The Torn Veil – Bab 14 Bersaksi

Bab 14. Bersaksi

“Ada seorang tamu untukmu di sini,” kata nyonya Neelam di pagi hari tanggal 30 Desember dan saya melongok ke atas dari bacaanku melihat-lihat. Rupanya Bapak Gill, seorang tua-tua dari Gereja di FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE yang membawakan sebuah undangan untukku. Beliau langsung mengutarakan maksudnya.

“Pendeta Arthur dari gereja METHODIST, FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE, ingin megundang anda untuk berkhotbah pada pelayanan Tahun Baru nanti. Anda dapat membawakan berita apa saja yang digerakkan Tuhan. Bagaimana pendapat anda?”

Untuk sekejap saya tidak dapat menjawab. Foreman Christian College adalah sebuah tempat besar dan gereja tersebut biasanya penuh dengan orang-orang berpengaruh. Bagaimana saya dapat berdiri di depan jemaah seperti itu dan berkhotbah? Saya hampir merasa mau menolak di kala teringat sesuatu yang difirmankan Allah padaku malam itu, “Pergilah dan saksikanlah kepada umatKu.”

Ketika saya disembuhkan, Yesus telah memerintahkan saya untuk melakukan hal ini, tapi waktu itu saya belum siap. Namun, visi yang penuh kegemilangan cahaya itu telah memancar dengan terang sekali di jalanku, mengajar saya untuk mengenal Allah melalui FirmanNya dan dengan Iman. Apakah udangan ini yang datang tanpa disangka-sangka merupakan tanda bahwa saya telah siap untuk memberikan kesaksian ke pada Gereja mengenai apa yang telah saya alami dengan Berkat dan Kasih SetiaNya padaku? Sekarang saya memahami bahwa jika sesuatu keperluan untuk melakukan tindakan telah matang maka beberapa faktor akan saling menunjang – kesempatan terbuka, suatu bisikan suara terdengar lalu terasa adanya suatu kedamaian di dalam hati serta keyakinan bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba.

.
Saya memandang ke arah si pembawa berita itu.

“Saya akan datang” kataku, “namun bagaimana saya kesana?”

“Anda sangat diharapkan untuk datang dan tinggal bersama istriku dan saya besok malam di rumah kami di Wadat Colony. Alamat itu dekat dengan gereja dimaksud dan dari sana kami akan membawa anda ke kebaktian pada hari Tahun Baru.” Kamla Neelam sependapat dengan usul ini dan diatur bahwa Bapak Gill akan datang menjempuntuku besok pagi untuk pergi kerumahnya. Saya akan datang dan berusaha mengumpulkan ingatanku untuk ujian yang akan datang ini.

Besok malamnya diruang tamu nyonya Gill, ketakutan menyelimuti diriku sewaktu saya merenungkan apa yang harus kulakukan. Perasaan sombong, rasa mau menonjolnonjolkan diri kemuka….. saya begitu ingin memberikan suatu kesan yang baik.

Sambil berlutut akhirnya saya mengungkapkan khayaan ini dengan berkata, “Bagaimana caranya saya memberi kesaksian tentang Engkau ya Tuhan? Bagaimana saya dapat melukiskan tentang diriMu?” Baiklah, kedengarannya bodoh barangkali. Apa sebenar-nya yang saya perlukan? Pemunculan yang suci dan keramat yang sama lagi? Segera setelah pikiran itu kuungkapkan dengan kata-kata saya menyadari betapa naifnya bagiku untuk merasa kuatir tentang hal-hal seperti itu. Dalam keheningan pikiranku dengan kerendahan hati dihadapan Hadirat Allah, saya mendengar suara yang tenang dan lembut, “RohKu akan menyertaimu.” Sukacita mengalir dengan derasnya. Cukuplah kiranya janji itu bagiku.

