The Torn Veil – Bab 12 Godaan

Bab 12. Godaan

Bila kukenangkan kembali maka rasanya masa yang kualami ketika tinggal bersama kakak dan iparku di Pindi merupakan salah satu dari waktu paling bahagia di dalam hidupku setelah menjadi Kristen. Anis selalu menyenangkan hatiku, suaminya berlaku baik dengan cara yang lemah lembut. Sekali lagi saya menjadi bagian dari keluargaku dan diperlakukan dengan kasih dan perhatian.

Ada pembantu di rumah itu, 2 atau 3 pembantu wanita, masing-masing seorang klerk, koki, dan sopir. Anak lelaki koki bekerja di kebun. Saya tidak perlu lagi menjahit atau membersihkan meja. Kini saya dibutuhkan menjadi pengasuh gadis-gadis cilik dan saya lakukan hal ini seperti dilakukan Anis terhadapku dahulu – menceritakan kisah-kisah kepada mereka. Peranan yang sangat menyenangkan. Pada waktu yang sama saya merasakan bahwa saya memperhatikan para pembantu dengan simpati – bagaimana mereka melaksanakan tugas rumah tangga – mencuci piring, lantai, pakaian, menggosok, menyetrika, membersihkan, mengkilapkan, mengeluarkan debu, mengangkat-angkat, menyusun, memisah-misahkan dan menata kembali. Saya merasa berterima kasih pada semua orang atas pelayanan mereka. Saya tidak merasa rugi karena perasaan ini malah menyebarkan kebahagiaan.

Kakakku dan saya makin dekat satu sama lain, kini bersaudara dalam Kristus. Tiap hari kami menggunakan waktu 2 atau 3 jam mempelajari Alkitab. Dalam waktu singkat Anis mendapatkan satu fakta sebagai kesimpulannya : dia dapat memahami isi Alkitab padahal sulit baginya untuk memahami Kitab Suci lainnya. Ditulis di dalam bahasa sendiri dan tidak ada misteri tentang Alkitab itu. Seseorang dapat membacanya sebagaimana halnya dengan membaca buku biasa, mengenal dari sudut pandangan lain tentang beberapa kejadian yang dikenal baik oleh umat Islam maupun umat Yahudi, tapi di sini ada satu kelebihan, yaitu kuasa Kebenaran yang sejati. Kakakku berkata, “Kata-katanya indah sekali, kata-kata ini mendatangkan penghiburan.” Ia mengenang anaknya yang telah meninggal.

Saya berkata, “Kata-kata ini nyata dan merupakan Firman dari Bapa kita yang di surga. Apapun yang anda rasakan, kita akan mendapatkannya di sini, apakah itu susah atau senang. Yang terutama adalah kita yakin bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni dan agar kita mengikut Yesus dari hari ke hari.” Katanya, “Saya rasa Dia ada di sini bersama kita sewaktu kita berbicara tentang Dia.” Kutunjukan padanya ayat , “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” ( Matius 18:20 ).

Waktu kita berdoa Dia mendengarkan. Guru kita selalu menyertai kita. Kita dapat mengerti karena RohNya memimpin kita.

Blund Shah tidak merasa gembira atas perhatian baru dari isterinya ini. “Jangan kau katakan kepada setiap orang bahwa Kristus telah membangkitkan engkau dari mati, kau diam saja !” pesannya kepada kakakku. Kelihatannya kakakku tidak begitu memperdulikan peringatan suaminya. Demi kepentingannya saya menjaga untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang lain bahwa saya seorang Kristen, walaupun bila langsung ditanyakan kepadaku biasanya saya bercerita tentang visi dan penyembuhanku, dan kisah ini umumnya tidak memancing pertanyaan mereka lagi. Anis dan suaminya mempunyai banyak kaum keluarga atau teman, dan setiap hari ada saja tamu yang berjamu di bungalownya yang menyenangkan itu. Dalam sebuah rumah tangga Shiah, diatur dengan keras agar apapun yang terjadi di bagian lain dari dunia Islam, di sini pembagian mendasar atas jenis kelamin tetap dipatuhi. Tamu pria dan wanita walaupun tiba bersama-sama harus duduk di bagian serambi yang terpisah atau ruangan tamu yang berbeda. Adakalanya bagiku sebagai seorang Kristen, merasa tidak sabaran atas pemisahan hubungan manusia seperti ini, terutama sebagaimana yang kuketahui bahwa di dalam suatu persekutuan di mana Kristus mempersatukan umatnya maka kehidupan dapat berjaland engan baik sekali tanpa adanya pemisahan seperti ini. Tetapi di negara kami yang didirikan atas ajaran agama, maka setiap segi kehidupan sosial kami menggunakan tolak ukur ajaran-ajaran agama dan tafsiran-tafsirannya.

