Arsip Tag: Titisan Nyi Roro Kidul

Pertobatan Titisan Nyi Roro Kidul – Febrytha Claudya

Saya merasa diri saya udah mau mati. Karena mengeluarkan darah dari mata itu tidak gampang daripada keluarin darah keluar dari kuping dan hidung. Karena saya hampir buta waktu itu. Dan seluruh badan saya itu diserang.

Pertobatan Titisan Nyi Roro Kidul – Febrytha Claudya. Kisah Pertobatan Wanita Titisan Nyi Roro Kidul (Febrytha Claudya). Shalom, begini kisahnya:

Nama saya Febrytha Claudya. Malam ini saya ingin mengungkapkan sisi yang paling gelap didalam hidup saya.

.

Saat saya berumur 6 tahun, dengan pengasuh saya, saya melihat sosok aneh berbentuk ibu-ibu .. nenek-nenek.

.
Febrytha kecil: Bibi … Bibi … ada nenek ….
Bibi: Nenek … mana ? nggak ada kok. nggak ada nenek. Bilang aja kamu nggak mau mandi.

20 tahun kemudian … Suatu malam yang dingin …

Febrytha: “Saya tidur … tiba-tiba ada yang bangunin saya. jam 2-3 malem saya melihat ada ulat melilit di korden saya. Dan ada ular lagi satu besar melilit badan suami saya. Setelah itu ular itu melilit anak saya yang laki-laki. Saya didatangi seorang perempuan. Ya dari situ saya lihat wajahnya. Dia berselendang warna biru. Ikut saya … dia bilang.”

.

Febrytha berjalan mengikuti perempuan itu diiringi ular besar dibelakangnya… Didepan sebuah kaca ada telepon dan disebelahnya ada korden yang bergerak-gerak seperti terkena tiupan angin …

Febrytha: “Saya melihat seorang perempuan dan ular.”

.

Tiba-tiba sang pembantu muncul dan menepuk pundak sang majikan.

Febrytha: Saya melihat seorang wanita dan ular.Pembantu: Dia itu bukan wanita sembarangan.

Febrytha: “Saya lihat ibu itu bukan orang biasa. Nah disitulah saya terpacu untuk mengetahui dia itu siapa.”

.
Pembantu: Yang datang sama ibu adalah …

Tiba-tibe telepon berbunyi … Sang pembantu kemudian mengangkat telepon itu …

Pembantu: … Hallo …. Oh … Mas Kusumo …

Febrytha: Siapa … Pembantu: Kakak saya.

Sang pembantu kemudian memberikan telepon itu kepada Febrytha … Kemudian Febrytha menerima telepon itu.

Febrytha: Hallo …

Febrytha: “Akhirnya saya dikenalkan sama kakaknya pembantu saya.”

.

Suara dibalik telepon (Kusumo – kakak sang pembantu): Kamu adalah titisan Nyai Roro Kidul.

Pembantu: Ibu mau gak saya buka jasadnya?

Febrytha: Ya, saya mau.

Febrytha: “Dia baca doa. selang 10 menit, saya ngaca … saya lihat diri saya ….”

.

Febrytha: Haa … aaa. aaa…

Kemudian telepon itu terjatuh …

Febrytha: “Itu bukan diri saya. Saya melihat saya memakai mahkota … Rambut panjang dan saya bertaring. Dan saya sempat ketakutan melihat diri saya.”

.

Sang suami datang dan bertanya: Ada apa ini ?

Febrytha: “Disitulah ada suatu peristiwa yang tidak pernah saya alami bahwa ada rasa lapar yang luar biasa yang saya rasa. Mulut saya itu pengin ngunyah bayi, sampai suami saya ketakutan untuk dekat sama saya.”

.

Kemudian sang suami mengambil telepon itu dan berkata: Hallo, ada apa dengan istri saya ?

Suara Kusumo: Tidak apa-apa. Dia hanya perlu kembang.

Suami: “Minta kembang, bunga mawar. Akhirnya saya beli … itu saya cari di luar.”

.

Suami: Mbak tolong jagain ibu ya …

Pembantu: Baik pak … baik.

Pembantu: Sabar ya bu … tenang. Sebentar lagi bapak juga datang.

Tidak lama kemudian sang suami datang dan membawakan sebungkus besar kembang mawar. Setelah diberikan kepada istrinya, kembang itu dilahapnya dengan rakus.

Febrytha: “Akhirnya setelah saya makan, itu nikmatnya tidak pernah saya tidap pernah rasa dalam hidup saya. Saya bilang, ‘Badan saya tidak pernah terasa enak seperti ini.’ “

.

Febrytha: “Biasanya ritual saya itu paling sedikit 5 kali sehari.”

.

Didalam ritual itu suatu suara mengatakan kepada Febrytha, ‘Anak perempuanmu itu membawa sial.’

Anak perempuan Febrytha (Dita): “Aku tanya mama lagi ngapain. Begitu mamah langsung marah-marah. Bilang jangan diganggu.”

.

Suara didalam pikiran Febrytha berkata, ‘Singkirkan dia !’

Terlihat anak perempuannya yang bernama Dita sedang mendatangi Febrytha dan menanyakan sesuatu…

Febrytha: Dita jangan ganggu mama. Keluar !

Febrytha: “Anak perempuan saya itu buat sial didalam ilmu saya.”

.

Dita: “Sedih.”

.

Febrytha: “Makanya dari itu setiap saya ritual, kalau saya diganggu, apakah suara anak nangis, atau ada suara lain, saya marah sekali.”

.

Suatu saat ada telepon … dari Kusumo

Kusumo: Kalau kamu ingin menguji ilmu kamu, maka kamu cari orang yang sakitnya parah.

Febrytha: Baik.

Febrytha: “Orang yang di kampung itu bilang, Kalau ibu mau menguji ilmu ibu, cari orang yang penyakitnya parah.”

.

Febrytha: Pah, saya harus menemui orang.

Febrytha: “Dan kebetulan teman suami saya itu orang medan. Ayahnya tidak bisa jalan selama dua tahun.”.

.

Teman medan: Bapak saya masih sakit.

Febrytha: “Saya masih ingat kata-kata yang saya lontarkan saat saya tepuk tanah itu. Saya bilang hai pasukanku, pergi kesana, lepaskan ikatan-ikatan yang ada pada kaki-kaki laki-laki itu.”

.

Terlihat Febrytha merapal mantera dan menepuk tangannya diatas lantai …

Febrytha: “Nah selang beberapa jam, dua tiga jam itu ada kabar dari medan.”

.

Papa teman di medan: Papa sudah sembuh

Teman dari medan: Papa sudah sembuh

Suami Febrytha: Sudah sembuh ? Ma, sudah sembuh.

Febrytha: Oooo …

Febrytha: “Dan mereka sekeluarga berterima kasih sama saya sampai mereka panggil saya inang yang terhormat … terima kasih. Orang itu bilang belum ada paranormal yang bisa sembuhkan.”

.

Febrytha menelpon Kusumo: Orang itu sudah sembuh

Kusumo: Tidak ada paranormal yang lebih hebat dari kamu.

Febrytha: “Dan disitulah akar kesombongan saya timbul.”

.

Kusumo: Supaya kamu lebih sakti lagi dan lebih banyak menolong orang, kamu harus menikah dengan saya. Itu sudah takhir kita. Kamu adalah ratu dan aku adalah pangerannya.

Febrytha: Baik … baik kalau begitu.

Febrytha: Pah, saya harus menikah dengan mas Kus.

Suami Febrytha: “Saya pengin teriak … pengin … ya selayaknya manusia normal ya. Saya sakit sih.”

.

Febrytha: “Saya waktu itu sempat mengeluarkan statement ama dia kalau kamu nggak setuju saya potong leher anak kamu yang perempuan.”

.

Suami Febrytha: “Ya, saya lebih takut sama dia. Karena dia bisa melakukan apa yang nggak biasa dilakukan.”

.

Disuatu tempat terjadi peristiwa aneh, yaitu ada prosesi akad nikah antara Febrytha dan Kusumo …

Febrytha: “Suami saya datang menjadi wali dan dia pulang bersama putri saya.”

.

Suami Febrytha: “Putri saya Dita bertanya, ‘Papa, kita berdua pulang ?’ “

.

Dita: Padahal mama udah menikah dengan papa.

Pada saat pulang si dita bertanya pada papanya. Dita: Pah, mama sama adik kok tidak ikut.

Suami Febrytha: “Kok bisa begini hubungannya. Kok berat banget ya, bisa saya lepas begitu, berat … berat. Saya tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi ya berat ….  hanya bisa bilang berat…”

.

Di rumahnya yang baru Febrytha memiliki banyak pasien yang minta kesembuhan darinya.

Febrytha: “Dengan orang sembuh, saya ada kepuasan batin. Kepuasannya ya itulah, saya merasa … saya dihornati, saya ditakuti, karena setiap orang yang sudah mengalami kesembuhan dari tangan saya mereka semua hormat sama saya.”

.

Dita: “Doa terusa saja. Aku bilang sama Tuhan. Tuhan tolong temukan aku sama Mama Papa kembali.”

.

Suami Febrytha: “Pada saat saya menangis. Tuhan kuatkan lagi. Dita lagi yang menguatkan saya juga.”

.

Dita: Pah, papa harus berterimakasih kepada Tuhan Yesus.

Suami Febrytha: “Papa bisa kuat ya karena Tuhan Yesus. Jadi tenang aja jangan bingung … jangan sedih… Dia bilang, Pa yakin bahwa Tuhan Yesus akan mempersatukan kita lagi … mama akan pulang.”

.

Suami Febrytha: Kok Dika bisa bilang begitu.

Dika: Yakin aja Pa.

Suatu hari di rumah barunya Febrytha, istri tuanya Kusumo sedang bercakap-cakap dengan Kusumo. Tidak disengaja Febrytha mendengarkan percakapan mereka.

Istri tua Kusumo: Kok kita tidak pernah melakukan ritual lagi pa?

Kusumo: Nagapai kamu capek capek. Gak perlu kan ada si Feby.

Febrytha: “Ternyata, dia itu hanya menggunakan saya untuk kesempurnaan ilmunya dia sendiri. Jadi untuk apa yang namanya pernikahan itu dilanjutkan. Saya mau kembali ke kehidupan saya. Saya mau menebus segala kesalahan-kesalahan saya. Dan saya bicara juga kepada keluarganya bahwa saya sudah tidak mau lagi menjadi istrinya dia.”

.
Kemudian Febrytha kembali kepada suaminya yang lama.

Febrytha: “Saya merasa diri saya udah mau mati. Karena mengeluarkan darah dari mata itu tidak gampang daripada keluarin darah keluar dari kuping dan hidung. Karena saya hampir buta waktu itu. Dan seluruh badan saya itu diserang.”

.

Suami Febrytha: “Dia nangis … dan saya sangat senang.”

.

Febrytha: “Saya itu masih ingar anak saya sedang main saat itu yang pertama ada suatu pengucapan yang sebenarnya asal ngomong sih, ‘Kak, mama ini kenapa sih ? doain mama dong.’ “

.

Dika: “Waktu itu doanya aku mendoain mama supaya cepat sembuh. Tuhan tolong sembuhkan mama.”

.

Febrytha: “Saya bilang apa Tuhan masih mau menerima saya. Dia bilang tidak ada yang mustahil . Dosa apa sih yang sudah dilakukan di dunia ini. Saya sudah percabulan luar biasa. Saya mendidik orang-orang bahwa perzinahan itu sah, bahwa menyembah illah lain itu sah. Saya melihat diri saya sendiri itu nangis. Saya bilang, ‘Apa ada kesempatan bagi saya untuk berubah Tuhan ?’ ”

“Disitu ada panggilan bagi saya bahwa Aku nggak melihat kamu. Aku melihat hati kamu. Disitu ada suara sampai kapanpun kamu adalah anakKu. Dari situlah saya bertekat apapun konsekuensinya , bahkan saya harus matipun saya mau ikut Yesus.”

.

Suami Febrytha: “Dan akhirnya dia sembuh.”

.

Sumber:

Kisah Pertobatan Wanita Titisan Nyi Roro Kidul (Febrytha Claudya)

Febrytha: “Ada hati baru yang Tuhan kasih sama saya, yaitu hati kerinduan untuk melayani Tuhan. Saya bilang pada suami saya, saya berikrar saya akan memberantas kuasa kegelapan. Dan suami saya mendukung saya. Dari satu hamba Tuhan ke hamba Tuhan yang lain untuk mengalami pelepasan-pelepasan. Disitu saya lebih bisa merasakan luar biasa sekali hidup didalamTuhan.”

.

Suami Febrytha: “Dia itu sekarang sudah menjadi guru sekolah minggu.”

.

Febrytha: “Saya sekarang pelayanan didunia anak. Anak-anak inilah yang punya doa yang dahsyat sekali, bahwa dia … anak saya bisa memberi keselamatan kepada ibunya.”

.

Dita: “Tuhan terima kasih. Tuhan sudah mengabulan doaku.”

.

Febrytha: “Bagi saya Tuhan Yesus itu bukan Tuhan yang jauh. Bukan Tuhan yang jauh sama sekali. Dia nyata. Dia nyata, kasihNya, pandanganNya, perhatianNya, kasih sayangNya. itu tidak pernah lepas satu detikpun didalam hidup saya.”

.

—– Demikian kesaksian Febrytha Claudya

  • Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. – (Yohanes 6:37)
  • Aku dan Bapa adalah satu.” – (Yohanes 10:30)
  • Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. – (Yohanes 14:6)
  • Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” – (Roma 8:15)

Link berbagi:

http://wp.me/p6mxNc-15e

Salam kasih dan persahabatan. Tetap semangat dan saling mengasihi sesama manusia apapun keyakinannya. Tuhan kita Yeshua Hamashiach memberkati. Amin.