Tidak kusangkal bahwa hal ini merupakan pengalaman yang pertama dalam hidupku di mana saya harus berhadapan dengan hadirin sebesar itu. Para guru, gurubesar, perawat, dokter dari Rumah Sakit Kristen di dekatnya – semuanya berpendidikan tinggi dan yakin akan dirinya. namun saya merasakan suatu kuasa yang tumbuh didalam diriku ketika saya memberikan kesaksianku tentang penyembuhanku dan menceriterakan tentang berkat-berkat Allah padaku melalui begitu banyak pengalaman yang menyedihkan. Para hadirin diam terpaku, mengikuti setiap kata-kataku dengan matanya yang tidak lepas-lepasnya memandang padaku.

Sewaktu saya turun dari mimbar orang-orang datang menemuiku dan mengatakan betapa kesaksian itu memberi makna dan berharga bagi mereka. “Kesaksian itu memiliki kuasa”, ucap satu atau dua orang. “Kami malah tidak menyadari waktu berlalu,” kata beberapa orang dengan air mata berlinang di pipinya. Para wanita datang dan berkata, “Anda telah begitu banyak menderita seorang diri.” “Biarlah kami pun turut berpartisipasi untuk menanggungnya bersamamu”, dan mereka memberikan alamat-alamatnya kepadaku.

Sebagian dari persembahan itu diberikan padaku dan saya kembali ke rumah keluarga Gill untuk makan siang. Melalui suatu selubung yang menakjubkan, terkenang olehku kedua kakak lelakiku – bagaimana rasa cintaku bagi mereka bergetar dalam kalbuku dan sekiranya mereka mendengar perubahan baru yang terjadi dalam pengalaman adik perempuan mereka yang telah diusir dan dibuangnya.

Sebagai kelanjutan dari Khotbah tadi pagi saya diundang untuk berpartisipasi dalam persekutuan wanita di Gereja secara tetap pada Foreman Christian College. Ini berarti bahwa saya harus berhenti mengajar di rumah Pak Yusuf dan berkecimpung dalam pekerjaan yang benar-benar ingin kulakukan dan dambakan: memberitakan Injil.

Semua gereja dikawasan itu satu demi satu mulai mengundang saya untuk berkhotbah dan mereka membayar pembiayaanku. Selama April dan Mei saya tinggal bersama beberapa teman di Canal Park. Dalam bulan Juni, keluarga lain membawaku kerumahnya dan saya disana sampai hari perkawinan anak lelaki kakak perempuanku.

Suatu persekutuan sambil berkemah bagi para wanita akan diadakan selama musim panas di Muree. Daerah ini letaknya kira-kira 2500 meter ditas permukaan laut dikaki gunung Himalaya atau 2 1/2 jam perjalanan bus jauhnya dari Rawalpindi adalah sebuah stasiun lama di pegunungan semenjak kerjaan Inggris Raya. Sekarang, orangorang kaya berlibur kesana untuk menikmati iklimnya yang lebih sejuk serta pemandangan pegunungan dimana terdapat satu atau dua puncaknya yang hampir selalu ditutupi salju sepanjang tahun.

Di Muree ada banyak kegiatan Kristen – sebuah sekolah bahasa bagi para penginjil, sebuah sekolah Kristen bagi mereka atau anak-anak lainnya. Disekolah ini, tidak sama dengan sekolah yang ada di dekat permukaan laut, selalu dibuka selama musim panas dan diberi libur sebulan dimusim dingin ketika salju tebal menutupi jalan-jalan pegunungan yang membahayakan.

Muree juga sangat sibuk pada musim panas dengan perkemahan-perkemahan dan konperensi-konperensi yang diadakan oleh kelompok-kelompok Kristen dari seluruh Pakistan. Persekutuan sambil berkemah bagi para wanita di Mambarak dimana saya telah diundang sebagai pembicara utama berlangsung selama seminggu pada awal Juni. Saya akan pergi ke Rawalpindi dengan pimpinan rombongan persekutuan itu yaitu Nyonya Hadayat dengan kereta api dan kami akan berangkat pada hari jumat jam 04 pagi.

Namun pada hari kamis pagi kira-kira jam 10, saya menerima berita dari kakak perempuanku, Samina yang tinggal di Samanabad sedang mempersiapkan sebuah pesta perkawinan. Anak Lelakinya akan kawin disana hari Sabtu dan ia menginginkan saya hadir sebagai tamunya. Anak lelakinya itu sendiri yang menyampaikan undangan secara lisan di ruang duduk di rumah tempat saya bertamu. Saya tersenyum padanya. Sejak kecil saya telah memperhatikan pertumbuhan Mahmud yang akan menjadi harapan keluarganya dan saya ingin untuk dapat hadir pada pesta perkawiann ini, namun ada halangan besar di hadapanku.

Saya memberi pesan balasan secara lisan melalui Mahmud, “Harap sampaikan pada ibumu bahwa saya sangat mengasihinya. Bagitu juga padamu, tapi saya tidak dapat datang. Setiap orang akan menentangku karena kepercayaanku dan kehadiranku hanyalah akan mengganggu suasana yang seharusnya merupakan hari bahagia bagi kita semuanya. Bukan hal yang baik bagiku kalau datang, tambahan pula saya pun akan pergi hari jumat menghadiri konperensi di pegunungan. Saya memohon maaf padamu sekalian karena tidak dapat memenuhi undanganmu yang penuh kasih ini.”

Keponakanku pergi dengan mengendarai Yamaha-nya, kelihatan murung. Saya meneruskan persiapanku. Pada jam 2 siang, Mahmud datang kembali, “Bibi, anda harus menghadiri pesta perkawinan ini. Ibuku berkata bahwa beliau tidak akan mengijinkan saya kawin jika bibi tidak hadir. Dan saya pun mengharapkan agar bibi hadir”. Dan dimata perjaka yang sudah besar ini terlihat ada air mata. Saya membuat suatu keputusan yang agak melegakan.

“Satu-satunya yang dapat kukatakan ialah bahwa saya akan ke bapak dan ibu Hadayat memintakan pendapatnya. Mungkin masih ada waktu untuk dapat menghadiri perkawinanmu dan kemudian berangkat dengan bus ke Rawalpindi pada waktunya yang akan disambung dengan bus berikutnya di minggu pagi.” Wajah Mahmud berseriseri.

“Apakah Bibi dapat membonceng di sepeda motor? Saya akan membawa bibi ke tempat bapak dan ibu Hadayat,” katanya.

Jadi dalam waktu singkat seorang wanita muda membonceng di atas sepeda motor yang menderu-deru di jalan sambil berpegangan erat pada kemeja seorang anak muda didepannya.

Ketika kuceritakan pada keuarga Hadayat tentang dilema-ku, mereka langsung memecahkannya, menasihatkan saya untuk memenuhi undangan tersebut.

“Kesempatan ini merupakan kesaksian,” kata mereka, “beberapa dari keluargamu belum bertemu lagi denganmu setelah anda disembuhkan.”

“Benar.” Kukenangkan pertemuan yang tidak enak dengan para paman dulu. Teringat olehku akan tatapan mereka yang keras, melotot dari wajah-wajahnya yang marah terhadap anak-dara muda yang kurus ini yang berani menantang adat-istiadat keluarga dan hukum agama. Ini telah terjadi pada pribadi yang lain. Namun apakah pendapat mereka telah berbeda sekarang? Saya sangsi kalau mereka telah berubah. Walalupun demikian masih ada satu atau dua kesempatan untuk bersaksi dan saya mencintai kakak perempuanku serta anak lelakinya ini. Bagi kepentingan mereka saya akan pergi kesana.

“Anda benar,” jawabku.

Dan begitu kesulitan tersebut diatasi, bapak Hadayat mencari pada jadwal harian bus dan kami menemukan bahwa ada bus berangkat dari Badami Bag di Lahore jam 12 tengah malam hari sabtu yang membawaku ke Rawalpindi pada waktu yang tepat untuk berganti ke bus yang lain menuju Muree dan tiba disana dalam waktu yang cukup untuk berbicara pada hari minggu sore di persekutuan yang pertama bagiku. Keponakanku membawa kembali saya kerumah diatas Yamahanya dan berjanji akan datang besok menjemputku dan membawaku ke pesta kawin itu.

Jadi, keesokan harinya saya mengambil sebuah tas kerja kecil dan dengan ditemani keponakanku dengan cara yang istimewa saya berangkat menuju Samanabad. Pesta kawin itu seperti yang saya ramalkan merupakan suatu bencana dari awal sampai berakhir. Beberapa keluargaku yang lebih tua menganggap kehadiranku merupakan pelanggaran langsung dan membelakangiku bila saya disekitar mereka. Yang lainnya dimana fanatisme Jihad-nya tebal, mendebat saya dengan keras sehingga saya hampir tidak berkesempatan bercakap-cakap dengan kakak-kakakku Samina atau Anis yang belum bertemu denganku hampir setahun lamanya.

Tumpuan serangan itu ialah “Kenapa kamu percaya pada Nabi Isa sebagai anak Allah?”

Alkitabku ada dalam tasku tapi saya tidak perlu membukanya kata-kata yang kuperlukan datang ke bibirku tanpa dapat dibendung dan memiliki kuasa. Saya menyadari bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan kuperoleh lagi, jadi saya berbicara pada setiap orang yang menaruh perhatian walalupun hanya sedikit. Perdebatan meningkat dan rasanya saya tidak punya waktu baik untuk makan ataupun minum. Yang paling marah kepadaku ialah kakak-kakak lelakikku, tidak terlihat olehku. Safdar Shah tidak datang waktu mendengar bahwa saya akan hadir sedangkan Alim Shah selalu menjamu para tamu pria dan diluar jangkauanku. Lama kelaman mereka yang berdebat denganku berkurang satu per satu dengan sentilan ungkapan seperti, “oh, ia gila, tinggalkan dia” dan “kami tidak punya hubungan keluarga dengannya, jangan berbicara dengannya”.

Tiba-tiba saya melihat waktu sudah jam 11 malam. Saya mendengar suatu suara berkata, “Engkau akan bersaksi di Muree besok dan kau masih disini sekarang.” Saya menjadi agak panik dan bergegas ke kamar kakak perempuanku serta memohon bantuan bila ada orang yang dapat mengantarku ku ke Badami Bagh. Tapi mobil Samina sedang dipakai tamu-tamu lainnya, Anis sedang sibuk dengan kaum keluarga suaminya dan beberapa tamu dengan tegas menolak – saya mendengar seseorang berkata, “Kami tidak mau mencemarkan mobil kami. Mintalah kepada Yesusmu untuk menolong dirimu.” Samina mendekat dan memegang tanganku – “Gulshan maafkan saya karena tidak dapat menolongmu. Kenapa kau tidak bermalam dengan kami malam ini lalu besok kami akan mengantarmu ke stasiun bus?” Sebenarnya usul ini baik kedengarannya, karena bagi seorang wanita pergi sendirian dimalam hari seperti ini di jalanan mengandung ancaman bahaya. Namun saya merasakan suatu desakan perasaan yang mendorongku. Saya telah diberi tugas sehingga saya harus mengusahakan sedapatnya untuk memperoleh jalan keluarnya.

Lupa berpamitan saya menyelinap perlahan dari rumah yang terang benderang itu bersama seluruh kesenangan dan rasa amannya lalu berdiri di pinggir jalan. Awanawan menyelubungi bulan, rumah-rumah dan pepohonan kelihatan samar dalam kegelapan. Dahan-dahan sebatang pohon mulberry (bebesaran) mendesir diatas kepalaku. Dengan gugup saya bergerak dibawah bayangannya.”Tuhan, Engkau telah menyucikan saya. Jagalah dan tolonglah agar saya dapat sampai ke stasiun bus pada waktunya. Saya serahkan diriku sepenuh-penuhnya dalam lidungan Tuhan,” doaku. Ketika saya mengakhiri doaku, air mata jatuh berlinang. Saya merasa kehadiran Allah di sekelilingku di dalam gelap itu dan di dalam lingkaran itu saya merasa aman. Lalu dari jauh saya mendengar dan makin mendekat, bunyi deru mesin sepeda motor dan hampir bersamaan saya melihat lampu depannya kelap-kelip; cahaya lampu diselubungi kegelapan malam itu, sewaktu kendaraan itu bergerak menuju ke arahku menelusuri jalanan aspal. Saya melihat rupanya sebuah rickshaw (semacam becak bertutup yang dilengkapi mesin). Apakah kendaraan ini sedang membawa seseorang yang terlambat datang ke pesta kawin itu ataukah pengemudinya akan pulang setelah bekerja sehari-harian? Sambil berdoa agar orang ini akan berhenti bagiku, saya melambai-lambai dan kendaraan itu berhenti disamping tempat saya berdiri.

“Dapatkah bapak membawa saya ke Badami Bagh secepat yang dapat bapak lakukan? Saya harus mengejar sebuah sebuah bus yang akan berangkat ke Rawalpindi selekas mungkin.” Saya tidak dapat melihat wajahnya karena ia memakai semacam penutup kepala, namun ia mengangguk dan saya naik keatas kendaran itu dan saya tidak mau mengira-ngira apakah orang ini penjahat yang akan mengambil keuntungan dari situasi saya.

Kami bergerak maju, meninggalkan gema deru mesin. Rasanya kami melaju degan cepat sepanjang jalan. Sewaktu kami berputar masuk ke Badami Bagh saya melihat ke jam saya, nyatanya kami menempuh jarak 28 km dalam waktu 5 menit. Pengemudi itu mengangkat tas kerjaku tanpa berkata-kata dan membawanya ke deretan bus Watan Transport untuk tujuan Rawalpindi. Waktu ia mendekat, kelihatan berperawakan tegap dan mengenakan sebuah jubah panjang yang aneh berwarna coklat tua, pikirku mungkin di seorang Pathan (Indo-Iran).

Tasku diletakkan di bawah tempat duduk depan dan mau berlalu tanpa menunggu bayaran, sewaktu saya menghentikan dan bertanya, “Berapa ongkos yang harus saya bayar?”

Setelah berpaling kearahku, ia berkata, “Allah telah menyuruh saya untuk menolongmu. Pergilah dengan damai”. Lalu ia membalik, pada lipatan leher jubahnya dan pada lengannya yang berotot saya membaca sebuah kata yang ditulis dengan huruf mengkilap “PETRUS”.Saya berusaha melihat wajahnya namun saya hanya dapat melihat matanya yang bercahaya.

Air mataku berlinang-linang dan saya terpaksa menghapusnya. Ketika saya menengok lagi kearahnya, dia telah menghilang dan tidak mengambil bayaranku, saya melihat ke sekeliling stasiun bus itu yang pada waktu malam selarut itu cukup sibuk karena orangorang lebih suka bepergian di saat itu dibandingkan dengan di siang hari yang panas, namun yang terlihat ialah para penumpang bus yang meluruskan kaki-kakinya bersiapsiap melaksanakan perjalanan panjang. Saya mengambil tempat di tempat duduk berkasur, satu-satunya wanita di bus itu yang bepergian sendirian dan tidak mengenakan ‘burka’ dan saya membayar ongkosnya pada kondektur sewaktu ditagih.

Kami berhenti selama 1/2 jam di Jhelum untuk beristirahat, di tanda pertengahan perjalanan dan kemudian berhenti lagi di Gujarkhan. Waktu mendaki udara rasanya makin dingin menelusuri kaki gunung Himalaya. Waktu tiba di Rawalpindi jam menunjuk kan 04.45 pagi dan kami mencari jalan melewati orang-orang yang berdesak-desakkan, sapi-sapi dan kambing-kambing yang kurus, mobil-mobil, rickshaw, truk, sepeda, dan pedati-pedati agar mencapai stasiun perhentian bus di Raja Bazaar.

Cahaya matahari telah memberi warna pada tepi langit di ufuk Timur dengan sinarnya yang keemas-emasan. Bus untuk tujuan Muree itu lebih kecil, jalannya pelan dan perjalanan itu sendiri berbahaya melalui jalan pegunungan yang berliku-liku dan ruang lewat hanya cukup untuk dua kendaraan.