Dalam kehidupan kota, dampak pemisahan ini lebih banyak dirasakan dan makin jelas bagiku dibandingkan dengan yang kurasakan di Jhang, karena Jhang terletak di pedalaman dan masih jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan kota. Sebahagian dari diriku berfungsi sebagai penilai, bagiannya yang lain menikmati kesenangankesenangan masa lalu bersama teman-teman wanita, bercakap-cakap sesama wanita tanpa diganggu oleh kehadiran seorang pria pun.

Hatiku tenang rasanya mendengarkan semua ceritera yang terperinci mengenai siapa yang kawin dengan siapa, anak mana yang sakit dan yang mana yang sehat, apa yang dipelajari mereka di sekolah serta jurusan pekerjaan apa yang mereka ambil. Kini gadis-gadis juga mengikuti pendidikan, beberapa diantaranya malah ke perguruan tinggi, namun kemudian menghadapi kenyataan bahwa bidang pekerjaan bagi mereka tidaklah mudah diperoleh dan tidak selamanya disenangi.

Seorang anak perempuan nantinya dapat menjadi seorang dokter wanita atau guru bagi anak-anak perermpuan atau pun menjadi perawat. Makin sulit bagi mereka untuk masuk ke lingkungan kerja bersama para pria seperti di kantor. Namun untuk menahan agar anak-anak perempuan tetap belajar di rumah, makin sulit rasanya bagi para keluarga karena begitu banyak pemuda yang menunda-nunda perkawinannya selama mengikuti pendidikan di luar negeri.

Selalu ada kontradiksi antara syariat agama dengan kepentingan duniawi, seperti yang terjadi sebelum ini. Nah, masalah-masalah ini sekarang dihadapi oleh banyak keluarga – mereka menyalahkan pengaruh barat yang telah mengikis tolak ukur yang telah ada dan mengalihkannya sehingga berubah menjadi cara yang lebih dipilih untuk mendapatkan kebahagiaan – memetik impian yang paling muluk, masa depan yang terbaik bagi anak-anak lelaki mau pun perempuannya.

Saya mendengarkan dengan lebih sadar daripada dulu bahwa impian-impian seperti itu merupakan kuncup-kuncup yang mudah retak, dengan mudah dapat diterbangkan dengan angin kencang. Tekanan-tekanan semacam itu tidak akan mudah terhapus. Waktu itu kami menyadari betapa sulapan logika kehidupan dapat berproses menjadi suatu ledakan terhadap logika agamawi bila keadaan seperti ini terjadi berkali-kali dalam skala yang besar.

Anis menyatakan jalan pikiranku ini dalam kata-katanya yang sederhana, “Mereka cemas tentang masa depan anak-anaknya, tapi bagi mereka sendiri kemanakah tujuan hidupnya ?” Baginya, suatu kehidupan yang tidak memiliki tujuan yang pasti tanpa Kristus seringkali merisaukannya. Merasakan kembali duduk-duduk pada kedua sisi ‘prudah’ menujukan kepadaku betapa kuat dan mantapnya dasar yang telah kutemukan dalam hidupku. Kebahagiaanku kini tidaklah tergantung pada terpenuhinya ambisi pribadiku, tapi terletak pada melakukan kehendak Allah. Karena itu tidak sesaatpun saya membiarkan diriku membayangkan bahwa masa tenang ini akan berlangsung terus, dan memang begitulah yang terjadi.

Dalam bulan Nopember kuketahui bahwa iparku untuk periode tertentu akan pergi ke Lahore, karena urusan dagangnya.

  • “Kita semua harus pergi,” kata Anis, “dan kita harus tinggal di rumah Alim Shah.”
  • Saya kaget mendengar berita ini, ” Baiklah tapi maaf, saya tidak dapat ke Lahore bersamamu, saudara kita Alim Shah berkata kepadaku bahwa pintu rumahnya tertutup bagiku karena saya telah mengingkari agama Islam.”
  • Wajah kakakku merengut seperti seorang anak yang mau menangis, “Saya memerlukan doamu dan saya juga memerlukan bantuanmu. Jika Alim Shah tidak mau menerimamu maka saya akan menyewa bungalow lain dan saya akan tinggal bersamamu.”
  • “Dan apa tindakan suamimu nanti, saya rasa ia akan menceraikanmu.” Saya memeluknya dan setuju untuk pergi bersama mereka. Kami akan melihat bagaimana penerimaan kakak lelakiku nantinya terhadapku.

Jadi, pada tanggal 28 Nopember jam 4 sore, kami berangkat dengan sebuah mobil dan barang – barang diangkat dengan truk.

“Saya sangat senang berjumpa denganmu. Kau diterima dengan senang di rumahku, selamat datang.” Yang berbicara ini adalah kakakku Alim Shah. Saya tidak mempercayai pendengaranku, seolah-olah pembicaraan yang tidak menyenangkan hati di telepon tidak pernah terjadi.

Keluarga itu menumpang sementara bersama Alim Shah sampai mereka mendapatkan sebuah rumah. Saya mendapat sebuah kamar enak dan seorang pembantu diberikan kepadaku untuk membantuku. “Saya tahu kamu mempunyai kawan-kawan di sini”, kata kakak lelakiku dengan tak terduga sama sekali, “kepada sopirku sudah kukatakan agar membawamu ke mana saja yang kau kehendaki.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, tapi dalam hatiku saya merasa tidak tenang, hal itu rasanya terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Ketika hari Minggu tiba, saya meminta sopir membawa saya ke gereja Methodeist di jalan Warris. Pendeta menjabat tanganku di depanku dan jemaat menyambutku dengan cukup ramah, tetapi tidak ada yang menyapa, Apa Kabar ? Kemana saja selama ini ? Apakah anda memerlukan sesuatu ? Karena itu saya tidak menceritakan pada seorang pun tentang kesulitanku tetapi mempercayakannya kepada Allah seperti biasa untuk pemecahannya.

Empat bulan kemudian, pada suatu malam di bulan Mei, saya sedang berdoa di kamarku sambil duduk di kursi dengan Alkitab terbuka di lututku. Saya mendengar bunyi gerakan kaki dan membuka mataku. Di seberangku, Almin Shah sedang memperhatikanku dengan tersenyum. Ada suatu tekanan perasaan terbersit padaku dan entah mengapa saya sampai membayangkan Harimau pada waktu itu.

  • “Kuharap engkau merasa bahagia di rumahku,” katanya dengan suara yang sangat mengasihi.
  • “Kuharap engkau merasa cocok dengan Istriku dan senang dengan anak-anakku. Kuharap para pembantu tidak menyebabkan suatu masalah apapun atasmu.””Saya sangat bahagia di sini ,” jawabku sepenuh hati.
  • “Kami sangat mencintaimu, dan kami mau kau tinggal bersama kami untuk kebaikan kita. Sebenarnya saya sedang mengurus pembangunnan sebuah bungalow bagimu di Goldberg (tempat ini adalah bagian tepi kota yang modern bagi golongan yang cukup kaya, letaknya kira-kira 10 km dari sini). Ia melanjutkan, “Dan saya ingin agar kau turut berlibur denganku. Bulan depan saya akan berkunjung ke tempat-tempat bagi umat Islam… Mekah, Medinah. Maukah kau turut bersamaku ?
  • Ia sedang menggodaku, saya teringat akan ……..” Semua ini akan kuberikan kepadamu jika,….” ( Matius 4 :8-9 ).
  • “Saya tidak berkeberatan pergi bersamamu, tetapi hal ini tidak akan merubah iman percayaku,” jawabku.

Seakan-akan saya tidak berkata apa-apa, ia mengambil Alkitab dari pangkuanku dan melihat ke halaman-halamannya yang terbuka,

“Yang kuhendaki darimu untuk semua yang akan kuberikan kepadamu ialah buku ini. Berikanlah Alkitab itu padaku dan saya akan membawanya ke depot Lembaga Alkitab sehingga kau tidak dapat membacanya lagi, dan berhentilah ke gereja, maka akan kuberikan kepadamu apapun yang kau kehendaki.”

Dengan nyaring saya menjawab, “Mazmur 119 : 115, “FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang pada jalanku. Inilah adalah Firman Allah dan Ia memberitahukan padaku perbedaan antara yang benar dan yang salah, saya tidak akan memberikannya kepadamu……ini adalah bagian dari hidupku.” Saya melihat bahwa ia menjadi marah. Dengan cepat kutambahkan,

“Saya tidak dapat berhenti untuk pergi ke gereja karena disitulah rumah Tuhan. Pengantin wanita sudah hampir siap sebab mempelai lelaki sudah hampir datang. Dan barangsiapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga akan menyangkalinya didepan Bapakku yang di Sorga (Mat. 10:33).”

Ia melompat berdiri. Dilemparkannya Alkitab itu padaku, “Sebelum matahari terbit, tinggalkan rumahku, aku tidak sudi melihat mukamu lagi.”

Perangkap telah diberi umpan dan disentuh, tidak ada seorangpun yang datang mendekatiku malam itu, saya berbaring dengan perasaan berat, besok paginya tercipta suatu suasana yang tidak menyenangkan sama sekali. Kakak lelakiku tidak kelihatan, tidak ada berita tentang Anis atau suaminya. Pelayan hanya meletakkan sarapan begitu saja lalu pergi diam-diam. Dengan sedih saya mengemasi koporku dengan 4 atau 5 baju yang dijahit Anis untukku, pakaian-pakaian yang indah-indah yang dihadiahkan Alim Shah kutinggalkan karena ia telah berpesan, ‘jangan membawa sesuatu apapun dari rumah ini’. Koporku ada di-gang dan saya berjalan kesana ketika saya melihat Safdar Shah datang. Saya belum lagi berjumpa dengannya sejak saya meninggalkan Jhang, tapi ungkapan kata-kata bagi pertemuan yang membahagiakan langsung sirna ketika saya melihat apa yang dibawanya adalah sebuah bedil. Dia memegangku dipergelangan tangan dan menarik saya ke lantai dasar rumah itu.

“Duduk disitu dan jangan bergerak,” perintahnya.

Saya mematuhinya. Jika dirangsang, Safdar Shah dapat menjadi kasar. Ia pergi memanggil Alim Shah. Dirumah itu keadaan sunyi sekali, suasana diliputi ketakutan, kakak-kakakku lelaki turun kebawah, wajah mereka keras dan mantap. Jantungku berdebar-debar dan kakiku lemah seperti jerami rasanya, tetapi saya tetap duduk diatas sebuah sofa, berusaha untuk tetap tenang. Kakak-kakakku duduk menghadapi saya pada seberang meja. Saya mencoba memandang kearah matanya yang penuh kebencian, tetapi mereka sedang melihat ke bagian dalam dirinya seakan-akan tidak sadar akan pandanganku.

Safdar Shah mengoperkan bedil itu kepada Alim Shah, “Selesaikan kutuk keluarga ini!” perintahnya. Alim Shah menggenggam popor bedil dua laras itu dan dengan perlahan mengangkatnya dan dibidikkan ke kepalaku. Ia berkata dengan suara putus asa yang lemah, “Mengapa kau mau mati? Yang perlu kau perbuat hanyalah mengatakan bahwa kamu tidak lagi mengakui nabi Isa itu sebagai Anak Allah dan bahwa kau akan berhenti ke Gereja. Kau akan kubiarkan hidup, karena aku tidak akan menembakmu!”

Wajahnya kelihatan tegang dan kurus dibalik laras bedil itu dan saya melihat betapa ia ditempatkan pada suatu keadaan terpaksa – cintanya kepadaku berperang melawan segala sesuatu yang telah diajarkan ayahku kepadanya. Bagikupun merupakan suatu saat yang sangat tidak menyenangkan. Saya telah dididik untuk menghormati kakak-kakak lelakiku sebagaimana diajarkan pada gadis-gadis Islam. Saya belum pernah membantah mereka sampai Yesus masuk dalam kehidupanku dan saya berusaha untuk tidak berkata kasar pada mereka karena saya tahu bahwa saya dapat menyadarkan diriku pada cinta kasih mereka, kesopan-santunannya serta perlindungan mereka jika kuperlukan. Dalam hal inipun Ayahku telah memberikan pada mereka suatu perintah keramat untuk menjaga saya. Tapi tentu saja beliau tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya suatu krisis seperti ini. Saya sedang mengoyakkan semua ini dengan pertentangan-pertentangan antara tugas dan cinta. Tapi saya tidak boleh mundur. Saya tidak dapat berpaling lagi, juga pada saat ini.

  • “Dapatkah kakak menjamin bahwa jika kakak tidak menembak saya maka saya tidak akan mati? Dalam Al Qur’an ditulis bahwa begitu seseorang dilahirkan kedunia, dia pasti akan mati. Jadi, silahkan tembak saya tidak takut bila saya mati dalam nama Yesus Kristus. Dalam Alkitabku tertulis, “Ia yang percaya padaku, walaupun ia mati, namun ia akan hidup” (Joh. 11:25).”
  • Safdar Shah berkata dalam keheningan, “Kau tidak mau membunuh si murtad ini dan bertanggung jawab atasnya. Ia telah menjadi suatu kutuk bagi kita. Lemparkan dia keluar!”

Mereka mendorong saya kedepan sambil menaiki tangga. Saya mengambil koporku di gang dan berjalan menuju pintu. Kakak-kakak lelakiku berjalan kembali dengan gontai menuju ke bungalow. Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. “Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN”.

Saya tahu dimana saya pernah membacanya (Yes.54:17), tapi saya tidak menyadari kalau Firman itu begitu tepat pada kenyataannya.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: