The Torn Veil – Bab 10 Hubungan Persaudaraan

Bab 10. Hubungan Persaudaraan

Bulan Desember tiba bersamaan dengannya datanglah masa persiapan untuk hari Natal. Bagian terbesar anak-anak itu akan pulang ke rumahnya, tapi ada beberapa yang tinggal. Jadi kami membuat dekorasi di ruangan makan dengan menempatkan sebuah pohon dengan menghiasinya dan membuat sebuah palungan sehingga terpancar rasa ingin tahu mengenai ceritera yang sederhana perihal bayi Kristus yang datang bagi wajah-wajah yang berbahagia dan bersukacita. Bagiku peristiwa ini juga merupakana suatu pengalaman – cicipan pertama bagiku untuk pesta Kristiani ini. Rasanya sesuai dengan bunyi nyanyian yang telah sering saya nyanyian waktu itu.

“Betapa tenangnya, betapa tenangnya, anugerah yang ajaib dikaruniakan, demikianlah Allah menanamkan kedalam hati manusia berkat-berkat Surgawi.”

Tidaklah mengherankan bila orang-orang yang belum menjadi Kristen karena belum lagi diperkenalkan kepada sumber imannya juga mendapatkan berkat dengan nyanyian natal ini, apakah dalam bentuk hidangan ayam kalkun dan puding buah prem atau ayam pilau atau nasi manis. Kesukacitaan Natal menerobos semua batas penghalang.

Segera sesudah hari Natal saya mendapat kunjungan dari seorang tamu yang tidak kuharapkan membawa berita yang sangat buruk. Iparku, Blund Shah dari Rawalpindi datang ke sekolah menemui saya. Ia berdiri di ruang tamu, kelihatan lelah dan hancur hatinya serta memberitahukan padaku bahwa kakakku Anis sakit keras di Gujarat, di tempat mana ia telah tinggal selama 3 bulan di sebuah bungalow yang disewa, karena mendapatkan perawaan dokter keluarga selama masa mengandungnya yang menemui kesulitan lalu dari sana telah dimasukkan ke rumah-sakit. Bayinya meninggal dan para dokter di rumah-sakit tidak dapat menghentikan pendarahannya.

“Ia sedang dalam keadaan yang mendekati kematian dan berulangkali selalu memanggil-manggil namamu. Dapatkah kau langsung pergi kesana bersamaku sekarang? Saya membawa mobil diluar.”

Permintaan ini merupakan suatu panggilan pulang yang tidak dapat kutolak. Sebuah pintu yang kukira tertutup untuk selamanya kini terbuka. “Oh Kakakku yang malang, tentu saja saya mau datang, tapi pertama-tama saya harus minta ijin dulu”. Saya mohon diri dan meninggalkan ruangan itu. Suatu bisikan kecil terdengar di dalam telingaku berkata: “Ia telah mati waktu kau tiba disana nanti. Percuma saja membuang-buang waktu kesana. Mereka tidak memperkenankan kau memberi kesaksian. Malah bisa saja mereka mencegahmu kembali kesini.”

Sebelum menghadap kepala sekolah, saya pergi kekamarku dan berdoa. Jawabannya kuterima dengan jelas: “Pergilah menjumpainya. Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya agar hidup”. Saya meminta ijin untuk 2 hari, diperkenankan, lalu kumasukkan beberapa barang kecil kedalam tasku. Kami berangkat jam 5 sore. Setelah berkendaraan selama 3 jam, kami tiba dirumah di Gujarat dimana kami disambut dengan berita yang sangat menduka-citakan. “Ia telah meninggal”, kata dokter kakakku, ny.Khan. “Ia meninggal pada jam 7 malam. Ia telah banyak kehilangan darah.” Saya masuk ke ruangan dimana kakakku dibaringkan. Terlihat wajahnya menjadi kuning kelabu, kurus dan bibirnya biru. Suaminya berderai air mata dan dengan penuh simpati dipapah keluar ruangan itu oleh salah seorang keluarga. Ruangan itu penuh dengan orang-orang berkabung anggota keluarga dan tetangga – berita kematian itu menjalar dengan cepat dan orang-orang segera berdatangan untuk memberi penghormatan bagi almarhumah.