Pada bagian tahun seperti ini, banyak yang memakai jalan itu, ketika padang-padang tersiram getaran-getaran panas. Kami duduk menghadap ke dalam dan punggungku menarah ke dinding gunung sehingga saya tidak terpaksa melihat ke tepi lereng gunung yang berbahaya itu. Pada jam 11 pagi kami mendekati Muree. Saya turun di pemberhentian bus di depan kantor pos di lereng bawah kota itu. Saya memberikan tasku pada seorang buruh dan ia menunjukkan padaku jalan pintas menuju perkemahan Mubarik. Di dekat perkemahan itu penjaga gerbang melihat kami segera datang menjemput dan mengambil tasku.

Acara kemah bagi para wanita itu merupakan suatu minggu yang pengalamannya luar biasa bagiku. Ada 30 wanita peserta dari Peshawar, Sialkot, Karachi, Faisalabad (dulunya bernama Lyallpur) dan Hyderabad. Allah telah menyatakan mujizat kesembuhan di tempat dimana para wanita mengalami penderitaan.

Saya bermalam di sebuah gedung bertingkat dua bersama Rut dari Abbotabad. Ada acara-acara untuk pagi dan malam hari serta waktu-waktu makan lalu selebihnya bebas namun saya sangat sibuk karena melayani banyak wanita yang berbicara mengenai beban hidupnya. Seorang guru sebuah Sekolah Pemeritah di Lahore mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan dalam memberikan kesaksian diantara para ibu non-kristen disana. Kami berdoa bersama dan membicarakan tentang rasa takut yang dapat menguatkan ikatan kita satu dengan yang lain dalam situasi seperti itu dan saya mengingatkan dia janji Kristus; “Aku tidak akan meninggalkan atau membiarkan engkau.” Waktu kami berpisah ia berkata dengan sukacita, “Anda telah memberikan harapan baru padaku untuk menghadapi segala macam masalah.”

Ketika para wanita pergi, suatu kelompok pemuda datang dari Pelshawar dan Pendeta Sayed yang mengelola perkemahan itu meminta saya tinggal dan berbicara didepan mereka. Seorang pengacara muda datang dan mengatakan padaku bahwa ia bekerja diantara penganut-penganut agama lain dan merasa malu untuk bersaksi. Saya mengingatkannya akan Mat.10-31 – 33 dan berdoa bersamanya. Pada hari ke 4 ia datang kembali dan berkata sekarang ia sudah memiliki keberanian. “Ketakutan sudah lewat”. Begitu juga dengan saya. Ia berkunjung ke tempatku waktu saya akan meninggalkan perkemahan menuju Rawalpindi dan tinggal dengan keluarga Younis. Saudari Younis sudah pernah ke Mubarik dan kami membentuk suatu persekutuan. “Datang dan tinggal bersama kami bila anda ke sini,” katanya kepadaku. Jadi itulah yang kulakukan.

Dari perkemahan-perkemahan itu pelayananku benar-benar mulai dilaksanakan dengan tekun dan saya pergi ke berbagai tempat berbicara di konperensi-konperensi mengenai cara Allah menjamah saya. Saya diundang lagi ke Mubarik pada tahun pertama itu yaitu awal Juli dimana ternyata kami membagi satu tempat konperensi bersama orang-orang terkenal di masyarakat Kristen. Mereka menerima saya sebagai seorang yang telah ditugaskan Allah untuk melayani. Setiap waktu saya melayani Firman, undangan-undangan mengalir dari berbagai tempat baik jauh maupun dekat. Orang-orang ingin mendengar tentang apa yang akan kubawakan – mereka berkata Firman ini menguatkan mereka dan bahwa itulah pelayanan Firman yang dibutuhkan pada masa-masa kini.

Sekarang kesempatan-kesempatan mulai terbuka bagi suatu pelayanan yang lebih luas tapi disaat yang sama saya selalu berpegang teguh pada Yesus. Dari pengalamanku saya tahu bahwa jika banyak berkat maka serangan pun akan mengancam juga. Walaupun begitu, saya tidak mempersiapkan diri secara khusus utuk mengira-ngira secara khusus dari arah mana gerangan serangan itu akan datang.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: