Arsip Tag: Pertobatan

Pertobatan Titisan Nyi Roro Kidul – Febrytha Claudya

Saya merasa diri saya udah mau mati. Karena mengeluarkan darah dari mata itu tidak gampang daripada keluarin darah keluar dari kuping dan hidung. Karena saya hampir buta waktu itu. Dan seluruh badan saya itu diserang.

Pertobatan Titisan Nyi Roro Kidul – Febrytha Claudya. Kisah Pertobatan Wanita Titisan Nyi Roro Kidul (Febrytha Claudya). Shalom, begini kisahnya:

Nama saya Febrytha Claudya. Malam ini saya ingin mengungkapkan sisi yang paling gelap didalam hidup saya.

.

Saat saya berumur 6 tahun, dengan pengasuh saya, saya melihat sosok aneh berbentuk ibu-ibu .. nenek-nenek.

.
Febrytha kecil: Bibi … Bibi … ada nenek ….
Bibi: Nenek … mana ? nggak ada kok. nggak ada nenek. Bilang aja kamu nggak mau mandi.

20 tahun kemudian … Suatu malam yang dingin …

Febrytha: “Saya tidur … tiba-tiba ada yang bangunin saya. jam 2-3 malem saya melihat ada ulat melilit di korden saya. Dan ada ular lagi satu besar melilit badan suami saya. Setelah itu ular itu melilit anak saya yang laki-laki. Saya didatangi seorang perempuan. Ya dari situ saya lihat wajahnya. Dia berselendang warna biru. Ikut saya … dia bilang.”

.

Febrytha berjalan mengikuti perempuan itu diiringi ular besar dibelakangnya… Didepan sebuah kaca ada telepon dan disebelahnya ada korden yang bergerak-gerak seperti terkena tiupan angin …

Febrytha: “Saya melihat seorang perempuan dan ular.”

.

Tiba-tiba sang pembantu muncul dan menepuk pundak sang majikan.

Febrytha: Saya melihat seorang wanita dan ular.Pembantu: Dia itu bukan wanita sembarangan.

Febrytha: “Saya lihat ibu itu bukan orang biasa. Nah disitulah saya terpacu untuk mengetahui dia itu siapa.”

.
Pembantu: Yang datang sama ibu adalah …

Tiba-tibe telepon berbunyi … Sang pembantu kemudian mengangkat telepon itu …

Pembantu: … Hallo …. Oh … Mas Kusumo …

Febrytha: Siapa … Pembantu: Kakak saya.

Sang pembantu kemudian memberikan telepon itu kepada Febrytha … Kemudian Febrytha menerima telepon itu.

Febrytha: Hallo …

Febrytha: “Akhirnya saya dikenalkan sama kakaknya pembantu saya.”

.

Suara dibalik telepon (Kusumo – kakak sang pembantu): Kamu adalah titisan Nyai Roro Kidul.

Pembantu: Ibu mau gak saya buka jasadnya?

Febrytha: Ya, saya mau.

Febrytha: “Dia baca doa. selang 10 menit, saya ngaca … saya lihat diri saya ….”

.

Febrytha: Haa … aaa. aaa…

Kemudian telepon itu terjatuh …

Febrytha: “Itu bukan diri saya. Saya melihat saya memakai mahkota … Rambut panjang dan saya bertaring. Dan saya sempat ketakutan melihat diri saya.”

.

Sang suami datang dan bertanya: Ada apa ini ?

Febrytha: “Disitulah ada suatu peristiwa yang tidak pernah saya alami bahwa ada rasa lapar yang luar biasa yang saya rasa. Mulut saya itu pengin ngunyah bayi, sampai suami saya ketakutan untuk dekat sama saya.”

.

Kemudian sang suami mengambil telepon itu dan berkata: Hallo, ada apa dengan istri saya ?

Suara Kusumo: Tidak apa-apa. Dia hanya perlu kembang.

Suami: “Minta kembang, bunga mawar. Akhirnya saya beli … itu saya cari di luar.”

.

Suami: Mbak tolong jagain ibu ya …

Pembantu: Baik pak … baik.

Pembantu: Sabar ya bu … tenang. Sebentar lagi bapak juga datang.

Tidak lama kemudian sang suami datang dan membawakan sebungkus besar kembang mawar. Setelah diberikan kepada istrinya, kembang itu dilahapnya dengan rakus.

Febrytha: “Akhirnya setelah saya makan, itu nikmatnya tidak pernah saya tidap pernah rasa dalam hidup saya. Saya bilang, ‘Badan saya tidak pernah terasa enak seperti ini.’ “

.

Febrytha: “Biasanya ritual saya itu paling sedikit 5 kali sehari.”

.

Didalam ritual itu suatu suara mengatakan kepada Febrytha, ‘Anak perempuanmu itu membawa sial.’

Anak perempuan Febrytha (Dita): “Aku tanya mama lagi ngapain. Begitu mamah langsung marah-marah. Bilang jangan diganggu.”

.

Suara didalam pikiran Febrytha berkata, ‘Singkirkan dia !’

Terlihat anak perempuannya yang bernama Dita sedang mendatangi Febrytha dan menanyakan sesuatu…

Febrytha: Dita jangan ganggu mama. Keluar !

Febrytha: “Anak perempuan saya itu buat sial didalam ilmu saya.”

.

Dita: “Sedih.”

.

Febrytha: “Makanya dari itu setiap saya ritual, kalau saya diganggu, apakah suara anak nangis, atau ada suara lain, saya marah sekali.”

.

Suatu saat ada telepon … dari Kusumo

Kusumo: Kalau kamu ingin menguji ilmu kamu, maka kamu cari orang yang sakitnya parah.

Febrytha: Baik.

Febrytha: “Orang yang di kampung itu bilang, Kalau ibu mau menguji ilmu ibu, cari orang yang penyakitnya parah.”

.

Febrytha: Pah, saya harus menemui orang.

Febrytha: “Dan kebetulan teman suami saya itu orang medan. Ayahnya tidak bisa jalan selama dua tahun.”.

.

Teman medan: Bapak saya masih sakit.

Febrytha: “Saya masih ingat kata-kata yang saya lontarkan saat saya tepuk tanah itu. Saya bilang hai pasukanku, pergi kesana, lepaskan ikatan-ikatan yang ada pada kaki-kaki laki-laki itu.”

.

Terlihat Febrytha merapal mantera dan menepuk tangannya diatas lantai …

Febrytha: “Nah selang beberapa jam, dua tiga jam itu ada kabar dari medan.”

.

Papa teman di medan: Papa sudah sembuh

Teman dari medan: Papa sudah sembuh

Suami Febrytha: Sudah sembuh ? Ma, sudah sembuh.

Febrytha: Oooo …

Febrytha: “Dan mereka sekeluarga berterima kasih sama saya sampai mereka panggil saya inang yang terhormat … terima kasih. Orang itu bilang belum ada paranormal yang bisa sembuhkan.”

.

Febrytha menelpon Kusumo: Orang itu sudah sembuh

Kusumo: Tidak ada paranormal yang lebih hebat dari kamu.

Febrytha: “Dan disitulah akar kesombongan saya timbul.”

.

Kusumo: Supaya kamu lebih sakti lagi dan lebih banyak menolong orang, kamu harus menikah dengan saya. Itu sudah takhir kita. Kamu adalah ratu dan aku adalah pangerannya.

Febrytha: Baik … baik kalau begitu.

Febrytha: Pah, saya harus menikah dengan mas Kus.

Suami Febrytha: “Saya pengin teriak … pengin … ya selayaknya manusia normal ya. Saya sakit sih.”

.

Febrytha: “Saya waktu itu sempat mengeluarkan statement ama dia kalau kamu nggak setuju saya potong leher anak kamu yang perempuan.”

.

Suami Febrytha: “Ya, saya lebih takut sama dia. Karena dia bisa melakukan apa yang nggak biasa dilakukan.”

.

Disuatu tempat terjadi peristiwa aneh, yaitu ada prosesi akad nikah antara Febrytha dan Kusumo …

Febrytha: “Suami saya datang menjadi wali dan dia pulang bersama putri saya.”

.

Suami Febrytha: “Putri saya Dita bertanya, ‘Papa, kita berdua pulang ?’ “

.

Dita: Padahal mama udah menikah dengan papa.

Pada saat pulang si dita bertanya pada papanya. Dita: Pah, mama sama adik kok tidak ikut.

Suami Febrytha: “Kok bisa begini hubungannya. Kok berat banget ya, bisa saya lepas begitu, berat … berat. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi ya berat ….  hanya bisa bilang berat…”

.

Di rumahnya yang baru Febrytha memiliki banyak pasien yang minta kesembuhan darinya.

Febrytha: “Dengan orang sembuh, saya ada kepuasan batin. Kepuasannya ya itulah, saya merasa … saya dihornati, saya ditakuti, karena setiap orang yang sudah mengalami kesembuhan dari tangan saya mereka semua hormat sama saya.”

.

Dita: “Doa terusa saja. Aku bilang sama Tuhan. Tuhan tolong temukan aku sama Mama Papa kembali.”

.

Suami Febrytha: “Pada saat saya menangis. Tuhan kuatkan lagi. Dita lagi yang menguatkan saya juga.”

.

Dita: Pah, papa harus berterimakasih kepada Tuhan Yesus.

Suami Febrytha: “Papa bisa kuat ya karena Tuhan Yesus. Jadi tenang aja jangan bingung … jangan sedih… Dia bilang, Pa yakin bahwa Tuhan Yesus akan mempersatukan kita lagi … mama akan pulang.”

.

Suami Febrytha: Kok Dika bisa bilang begitu.

Dika: Yakin aja Pa.

Suatu hari di rumah barunya Febrytha, istri tuanya Kusumo sedang bercakap-cakap dengan Kusumo. Tidak disengaja Febrytha mendengarkan percakapan mereka.

Istri tua Kusumo: Kok kita tidak pernah melakukan ritual lagi pa?

Kusumo: Nagapai kamu capek capek. Gak perlu kan ada si Feby.

Febrytha: “Ternyata, dia itu hanya menggunakan saya untuk kesempurnaan ilmunya dia sendiri. Jadi untuk apa yang namanya pernikahan itu dilanjutkan. Saya mau kembali ke kehidupan saya. Saya mau menebus segala kesalahan-kesalahan saya. Dan saya bicara juga kepada keluarganya bahwa saya sudah tidak mau lagi menjadi istrinya dia.”

.
Kemudian Febrytha kembali kepada suaminya yang lama.

Febrytha: “Saya merasa diri saya udah mau mati. Karena mengeluarkan darah dari mata itu tidak gampang daripada keluarin darah keluar dari kuping dan hidung. Karena saya hampir buta waktu itu. Dan seluruh badan saya itu diserang.”

.

Suami Febrytha: “Dia nangis … dan saya sangat senang.”

.

Febrytha: “Saya itu masih ingar anak saya sedang main saat itu yang pertama ada suatu pengucapan yang sebenarnya asal ngomong sih, ‘Kak, mama ini kenapa sih ? doain mama dong.’ “

.

Dika: “Waktu itu doanya aku mendoain mama supaya cepat sembuh. Tuhan tolong sembuhkan mama.”

.

Febrytha: “Saya bilang apa Tuhan masih mau menerima saya. Dia bilang tidak ada yang mustahil . Dosa apa sih yang sudah dilakukan di dunia ini. Saya sudah percabulan luar biasa. Saya mendidik orang-orang bahwa perzinahan itu sah, bahwa menyembah illah lain itu sah. Saya melihat diri saya sendiri itu nangis. Saya bilang, ‘Apa ada kesempatan bagi saya untuk berubah Tuhan ?’ ”

“Disitu ada panggilan bagi saya bahwa Aku nggak melihat kamu. Aku melihat hati kamu. Disitu ada suara sampai kapanpun kamu adalah anakKu. Dari situlah saya bertekat apapun konsekuensinya , bahkan saya harus matipun saya mau ikut Yesus.”

.

Suami Febrytha: “Dan akhirnya dia sembuh.”

.

Sumber:

Kisah Pertobatan Wanita Titisan Nyi Roro Kidul (Febrytha Claudya)

Febrytha: “Ada hati baru yang Tuhan kasih sama saya, yaitu hati kerinduan untuk melayani Tuhan. Saya bilang pada suami saya, saya berikrar saya akan memberantas kuasa kegelapan. Dan suami saya mendukung saya. Dari satu hamba Tuhan ke hamba Tuhan yang lain untuk mengalami pelepasan-pelepasan. Disitu saya lebih bisa merasakan luar biasa sekali hidup didalamTuhan.”

.

Suami Febrytha: “Dia itu sekarang sudah menjadi guru sekolah minggu.”

.

Febrytha: “Saya sekarang pelayanan didunia anak. Anak-anak inilah yang punya doa yang dahsyat sekali, bahwa dia … anak saya bisa memberi keselamatan kepada ibunya.”

.

Dita: “Tuhan terima kasih. Tuhan sudah mengabulan doaku.”

.

Febrytha: “Bagi saya Tuhan Yesus itu bukan Tuhan yang jauh. Bukan Tuhan yang jauh sama sekali. Dia nyata. Dia nyata, kasihNya, pandanganNya, perhatianNya, kasih sayangNya. itu tidak pernah lepas satu detikpun didalam hidup saya.”

.

—– Demikian kesaksian Febrytha Claudya

  • Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. – (Yohanes 6:37)
  • Aku dan Bapa adalah satu.” – (Yohanes 10:30)
  • Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. – (Yohanes 14:6)
  • Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” – (Roma 8:15)

Link berbagi:

http://wp.me/p6mxNc-15e

Salam kasih dan persahabatan. Tetap semangat dan saling mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan kita Yeshua Hamashiach memberkati. Amin.

Jago Aborsi Sejak SMA Aku Sudah Lakukan Aborsi 3X – Leni Maharani

Ketika pacarnya mengetahui bahwa Leni hamil, maka mereka bersepakat untuk menggugurkannya. Mereka berusaha dengan berbagai banyak cara untuk menggugurkan janin tersebut. Baik itu dengan jamu, anggur bahkan dengan kekerasan fisik. Pada saat itu Leni sangat senang karena pergaulan dengan pacarnya dapat sebebas mungkin. Semakin bebasnya bahkan Leni sudah melakukan aborsi selama 3 kali.

Kesaksian Leni Maharani. Sejak SMA aku sudah lakukan aborsi 3X. Indahnya Kasih Tuhan Yesus didalam hidup kami. Shalom, begini kisahnya :

Perhatian orang tua memang sangat penting bagi seorang anak. Kehilangan kasih seorang ibu angkat sudah dialami oleh Leni Maharani. Semenjak SMA, dirinya mulai kehilangan kasih sayang. Maka dari itu Leni mencari kasih sayang dari seorang pacar. Baginya melakukan apapun bagi pacarnya adalah pantas untuk dilakukan, asalkan pacarnya tidak akan meninggalkannya.

Adegan :

Ibu angkat Leni : “Leni … leni … leni … bangun sayang, mama mau pergi dulu ya. Mama ada urusan di luar kota. Jadi kamu tinggal sama tante kamu dulu. Semua uang jajan kamu udah mami transfer. Mama pergi ya … Kamu jangan nakal ya … daahhh …”

Leni : “Namaku Leni Maharani. Kejadian sewaktu aku ini mau diaborsi menjadi awal hidupku yang tertolak. Beruntung ada orang tua angkatku yang masih mengasuhku hingga saat ini. Karena diapun tidak perduli dengan kehidupanku saat ini.”

Pengakuan Leni :

“Saya suka gonta-ganti pacar ya. Walaupun masih cinta monyet gitu ya, senang-senang aja. Sebentar dibilang pacar si anu .. si anu … gitu ya … saya suka. Pokoknya intinya siapa saja yang perhatiin saya, saya akan deket ya sama dia.”

Adegan : … Leni dan pacarnya naik motor berkeliling dan suatu saat sang pacar memberikan Leni sekuntum bunga …

Leni : “Jadi ketika saya mendapatkan hal yang seperti itu, ketika saya mendapatkan kasih sayang, ketika saya mendapatkan perhatian, dan saya suka menjadi orang yang diperhatikan dan disayangi. Nah hal itu membuat saya rela melakukan apa saja demi pacar saya ini supaya dia tidak meninggalkan saya.”

Hampir setiap hari Leni pulang malam. Karena ibu angkatnya sibuk bekerja, maka Leni dititipkan kepada tantenya. Namun, perlakuan kasar sering diterima Leni dari tantenya. Meskipun Leni sering dipukul, dirinya tidak mau melawan ataupun menangis. Dia berusaha untuk terlihat kuat di depan tantenya.

Adegan : Saat itu Leni tinggal di rumah tantenya dan terlihat si Leni pulang kemalaman.

Tante Leni : “Oh jadi kamu barusan jalan ya sama pacar kamu yang berandalan itu ?” Terlihat si Leni terdiam sejenak. Kemudian si tante ini kembali berkata : “Eh, asal kamu tahu ya … tante itu disuruh mama kamu untuk jaga kamu. Tapi kalau kamu bandel pasti dia nyesel ngangkat kamu jadi anak. Dasar anak tidak tahu diuntung.” Kemudian terlihat adegan si tante memukuli Leni berkali-kali dengan keras pake sapu.

Leni :

“Ya, ketika, karena saya tidak berani melawan balik, jadi makanya saya bersikap diam dan ndak mau nangis gitu. Ya itu bagian dari sebuah bentuk perlawanan gitu ya, karena saya tidak berani melawan langsung. Jadi saya tidak mau terlihat lemah. Kalau saya nangis kan saya terlihat lemah gitu. Nah jadi saya bertahan gitu dan saya tahankan. Pokoknya saya tidak mau lihat saya nangis gitu.”

Karena pergaulan yang bebas dan tanpa kontrol, akhirnya Leni hamil. Ketika pacarnya mengetahui bahwa Leni hamil, maka mereka bersepakat untuk menggugurkannya. Mereka berusaha dengan berbagai banyak cara untuk menggugurkan janin tersebut. Baik itu dengan jamu, anggur bahkan dengan kekerasan fisik. Contohnya perut Leni diinjak oleh pacarnya. Sampai pada akhirnya usaha mereka berhasil dan berjalan dengan lancar.

Adegan :

Leni : “Bang, aku hamil …” Kemudian terlihat si abang atau pacar Leni termenung sejenak dikarenakan kaget, sehingga dia menghentikan pekerjaan-nya saat itu yaitu mencuci motornya.

Pacar Leni : “Kamu gila apa ? “

Melvin Silitonga (suami Leni) :

“Tentunya saya kaget karena sewaktu hamil yang pertama saya masih SMA, kelas 3 SMA waktu itu. Dan saya benar-benar belum siap menjadi seorang bapak gitu … dan saya merasa ya hidup saya masih panjang … masa depan saya masih panjang.”

Adegan :

Pacar Leni : “Kok bisa hamil sih ? Aduuhhhh …. jadi gimana ni … aku belum siap punya anak.” … Kemudian si pacar mengatakan lirih … “Kita gugurkan saja yuk …” Leni … terlihat kaget … dan mengangguk perlahan …

Melvin Silitonga : “Saya belum siap menikah. Sebabnya waktu itu ya saya putuskan ini harus digugurkan.” Kemudian Melvin meneruskan : “Kita melakukan banyak hal untuk bisa menggugurkan itu. Pada saat itu kita juga mencari jamu-jamu-an, apakah jamu buat sendiri .. atau jamu beli. Kita juga waktu itu kasih apa itu … minuman anggur. Satu botol saya paksa dia minum. Dan saya lakukan tindakan kekerasan fisik sama dia untuk menggugurkan kandungannya termasuk menginjak perutnya. ”

Leni : “Ya lemes gitu ya … ya sakit juga … gitu karena memang banyak darah yang keluar.”

Adegan :

Si pacar ini menginjak perut si Leni dan kemudian leni ke kamar mandi. Kemudian si pacar mengetok pintu kamar mandi tersebut. Terlihat si Leni keluar dan si pacar berkata : “Gimana … ?” jawab Leni … “Aku keguguran …”. Raut gembira terlihat di wajah si pacar sambil mengatakan … “Yes ….”

Kemudian …  Leni terlihat pulang ke rumah tantenya kemalaman. Ternyata si tante sudah menunggunya. Setelah Leni turun dari boncengan motor sang pacar maka disambut pertanyaan si tante.

Tante : “Eh, dari mana kamu ? Sudah malem tahu … mau jadi pela …. heh … ” Karena si Leni tidak memperdulikan perkataan si tante maka pukulan tangan alias tamparan mendarat di muka Leni.

Leni : “Begitu pacar saya pulang. Langsunglah saya dia pukul. Waktu saya sudah dipukuli dan saya sudah tersudut, akhirnya saya dengar dia panggil panggil … gitu … Leni … Len … buka pintunya … Akhirnya saya lari ke pintu dan saya bukain pintu … pacar saya masuk … akhirnya pacar saya dan tante saya yang berantem …. main fisik …”

Adegan :

Pacar Leni : “Berani lu nyakitin Leni … gua habisi lu …”

Karena sering pulang larut malam, tantenya sering memukulnya tanpa peduli apa yang terjadi pada Leni. Karena tidak tahan dengan perlakuan tantenya yang begitu kejam, maka Leni meminta kepada ibu angkatnya untuk mengontrak rumah sendiri.

Adegan : Leni : “Aku udah ndak sanggup lagi ma … ngadepin perbuatan tante …” …

Leni : “dan karena dia udah ndak ngerti lagi … karena saya udah terlalu bandel dan dia udah ndak ngerti lagi gimana harus mengatur saya ini supaya jangan pacaran dengan pacar saya … akhirnya dia tanya … ‘Jadi apa sekarang maumu ? ‘ ”

Adegan :

Leni : “Aku pengin nge-kost aja …”

Ibu angkat Leni : “Oke … jaga diri kamu baik-baik ya …”

Leni : “Ya mah …” … dengan senyuman lebar tersungging di pipinya …

Leni : “Pokoknya gimana caranya saya bisa pacaran terus dengan pacar saya.”

Pada saat itu Leni sangat senang karena pergaulan dengan pacarnya dapat sebebas mungkin. Semakin bebasnya bahkan Leni sudah melakukan aborsi selama 3 kali.

Leni : “Kehidupan kos-kos-an yang semakin bebas membuat saya semakin dalam terjerumus kedalam pergaulan yang bebas … bahkan … hal itu membuat saya terikat berkali-kali melakukan dosa aborsi … bukan hanya satu … tapi 3X saya melakukannya …”

Adegan :

Saat itu terlihat keduanya sedang makan. Si pacar makan dengan lahapnya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya si Leni angkat bicara.

Leni : “Aku hamil …”

Terlihat sang pacar masih asyik makan saja layaknya tidak mendengar perkataan si Leni. Karena gusar akhirnya si Leni menggebrak meja … Brakkkk … Setelah sekian lama terbisu, maka si pacar gantian angkat bicara.

Pacar Leni : “Ya udah …. nanti beli obat apa jamu yang biasa … kok repot amat …”

Namun, ketika Leni hamil ke 4 kali, dia merasakan ketakutan untuk melakukan aborsi.

Leni : “Namun yang ada dihati saya waktu itu … saya mulai ada rasa takut ya … dan walaupun saya ndak ngerti itu apa … pokoknya saya takut dan saya tidak mau aborsi lagi.”

Adegan : Leni : “Kalau kamu ndak mau tanggung jawab, ya udah kita pisah aja …”

Leni : “Bahkan saya berpikir ya … kasarnya … kalau saya harus menjadi pelacur ya ndak apa-apa lah … gitu … yang penting saya akan besari anak ini dan saya mau anak ini. Saya ndak mau menggugurkan lagi…”

Adegan :

Si pacar : “Oke … kita besarkan anak kita ya …”

Kemudian Leni mengangguk setuju …

Maka dari itu, dia dan pacarnya berniat untuk membesarkan anak itu. Akhirnya mereka berdua membesarkan anak itu walaupun usia mereka masih sangat muda saat itu. Karena susahnya mendapatkan pekerjaan akhirnya suaminya bekerja berjualan narkoba bahkan Leni rela untuk bermain judi. Mereka melakukan itu semua agar kehidupan mereka tidak menderita karena kekurangan uang.

Leni : “Kemudian pacar saya memutuskan untuk berdagang narkoba supaya kami bisa punya uang buat beli makan. Keadaan waktu itu sangat sulit sekali. Kondisinya ya itu … sering ndak punya uang. Kan harus makan … kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi ya … mana mau melahirkan. Ya belum dapat kerja. Jadi cara-cara seperti itu yang harus ditempuh supaya kita bisa punya uang.”

Leni : “Jadi karena saya pinter main kartu … akhirnya ya saya main judi supaya bisa dapetin uang. Walaupun dalam kondisi hamil tua saya tetap main kartu supaya bisa dapetin uang.”

Sampai suatu ketika, akhirnya suami Leni mendapatkan pekerjaan.

Adegan :

Pacar Leni : “Sayang aku pengin kasih kamu kabar.”

Leni : “Kenapa … Kamu jadi target operasi ?. Udahlah … jangan jual narkoba lagi. Biar aku yang kerja ya …” Kemudian si pacar menggemgam tangan Leni sambil mengucapkan …

Si pacar : “Tau ndak sayang aku dapet kerjaaannn ….”

Leni : “Oh ya …”

Setelah sekian lama waktu berlalu  ….

Disuatu meja makan ada si Leni dan anak perempuannya mau makan.

Anak Leni : “Mami aku laper …”

Leni : “Sabar ya sayang … kita tungguin papa pulang ya …”

Namun, sikap suami Leni berubah semenjak bekerja di kantor.

Adegan :

Leni : “Yee .. papa pulang … bang kita makan bareng yuk …”

Suami Leni : “Aku mau pergi sebentar … Ada bisnis sama teman aku.”

Leni : “Semenjak suami saya kerja, kok dia makin sibuk. Sibuk dengan pekerjaannya. Sibuk dengan teman-teman-nya. Dan akhirnya saya merasa saya kurang diperhatikan lagi. Kasih sayang ke saya itu jadi berkurang. ”

Adegan : Leni : “Kok kamu cuek banget sih sama aku sekarang ?”

Suami : “Kamu ini curiga terus. Kalau ada hasilnya toh kamu juga yang nikmati.”

Leni : “Jadi curiga jadinya. Oh jangan-jangan kenapa-napa gitu …. Ndak perhatiin. Paling ngeliat anak juga sebentar gitu … Emang dia ndak … ndak …. apa ya … kurang peduli lah jadinya …”

Adegan :

Suatu saat teman sekantor suami Leni bertandang kerumah. Rupanya mungkin si teman ini sedang mencari Melvin suaminya Leni.

Leni : “Silahkan diminum mas …”

Sang Tamu : “Oh jadi si Melvin belum pulang ya …”

Leni : “Saya juga kurang tahu mas. Akhir-akhir ini dia sering pulang terlambat.”

Sang tamu : “Apa masih nganter anak baru itu ya … ?”

Leni : “Anak baru siapa mas ???”

Sang tamu : “Di kantor ada anak baru … Dia sering diantar sama Melvin pulang.” Kemudian si tamu tiba-tiba pamit pulang … ‘Oh kalau begitu saya pamit pulang dulu ya. Bilang saja sama Melvin kalau saya tadi kesini.’

 Tidak lama …

Pertengkaran besar terjadi antara Leni dan Melvin…

Leni : “Kamu tega banget sih bang sama aku. Padahal aku kan udah berkorban banyak buat kamu.”

Melvin : “Yang selingkuh itu siapa ?”

Leni : “Ala … jangan pura-pura ndak tahu bang. Teman kamu bilang kamu ada main kan sama anak baru itu ?”

Dan ternyata, suaminya selingkuh dengan teman kantornya yang baru. Saat itu Leni merasa tidak mempunyai harapan hidup lagi.

Leni : “Kondisi rumah tangga kami pada waktu itu benar-benar diujung tanduk. Udah ndak ada jalan keluar. Ya … komunikasipun sudah ndak ada. Benar-benar udah ndak ngerti lagi mau apa ?” … “Kalau pada waktu itu saya udah ndak mikir ada harapan. Saya ndak ngerti lagi. Udah ndak tahu … udah ndak berpikir lagi la … akan ada perubahan. Saya berpikir ya udah … Berarti inilah nasib saya yang harus saya terima. Ya beginilah … ” …. “Semua yang sudah saya lakukan untuk menyenangkan hati pacar saya … ya saya sampai harus ninggalin keluarga, banyak hal … Banyak pengorbanan yang sudah saya buat. Nah itu ndak menjamin juga kalau dia akan membahagiakan saya selamanya.”

Sampai pada akhirnya, suami Leni mengajak ke sebuah komunitas gereja.

Adegan :

Disuatu komunitas gereja tampak ada suatu pertemuan dan ada seorang ibu yang mengatakan seperti ini :

Ibu : “Saya percaya semua itu karena kasih Yesus yang bisa memampukan, merubah hati suami saya.”

Peserta perempuan lain : “Wah … luar biasa ya Tuhan Yesus …”

Kemudian seorang perempuan memberi salam kepada peserta lain yang masih baru didalam komunitas tersebut :

“Selamat datang ya teman-teman semuanya. Selamat bergabung dalam komsel kita hari ini.” Kemudian mendadak perempuan itu menanyakan sesuatu kepada Melvin ..’Melvin … sama siapa itu Mel ?’ “. Kemudian Melvin menjawab : “Ini pasangan saya …” … Kembali perempuan itu bertanya kepada Leni : “Oh ya siapa namanya ?” Kemudian Leni menjawab : “Leni …”

Leni : “Ketika kami datang ke gereja ini, kami melihat komunitas di gereja ini sangat welcome. Mereka sangat bersahabat, peduli dengan kami. Kami merasa sangat … sangat diterima …”

 Adegan :

Kemudian si Leni bertanya sesuatu kepada seorang ibu yang tadi memberikan kesaksiannya. “Sudah berapa lama ibu mendoakan suaminya ?” tanya Leni. Kemudian si ibu menjawab “Kurang lebih 25 tahun.” Kemudian dengan sedikit kaget si Leni bertanya balik : “Kok bisa sabar ibu melakukan hal itu ?”. Si ibu balik menjawab : “Kuncinya satu … yaitu kita harus selalu dekat dengan Yesus.”. Si Leni mengulang sebagian perkataan ibu itu … “Yesus ….”

Leni : “Ya di komunitas gereja ini mereka banyak share tentang pribadi Yesus ya … mereka bilang bahwa ‘Yesus itu mengasihi saya … Yesus itu mengasihi kami …’ Nah itu bikin hati saya penasaran. Selama ini saya tidak terlalu banyak belajar tentang Firman Tuhan. Ndak terlalu banyak tahu. Akhirnya membuat saya jadi kepingin tahu. Akhirnya saya jadi rajin baca Firman dan saya semakin haus untuk mencari tahu pribadi seperti apa sih sebenarnya Yesus ini ? Apakah benar seperti yang mereka bilang ? Saya mau lihat buktinya.”

Kemudian di hari-hari berikutnya Leni dengan tekun membaca Alkitab. Dan rupanya Leni begitu terpaku dengan isi Mazmur 139 : 13 -14.

Leni : “Disitu tertulis bahwa Tuhan sudah menjadikan saya sejak semula. Bahkan Dia menenun saya di rahim ibu saya hari lepas hari. Bahkan ketika saya belum lahir Dia sudah menyediakan buku kehidupan saya. Dia sudah mempersiapkan rencana yang terbaik buat hidup saya. Dan itu membuat saya benar-benar merasakan bahwa …. ya saya sangat dikasihi. Saya memang sangat spesial.” … “Tuhan bukan tanpa tujuan melahirkan saya ke dunia ini.” (ungkap Leni sambil menangis).

Adegan :

Terlihat pasangan hidup Leni (Melvin) sedang mengemasi pakaian. Sepertinya dia hendak pergi. Tidak jauh dari tempat itu si Leni sedang bergegas pula ke rumah itu. Pada saat Melvin masih mengemasi pakaian tersebut, terlihat anak perempuan-nya berada di belakang sambil menatap Melvin, mungkin bertanya : “Sedang apa papaku ini ?”

Leni : “Ternyata ada suatu pribadi yang selalu peduli dengan saya. Bahkan saya tidak tahu hal itu. Disaat saya tidak tahu ternyata dia ada disitu. Dia memperhatikan saya, dan dari situ saya sadar bahwa ini ternyata … Ini ternyata maksud-nya Tuhan. Kenapa Dia mengijinkan semua hal-hal yang begitu mengecewakan di masa lalu saya. Supaya saya bisa bertemu dengan Pribadi-Nya.”

Adegan :

Tidak lama kemudian Leni sampai ke rumah. Setelah dia masuk kedalam rumah, dia hanya menjumpai anak perempuannya saja yang masih kecil. Kemudian Leni bertanya kepada anaknya “Papa kemana sayang ?” Kemudian Leni memeluk anak perempuannya sambil berkata “Maafkan mama ya sayang. Mungkin kalau mama mau maafin papamu semua ini ndak akan terjadi. Mama terlalu egois. Hanya berharap kepada kalian. Padahal kasih yang abadi ada didalam Yesus. Yang justru harus mama bagikan kepada kalian.” …… Kemudian tanpa disadari ternyata suaminya belum pergi dan masih berada didalam kamar. Kemudian Melvin berkata “Makasih sayang … akhirnya kamu ada hati untuk maafin aku.”

Mereka berdua merasakan perubahan hidup yang luar biasa. Mereka merasakan damai sejahtera. Bahkan, mereka menemukan kasih Yesus yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Semenjak saat itu, pemulihan keluarga sangat mereka rasakan. Kemudian keluarga mereka diteguhkan.

04_Leni_Internet_JPG

Leni : “Sebagai sebuah peneguhan kalau saya pernah aborsi 3X dan saya cuma punya punya anak 3 itu kan sepertinya seri ya … sama. Tapi Tuhan kasih 1 lagi gitu. Sekalipun kamu melakukan 3 dosa tapi aku memberikan kepadamu 4 anugerah. Itu peneguhan buat saya gitu. ”

Dan kini mereka dikaruniai 4 orang anak.

Sumber : Leni Maharani

http://www.jawaban.com/read/article/id/2015/01/15/75/150115162739/Sejak-SMA%2C-Aku-Sudah-Lakukan-Aborsi.

Solusi – Sejak SMA, Aku Sudah Lakukan Aborsi (Leni Maharani)

“ Bahkan seandainya karena kesalahan saya dimasa lalu saya berpikir ‘Tuhan seandainya Engku memberikan kepada kami anak cacat, itu memang wajar karena dosa kami di masa lalu’. Tetapi Tuhan itu baik, Dia memberikan 4 anak-anak itu yang luar biasa, cantik, ganteng dan pintar. Nah itu kan suatu hal yang berbanding terbalik dengan dosa yang saya lakukan.”,

—– Demikian ungkap Leni mengakhiri kesaksiannya dengan sukacita.

  • Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:13-14).

Link berbagi via bbm, dll : http://wp.me/p6mxNc-O

Salam semangat. Tetap mengasihi sesama manusia. Tuhan Yesus memberkati dan menguatkan kita semuanya. Amen.

Napi Kabur dan Bertobat Masuk Kristen | Erwin Baharudin

Banyak orang yang berpendapat bahwa seorang narapidana adalah sampah masyarakat. Itu pula yang sempat dirasakan oleh Erwin Baharudin. Namun ternyata saat menjalani masa hukuman, Tuhan justru menariknya dan pemulihan pun terjadi dalam hidupnya. Awalnya, penjara tidak membawa banyak perubahan dalam diri Erwin. Namun karena harus mengikuti serangkaian kegiatan, maka Erwin pun terpaksa mengikuti pembinaan kerohanian. Pada suatu ketika, salah seorang pembina rohani menawarkan diri untuk menjadi ayah Erwin. Sesuatu yang selama ini sangat dirindukan oleh Erwin.

Kesaksian Erwin Baharudin. Pertobatan seorang napi. Shalom, begini kisahnya :

Adegan ini diawali pada tahun 2003 Erwin yang kala itu sedang menjalani masa hukuman sepuluh tahun karena kasus narkoba di Lembaga Permasyarakatan (LP) Banjai Bandung nekad kabur dari penjara bersama beberapa temannya dengan melompati pagar.

Erwin Baharudin memulai kisahnya :

“Pelan-pelan saya intip. Dengan rasa takut saya itu, saya coba memberanikan diri. Itu kalau seandainya narapidana ketahuan kabur, naik ke atas tembok, itu akan langsung ditembak. Mati ditempat,” Erwin memulai kisahnya.

Nekad adalah jalan satu-satunya bagi napi untuk bisa melarikan diri. Aksi nekad Erwin dan teman-temannya itu pun sukses, Erwin akhirnya bisa kembali ke rumahnya. Kepada keluarga

Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB Erwin kembali ke rumahnya. Setelah mengetok pintu maka muncul-lah adik Erwin bernama Irwan.

Erwin : “Saya bertemu dengan adik saya yang beberapa tahun tidak pernah ketemu dengan saya. Dengan rasa kangen maka saya katakan kepada adik saya : ‘Abang sayang sama kamu.’ ”

Irwansyah (Adik Erwin) : “Saya senang melihat dia. Selama saya tidak ketemu saya terpisah dengan saudara saya.”

Adegan :

Irwan : “Saya dengar abang masih ditahan ?”

Erwin : “Abang udah bebas. Sekarang abang capek. Abang mau mandi dulu. Jangan lupa tutup pintunya ya.”

Irwan : “Ya bang.”

Erwin mengaku mendapat keringanan hukuman. Namun belum lama dia melepas rindu dengan keluarganya, sebuah siaran berita di televisi memberitakan perihal kaburnya beberapa narapidana yang salah satunya adalah Erwin.

Adegan :

Penyiar televisi : “Pemirsa, tadi malam ada beberapa narapidana yang telah berhasil melarikan diri. Saat ini pihak berwajib telah mendapatkan hasil identifikasinya. Salah satunya bernama Erwin Baharudin.”

Irwansyah : “Ternyata dia itu bukan bebas resmi. Abang saya ini berarti kabur.”

Adegan :

Erwin : “Kok kalian pada menangis ?”

Irwansyah : “Kenapa abang kabur …. ?”

—- “Adik saya menangis …. “, kenang Erwin.

Erwin : “Saya tanya adik saya kenapa kamu menangis ? kemudian adik saya mengatakan ‘Saya takut abang ditembak mati. Karena abang telah melarikan diri dari penjara. Abang pasti ditembak mati.’ ”

Ibu Erwin : “Erwin … sebaiknya kamu kembali kesana nak …”

Keluarganya pun sangat sedih dan meminta Erwin untuk menyerahkan diri agar tidak ditembak mati.

“Karena saya benar-benar sayang sama dia, saya serahin dia. Karena yang pasti kalau saya serahin dia, saya akan bisa ketemu lagi dengan dia,” kisah adik Erwin.

Demi adik yang sangat disayanginya, dengan sangat berat hati Erwin mau menyerahkan dirinya kembali.

Adegan :

Erwin : “Maafkan Erwin bu …”

Namun sesampainya di penjara, Erwin pun harus memetik buah perbuatannya.

“Habis saya dipukul. Saya habis dianiaya disana. Apabila narapidana itu melanggar aturan, atau melarikan diri, maka akan mendapat konsekuensinya,” ungkap Erwin.

Erwin pun dipindahkan ke ruangan isolasi, namun ternyata di tempat itu Erwin mendapat sebuah pengalaman yang aneh.

“Di ruang isolasi itu saya tidur, saya bermimpi. Saya berjalan di jalan yang gelap begitu, terus saya mau melangkah kemana?” Erwin mengisahkan mimpinya.

Masih dalam alam bawah sadarnya, Erwin mendengar ada suara yang memanggilnya ‘Erwin, Erwin, kemarilah, ini aku ayahmu’. “Karena saya mau meraba jalan itu juga nggak tahu, tapi saya mendengar suara yang ngomong sama saya. “Erwin, Erwin, kemarilah, ini aku ayahmu”” kisah Erwin yang kemudian langsung terjaga dari tidurnya.

“Saya sampai berpikir waktu saya sadar dari tidur, apakah bapak saya yang ada di luar sana sudah meninggal?” Erwin pun kemudian kembali terkenang akan masa kecilnya bersama keluarganya.

Erwin mengisahkan masa lalunya :

“Bener-bener waktu itu orangtua memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada kami. Kami sebagai anaknya merasa bangga melihat orangtua pulang,” ungkap Erwin.

Namun ternyata tanpa mereka sadari kedua orangtuanya kerap berselisih paham. Bahkan suatu ketika pertengkaran itu tidak lagi bisa ditutupi. Mereka bahkan tidak menghiraukan teriakan anak-anaknya yang meminta mereka untuk berhenti bertengkar. “Mereka tidak mendengarkan perkataan kakak saya, mereka tetap saja lanjut. Lempar sana lempar sini,” kisah Erwin.

Pertengkaran kedua orangtua Erwin memicu sumber api. Kakak pertama Erwin berusaha memberikan peringatan tentang nyala api tersebut, namun orangtuanya tidak juga sadar sampai akhirnya api tersebut melahap sebagian besar rumah mereka. Kejadian tersebut akhirnya menjadi awal perceraian kedua orangtua Erwin.

Karena harus bekerja di luar kota, ibu Erwin menitipkan Erwin ke rumah tantenya. Hal ini menjadi awal pemberontakan Erwin. “Saya merasa hidup ini nggak adil buat saya. Saya merasa saya dibuang, saya merasa saya diasingkan,” Erwin menceritakan perasaannya ketika berpisah dari keluarganya.

Di rumah tantenya, Erwin kerap mendapat perlakuan yang tidak baik. Dia pun makin merasa bahwa tidak ada yang peduli dengannya. Akhirnya Erwin kecil memilih untuk tinggal di jalanan dan mencari uang dengan caranya sendiri.

“Lugunya saya, saya nggak tahu dan saya lihat teman saya memakai lem. Akhirnya saya juga ikutan mencoba,” ungkap Erwin yang akhirnya kecanduan menghirup lem.

Memang benar pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Makin beranjak dewasa, Erwin makin terlibat berbagai tindakan kriminal. “Jadi dengan saya mengonsumsi lem, dengan obat-obatan itu, saya seringkali berantem dengan orang,” kisah Erwin yang kemudian tega menikam lawannya dengan pisau sampai tewas. Erwin pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Namun di sinilah Erwin bisa bertemu dengan kedua orangtuanya dan langsung disambut dengan amuk ayahnya. Pada kesempatan itu, Erwin sengaja meminta ayah dan ibunya untuk rujuk kembali dengan alasan agar dirinya tidak mengulang perbuatan yang sama. Namun hal itu tidak diindahkan keduanya, mereka justru sibuk saling menyalahkan. Erwin pun terbakar emosi dan meminta kedua orang yang disayanginya itu untuk pergi.

“Memang saya waktu itu memang sengaja agar orangtua saya melihat hidup saya seperti ini. Di luar kesadaran saya, saya cuma ingin orangtua saya itu kembali lagi bersama,” kisah Erwin yang kemudian mengaku kesal dengan sikap kedua orangtuanya.

Beranjak dewasa, Erwin makin terjebak dalam berbagai tindak kejahatan.

“Pada saat saya bebas dari penjara itu, saya semakin menjadi-jadi. Saya merasa bangga saya bebas dari penjara,” ungkap Erwin.

Suatu ketika, Erwin bertemu dengan seorang teman yang dikenalnya di penjara. Orang tersebut memperkenalkan Erwin dengan seorang bos yang mengajak Erwin bekerja sama. Erwin mendapat tawaran sejumlah uang jika dirinya mau menjadi kurir narkoba. Erwin pun mengambil kesempatan ini untuk bisa mendapat banyak uang. Disinilah awal profesi Erwin sebagai bandar narkoba.

Pengakuan Erwin : “20 gram sabu-sabu, terus dikasih 200 butir inex, itu awal pertama saya menjadi bandar. sehingga suatu saat saya ditangkap oleh polisi.”

Nasib mujur tidak selalu berpihak pada Erwin, suatu ketika dia dan teman-temannya ditangkap oleh polisi tanpa bisa melawan. Awalnya, Erwin mendapat hukuman seumur hidup namun setelah melewati serangkaian proses pengadilan, vonis yang diberikan pun berkurang menjadi sepuluh tahun.

Awalnya, penjara tidak membawa banyak perubahan dalam diri Erwin. Namun karena harus mengikuti serangkaian kegiatan, maka Erwin pun terpaksa mengikuti pembinaan kerohanian. Pada suatu ketika, salah seorang pembina rohani menawarkan diri untuk menjadi ayah Erwin. Sesuatu yang selama ini sangat dirindukan oleh Erwin.

Status Erwin sebagai narapidana membuatnya ragu, apakah orang tersebut serius untuk mengangkatnya sebagai anak.

Erwin : “Saya mau tanya, kamu mau tidak jadi anak saya ? dia bilang begitu. ya saya mau-mau saja pak. Ya kalau kamu mau peluk saya. Nah saya dipeluk sama beliau.”

Namun setelah kembali meyakinkannya, Erwin pun menerima tawaran orang itu dan memeluknya. Sukacita pun dirasakan keduanya. Orang itu kemudian membisikan, bahwa dirinya menyayangi Erwin seperti Tuhan menyayangi Erwin untuk selamanya.

Pak Daniel Alexander : “Bapak sayang kamu seperti Tuhan menyayangi kamu untuk selama-lama-Nya.”

“Saya merasa, seperti memang benar-benar ayah saya sendiri. Lewat pak Daniel Alexander itu, saya benar-benar merasakan kasih Tuhan nyata kepada saya,” ucap Erwin.

Erwin : “Saya mulai berpikir dan mengerti maksud Tuhan seperti apa. Yang pengin Tuhan inginkan saya mengikuti proses-proses yang benar. Yesus itu tidak menutup mata buat saya. Banyak yang dia lakukan buat saya. Dengan kehidupan saya yang kotor. Dengan kehidupan saya yang tidak benar atau dibilang sampah masyarakat. Tuhan mau memeluk saya dan Tuhan mau menganggap saya sebagai anak-Nya. Yang dahulu saya harapkan yaitu kasih sayang dari kedua orang tua saya, saudara-saudara saya, atau dari siapapun semuanya itu sudah terbayar semuanya oleh Kasih Tuhan yang sudah mengangkat saya sebagai anak-Nya. Dan benar-benar Tuhan itu ada, nyata buat saya. ”

Erwin kemudian menjalani sisa masa hukumannya dengan menaruh pengharapannya kepada Tuhan. Bertahun-tahun dia menanti dan berdoa, sampai akhirnya pada 2007 Erwin mendapatkan pembebasan bersyarat.

“Saya merasa sukacita sekali. Saya itu benar-benar sudah dimerdekakan oleh Tuhan, dan saya merasa bangga kalau doa-doa saya itu didengar oleh Tuhan. Saya tidak akan mau melihat ke belakang lagi, saya mau melihat ke depan,” ungkap Erwin.

Perubahan besar yang terjadi pada diri Erwin juga disaksikan oleh keluarganya. “Perilaku dia, semua itu yang dulu hilang. Dia lebih rajin ibadah, lebih rajin baca Alkitab, dia sering memberitahu orang jika melakukan sesuatu yang tidak benar,” ungkap Irwansyah, adik Erwin.

“Saya akan memberikan pola hidup yang positif dan bermutu buat Tuhan,” janji Erwin.

Setelah menjalani masa hukuman, Erwin kembali ke masyarakat dan membangun sebuah rumah tangga. Ia berusaha menjadi suami yang baik dan teladan bagi anak-anaknya.

Erwin Baharudin_Internet_JPG

Sumber Kesaksian : Erwin Baharudin

http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/120801191507/limit/0/Kisah-Nyata-Erwin-Baharudin-yang-Pernah-Kabur-dari-Penjara.html

Kesaksian Ksah Nyata Erwin, Kriminal yang Kabur dari Penjara

Catatan : Kalau saudara/i perhatikan ada film-film tertentu di Youtube yang hilang tapi beruntung ada pihak-pihak lain yang mau meng-up-load kembali dengan judul yang berbeda tetapi isinya sama.

“Saya benar-benar bahagia dan bangga untuk berumahtangga dengan dia. Dia suami yang bertanggung jawab, sayang sama keluarga, sayang sama anak,” begitu kesaksian Siti Mariam, istri Erwin.

“Saya akan berusaha memberikan kebahagiaan buat istri dan anak saya. Saya akan memberikan contoh kepada anak saya, biar dia tidak melihat bapaknya yang dulu. Terutama saya ingin menyenangkan hati Tuhan,” Erwin menutup kesaksiannya.

—- Demikian Erwin mengakhiri kesaksiannya …

  • Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (Yesaya 43:4,18-19).
  • Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11).

Link berbagi: http://wp.me/p6mxNc-v

Tetap semangat menjalani hidup ini. Selalu mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Selalu mengimani rancangan Tuhan yang luar biasa ada didepan kita. Tuhan Yesus pasti memberkati. Amen.