Saya berlutut dan menangis disisi tempat tidur itu. “Yesus”. kataku dalam hati. Engkau berkata bahwa ia akan hidup. Apa yang harus kulakukan? Ia sudah meninggal.

Saya melanjutkan doaku, “Yesus, Engkaulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Perbuatlah Mujizat ini dan bangkitkanlah dia”. Saya berdoa seperti ini sampai timbul keyakinan dalam diriku yang sangat kuat bahwa Yesus telah berkata: “Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya dan hidup”. Jadi saya berdoa: “Tuhan, hidupkanlah dia sehingga saya dapat bercakap-cakap dengannya sebentar tentang Engkau”. Kemudian, sesudah beberapa waktu lamanya saya mendengar suatu suara berkata : “Ia tidak mati. Ia hidup. Aku telah memberikan kehidupan padanya”.

Mendengar ini saya berdiri dan berkata kepada orang-orang disitu, “Kenapa anda semuanya menangis? Ia tidak mati – ia hidup”. Mereka menjadi ketakutan. “Ia gila. Masukkan dia kedalam kamar yang satu disana. Pintunya dikunci dari luar”.

Mereka mendorongku keluar dan lalu dimasukkan kedalam sebuah kamar tidur kosong. Saya mendengar pintu itu dikunci dari luar. Kini, saya benar-benar mejadi seorang yang dipenjarakan. Saya selanjutnya berdoa: “Tuhan bagkitkanlah kakakku, sehingga mereka dapat percaya bahwa ia hidup.” Waktu itu mereka mulai melakukan tahap-tahap akhir mempersiapkan jenazah. Tubuh kakakku telah dimandikan dan pakaiannya sudah diganti. Dia akan dimandikan lagi tapi tidak pada malam hari. Jadi kira-kira jam 8 pagi barulah terdengar bunyi anak kunci, palang pintu dibuka dan saya dibebaskan untuk memberi penghormatan terakhir bagi kakakku. Saya berdiri disamping tempat tidurnya bersama wanita-wanita lainnya. Istri “Maulvi” membacakan “Kalmas” bagi jenazah itu lalu bersama 3 wanita lainnya maju kedepan untuk mengangkat jenazah itu agar dimandikan buat terakhir kalinya. Saya melihat ada tanda kemerah-merahan pada tangan dan kakinya…..tanda kehidupan, tanda adanya darah…….Sesudah itu mereka hendak membalut tubuh kakakku dengan sehelai kain lalu menempatkannya kedalam sebuah peti.

Tiba-tiba kakakku menggerakkan lengannya, membuka matanya, langsung duduk dan memandang sekelilingnya dengan heran. “Apa yang terjadi ?” Orang-orang berteriak, berjatuhan. Beberapa orang mencoba lari ke ruangan itu. Terjadi kepanikan luar biasa. Saya memeluk Anis dan ia bergantungan padaku. Orang-orang datang kembali. Lalu mereka semua memandang kepadaku. “Apa yang telah kau lakukan? Bagaimana mungkin seorang yang sudah mati duduk kembali ?” .Hatiku penuh diliputi dengan sukacita serta suatu perasaan dalam kebesaran Allah, lalu saya berkata sambil tersenyum: “Tanyakan padanya apa yang telah terjadi”. Lalu Anis berceritera dengan lembut yang merupakan ciri khasnya. “Jangan takut padaku. Saya hidup”.

Suaminya bersama imam mauvi serta muazin dari mesjid datang berlari-lari masuk karena mendengar kejadian yang menggemparkan itu. Mauvi menumpangkan tangannya keatas kepala kakakku dan bertanya, “Batti, ceritakanlah yang sebenarnya padaku. Apa yang terjadi? Apa yang berlaku padamu? 14 jam yang lalu anda meninggal !Kami sedang mempersiapkan pemakamanmu!” Ia berkata, “Saya tidak mati !” Dokter perempuan itu ada disana. “Anda telah meninggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan padamu,” tegasnya. “Saya tidak mati, saya sedang tidur !” kata kakak perempuanku. “Dalam tidurku saya bermimpi bahwa saya sedang menaiki sebuah tangga dan pada puncak tangga itu : ada seorang laki-laki memakai jubah putih mengenakan sebuah mahkota emas dan ada satu cahaya keluar dari dahinya. Saya melihat tangannya diatas saya dan terlihat suatu cahaya memancar dari tangannya itu. Ia berkata: Aku Yesus Kristus, Raja diatas segala Raja. Aku akan mengirim engkau kembali dan pada waktu yang ditentukan Aku akan membawamu kesini lagi.”

Lalu saya membuka mataku.Hal ini diceritakannya dengan wajah yang memancarkan sukacita. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan kegembiraan dan sukacita dalam keluarga kami. Saya mempergunakan kesempatan ini untuk menceritakan kepada siapa saja yang mau mendengarkan tentang Nabi yang penuh dengan pekerjaan mujizat itu. Yang lebih besar dari sekedar seorang nabi-Yesus. Bahkan suami Anis, yang merupakan salah seorang yang dulunya sangat menentangku pada awalnya, sekarang berkata bahwa karena doakulah maka istrinya telah dapat hidup kembali.

“Siapakah Nabi Besar ini, yang telah kau lihat ?” tanyanya sesudah 3 hari para tamu pulang. Saya mengambil Al-quran dan menunjukkan padanya tulisan-tulisan tentang Yesus dalam surah Maryam. Kemudian saya menunjukkan padanya dalam Alkitabku kisah tentang kebangkitan Lazarus dalam Johanes 11 : 43 – 44. “Sekarang, apakah kakak percaya bahwa Yesus dapat membangkitkan orang mati?”. Dikatakan disini bahwa Ia memanggil Lazarus : “Keluarlah! dan iapun keluar”. Dengan perlahan ia menjawab: “Ya, Saya percaya mujizat ini dari nabi Isa anak Maryam. Istriku memperoleh kembali kehidupannya untuk yang kedua kalinya.” Kelihatannya ia cukup senang dan menerima apa yang kujelaskan padanya. Pada diri Anis justru terjadi perubahan yang sangat besar. Bagiku ia selalu merupakan seorang kakak yang sangat saling mengasihi dengan saya, tapi kini dalam dirinya terlihat pancaran sukacita dan damai. Saya mendengarkan dia berceritra pada Mauvi dan istrinya segala seuatu tentang visinya dengan Yesus dan saya perhatikan bahwa mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun sesudah itu mereka mulai melirik padaku dengan perasaan tidak senang. “Ceritakanlah lebih banyak lagi tentang Yesus.” bisiknya pada salah satu kesempatan singkat waktu kami sempat sendirian saja. Jadi saya memberikan padanya sebuah kitab perjanjian baru kecil dan ia berjanji akan membacanya walaupun ia merasa bahwa ia memerlukan seseorang membantunya agar dapat mengerti. Ia memulai dengan Injil matius dan saya jelaskan bagaimana Yesus lahir demikian pula asal usulnya. “Teruslah berdoa untukku. Saya akan tetap setia terhadap apa yang telah kusaksikan sehingga saya dapat mengikut Dia yang telah memberi hidup padaku”, katanya, “Saya sudah menikah, karena itu saya membutuhkan lebih banyak dukungan doa”. Mataku penuh dengan airmata. Saya dapat memahami posisinya dengan sebaik-baiknya. Dengan semua kejadian ini, saya telah menempatkan “sunrise” dibelakang pikiranku, tapi tiba-tiba saya menyadari bahwa saya harus kembali. Yang sebenar-benarnya, saya begitu ingin pergi dan menceritakan kepada orang lain tentang mujizat-mujizat ini.

Ketika saya berangkat dengan bus kembali ke Lahore. Anis meremas-remas tanganku dan berkata, “Pintu rumahku terbuka untukmu. Kapan saja engkau mau, kau dapat kembali. Bahkan bila keluarga-keluarga lainnya tidak sudi lagi melihatmu, saya tetap melihatmu.”

Begitu bus bergerak keluar dari stasiun Gujarat dimuati penumpang baik dari pedalaman maupun dari kota, maka saya duduk merenungkan jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kunjunganku, sekarang makin menghilang seolah-olah mimpi bahagia dibelakangku. Satu hal yang harus kugaris-bawahi – saya tetap mencintai keluarga-keluarga itu dengan dunia mereka, tapi saya tidak dapat lagi hidup didalamnya. Saya adalah seorang jemaah, bukan pada perjalanan menuju ke Mekah, tapi pada satu perjalanan yang benar-benar langsung menuju kepada Allah melalui Yesus. “Sunrise” telah merupakan bagian dari perjalanan jemaahku. Sewaktu bus bergerak dengan cepat sepanjang jalan ke Lahore saya berharap-harap untuk bertemu dengan anak-anakku yang buta itu kembali. Namun kami semua tidak menyadari bahwa saya telah melakukan satu kesalahan besar. Pihak yang berwewenang di sekolah berkata demikian ketika saya menghadap kemudian, katanya sekarang ijinku telah lewat tiga hari. “Engkau meminta ijin dua hari dan telah kau ambil selama 5 hari.” Terjadi suatu tanya-jawab yang menyedihkan dan saya diberhentikan tanpa beroleh kesempatan yang layak untuk memberi penjelasan. Saya menyerahkan alasan-alasanku kepada Allah dan biarlah Dia yang menjadi hakimku.

Beberapa menit kemudian saya telah berdiri di pinggir jalan Ravi dibawah sebuah tiang listrik; masih terpukul dan heran serta bingung terhadap kejadian-kejadian yang sebegitu mendadak. Saya merasa lapar – waktu makan siang sudah lewat dan saya belum lagi makan sesuatu sejak sarapan pagi-pagi sekali. Cuaca dingin dan berawan. Mungkin saja hari akan segera gelap waktu itu. Teringat olehku bahwa tukang cuci masih menyimpan beberapa potong pakaian dan peralatan tempat tidurku yang belum sempat dikembalikannya padaku. Wajah anak-anak kecil yang buta dan sabar muncul dihadapanku dan airmataku menitik. Mereka tidak akan mendengarkan lebih banyak ceritra dari Ba-jinya. Dan sayapun mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Saya tidak memiliki uang cukup kecuali sedikit yang diberikan kakakku tadi pagi. Saya berdiri disitu kebingungan sambil menyadari bahwa tempat itu ada di daerah sunyi dan bagi seseorang yang baru murtad dari agamanya, tidak dapat mengharapkan banyak perlindungan di sini.

“Bapa” seruku kepada Allah, menyerahkan nasibku kedalam tanganNya. “ada orang-orang baik dan jahat dikota ini. Apakah ada sesuatu tempat bagi anakMu ini? Tunjukkanlah kepadaku kemana saya harus pergi.” Langsung jawabannya kuketahui: “Kembalilah ke Gujarat” .Saya masih mempunyai cukup uang buat ongkosnya. Saya naik bus jam 2 sore pindah ke tonga dan membuat kakakku terkejut. Ia memelukku dan berkata dengan bahagia, “Saya begitu gembira kau kembali. Sekarang kau akan membantuku untuk mengerti tentang Alkitab itu. Bahkan Blund Shah merasa girang melihat saya kembali karena dapat menemani istrinya.”

Kakakku merasa rindu dan anak-anaknya, dua putri masing-masing 8 dan 5 tahun yang tinggal di Rawalpindi bersama kakek-neneknya. Iparku juga berada disana untuk mengawasi perusahaan busnya dimana ia termasuk sebagai pemegang sahamnya. Jadi, selama satu periode waktu, kakakku dan saya mendapat kesempatan yang menyenangkan dalam satu jalinan tali-persaudaraan yang baru tanpa ada suatu hambatan. Laksana dua anak domba, kami mencari dan memakan rumput di padang hijau dari Firman Allah dan kelihatan jelas bahwa kakakku mengalami perubahan sepanjang tahap belajar yang dialaminya dalam kehidupan yang baru. Ia tidak lagi terlalu “main perintah” terhadap para pembantunya dan kadang-kadang melakukan sendiri sesuatu pekerjaan. Ia malah menyuruh para pelayan makan lebih dulu seraya berkata, “si miskin mempunyai hak lebih dahulu”. Ia telah menemukan Firman, “Hargailah orang lain lebih dari dirimu sendiri.” Ketika saya bertanya padanya untuk merasa yakin tentang dorongan apa yang memotivasinya,ia menjawab, “jadi bila esok saya meninggal saya akan tahu dimana saya berdiri, karena saya berusaha untuk menjadi salah seorang dari hambaNya yang setia.”

Hal yang menggembirakan ialah : reaksi para pembantunya. “Sejak Bibi kami hidup kembali, kelakuannya sudah seperti malaikat,” kata mereka kepadaku. Mereka malah bekerja lebih giat lagi untuknya, melayaninya dengan sepenuh hati. Kepadaku mereka menunjukkan perasaan hormat yang dalam. Suatu hari ia menanyakan padaku tentang baptisan dan mendengarkan penjelasanku dengan bersungguh-sungguh mengenai artinya. Kukatakan padanya, “Penting artinya bagimu agar dikuburkan bersama Yesus Kristus dalam Baptisan jika kakak benar-benar menginginkan kehidupan. Ketika kita di Baptiskan, tubuh, jiwa dan roh kita dibersihkan, disucikan dan kita menjadi umatNYA.”

Lalu katanya, “Saya mau di Baptiskan karena sekarang saya sudah menjadi orang Kristen.” Dalam hatiku telah berubah dan saya mau melangkah lebih jauh lagi ke depan”.

Perasaanku gembira bercampur kuatir. Apakah ia menyadari sepenuhnya akan apa yang dihadapinya nanti karena mengambil langkah ini? Saya telah membayar mahal untuk pembaptisanku. Tapi Anis bersikeras, “Hatiku akan sangat berdukacita jika tidak dibaptiskan katanya, saya tidak beragama Islam ataupun Kristen.” Saya akan berada diluar katanya tegas dan saya mempertimbangkan hal ini. Apakah hakku untuk menolak menolongnya? Tapi segera saya lihat bahwa saya tidak dapat mencarikan bantuan dari seorang pendeta Kristen. Karena ini akan mengundang bahaya dari keluarga Blund Shah jika tidak dari pihak lain lagi. Saya harus melaksanakan upacara itu sendiri.

Suatu sore kami meminta pembantu mengisi bak mandi dari semen yang dalam itu dengan air hangat dan menyediakan beberapa helai handuk serta pakaian bersih. Lalu kami memintanya meninggalkan tempat itu. Kulihat lirikan matanya yang penuh tandatanya kearah kami ketika kami mentutup kamar mandi itu. Saya berdiri bersama Anis didalam air dan bertanya padanya apakah ia mengaku percaya kepada Yesus Kristus. Ia menjawab, “Sekarang saya menguburkan tubuhku yang lama dan menjadi baru di dalam Yesus Kristus dan saya akan setia”. Lalu saya membaptiskan dia dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dan menyerahkan dia ke dalam pemeliharaan Allah. Waktu itu adalah suatu saat kemenangan. Sesudah itu Anis berkata kepadaku bahwa ketika ia berdoa rasanya seperti diangkat ke atas seakan-akan memakai sayap malaikat dan melihat dalam sebuah visi orang-orang berdiri mengelilingi dan memuliakan Yesus.

Bagaimanapun saya mulai belajar bahwa bila saya merasakan sukacita atas sesuatu maka saya harus berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap aktivitas kuasa-kuasa gelap yang jahat dan peristiwa inipun tidak terkecuali. Iparku mendengar tentang baptisan itu, Saya kira si pembantu itu yang memberitahukan sesuatu padanya dan ia menanyakan pada kakakku tentang apa yang kami lakukan. Anis kelihatan takut, “Ia menanyakan tentang hal itu semalam dan kujelaskan padanya apa arti Baptisan itu. Sekarang ia marah ia tidak menghendaki ataupun mau mengerti tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan salib itu. Saya tidak dapat menjelaskan padanya saya kira ia mencari kesempatan untuk beragumentasi denganmu. Tolong, janganlah membuatnya marah sebab bila demikian ia dapat mengusirmu.”

Saya mencoba menunjukkan pengertianku yang mendalam terhadap iparku namun akhirnya saya tidak dapat menghindari terjadinya sesuatu perdebatan dengan dia.

Ia menantangku untuk menjelaskan padanya perbedaan antara pembaca Al-quran dengan Alkitab. Tentu saja saya harus mengatakan padanya bahwa Yesuslah yang merupakan perbedaannya Ia adalah Jalan, kebenaran dan hidup. “Membaca alkitab itu baik, tetapi tentang salib itu tidak baik!”, kata Blund Shah. “Bahkan dalam Alkitabmu dikatakan bahwa seseorang yang terkutuk saja yang akan mati disalib, jadi bagaimana mungkin seseorang yang dikutuk dapat memberi hidup pada orang lain !” Ia terlihat memandang kearahku dengan perasaan menang. Ia merasa bahwa saya terperangkap. Justru inilah merupakan pembukaan yang kuperlukan, saya membacakan kepadanya 1 Kor 1 : 18, Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Ia tidak berkata apa-apa dengan berapi-api saya bacakan untuknya Joh 1 : 29, Lihatlah Anak Domba Allah, Yang menghapus dosa dunia. Kakakku duduk mendengarkan, matanya menatap jauh ke depan, tidak ikut campur. Saya menjelaskan pada iparku mulai dari Taurat. Dari akar-akar keislamannya dan menjelaskan bagaimana korban-korban darah sebagai pengganti manusia telah diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahim tapi setelah Yesus. Korban-korban ini tidak lagi diperlukan. Saya menunjukkan padanya mengenai hal ini dari kejadian 22 : 11-12. “Jangan Bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia”. Lalu dari Johanes 12 : 32, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKU”. Saya katakan kepadanya bahwa karena pengorbanan Yesus dikayu salib maka dosa-dosa kita diampuni. Penebusan yang sempurna dan lengkap.

Kujelaskan padanya bahwa mulanya saya menemukan pembacaan tentang hal ini dalam Al-quran lalu memperoleh pengertian yang lebih mendalam di Alkitab. Kuceritakan padanya mengenai para Nabi yang menubuatkan tentang kedatangan Kristus. Kepadanya juga saya utarakan bahwa Alkitab bukannya hanya sebuah buku melainkan firman Allah yang Hidup dan bahwa apapun yang saya hadapi dalam hidup ini dapat saya jumpai pertolongan untuknya dalam Alkitab. Saya menutupnya dengan Kisah Para Rasul 4:11-12, “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Di ruangan duduk depan waktu menunjukkan jam 10 pagi dan ia duduk disana kelihatannya terpesona. Kemudian ia sadar akan dirinya dan menatapku dengan seksama. “Apakah kau bermaksud menjadikan saya seorang Kristen juga? Kau tinggal disini dan makan dari mejaku, lalu memandang rendah akan kepercayaan Islam dengan cara sedemikian ini? Sekarang keluar dari sini dan kali ini jangan kembali lagi !”

Kakakku menyelipkan sedikit uang padaku seraya berbisik, “Jangan kembali ke Lahore. Pergilah ke Rawalpindi dan saya akan menemanimu bila saya datang kesana”. Ia memberikan sebuah alamat sahabat keluarga kami yang penting padaku, juga anggota Syiah, dimana suaminya adalah seorang pejabat tinggi pemerintah. Wanita ini memegang beberapa posisi penting dalam lembaga-lembaga sosial, perhubungan dengan perbaikan nasib wanita agar dapat memberikan pada mereka kedudukan yang lebih baik lagi. Mungkin ada lowongan pekerjaan padanya yang diberikan bagiku.

Ini merupakan kabar baik. Saya harus mendapatkan sesuatu pekerjaan. Jadi saya kembali ke stasiun bis dengan naik tonga dan pindah ke sebuah bis menuju Rawalpindi. Tiga setengah jam kemudian saya sudah naik sebuah tonga lain lagi dan saya diturunkan di depan gerbang sebuah rumah tinggal yang mengesankan di jalan Peshawar.

Saya mengirim sebuah nota menyebut namaku dan nama ayahku sehingga nyonya yang saya cari itu dapat mengetahui bahwa saya adalah sahabat dekat keluarga dan dapat mengingat siapa saya ini sebenarnya. Sesudah dipersilahkan saya masuk melewati gerbang tinggi yang dikelilingi dinding sambil merasa bahwa ini adalah langkah yang benar dan percaya akan hasilnya yang baik nanti.

Kembali ke buku utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: