu zaman yang bersamaan. Kenapa harus double nabi Allah? Dan keduanya kok gagal misinya? (Yang satu dibunuh Herodes dan kehilangan murid, yang lain prematur diraibkan Allah, Injil dan muridnya juga raib, dan misinya abortif). Muslim tidak tahu bahwa kedatangan Yohanes Pembaptis (Yahya) justru sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya/Ilyas untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Yoh 3:3), dan karenanya penempatan kedua sosokbesar ini dalam satu paket pasti untuk suatu tujuan ilahi yang teramat besar. Yaitu khususnya untuk memberikan kesaksian “tunjuk hidung” yang paling kokoh melebihi nubuat, bahwa Dialah, Yesus adalah Mesias, Anak Elohim, yang adalah Anak Domba Elohim untuk menebus dosa manusia. (Yoh.1:29-34).

Maka Muslim menolak trinitas juga karena ketidak tahuan mereka akan peran Yohanes (Yahya) sebagai saksi mata yang paling absah tentang triune-ilahi dalam peristiwa yang paling dahsyat dalam sejarah kemanusiaan yang tiada duanya. Yohanes dengan mata kepalanya sendiri melihat betapa triune ilahi, Roh Kudus turun dan tinggal diatas Yesus, sementara langit terbuka menyampaikan suara Elohim yang mengatakan:

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Yoh.1:32-34; Matius 3:16,17).

Sedemikian nyata manifestasinya sehingga ia harus bersaksi berulang ragam tentang Junjungannya:

“Ia lebih berkuasa dari padaku” (Luk.3:16)

“Membuka tali kasutnyapun aku tidak layak”

“Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (Yoh.1:15), ini adalah ayat pre-existensi ilahi yang ada pada Yesus, mirip Yoh.8:58 yang telah dikupas diatas, “Before Abraham was, I AM”).

“Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat.3:11).

“Lihatlah Anak Domba Elohim yang menghapus dosa dunia” (Yoh.1:29). Dan ini kembali diulangi lagi pada keesokan harinya,

“Lihatlah Anak Domba Elohim” (Yoh.1:36).

“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Elohim.” (Yoh.1:34).

Sayang, begitu kaya dan essensinya kesaksian Nabi Yahya yang berlapis-lapis ini, namun Quran tidak berbicara apa-apa, bahkan tidak menyinggung sedikitpun tentang kejadian terdahsyat ini. Quran mengosongkan peran Yahya Muslim yang maha-pokok untuk apa dia diutus Allah, dan mereduksi seluruh kesaksian Yahya dengan entengnya; tidak untuk dijelaskan lebih jauh dan tidak usah berdampak pada sosok Yesus dan dunia, tetapi cukup berkata: “… Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah…” (QS.3:39).

Encyclopedia Britannica yang begitu berotoritas menyatakan: “ Ada kesalahan konsep mengenai Trinitas dalam Al-Quran”. Itu sebabnya penterjemah Quran yang paling terkenal, Yusuf Ali, sampai terpaksa memasukkan istilah haram “trinitas” kedalam Quran terjemahannya, agar bisa menyelamatkan kekeliruan wahyu di Quran: “Allah is one of three in a Trinity” dan “Tuhan itu tiga”. Tetapi dimana-mana trinitas Islamik ini berbeda dengan konsep trinitas kristiani, yang adalah keesaan Tuhan Elohim, dalam kesatuan tri-uni-pribadi yang ilahi: Bapa, Anak, Roh Kudus!

Trinitas yang ditolak oleh Islam dan Muslim adalah trinitas yang “tidak dikenal” oleh Yesus dan kaum Kristiani. Jadi kenapa Islam berhak menuduh Kristen itu pagan-MUSYIRIK? Sipenuduhlah yang salah sasaran berdasarkan wahyu ilahi-nya yang keliru, yang justru memunculkan begitu banyak kebingungan dan penyimpangan.

ISA DALAM HADIS

Berdasarkan doktrin Islam ortodoks, Allah memberikan kepada Muhammad tanggungjawab untuk menafsirkan Quran. Jadi, kata-kata dan tindakan-tindakannya (Sunnah Rasul) sebagaimana yang ditemukan dalam kumpulan tradisi-tradisi (hadis) menjadi sumber pewahyuan yang kedua, untuk menjelaskan Quran dan dianggap hampir sama penting dengan Quran itu sendiri, yaitu untuk membentuk pemikiran dan kehidupan orang-orang Muslim. Isa sering disebut-sebut dalam Hadis sebagai sosok pemeran penting diakhir zaman, menyusuli apa yang telah ditegaskan dalam Quran sebagai “Pemberi pengetahuan tentang hari kiamat” dan “menjadi Tanda dan Saksi bagi kiamat” (4:159, 43:61). Muhammad dalam pelbagai hal lain juga harus mengakui keistimewaan Isa. Sayangnya Muslim tidak menggali signifikansi dari bobot penting yang sering tersembunyi (disembunyikan, bila bagi Isa), misalnya seperti yang dikatakan oleh Muhammad:

Tak ada seorangpun yang dilahirkan dari keturunan Adam yang dikecualikan dari sentuhan Setan. Maka semua bayi akan berteriak keras ketika lahir karena sentuhan Setan, kecuali Maryam dan Puteranya.” ( Shahih Bukhari 4. No.641).

Disini kekudusan dan kuasa Isa terhadap setan adalah monopoli Isa dan ibunya. “Didunia ini dan diakhirat, saya adalah orang yang paling dekat dengan Isa Putera Maryam, ketimbang semua orang lainnya.” (Bukhari 55. No. 652).

Disini dikonfirmasikan ulang betapa Isa adalah sosok superlatif yang paling terkemuka di alam dunia dan di alam akhirat (QS.3:45), sedemikian sehingga Muhammad merasa tersanjung oleh kedekatannya terhadap Yang Terkemuka!

“Jikalau seseorang beriman kepada Isa dan juga beriman kepadaku (Muhammad), orang tersebut akan mendapatkan pahala rangkap.” (Bukhari 55, No.655).

Perhatikan disini betapa urutan nama Yesus disebutkan mendahului Muhammad sebagai pihak yang harus diimani duluan.

Selanjutnya, Muhammad banyak berkisah tentang perjumpaannya dengan Isa pada perjalanan Mikraj Nabi ke surga, sehingga dia bisa memberi gambaran tentang rupa fisik Isa secara konkrit. Tentu saja ini lebih merupakan omongan-bual Muhammad ketimbang yang harus diimani. Buktinya terdapat banyak deskripsi fisik Isa yang saling bertentangan, misalnya saja gambaran tentang rambutnya:

“Saya melihat Isa, pria dengan ketinggian sedang dan wajah yang moderat cenderung semu merah dan putih, dan rambut yang lurus kebawah. “ (Shahih Bukhari 54, no.462)

“Isa adalah pria dengan rambut yang ikal keriting dan sedangsedang tingginya.” (Shahih Bukhari 55, no.608).

Oh, sungguh banyak masalah yang terkusut dalam kristologi Islamik!

KEDATANGAN KEMBALI ISA

Sebuah ayat Quran mengkaitkan Isa dengan hari-hari terakhir:

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS.43:61)

Koleksi-koleksi hadis mempresentasikan Isa terutama sebagai sosok figur eskatologis yang memiliki peranan penting yang akan Ia mainkan di akhir zaman. Kedatangan kembali Isa turun dari surga adalah salah satu dari tanda terpenting mengenai akhir zaman, tanda lainnya adalah penampakan anti-Kristus (Dajjal), terbitnya matahari di sebelah Barat, kedatangan Gog dan Magog (Yajuj dan Majuj) serta gempa bumi – gempa bumi yang sangat dahsyat.

Diriwayatkan oleh Hudyayfah ibn Usayd Ghifari: Rasul Allah (kiranya damai menyertainya) datang secara tiba-tiba menghampiri kami saat kami sedang sibuk berdiskusi. Ia bertanya: Kalian sedang mendiskusikan apa? (Para sahabat) menjawab: Kami sedang mendiskusikan mengenai Saat (Jam) Terakhir. Kemudian ia berkata: Itu tidak akan datang sebelum kamu melihat sepuluh tanda sebelumnya (dalam kaitan dengan hal ini), ia menyebut mengenai asap, Dajjal, si binatang, terbitnya matahari dari sebelah barat, turunnya Isa putera Maryam

(kiranya Allah memperlihatkan kemurahan atasNya), Gog dan Magog,

dan longsor di tiga tempat, satu di timur, satu di barat dan satunya lagi di Arabia, yang akan diakhiri dengan api yang menghanguskan dari Yaman, serta akan mendesak orang ke tempat darimana mereka berasal. (Sahih Muslim, 13520)

Isa akan datang dari surga sebagai seorang pejuang Muslim untuk menghancurkan Kekristenan, mendirikan Islam dan memerangi semua musuhnya (termasuk sang AntiKristus). Ia akan menghancurkan agama Kristen dan Yahudi dan men-jadikan Islam sebagai satu-satunya agama di seluruh dunia:

Diriwayatkan oleh Abu Hurayrah: Nabi (kiranya damai menyertainya) berkata: Tak ada nabi diantara aku dan dia, itulah Isa (kiranya damai menyertainya). Ia akan turun (ke bumi). Ketika kamu melihatnya, kenalilah dia: seorang pria dengan tinggi sedang, rambut dan kulit kemerahan, mengenakan dua jubah berwarna kuning terang, terlihat seperti ada air yang jatuh dari kepalanya, meskipun kepalanya itu tidak basah. Ia akan memerangi orang-orang demi Islam. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi-babi, dan menghapuskan pajak jizyah. Allah akan menghancurkan semua agama kecuali Islam. Ia (Isa) akan menghancurkan Antikristus dan akan hidup di bumi selama empat puluh tahun dan kemudian ia akan mati. Orang-orang Muslim akan mendoakannya. (Sunan Abu Dawud, 2025)

Orang Muslim sangat membenci salib sebagai simbol utama Kekristenan; karena itu “menghancurkan salib” bermakna “menghancurkan Kekristenan”. Babi-babi diasosiasikan dengan orang-orang Kristen. Baik orang Muslim maupun orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang-orang yang najis. Jadi, “membunuh babi-babi” adalah cara lain untuk mendeskripsikan penghancuran Kekristenan. Dibawah hukum Islam, orang Kristen dan Yahudi yang telah ditaklukkan harus membayar pajak perlindungan yang bersifat sangat menghina (jizya), dan tunduk pada berbagai aturan yang ditetapkan oleh penguasa Muslim.

Hanya dengan cara itulah mereka diijinkan untuk hidup dan mempraktikkan iman mereka. Penghapusan pajak perlindungan menunjukkan kebangkitan jihad atas orang-orang Kristen dan Yahudi, yang akan menghadapi pilihan apakah mereka bersedia memeluk Islam atau dibunuh. Setelah semua agama lainnya selesai dihapuskan, maka hanya Islam sajalah yang akan bertahan dan menang. Barang jarahan akan diambil dari orang-orang Kristen dan Yahudi yang telah dibunuh.

Untuk menekankan superioritas Muhammad atas diri Isa, beberapa hadis mengklaim bahwa pada Hari Penghakiman, Isa akan menunjukkan kepada mereka yang tadinya berharap akan doa syafaat-Nya bagi mereka. Dikisahkan bahwa Isa akan mengarahkan mereka agar sebaiknya meminta syafaat kepada Muhammad. Muhammad-lah (dan bukan Isa) sebagai satu-satunya sosok yang sanggup menjadi pengantara bagi murid-muridnya. Muhammad dianggap sebagai yang lebih besar daripada Isa:

Diriwayatkan oleh Abu Huraira: “…jadi mereka akan pergi kepada Isa dan berkata,’Oh Isa! Engkau adalah Rasul Allah dan FirmanNya yang telah Ia kirimkan kepada Maryam, dan sebuah jiwa terbaik yang diciptakan olehNya, dan engkau berbicara kepada orang banyak ketika engkau masih muda dan berada dalam ayunan. Bersyafaatlah bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami saat ini?’

Isa akan menjawab ‘Tuhanku menjadi marah hari ini dengan kemarahan yang belum pernah ada pada diriNya sebelumnya, dan dengan kemarahan yang tidak akan pernah ada setelah ini.’ Isa tidak akan menyebut dosa apapun, tetapi ia akan berkata,

’Diriku! Diriku! Diriku! Pergilah kepada seorang yang lain; pergilah kepada Muhammad.’ Karena itu mereka akan datang kepadaku dan berkata,

’O Muhammad! Engkau adalah Rasul Allah dan sebagai Rasul yang terakhir, dan Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang permulaan dan yang terakhir. (Mohon) bersyafaatlah bagi kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami saat ini?’” Nabi menambah-kan,”Maka aku akan pergi ke bawah tahta Allah dan sujud di hadapan Tuhanku. Dan kemudian Allah akan membimbingku untuk memuji dan memuliakanNya dengan cara yang belum pernah Ia lakukan pada orang lain sebelum aku. Kemudian akan dikatakan,”O Muhammad! Angkatlah kepalamu. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Bersyafaatlah! Maka (doamu) akan dikabulkan.’ Jadi aku akan mengangkat kepalaku dan berkata, ‘Para pengikutku, O Tuhanku! Para pengikutku, O Tuhanku.’ Kemudian akan dikatakan,’O Muhammad! Biarkanlah para pengikutmu yang tidak masuk hitungan itu, masuk melalui sebuah gerbang dari gerbang-gerbang Firdaus seperti lalat di sebelah kanan; dan mereka akan berbagi gerbang-gerbang lainnya dengan orang banyak.’” (Al-Bukhari, 6:236).

Tugas utama Isa saat kedatangannya adalah untuk menghancurkan Mesias palsu, yaitu Dajjal, berserta kekuatan-kekuatannya:

Dikisahkan Abu Hurayrah:… Saat mereka *pasukan Muslim yang telah menang] sibuk membagikan jarahan perang (di antara mereka sendiri) setelah menggantung pedang mereka di pohonpohon zaitun, Satan akan berteriak: Dajjal telah mengambil tempatmu di antara kaum keluargamu. Mereka kemudian akan keluar, tetapi tidak akan berhasil. Ketika mereka mencapai Syria, ia akan keluar ketika mereka masih sedang bersiap-siap untuk berperang, mengurusi jabatan. Tentu saja, waktu sembahyang akan tiba dan kemudian Isa (SAW), putra Maria, turun dan akan memimpin mereka melaksanakan sholat. Ketika musuh Allah melihat hal itu, ia akan (menghilang) seperti garam yang larut dalam air dan jika Dia (Isa) tidak menghadapi mereka sama sekali, mereka benar-benar akan musnah. Allah akan membunuh mereka dengan tangan-Nya dan Ia akan menunjukkan pada mereka darah mereka pada cambuk-Nya (cambuk Isa Al-Masih). (Sahih Muslim, 1348).

ISA DALAM APOKALIPTIK MUSLIM MODERN

Kembalinya Isa untuk memerangi Dajjal dan para pendukungya (terutama orang Yahudi) dan kemunculan Mahdi adalah inti eskatologi Muslim modern. Berdasarkan pandangan ini, ada perang apokaliptik besar yang akan terjadi di Yerusalem. Dajjal memimpin Israel, orang Yahudi dan Barat dalam peperangan melawan orang Muslim di bawah Isa dan Mahdi. Mahdi bergerak menyerang Yerusalem, sementara Barat berusaha melindungi kota itu. Dalam perang terakhir, bagian-bagian Yerusalem dan sejumlah orang Yahudi dibunuh.

Akhirnya, Isa dan Mahdi tampil sebagai pemenang dan pasukan Dajjal dibantai di Yerusalem. Mahdi memurnikan Palestina dan Yerusalem dari orang Yahudi. Orang Muslim menaklukkan seluruh Israel dan terus bergerak maju menaklukkan Eropa (dimana mereka menghancurkan Vatican yang penuh penyembahan berhala) dan Amerika Serikat. Israel dihancurkan, dan orang Yahudi dibunuh. Mahdi membangun kembali Yerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota. Perang-perang selanjutnya terjadi karena Mahdi menaklukkan semua negara yang masih tersisa di dunia dan menegakkan pemerintahan universal Islam. Kemudian Gog dan Magog bangkit dan mengancam Mahdi saat mereka menguasai dunia dan bergerak maju menuju Syria. Disini Isa muncul kembali untuk menghancurkan Gog dan Magog. Ia juga menghancurkan orang Yahudi yang masih tersisa dan musuh-musuh lainnya.

ISA DAN MUHAMMAD

Sekalipun Quran menegaskan bahwa Isa itu sosok yang paling terkemuka di SELURUH ALAM DAN ZAMAN (3:45), namun bagi orang Muslim, Muhammad-lah yang ditafsirkan sebagai manusia sempurna dan bukan Isa. Muhammad adalah nabi terakhir dan teladan sempurna yang diberikan Tuhan. Muhammad dipandang sebagai sosok yang sangat superior melebihi Isa, dan dalam praktik islami pengagungan terhadap Muhammad disebarluaskan, terutama di Asia selatan dan di antara kaum Sufi (mistik Islam). Ia telah menjadi sosok yang kekal, dan untuk dialah maka Tuhan menciptakan dunia ini, satu-satunya juru syafaat dan pengantara!

“Seluruh alam bergabung menyembah, semua orang mengagungkan; Engkau yang telah membawa terang ke dalam dunia yang gelap; Ya Rasul Allah! Aku memberikan penghormatanku kepadamu; Ya nabi Allah! Kasihku yang lembut bagimu; Hidupku, semuanya, dengan senang hati kuberikan kepadamu; beritamu yang ilahi akan bersamaku seumur hidupku.” [Sanjak oleh Muslim Sri Lanka, dipetik dalam buku Maulana Muhammad Abdul-Aleem Siddiqui, Elementary Teaching of Islam, Karachi: 1954, pp. 4-5].

YESUS KRISTUS DALAM ALKITAB

Berdasarkan pengajaran Alkitab, Firman Tuhan yang kekal dan Putera Tuhan (Yohanes 1:1, Kolose 1:15-17) yang disembah bersama dengan Sang Bapa dan Roh Kudus (Yohanes 5:23; bdk. Matius 28:19), berinkarnasi dalam pribadi Yesus Kristus (Yohanes 1:14) dan dilahirkan oleh perawan Maria (Lukas 1:26-38). Benar-benar Tuhan dan benar-benar manusia (Filipi 2:6-7), Yesus adalah Wahyu Tuhan yang tertinggi dan terakhir & satu-satunya kepada dunia (Yohanes 1:18). Ia menderita dan mati di salib (1 Petrus 2:24) sebagai korban penebusan dan pendamaian dosa kita (1Yohanes 2:2), menyediakan penebusan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya (Roma 3:23-25). Ia dibangkitkan Elohim dari kematian dan ditinggikan sebagai Tuhan atas semesta (Kisah 2:32-33), dan Ia akan datang kembali (1Tesalonika 4:16) untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati (Kisah 10:42).

KONKLUSI

Islam menerima dan menghormati Isa sebatas sebagai nabi yang tidak berdosa dan pembuat mujizat, tetapi Islam mengklaim bahwa Isa hanyalah manusia biasa. Islam mengafirmasi kelahiran-Nya melalui perawan, kebangkitan dan kedatangan-Nya kembali ke dunia, tetapi Ia akan datang kembali sebagai seorang Muslim dan yang justru menghancurkan kekristenan. Orang Muslim menolak ungkapan “Putra Tuhan” dan menganggapnya sebagai penghujatan, karena mereka menafsirkannya secara harafiah dan dalam pengertian jasmaniah. Islam menyangkal keilahian Isa, inkarnasi, penyaliban, karya penebusan-Nya dan kebangkitan-Nya. Muslim mengklaim bahwa Allah membalas kejahilan orang kafir dengan menggantikan (menipukan) Isa dengan orang lain yang disalibkan. Dengan demikian Islam telah menyangkali inti iman Kristen, termasuk menempatkan Tuhan sebagai Penipu-Daya Yang Se-besar-besarnya (Khairul Maakiriin, QS.3:54).

Betapapun pandangan Muslim terhadap Yesus, namun pandangan tersebut tidak berjalan mulus dengan pandangan mereka terhadap Muhammad. Sebab sekalipun Islam melihat Muhammad lebih superior ketimbang Yesus; namun Muslim tidak berani mengklaim bahwa Muhammad tidak berdosa, melainkan mengakui bahwa ia mati dan dikuburkan. Sedangkan yang tidak berdosa, yang bangkit, naik ke surga dan yang akan datang kembali ke dunia sebagai saksi adalah hanya Yesus. Lalu mengapa orang Muslim tidak memandang Yesus sebagai yang lebih superior dari Muhammad? [Allah menyatakan Muhammad berdosa, termasuk para nabi lainnya seperti Adam, Ibrahim, Musa, Daud, Yunus, lihat a.l. QS.2:36; 7:22,23; 26:82; 28:15,16; 38:24,25; 37:142; 40:55; 47:19; 48:1,2. Hanya Isa yang tidak berdosa, melainkan kudus, QS.19:19.

Bagi orang Muslim, Quran adalah firman Tuhan yang tidak dipalsukan, dan oleh karena itu kebenaran ditetapkan hanya oleh Quran. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa deskripsi alkitabiah mengenai Yesus hanyalah benar jika bersesuaian dengan apa yang dikatakan Quran mengenai Isa. Dalam pandangan Muslim, bagian-bagian Alkitab yang bertentangan dengan Quran telah dianggap dipalsukan oleh orang Yahudi dan orang Kristen, dan karena itu tidak valid. Tetapi orang Muslim tidak memberikan bukti historis apapun yang dapat meyakinkan dan mendukung klaim tersebut; mereka tidak dapat menjelaskan siapa yang telah mengubah Perjanjian Baru, atau kapan, atau mengapa.

Dengan demikian Islam mengasingkan para pengikutnya dari teks Alkitab, termasuk narasi-narasi Injil mengenai Kristus, dengan mengklaim bahwa Muslim tidak memerlukannya karena sumbersumber Islam sudah cukup. Oleh karena itu Isa dalam Islam hanyalah sebuah karikatur kabur mengenai siapa sosok Yesus yang dinyatakan dalam Alkitab.

[Begitu kabur sehingga apa artinya “Isa” itu juga tidak diketahui. Lahirnya dimana dan matinya bagaimana, keberhasilan karyanya dimana, Injil islaminya bagaimana, siapa yang mewahyukannya, yang mencata, dan siapa saksinya? Semuanya menjadi nabi dengan kitab Allah yang paling misterius bahkan seperti non-exist! Injil Yesus (untuk apa ia diturunkan ke dunia melalui Isa) sungguh tidak diketahui nasib dan hutan rimbanya. Isa menghilang tanpa pamit tanpa menyerahkan Kitabnya kepada siapa-siapa. Injil Islamiknya lenyap entah kemana. Kesaksian para muridnya tentang benarnya kematian dan kebangkitan Isa dikosongkan. Misi Islamiknya terputus secara prematur, dan dikalahkan oleh musuh-musuhnya yang menghalangi penginjilan! Tetapi dalam kenyataannya murid-murid dan pengikut Yesus bahkan mampu menyebarkan agama Nasrani dan Injilnya hingga ke Mekah dan Medinah di tanah Arab dll.]

Jika Isa Muslim adalah Yesus yang sesungguhnya, maka dasar-dasar pengajaran kekristenan yang terang benderang justru harus direvisi menyeluruh, yang berarti mencemplungkan diri kembali kedalam karikatur kabur abadi.

Orang Kristen yang berusaha mencari-cari kesamaan dengan Islam cenderung mengabaikan atau meniadakan perbedaan-perbedaan riil antara kedua keyakinan tersebut. Maka muncullah nama ISA, “Yesus” yang baru, yang telah dilucuti keunikan-Nya yang berdasar pada keilahian-Nya, inkarnasi, kuasa dan otoritas, mahakasih, penyaliban, kebangkitan, karya penebusan dan ketuhanan-Nya yang universal. Dan setelah semua ini terlucut, maka Yesus Kristus akan sangat mirip dengan persepsi orang Muslim mengenai Isa. Gagasan yang baru ini telah menegaskan Isa yang ada dalam Quran sama dengan Yesus dalam Perjanjian Baru, dan para pendukung gagasan ini telah merendahkan kekristenan tradisional hingga menjadi tidak lebih dari sekadar bersesuaian dengan Islam. Yang tersisa hanyalah Yesus yang manusia semata, ISA yang samasekali tidak ilahi; dan ini benar-benar menghujat inti iman Kristen, yang sekaligus juga memperkenalkan kembali bidat lama yaitu Arianisme, yang mendatangkan kerusakan terhadap kekristenan di masa lalu.

MENGAKUI BAHWA YESUS ADALAH TUHAN

Di berbagai belahan dunia, orang-orang Muslim mengalami anugerah dan kasih Yesus Kristus dan berbalik menyerahkan hidup mereka kepada-Nya. Mereka mulai menyadari bahwa Yesus bukanlah sosok Isa yang digambarkan dalam Quran, melainkan Tuhan yang hidup yang menguasai surga dan bumi, seperti yang disaksikan dalam Alkitab. Mereka bertemu dengan-Nya melalui banyak dan beragam cara, melalui para penginjil, kasih dan kesaksian orang-orang Kristen, radio, televisi, internet, Alkitab dan literatur yang dibagikan dan juga melalui tanda-tanda ajaib.

Tetapi para petobat baru membayar harga yang sangat mahal saat mengakui Yesus sebagai Tuhan; banyak di antara mereka yang mengalami penganiayaan yang sangat berat sebagai akibatnya. Banyak petobat dari Islam disalah mengerti, pelecehan, mengalami penganiayaan, kekerasan dan bahkan pembunuhan….

KISAH NYATA

Setelah masuk ke sekolah Kristen berasrama, Halima yang berusia 18 tahun dan tinggal di Nyasaland (sekarang Malawi) memutuskan untuk mengikut Kristus dan dibaptis dengan nama Maria Cecilia. Ayahnya yang Muslim sangat ketakutan dan mengusahakan berbagai cara untuk membawanya kembali ke Islam, bahkan memanggil mwaleem-mullah untuk “membasuh” kekristenannya dengan ritual-ritual dan mantra-mantra. Sekelompok orang ditugaskan untuk menggali tujuh parit dan membawa tujuh ember air bersih yang dingin untuk disiramkan kepada Maria, yang dipakaikan kafan putih tipis dan sangat dipermalukan karena rambutnya dicukur habis sampai botak.

Ia menggambarkan seremoni itu demikian: “Orang-orang yang harus melaksanakan ritual pembersihan mengenakan pakaian putih yang membuat mereka terlihat seperti Ku Klux Klan. Yang dapat saya lihat hanyalah bagian mata mereka yang berwarna putih, dan bagian mata lainnya berwarna merah. Saya berdoa agar Tuhan tidak mengijinkan setan-setan bermata menyala itu menyentuh saya. Mereka mengelilingi saya dan bertanya ‘Halima (nama Muslim saya), apakah engkau menyangkali dan bertobat kepada bapamu Gulam dan menyatakan bahwa engkau akan meninggalkan kekristenan? Jawaban saya hanyalah ‘Tidak!’, dan saya mengucapkannya dengan ketenangan dan kedamaian. Saya berhenti gemetar. Saya merasa seakan-akan ada tangan-tangan yang memeluk saya dengan hangat dan menenangkan saya. Kemudian mereka menuangkan seember air kepada saya untuk membersihkan saya dari kekristenan dan keyakinan saya kepada Yesus Kristus. Mereka melakukan hal itu tujuh kali, dan setiap kali saya menjawab ‘Tidak’ dalam bahasa asli saya Chechewa. Mereka bergumam sebuah doa dalam bahasa Arab untuk jiwa saya. Saya dianggap sudah mati.

“Setelah seremoni itu usai, paman saya mengintervensi dan berkata ‘Gadis ini telah melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Gulam, biarkanlah dia pergi dan saya akan mengurusnya’. Nampaknya setiap kali saya berkata ‘Eeyayee’ (‘tidak’ dalam bahasa Chechewa) ada awan putih di sekitar saya. Alih-alih marah, paman saya merasakan ketenangan dan kedamaian. Perasaan ini nampaknya menyebar di antara orang-orang itu termasuk ayah saya Gulam dan sang mwaleen yang sedang menuangkan air berember-ember kepada saya, saat saya berdiri di tiap parit. Akhirnya, tidak seorang pun di antara mereka yang terlihat marah kepada saya”.

“Mereka tidak dapat mengerti bagaimana saya dapat menjalani upacara itu dan masih tetap dapat tersenyum. Sudah tentu, saya tidak melakukannya sendirian. Iman dan keyakinan saya kepada Yesus Kristus sebagai Putra Tuhan telah memampukan saya, puji Tuhan!”…

“Amy” dari Afrika Barat menderita penganiayaan bertahun-tahun baik di negara asalnya dan kemudian ketika keluarganya yang Muslim pindah ke Inggris.

Ia berkata: “Suatu hari, saya masuk ke kamar dan berdoa, benar-benar ingin mengetahui kebenaran. Awalnya saya berdoa, ‘Allah, Allah’ tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi. Kemudian saya berusaha berkata ‘Yesus, Yesus’. Saya mendadak merasakan kemuliaan Tuhan melingkupi ruangan itu dan saya mulai menangis terisak. Saya menemui tutor saya dan mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi, dan ia menolong saya untuk menerima Kristus dalam hidup saya. Peristiwa itu terjadi pada 14 Agustus 2001 ketika saya berusia 15 tahun”.

“Sekitar tahun berikutnya, saya menghadapi banyak permusuhan. Keluarga saya sangat besar dan memiliki banyak imam dan sheikh. Mereka melakukan semua yang dapat mereka lakukan untuk memaksa saya kembali kepada Islam. Mereka membawa saya ke dukun dan ustad. Mereka memukuli saya dan meracuni makanan saya”.

Penderitaan Amy semakin intensif ketika ia tinggal bersama orangtuanya di Inggris pada tahun 2003. Ayahnya mengambil paspornya dan berulangkali memukulinya selama dua tahun berikutnya. Ayahnya menghancurkan pekerjaan kampusnya dan berulangkali mengancam untuk membunuhnya sebelum mengusirnya dari rumah – dua hari sebelum ujian Level A yang baru pertama kali akan diikutinya. Tetapi tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya untuk dibaptis pada musim panas.

Saat mengenang tahun 2010, Amy yang kini telah menikah dengan tutornya yang telah membimbingnya kepada Kristus, berkata: “Tuhan telah menjaga saya selama penderitaan saya melalui empat cara: damai-Nya yang mengatasi segala akal; sukacita-Nya yang tidak bergantung pada keadaan; pengharapan-Nya yang memberikan jaminan dan kasih-Nya yang kekal. Sebagai seorang Muslim, saya tidak pernah mengenal Allah sebagai bapaku, tetapi Bapa dari Tuhan kita Yesus benar-benar seorang Bapa bagiku”.

“Tuhan telah menjadi batu karangku dan mengetahui bahwa iman saya berdasarkan pada dasar yang teguh, saya tidak takut pada apapun. Saya teringat sebuah insiden ketika nenek saya membawa saya kepada seorang ‘marabout’ (dukun) dan begitu saya masuk ke rumahnya ia mengatakan kepada nenek saya bahwa ada kuasa yang lebih besar yang melindungi saya. Ini sudah cukup bagi saya agar saya yakin bahwa kuasa Yesus untuk melindungi orang-orang milik-Nya lebih besar dari kuasa apapun dalam alam semesta ini. Selama penderitaan saya, saya merasakan tangan dan perlindungan Tuhan. Kadangkala ketika saya dipukuli saya tidak merasa sakit sama sekali dan hingga hari ini hal itu mengherankan saya”.

Maria dan Amy sanggup menanggung penganiayaan dan iman mereka kepada Yesus tidak tergoyahkan. Mengapa? Karena Yesus yang mereka percayai bukanlah Isa yang Muslim, tetapi Tuhan Yesus Kristus, Putra YAHWEH yang hidup, Firman Tuhan yang menjadi manusia.

AKHIR KATA

‘Isa dalam Qur’an’ adalah produk dari hasil dengar-dengaran Muhammad terhadap kisah-kisah apokrif/ dongeng serta imajinasi dirinya. Ketika Muslim menghormati Isa ini, mereka menempatkan dalam benaknya suatu sosok yang berbeda dari Yeshua atau Yesus dari Alkitab dan sejarahnya. ‘Isa Muslim’ tidak pernah didasarkan pada fakta sejarah yang diakui, melainkan pada fables yang beredar pada abad ketujuh di Arabia. Existensi sosok Isa Muslim seperti yang diklaim Muhammad tidak pernah dibuktikan dengan saksi mata dan fakta, dan Quran tidak mencantumkan nubuat Nabi manapun tentang kedatangan Isa, kecuali malah menubuat-kan tentang kedatangan Muhammad sendiri lewat mulut Isa!

Jikalau seseorang menerima Isa Muslim ini, maka orang tersebut juga menerima skenario roh Islam yang paling khusus memlintirkan jati-diri Yesus yang sebenarnya. Yang mana juga mengimplikasikan penerimaan terhadap tuduhan bahwa Yahudi dan Kristiani telah mengkorupkan Kitab-kitab mereka, suatu tuduhan keji yang tanpa dasar. Mempercayai Muslim Yesus ini juga pada gilirannya akan meredupkan sejarah bangsa Israel menjadi sejarahnya Islam. Yesus ter-islamisasi menjadi Muslim.

Adalah mengherankan bahwa begitu banyak ajaran-ajaran MAHA PENTING yang justru Muhammad kosongkan dari Injil Kristus. Tetapi itulah semua “Injil Islami” yang dapat ditangkapnya dari hasil dengar-dengarannya yang sangat terbatas sebagai orang yang ummi. LIHATLAH:

Dia menghindar dari berbicara tentang Roh Kudus, dan tidak menyinggung pertemuan setan dengan Yesus .

Dia abaikan ajaran Yesus tentang cara menangkal setan dan cara mendapatkan kuasa usir-setan.

Menggelapkan otoritas serta bukti Yesus mengampuni dosa.

Dia kosongkan rahasia Kerajaan Elohim.

Larangan menggunakan pedang dan kekerasan.

Kotbah Universal dibukit — Hukum yang Paling Terutama. Kenapa kita harus mengasihi dan mengampuni musuh.

Contoh dan ajaran untuk berdoa kepada Bapa Sorgawi.

Perumpamaan-perumpamaan khas dan otentik dari Yesus.

Ajaran larangan bercerai dan hidup kudus dalam monogamy.

Tentang kedatangannya dalam Penghakiman Terakhir.

Nubuat dan Tanda terbesar tentang kematian/ kebangkitan diriNya (terkenal dengan “Tanda Yunus”).

Percakapan dengan Farisi Nikodemus tentang Konsep Kelahiran Baru yang memungkinkan orang naik kesorga. Betapa Yesus mempersiapkan Rumah kita yang di Sorga.

Percakapan dengan perempuan pelacur Samaria tentang Air Kehidupan.

Yesus sebagai Pintu, sebagai Gembala yang Baik, sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, khususnya “Kenapa dalam Yesus orang menemukan kehidupan kekal yang pasti”!…

Bukankah semua ini merupakan hal yang paling penting dan perlu, untuk apa manusia – Anda dan saya– mencari dan mencari demi dapat menemukan makna dan tujuan hidup kemanusiaan yang sepenuhnya?

SKEMA PERBANDINGAN POKOK: ISA MUSLIM VS. YESUS KRISTUS

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Kelahiran Isa yang misterius. Kelahiran Yesus yang pasti.
Dilahirkan oleh perawan Maryam, anak Imran, dibawah satu pohon kurma entah dimana tempatnya (19:22-23).Maryam melahirkan dg berjuang sendiri, tak ada (Yusuf) yang mendampinginya dan tanpa satu-pun saksi mata. Kelahiran ini tidak ada yang menubuatkannya. Yesus dilahirkan oleh perawan Maria, anak Eli, di Betlehem dikandang binatang, didampingi oleh suaminya Yusuf. Kelahiran ini disaksikan oleh para malaikat dan juga para gembala (disamping Yusuf sendiri). Kelahiran ini meng-genapi pelbagai nubuat di- Alkitab (Yesaya 7:14; 9:6, Mikha 5:2).

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Teka-teki zat/ DNA Isa Zat/ DNA Yesus
Isa adalah Kalimat-Allah yang disampaikan kepada Maryam dan ruh-Allah (4:171). [Tetapi terjemahan makna “ruh” dan “kalimat” Allah disini telah diingsutkan, agar Isa bisa diartikan sebagai manusia ciptaan. “Kalimat Allah” disamakan dengan kata “KUN” (jadilah!), yang berkuasa mencipta, bukan sang Firman nuzul inkarnatif menjadi Kalimatullah dalam bentuk Isa. Sedangkan Ruh Allah yang ilahi telah ditafsir sebagai ruh Jibril yang makhluk. Padahal Jibril tak pernah berkata: “Aku Ruh Allah” dan sebalik-nya. Bagaimana Jibril bisa melekat terus menerus pada Isa jikalau ia mahluk, sementara ia harus membagi pula dirinya serentak diantara Nabi Zakharia, Yahya, Isa, dan Maryam (nabiah) yang sama-sama diberi wahyu serentak pada zaman nya?]. Yesus bukan ciptaan. Ia berasal dari Firman Elohim yang kekal, menginkarnasikan diri, lahir menjadi manusia Yesus (Yoh.1:1, 14) oleh kuasa Roh Kudus yang turun atas Sang Firman. Yesus dalam kesatuan essensi/DNA yang sama dengan Roh dan Elohim (Yoh 8:42; 15:26; 10:30; 1:1). Ia bukan hasil ucapan sepotong kata “KUN”, melainkan sang Pemilik kuasa KUN. “Tidak ada satupun ciptaan yang tidak berasal dari ciptaan-Nya (Yoh 1:3). Karena Ia adalah Sang Firman, maka Yesus, berlainan dengan semua nabi lain, selalu berwahyu dalam setiap KALIMAT yang diucapkannya, tak perlu menunggu turunnya wahyu secara berkala.

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Isa Putra Maryam, ia manusia Yesus itu Putra Elohim, Ilahi
Isa hanya manusia yang diutus Allah. Ia adalah Putra Maryam dan sama sekali bukan Anak Allah. (Akan tetapi bukan kah konsepsi di rahim Maryam terjadi karena zat Kalimat dan Ruh Allah? Fakta ini lebih memantaskan Isa sebagai Putra Allah ketimbang Putra Maryam). Penulis Quran secara spesifik menolak sedikitnya 17 kali bahwa Isa bukan Anak Allah! “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Alasannya naïf: (1) karena Allah tidak beristeri, dan (2) karena Isa dan Maryam makan makanan sehari-hari! (6:101, 5:75).

[Tapi tak ada agama dan panganut manapun yang percaya bahwa (1). Allah beristri, dan (2). Maryam itu istriNya, dan (3). Maryam itu sang Ilahi (Tuhan dalam kekekalan sejak awal)! Dan tentang Isa, sebagai Kalimat-Allah yang dinuzulkan jadi manusia, tentu saja ia harus dan bisa makan].

“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Elohim Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau-lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim” (Lukas 1:3). Ini kembali jelas merujuk kepada aslinya DNA/Zat/ Essensi Yesus, yang diinkarnasikan (nuzul) ke dunia, sehingga tepat disebut sebagai “Anak Elohim”, dalam arti Pewaris Elohim, yg tentu mewarisi pula keilahiannya!

Tuhan Elohim berseru dan terdengarlah suara dari sorga yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” (Mat.3:17). Diseluruh Kitab Suci, Yesus diakui sebagai Anak Elohim, baik oleh Bapa Elohim, Malaikat Gabriel, Para Nabi, para murid, musuh Yesus (Mat.27:54) bahkan para Setan sekalipun! (Mark.3:11; Lukas 4:41).

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Namanya menjadi ISA, kosong makna NamaNya YESUS, Juru Selamat
Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah   menggembirakan Kamu  (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekat-kan (kepada Allah)” (3:45). Jadi, nama ISA itu adalah nama sorgawi. Tapi apa makna “Isa” tidak ada seorangpun yang tahu. Allah via Muhammad telah menggantikan nama Yesus menjadi Isa, tanpa menjelaskan alasan & tujuan. Dari makna ilahi yang kaya, mendalam, dan penuh otoritas, kini terubah menjadi Isa yang kosong makna. Mungkinkah Allah memberi nama sorgawi itu kosong & tanpa tujuan? Malaikat berkata kepada Yusuf: “…engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Nama Yesus berasal dari kata Ibrani: Yehosua = Yesua, yang berarti “Yahweh Menyelamatkan”. Ini adalah sebuah nama dengan makna ilahiah yang bertujuan dan melekat. Tidak bisa dikosongkan oleh siapapun, sekalipun setan! Setan kenal nama YESUS dan memanggilnya dg penuh gemetaran (Markus 5:7). Yesus telah menyebut namanya sendiri sebagai Yesus, yang penuh otoritas (Yoh 17:3; Kisah 22:8; Wahyu 22:16). Jadi kenapa ada pihak yang nyelonong menggantikan nama ilahiNya?

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Ahli Sulap untuk diri sendiri Pembuat mukjizat untuk kemanusiaan dan kemuliaan Tuhan
Isa dikisahkan sebagai ahli beberapa jenis sunglap layaknya, yang mana di- lakukannya tanpa makna dan tujuan apa-apa, selain memperagakan tanda saja bahwa ia dari Allah (3:49). Siapa-siapa yang menerima/diberi mukjizat juga dikosongkan tanpa latar belakang. Kehadiran belas kasih Isa tidak tampak sama sekali. Pesan khusus dan penting bagi si penerima mukjizat dan pembaca Injil dinihilkan. Quran hanya memuat daftar mujizat Isa, bukan membeberkan kuasa, welas asih dan kemuliaan Isa sebagai tanda dibalik mukjizat tsb. Yesus setiap hari mengajar dan melayani orang-orang sakit dll masalah kemanusiaan dengan kasih dan kuasa mukjizatNya. Dia menyapa dan terjadilah interaksi dengan mereka. Latar belakang masalah  dan proses mukjizat didetailkan, sehingga bisa memperlihatkan motivasi dan reaksi orang, serta bobot kasih dan kuasa Yesus yang dahsyat. Dilengkapi dg komentar Yesus (kepada si sakit dan saksi mata umum dll) yang memberi ajaran/nasihat/pesan untuk hidup dalam iman dan memuliakan Tuhan.

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Isa hanya bermukjizat karena izin Allah. Quran mengosongkan banyak mukjizat dahsyat Isa Kuasa Yesus sepenuhnya berasal dari diriNya, tak ada izin siapapun
Mukjizat dahsyat yang keluar dari tangan dan mulut Isa telah dientengkan seolah hanya terjadi “atas izin Allah” (3:49, 5:110). Bahkan beberapa jenis mukjizat dahsyat dari Yesus dikosongkan dengan sengaja. Misalnya, mukjizat mengusir setan, menaklukkan alam (badai dan gelombang), berjalan diatas air, ubah air jadi anggur dll. Quran sistematis mendiskreditkan dan mengaburkan kuasa ilahiah Isa agar ia jangan sampai diang-gap sbg Tuhan. Maka harus ditahan dengan “izin Allah”. Tetapi Allah pulalah yang ditempatkan sbg pihak yg “salah” karena Dia sendiri membiarkan (mengizinkan) Isa bermukjizat sedahsyat seperti Allah, yang hanya Allah sendiri yang dapat me-lakukannya! Yesus tidak pernah berdoa minta kuasa dan izin khusus dari Bapa untuk setiap mukjizat yang dilakukanNya. Kuasa Yesus adalah inheren dalam diriNya yang Ilahiah yang selalu dipenuhi oleh kuasa   Roh Kudus. Itu sebabnya setiap kata dari mulutNya adalah selalu wahyu (lain dg Muhammad yg harus menunggu bisikan wahyu). Dan Yesus dapat berkata KUN merujuk kepada otoritas-IlahiNya: “Aku mau, jadilah engkau tahir!” (Mark 1:41). “Talita kum” (Bangunlah, Markus 5:41) “…Anak (Yesus) menghidupkan barang-siapa yang dikehendakiNya” (Yoh.5:21). Tak ada “izin Allah” yang harus diminta dan ditungguNya!

 

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Isa tidak mati, tidak disalib, tidak bangkit. Tanpa saksi Yesus mati disalib dan dibangkitkan sesuai nubuat. Saksi mutawatir
Muhammad menebarkan “wahyu korektif” bhw Isa tidak mati, tidak disalib, dan tidak dibangkitkan dari kematian. Caranya? Allah dikatakan menipu semua orang Israel seolah Isa-lah yg tampak mati disalib, padahal Allah diam2 menggantikan seseorang lainnya (entah siapa) utk disalibkan. Isa yang asli diangkat kesisi Allah disurga 4:157-158). Tapi wahyu korektif ini terlalu terlambat datangnya, sehingga banyak jiwa telah tersesat oleh “tipu-daya” yang Allah mainkan selang 6 abad berjalan. Dengan tindak tipuan demikian, Allah terpaksa mengakui diriNya sebagai “Khairul Makiriin”  (Penipu-Daya Terbesar, QS.3:54). Suatu pengakuan aib yang menciderai Islam selamanya. Penyaliban Yesus, kematian dan kebangkitanNya justru sudah dilaporkan dalam semua kesaksian Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Tak ada satupun murid Yesus yang tidak menyatakan hal tsb. Bahkan itu telah dinubuatkan oleh nabi2 sebelumnya (Daud, Yesaya). Dan dibenarkan oleh begitu banyak saksi mata, termasuk orang luar seperti serdadu Romawi yg menikam Yesus disalib, Farisi Nikodemus, Yusuf Arimatea; sehing-ga tidak ada lagi cara setan utk dapat membantah fakta yang mutawatir ini! Apalagi ditambah fakta kebangkitan Yesus, keseluruh-an mana diistilahkan Yesus sebagai “Tanda Nabi Yunus” bagi pegangan setiap manusia.

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Isa diangkat kesorga diam-diam, meninggalkan Kitab Injil dan para murid yang tak ditahui rimbanya. Yesus terangkat kesorga setelah 40 hari bangkit, disaksikan semua pengikutNya, yang menerima kuasa Roh Kudus yang dijanjikan untuk menduniakan Injil.
Misi Isa terputus prematur / abortive tanpa kemuliaan, melainkan menelan kekalahan dari musuhnya. Isa diam2 diangkut Allah dari salib, dan “menghilang ditarik kesurga”, meninggalkan para muridnya entah bagaimana. Tak ada amanat atau kata pamit yang ditinggalkan Isa. Tak ada yang tahu apa kelanjutan dari nasib dan penginjilan kedunia. Bahkan dimana Injilnya (yang “asli” Islami) itu tersembunyi, dan apa isinya? Siapa saksi mata? Semuanya NOL. [Dan ini tidak bersesuaian dengan fakta sejarah yang menunjukkan kebangkitan kekristenan yang amat pesat lewat kuasa Roh Kudus yang Yesus utus]. Yesus berkata sesaat sebelum terangkat ke Sorga: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8). Sementara terangkat, 2 malaikat juga tampak memaklumatkan kepada pengikutNya: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

 

ISA MUSLIM YESUS KRISTUS
Isa mengakui diriNya bukan Tuhan Yesus berkata: “Akulah Tuhan”
Allah berfirman dan berdialog langsung dengan Isa, suatu hal yang tidak pernah dilakukanNya kpd Muhammad: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS.5:116).

KOMENTAR: Allah coba mengada-ada dg pertanyaan yang sangat sarcastic kpd Isa, jauh dari bijaksana ilahi. Serendah itukah Isa ditempatkan, seolah mengemis kepada manusia lainnya agar dia dijadikan Allah?

Dan dialog ini terlambat 600-an tahun untuk mengkoreksi Injil Palsu yg terlanjur “menjadikan” Yesus itu Tuhan!

Tidak pernah Yesus mengemis untuk jadi Tuhan, karena memang Dialah Tuhan, seperti yang dinyatakanNya:

*“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”

*“Aku dan Bapa adalah satu”.

*“Sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati & menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya”

*“Segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku”.

*“Aku akan menjadi Elohimnya,  dan ia akan jadi anakKu”.

*”Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Elohim, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”

*“Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I AM”.

Istilah “I AM” adalah eksklusive yang Yahweh pakai bagi diriNya. Orang Yahudi paham akan hal ini dan akan merasa Tuhannya dihujat bila sebutan ini dikenakan kepada manusia. (Yoh 13:13, 10:30, 5:21, 17:10, Wahyu 21:7, 1:8). Juga Yoh 1:1,2,3,14.

Para pembaca yang dicerahkan Tuhan,

Buku ini sekalipun kecil, namun berisikan bahan renungan besar dan dalam untuk kita me-meditasikan sebuah kehakikian tentang jatidiri Yesus Kristus, yang sekaligus memperlihatkan ke-otentik-an sosokNya yang historis, sumber kabar baik yang lurus, rinci dan otoritatif. Sebaliknya sosok Isa Muslim yang dipermukaan bergaung “legendaries”, namun ternyata hanyalah sebuah karikatur kabur yang dicocok-cocokkan dalam bentuk klaim yang mem-plagiati sosok Yesus. Isa Muslim total non-historis. Tak ada yang maknawi, tak ada saksi dan bukti, kecuali hanya retelling-stories yang berputar-putar dalam misteri yang kusut, antagonis, yang sulit dicernakan akal budi. Para filosof berkata dengan benarnya: “The name is the real introduction of a man’s personality and the real representation of a man’s activities.” Jadi dalam hal apa nama ISA itu ter-refleksi dalam karakter pribadi dan perilakunya?

Ada banyak rekayasa yang dikemaskan dalam Quran kepada sosok Isa sehingga tampak menyerupai Yesus Kristus. Bahkan mulut Yesus telah dipinjam berkali-kali untuk dijadikan saksi dusta. Semisal Isa dibuat bersaksi untuk menafikan bahwa dia pernah meminta kepada manusia untuk menjadikan dirinya (dan ibunya) dua Tuhan selain Allah (5:116). Isa juga dibuat bersaksi tentang kedatangan nabi “Ahmad” yang ummi. (QS.61:6).

Semuanya tidak mengandung kebenaran dan tidak terbukti. Namun hal Ini tidak mengherankan karena Allah memang mengaku dirinya sebagai Allah yang “Khairul Makiriin” (3:54, 8:30). Bila Yesus, Maryam ibu Yesus, dan segenap saksi mata termasuk para murid-murid Yesus sendiri ditipu-dayakan oleh Allah dengan menampilkan diam-diam seseorang “isa-isa-an” (pengganti) untuk di salib, maka siapa lainnya yang akan terkecuali? Bila seorang isa-isa-an bisa disodorkan Allah dipalang salib untuk menggantikan Yesus, maka Allah juga akan secara alamiahNya menghadirkan Isa-Muslim sebagai pengganti Yesus. Dan itulah yang terjadi!

Yesus adalah Putera Elohim, ilahiah dalam hakekatNya (Lukas 3:22). Dia bukan Isa Putera Maryam ciptaan di abad ke satu. Dia sudah ada sebelum Abraham jadi (Yohanes 8:58). Dia bukan misal penciptaan seperti Adam yang berasal dari tanah. Dia Anak Elohim yang mewarisi segenap kuasa yang hanya dipunyai oleh seorang Tuhan. Itu sebabnya telah ditetapkan bahwa semua malaikat, manusia dan segala ciptaan harus menyembah Yesus (Ibrani 1:6), tidak Isa Muslim. Pada akhirnya, dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. (Filipi 2:11).

Ini sebuah ayat hebat dan berotoritas. Sedemikian otoritasnya sehingga sosok Yesus yang sekalipun difiktifkan (menjadi Isa), toh Quran tetap tidak berani menafikan kuasaNya. Sehingga Quran tetap harus menggaris-bawahi yang senada dalam (QS.3:45) bahwa Isa adalah sosok paling terkemuka diseluruh alam semesta, ya dialam dunia segala zaman, ya dialam akhirat mana saja selamanya.

AMIN.

Sumber : Bukti dan Saksi

Link berbagi: http://wp.me/p6mxNc-YK

Salam kasih dan persahabatan. Tetap semangat dan saling mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s