Mukendi BAB 4

BAB 4. Keberangkatanku bersama bibi Ndaya ke Shaba

Efesus 1 : 20-24 : (20) – yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, (21) – jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. (22) – Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. (23) – Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

.

Setelah menyaksikan kematian adikku, bibi meyakinkan ayahku agar aku boleh pergi bersamanya ke Shaba, dimana para tukang sihir desa kami tidak akan dapat mencelakakan aku. Ayah menyetujui asal ia dapat bertemu dengan pemimpin tradisional Shaba. Ayah sendirilah yang mengantar aku ke sana. Kami diterima dengan baik waktu kami tiba. Sebelum kembali ke rumah, ayah berkata kepada pemimpin tersebut, “Aku meninggalkan putraku disini di bawah pengawasanmu. Jagalah dia baik-baik.”

Pemimpin itu memandang aku dua kali dan berkata, “Putramu Mukendi bukanlah seorang anak kecil. Ia adalah seorang dewasa di dalam dunia roh, tetapi ia masih kurang dalam satu hal yang vital dan itu adalah kekuasaan di atas dunia.”

Pemimpin Shaba itu kemudian meminta ayahku untuk memberikan kepadanya tiga ekor ayam, tiga lembar kain putih dan tiga kuali tanah liat tradisional. Ayahku mengatakan kepadanya agar membeli saja semuanya dan nanti ia akan membayarnya kembali. Setelah semuanya beres, aku kemudian masuk ke dalam rumahnya dimana aku diberi minum dari tengkorak kepala manusia dan mereka membuat bagiku sebuah jimat dari kelapa sawit. Nama jimat itu adalah Munkulumbu Mukakala Kuyuka. Jimat itu dibuat bagiku selagi aku duduk dikelilingi oleh para istri dan putra-putri pemimpin tersebut. Munkulumbu artinya pohon yang memiliki kayu yang sangat keras, Mukakala Kuyuka artinya orang yang akan selalu berkata-kata buruk tentang diriku, tetapi mereka selalu akan dikalahkan.

Jimat itu diberikan kepadaku di dalam sebuah upacara besar-besaran dan aku diharuskan memakainya di sekeliling pinggulku. Setiap kali aku membutuhkan pertolongan, aku harus menekannya sambil berkonsentrasi pada masalah yang kuhadapi dan aku segera menemukan jalan keluarnya.

Munkulumbu itu penuh dengan kuasa yang menyebabkan aku dapat melakukan banyak hal-hal yang gaib. Salah satu kegaiban yang langsung kuterapkan adalah ketika aku ingin mengantarkan ayahku kembali ke desa kami sambil berjalan beberapa saat bersamanya. Ketika kembali, aku tersesat. Aku tidak dapat menemukan arah ke desa, tetapi ketika aku menekan jimatku, aku tiba-tiba saja menemukan diriku sendiri berada di perumahan pemimpin dimana aku tinggal.

Tidak lama setelah itu aku diterima masuk asrama sekolah yang jauhnya 24 kilometer dari rumah dimana aku tinggal dan 4 kilometer jauhnya dari rumah bibiku. Setiap saat aku ingin pergi ke rumah bibi atau pemimpinku, aku tinggal menekan jimatku dan tiba-tiba saja aku akan menemukan diriku sudah berada disana. Aku ingat pada suatu kali, bibiku menjadi begitu marah karena seringnya kunjungan-kunjunganku ke rumahnya pada waktu-waktu sekolah. Ia mengatakan bahwa aku seharusnya di sekolah dan bukannya membuang waktu berkeliaran di sekitar situ. “Mengapa kau kemari ?” tanyanya dengan marah. Aku harus meninggalkan rumah bibi untuk menghindarkan kemarahannya dan pada saat aku berada sendirian, aku menekan jimatku dengan menujukan pikiranku pada gerbang sekolah dan kemudian menemukan diriku telah berada disitu kembali tanpa mengeluarkan tenaga.

Anak-anak Kristen Berada Di Bawah Perlindungan

Kekuatan gaibku yang baru membuatku kagum dan aku sangat menikmatinya. Misalnya, aku seorang murid yang sangat bodoh di dalam kelas dan sebagai akibatnya, aku merampas otak anak-anak lainnya. Bila aku melihat seseorang yang pandai dan sering mengangkat tangannya bila guru bertanya, maka aku akan merampas otaknya. Aku akan menujukan pandanganku kepadanya dan menekan jimatku, untuk mencuri otaknya. Beberapa waktu kemudian, kepala sekolah memperhatikan bahwa sebagian besar murid di kelasku secara akademis merosot sekali, akan tetapi aku masuk di dalam kelompok anak-anak pandai. Aku mempergunakan kekuatan gaib yang sama untuk merintangi kemampuan mereka belajar dan berprestasi di kelas. Anak-anak yang berada di bawah perlindungan hanyalah mereka yang berasal dari rumah tangga Kristen.

Aku juga teringat saat aku menjadi begitu jemu di dalam kelas. Aku menekan jimatku sambil berkonsentrasi memandang keluar jendela dan segera aku berada di luar, berkeliaran di sekitar situ. Guruku dapat melihatku berada di luar dan pada waktu ia sedang terheran-heran memikirkan bagaimana aku dapat keluar di tengah-tengah pelajaran, aku menekan jimatku dan berada di dalam kelas kembali sebelum ia dapat memanggilku. Guruku menjadi amat bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Aku melihatmu di luar, bagaimana kau dapat berada disini ? Dan bagaimana kau keluar kelas ? Bukankah pintu terkunci ?” tanyanya. Aku akan memanipulasi otaknya dan membual kepadanya, “Jangan hiraukan diriku. Bukankah Bapak melihat betapa baiknya prestasiku di dalam kelas ? Mengapa bingung ?”

Aku juga berkelahi dan meninju anak-anak lain untuk memperpendek usia mereka. Setiap kali sebuah pukulan mengenai korbanku, maka hidupnya akan diperpendek. Aku juga mempergunakan kesempatan tersebut untuk memasukkan penyakit ke dalam tubuh mereka. Kepala sekolah kemudian mengambil keputusan untuk memulai “doa pagi bagi seluruh kelas-kelas” sebelum pelajaran dimulai. Kami harus pergi ke gereja di dekat sekolah dan berdoa. Segera aku menjadi sadar bahwa aku kemudian tidak dapat lagi merampas pikiran murid-murid yang lain. Disinilah aku menyadari bahwa sebagian besar daripada anak-anak, berada di bawah perlindungan Ilahi yang menyeluruh setelah berdoa. Satu-satunya sasaranku hanyalah guruku yang adalah seorang pemabuk dan pendusta. Ia telanjang sama sekali di hadapanku dan aku mengambil keputusan untuk mempermainkannya. Walaupun ia yang memimpin kami ke gereja, akan tetapi ia sendiri tidak pernah berdoa. Setiap kali ia memberikan sebuah pertanyaan, aku akan menekan jimatku dan mengkonsentrasikan diriku kepada pikirannya. Guruku sama sekali tidak pernah berdoa. Ia adalah seorang pemabuk berat dan pendusta berat, sehingga ia merupakan sasaran empuk bagi kekuatan gaibku. Dengan jelas aku dapat melihat seluruh pertanyaan dan jawaban di balik otaknya. Semua yang berada di dalam kelas termasuk guruku sendiri, begitu kagum akan kemampuanku. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sumber kekuatanku adalah setan. Hal ini berlanjut sampai pada tingkatan dimana guruku akan dicekik oleh tangan-tangan yang tidak nampak bila ia mencoba mengusik diriku.

Suatu ketika di dalam sebuah pertandingan tinju dengan seorang anak laki-laki yang lain, aku menekan jimatku dan lawanku kemudian menyangka bahwa aku adalah seekor singa yang garang, yang siap untuk menerkam. Ketika ia masuk ke dalam ring tinju, ia tidak melihat diriku, tetapi seekor singa yang siap menerkam dirinya. Itulah yang kemudian diceritakannya kepada seluruh sekolah. Jadi sebelum aku dapat berbuat apa-apa atas dirinya, ia mulai menjerit-jerit sambil lari terbirit-birit keluar ring. Otomatis ia mengalami diskualifikasi. Kepada sekolah yang kebetulan hadir sebagai penonton pada saat itu, sangat bingung melihat diriku di atas ring tanpa sepengetahuannya. Ia lalu memutuskan untuk kembali lagi ke sekolah dan memeriksa apakah yang dilihatnya itu benar-benar diriku atau bukan. Ia tidak dapat mempercayai penglihatannya. Ketika ia memasuki mobilnya, aku segera menekan jimatku dan berada di sekolah kembali sebelum ia tiba. Satu jam kemudian, seluruh murid dipimpin oleh kepala sekolah datang menemuiku di kamarku. Mereka semuanya sangat kebingungan dan kepala sekolah kemudian memecatku dari sekolah. “Kumpulkan barang-barangmu dan pulanglah. Kami tahu sekarang bahwa kau adalah seorang tukang sihir,” katanya.

Aku tidak mempunyai pilihan lain, selain kembali lagi ke rumah pemimpin itu, yang kemudian berkata bahwa ia akan mengabarkannya kepada ayahku yang berada 135 kilometer jauhnya dari tempat kami. Inilah yang dilakukannya. Ia memetik daun dari sebuah pohon dan mulai berbicara dengan ayahku. Aku dapat mendengar mereka berbicara dan ayahku berkata bahwa ia akan menjemput aku malam itu, karena saat itu ia masih sibuk di ladang. Malam itu ketika ayahku tiba, ia mengirimkan kerumunan lebah untuk menyengat seluruh isi sekolah.

Semua mereka kena sengat, kecuali anak-anak dari rumah tangga Kristen yang memiliki perlindungan, karena darah Yesus di atas hidup mereka senantiasa melindungi mereka.

Berhati-hatilah para guru, mungkin saja beberapa murid anda berasal dari latar belakang seperti itu. Dan bila anda tidak berada di dalam Tuhan, maka anda telanjang sama sekali di hadapan mereka. Anda juga merupakan sasaran empuk bagi kekuatan-kekuatan gaibnya. Tetapi bila anda berada di dalam Tuhan, maka anda memiliki perlindungan yang menyeluruh. Guruku menjadi korban kekuatan magisku karena ia adalah seseorang yang hidup di dalam dosa.

Berhati-hatilah, para orang tua, kehidupan Kristiani anda penting artinya bagi perlindungan anak-anak anda. Bila anda bukan orang Kristen yang lahir baru, maka anak-anak anda akan menderita seumur hidupnya. Ada orang-orang yang menerima keselamatan, akan tetapi mereka terus bermabuk-mabukan dan merokok. Mereka merusakkan tubuh mereka yang dikhususkan sebagai bait Roh Kudus. Anda harus selalu sadar setiap saat dan tidak memberikan tempat atau celah bagi musuh untuk merusakkan kehidupan anda.

Ayahku Masuk Ilmu Sihir Yang Lebih Dalam Lagi Atas Prakarsa Seorang Pemimpin

Ayahku menghabiskan tiga bulan berikutnya untuk masuk ilmu sihir yang lebih dalam lagi atas prakarsa saudara si pemimpin, yang merupakan seorang dukun yang sangat kuat. Setiap hari, ayah dan aku akan memulai malam hari kami bersama dengannya, dengan diberi ramuan yang sangat kuat. Sihir tersebut melibatkan seekor siput yang berjalan lambat dari Mwene-Ditu ke desa kami, suatu perjalanan yang harus diselesaikannya setelah tiga tahun. Ketika akhirnya siput itu mencapai desa kami, diperkirakan ia telah membunuh 155 orang dewasa.

Sihir inilah yang akhir-nya menyebabkan kematian ayahku. Ketika siput itu sampai di depan rumah kami, terjadilah peperangan yang ganas antara siput tersebut dengan roh-roh yang bekerja bagi ayahku. Roh-roh itu menolak roh-roh siput itu untuk masuk ke dalam rumah kami. Lama kelamaan, roh-roh yang bekerja bagi ayahku memutuskan untuk merampas nyawa ayahku agar ayahku tidak lepas dari cengkeraman mereka. Dengan cara itulah ayahku mati.

Aku diterima masuk sekolah mekanik profesional yang dimaksudkan sebagai Sekolah Tinggi Sihir. Di waktu pagi, kami adalah calon-calon mekanik seperti murid-murid yang lain, tetapi di malam hari terjadilah hal-hal yang tidak tampak ; kursus sihir besar-besaran diajarkan disitu. Suatu hari, aku sangat lelah, jadi seperti biasanya, aku menekan jimatku dan menemukan diriku telah berada di luar kelas dan masuk ruang kepala sekolah dengan santai. “Apa yang ingin kau tanyakan ?” tanyanya. “Guru menyuruhku mengambil kapur tulis,” jawabku.

Ketika aku berjalan keluar, kepala sekolah mengikutiku masuk kelas untuk mengetahui apakah aku berdusta atau tidak. Aku tahu aku berada di dalam kesulitan dan sekali lagi kutekan jimatku untuk kemudian dalam beberapa detik telah berada kembali di dalam kelas. Ketika kepala sekolah mengetahui siapa aku sebenarnya, ia mengusir aku dari sekolah. Bibiku menanggapi pengusiran diriku dengan mengambil sebilah pisau dan sebuah ember dan mengancam akan memotong-motong diriku untuk mengetahui apa yang telah dilakukan ayahku sehingga aku begitu dimanjakan. Aku telah diperingatkan oleh ayahku untuk tidak membuka rahasia kepada siapapun tentang apa yang telah diajarkannya kepadaku. Aku menangis sambil bersumpah kepada bibiku bahwa aku tidak mengetahui apa yang dimaksudkannya. “Lebih baik bibi membunuh aku saja daripada menyiksa aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kuketahui,” jawabku.

Seorang tukang sihir diharuskan memegang rahasia dan bila tidak bisa patuh, ia akan dihukum berat. Itulah peraturannya dan aku harus menepatinya. Sekali lagi aku diterima di sebuah sekolah profesional tidak jauh dari tempat dimana kami berdiam.

Suatu hari, sedang kami membuat baterai menurut formula yang diberikan kepada kami, aku telah memakai terlalu banyak zat asam cuka sehingga hasil pekerjaanku rusak. Guruku menjadi begitu marah dan memaki diriku. Sebaliknya, akupun menjadi begitu jengkel sehingga aku menyihirnya dan melemparkan kutuk ke atasnya. Tidak lama setelah itu, ia mengalami persoalan dengan pemerintah dan sekolah pribadinya ditutup untuk selama-lamanya. Bibiku menangis sejadi-jadinya karena sekali lagi aku telah kehilangan sebuah kesempatan untuk belajar. Ia mengalami depresi dan mengeluarkan keluhan-keluhan yang pahit, sampai aku akhirnya berhasil masuk pada sekolah yang lain dimana kawan-kawan lamaku juga diterima. Karena melihat bahwa bibiku sangat menaruh perhatian, maka aku mengambil keputusan untuk belajar dengan keras dan memperoleh ijazah dan juga menurutku, adalah lebih baik bila aku melepaskan Munkulumbuku untuk sementara waktu. Aku menyembunyikannya diantara lapisan-lapisan besi atap rumah kami. Pada tahun 1983. Aku berhasil bekerja keras dan memperoleh ijazah. Aku kemudian diundang untuk mengikuti latihan di sebuah perusahaan pertambangan. Ketika kursus dimulai, ada seorang rekan sekelasku yang mempergunakan jimat agar dapat lebih dari yang lain. Jimatnya berupa kabel besi yang dipakainya seperti gelang pada tangannya. Ia selalu memperoleh angka-angka yang lebih baik daripadaku dan hal itu membuatku begitu iri sehingga aku memutuskan untuk mengambil jimatku kembali dari tempat bibiku. Tujuanku adalah untuk mengalahkannya dalam prestasi kelas. Inilah yang kulakukan : aku menguasai pikiran guruku untuk menundukkannya, lalu aku melanjutkan dengan menjadikan pikiran rekan sekelasku itu dungu dalam latihan itu, untuk menundukkan dia juga. Bila ia diberikan sebuah mesin untuk diuji coba, maka aku akan menekan jimatku untuk merusakkan hasilnya sehingga dialah yang harus mempertanggung-jawabkan kerusakan tersebut.

Aku mengulanginya beberapa kali dan dalam waktu yang bersamaan, aku juga mempergunakan kepandaiannya untuk dapat berhasil. Sebagai akibat keberhasilanku, aku boleh mengikuti latihan lanjutan dan bibiku sangat puas melihat hasil-hasilku.

Navigasi : Ke Menu Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: