The Torn Veil – Bab 2 Naik Haji

Bab 2. Naik Haji

Pesawat terbang yang indah bentuknya, berwarna putih milik penerbangan Pakistan International Airlines, bertengger laksana seekor burung diatas landasan lapangan terbang. Sebegitu saya diangkat keatas tangga pesawat dengan kursi rodaku, saya merasakan adanya perasaan merdeka sewaktu meninggalkan Inggris. Kunjungan ini telah mencapai sesuatu yang mengakhiri ketidak-pastian kami, sekarang hanya tertinggal satu harapan saja lagi dan kami sedang ditarik menuju kesana dengan kecepatan tinggi.

Dalam mimpiku, saya menggambarkan kota suci Mekkah laksana cahaya berlian yang bening, sebuah tempat yang belum saya kenal tetapi sangat terkenal ketempat mana umat Islam berkeinginan untuk mengunjunginya sekurang-kurang sekali seumur hidupnya.

Kami duduk dikelas satu dan seperti biasanya saya duduk diantara kedua pembantuku dimana Sema bertindak selaku penopang untuk bagian kiriku yang lemah sedangkan Salima siap untuk mengangkat dan memapah. Ayah mengambil tempat duduk pada jarak terpisah 2 tempat duduk didepan kami dari mana beliau menjelaskan tentang tahapan pelaksanaan perjalanan kepadaku. Kita sekarang terbang pada ketinggian 9 km (30,000 kaki) di udara katanya ketika pesawat berhenti menanjak. Saya melihat keluar jendela dan menarik napas. Kami berada dalam suatu dunia penuh sinar matahari dan dibawah kami berterbangan lantai awan putih laksana katun bergelembung seperti bahan-bahan kasur pengantin.

Salima dan Sema juga memandang keluar dan mengeluarkan seruan-seruan kecil karena kagum. Lihatlah betapa banyak besi yang beterbangan diudara ungkapnya kagum dalam bahasa campuran Punyabi dan Urdu menggunakan aksen daerahnya Jhang yang kentara. Secara sembunyi-sembunyi saya tersenyum. Mereka gadis-gadis desa dan baginya banyak sekali hal yang telah terjadi. Ada jemaah-jemaah lain di pesawat itu, saya mengetahuinya karena seperti kami, mereka memiliki baju-baju Ihram putih dalam tasnya yang harus dikenakan oleh setiap jemaah yang menunaikan ibadah haji.

Sekali, ayah pernah membawa saya menyaksikan film tentang naik haji. Film tersebut diperuntukkan bagi orang-orang beragama yang bermaksud pergi ke-Mekkah selama bulan haji dan disitu diperlihatkan tentang semua adat-istiadat dalam tata-warna yang indah. Saya telah diajarkan tentang sejarah lahirnya agama kami digurun-gurun Arab. Pemandangan-pemandangan pada kejadian-kejadin tersebut sama akrab-nya bagiku dengan pengalaman yang saya cintai pada rumah dan pekarangan kami.

Pramugari berseragam hijau memakai tanda dopatta di bawah dagunya, membawakan makanan namun saya hanya mencomotnya saja. Salima memandang kearah makanan yang hampir tak disentuh itu seraya berkata dengan lembut : Bibi-ji apakah anda tidak makan untuk menjaga kekuatanmu?. Saya menggeleng, saya tidak lapar. Pada kenyataannya saya merasa agak sakit yang sebagian penyebabnya ialah karena hempasan pesawat dan sebagian karena kegembiraan terhadap apa yang akan kuhadapi nanti. Saya tidak mengatakan apa-apa mengenai perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Bagaimana saya dapat bertukar pikiran dengan seorang pelayan mengenai harapan dan ketakutan yang silih berganti selalu melintas dipikiranku seperti awan yang berkejar-kejaran diangkasa.

Di Abudhabi kami bertukar pesawat dan para jemaah dari berbagai tempat yang jauh bergabung bersama kami. Dengan penuh perhatian saya mempelajari adat-istiadat mereka sambil berusaha mengetahui dari mana asalnya. Saya dpt mengidentifikasikan orang-orang dari Iran, Nigeria, Cina, Indonesia, Mesir….. sebuah dunia yang rasanya bergerak menuju ke kota Mekkah.

Terdengar bunyi gemericik di pengeras suara. Dalam 2 bahasa : Inggris & Arab, pramugari memberitahukan bahwa kami sedang mendekati Jeddah dan bersiap-siap untuk mendarat. Sebuah tanda menyala.”Kita harus mengenakan sabuk pengaman, kata ayah. Kami melaksanakannya, Salima membantu dan ayah menelitinya apakah sudah dikerjakan dengan benar. Di luar jendela pesawat saya melihat padang gurun berwarna-warni, karena mudah ditiup menjadi bentuk sabit oleh angin panas yang terik, saya dapat melihat gunung-gunung di cakrawala bermil-mil jauhnya dan kemudian sebuah kota besar yang terbentang dibawah kami dengan bangunan tinggi serta jalan besar yang banyak jumlahnya. Saya dapat melihat pephonan dan halaman hijau. Ayah berkata, lihat apa yang dapat dilakukan oleh air terhadap gurun hanya dalam waktu beberapa tahun sejak air disalurkan melalui pipa dari Wadi Fatima. Saya mengangguk, dalam pelajaran-pelajaranku, saya belajar bagaimana kekayaan minyak telah membawa begitu banyak perbaikan bagi suatu bangsa yang sebelumnya miskin dan terkebelakang, tinggal dirumah-rumah tanah jika mereka petani atau tenda Badui jika mereka pengembara dan semua ini terjadi tanpa turunnya hujan bertahun-tahun.

Pesawat menyentuh landasan dan di bandara kami dijemput sahabat lama ayahku, si Sheikh dengan mobil Chevroletnya yang besar. Sheikh ini mempunyai 8 istri dan 18 anak yang tinggal di villanya yang besar. Semua ada 13 putri dan 5 putera. Saya percaya anak-anaknya ada yang telah kawin dan belajar di luar negeri. Beliau memiliki sumur-minyak sendiri yang menunjang tata-cara hidupnya yang mewah. Disamping itu beliau seorang tuan tanah memiliki hewan peliharaan, unta, domba dan kambing. Saya berkesempatan menyaksikan penyelenggaraan pekerjaan rumah-tangga besar ini selama beberapa hari berikutnya sambil menikmati keramah-tamahan keluarga Sheikh ini. Sheikh memperkenalkan saya dengan semua istrinya – Fatima, Zora, Rubbia, Rukia…. sampai yang terakhir.

Saya tidak mempunyai favorit, ujarnya, semua istriku sama. Saya mengerti kenapa beliau berkata demikian, sebab Al-Quran jelas menyatakan bahwa seorang pria boleh mengawini lebih dari satu istri tetapi ia harus memperlakukan semua istrinya se-adil-adil-nya. Nabi, tentu saja mempunyai beberapa istri, namun katanya orang biasa menemui kesulitan besar untuk melaksanakan perintahnya tentang sikap kesamaan yang memperlakukan keadilan dan kejujuran. Namun, tentu saja poligami tidak dianjurkan dalam masyarakat kami, tapi disini kelihatannya bertumbuh subur dan tiap orang merasa berpadanan satu terhadap yang lain.

Puteri paling besar dari rumah-tangga tersebut yang saya taksir berusia 18 tahun diperkenalkan kepadaku oleh seorang penterjemah wanita, Bulquis. Mereka masuk kekamar tamu wanita dimana saya bersama para pembantuku ditempatkan dan mereka menanyakan kepadaku mengenai Pakistan. Apakah ada jalan-jalan? Kota-kota? Apa yang anda makan? Jenis sayuran apa saja yang anda tanam? Apakah ada sekolah bagi anak perempuan? Apakah anda mengenakan pakaian semacam itu sepanjang waktu? Saya mencoba menjawab sebaik mungkin dan mereka merasa gembira ketika berkata ingin ke Pakistan untuk menyaksikan semuanya itu. Sebaliknya saya bertanya tentang kehidupan mereka disini. Apa yang dikerjakan sepanjang hari? Jawabannya rasanya sangat sedikit.

Sheikh menempatkan para istrinya dan putrinya dirumah. Para puteri yang berpendidikan kelihatannya sedikit sekali bekerja selain bersenang-senang sama sendirinya. Mereka melewatkan waktunya dengan kasak-kusuk, nonton TV serta sedikit membaca dalam bahasa Inggris dan Arab. Namun kelihatannya mereka cukup bahagia karena setiap keinginannya terpenuhi. Jika mereka ingin berbelanja… Bilquis pergi bersama mereka dan mengatur keuangannya, mereka memilih apa yang mereka inginkan. Bagi para istri Sheikh, selain dari bergantian berbelanja atau berkunjung kerumah sakit bersama Bilquis, diwaktu mana mereka menutupi tubuhnya dengan “burka” berwarna hitam, baik yang panjang maupun jenis dari Turki terbelah di bahunya, maka tugas utama mereka kelihatannya ialah menyenangkan hati si Sheikh.

Mereka duduk bersila diatas kasur kecil dengan mengenakan jubah kafta bersulam emas dan perak. Ada sofa disekeliling dinding ruangan berlantai marmer tersebut, namun mereka lebih senang duduk di lantai. Kadang-kadang mereka mengenakan pakaian Barat yang rapih dan bagus, mode-nya dipesan dari Inggris atau Amerika dan memakai perhiasan yang mahal. Aroma udara penuh dengan parfum tebal yang disemprotkan oleh para pelayan.

Di waktu malam hari sebelum tidur, saya sempat bertemu dengan ayah beberapa menit di ruangan umum, bercerita dan saling memperbandingkan catatan. Menurut ayah Sheikh berusia 65 tahun, namun kelihatan awet muda karena kulitnya licin dan tidak keriput, tata-caranya merupakan perpaduan antara cara kuno & modern, terutama kesukaannya dalam kehiduan sosial bersama kawan-kawan prianya, mencari kesenangan hatinya di rumah, baik dengan pesta mewah atau sederhana. Beliau senang merokok dan minum teh tua serta mendengarkan musik arab yang disalurkan ke setiap ruangan sehingga semua dapat turut menikmati kesenangannya. Pola ini saya ketahui merupakan ciri khas orang Arab. Semua fasilitas rumah itu haruslah dinikmati bersama oleh setiap orang baik disukai ataukah tidak. Sebagaimana adanya, saya tidak memahami musik Arab.

Waktu makan adalah saat yang menyenangkan. Seekor anak domba utuh dimasak dan dihidangkan bagi seluruh anggota rumah-tangga, dibagi untuk ruang makan pria & wanita. Orang-orang yang makan menanggalkan sepatunya sebelum menginjak permadani persia yang berwarna-warni. Mereka makan sambil berbaring di atas kasur kecil tebal yang ditempatkan mengelilingi sebuah lingkaran. Sebuah baki besar yang berisi nasi yang dirempah-rempahi serta anak domba yang sedang direbus ditempatkan di-tengah-tengah dan di sekelilingnya ditaruh penganan dari terung, selada, roti yang dipotong rata serta pudeng atau halva. Tiap orang makan memakai tangan kanannya, menggulung nasi segenggam-segenggam menjadi gumpalan lalu memasukkannya kedalam mulutnya seraya memecahkan potongan-potongan roti.

Saya makan dikamarku, karena tidak dapat menyeimbangkan diriku di antara kasur-kasur kecil, lalu makan dibawah lirikan mata sebegitu banyak orang yang ingin tahu. Namun Sheikh berbaik hati mengijinkan saya melakukan apa yang saya senangi. Ruanganku sangat menyenangkan, karena diberi permadani indah, beberapa tanaman hijau, jendela yang cantik, bahkan dipasangkan kaca besar dan ada kamar mandi kecil di kamar serta sebuah toilet yang dilengkapi dengan alat penguras modern.

Orang2 Arab sangat memperhatikan keramah-tamahan dan keadaan seperti ini telah berlangsung sejak suku-suku Arab berjuang mempertahankan hidupnya dari kekejaman gurun pasir dimana hidup matinya seseorang dapat tergantung pada belas kasihan orang Badui yang memberinya tempat untuk berteduh.

Menurut ceritera, pada masa lampau seorang Sheikh dipadang gurun akan mejamu seorang tamu dan melayaninya selama 3 hari sebelum menanyakan nama atau pekerjaannya. Sheikh ini tetap mempertahankan adat-istiadatnya dengan memperkenankan kami menikmati fasilitas dalam rumahnya termasuk sebuh mobil bersama sopir selama kami tinggal bersamanya. Ini berati kami dapat menikmati panorama indah kota Jeddah. Ayah duduk didepan bersama sopir bernama Qasi, sedangkan saya mengintip dari jendela belakang yang dipasangkan tirai selama berkeliling kota.

Kota tersebut penuh dengan jemaah yang melimpah ruah baik yang memakai kapal dipelabuhan maupun yang datang dengan setiap penerbangan di bandara baru itu. Qasi, si sopir menunjukkan kepada kami perbedaan yang menyolok antara yang lama dan yang baru, bangunan kantor bertingkat 10 disepanjang jalan abdul Aziz dimana kelihatan keledai-keledai berbeban muatan berdesak-desakan dengan mobil-mobil Amerika yang besar. Kami melihat suq, pasar kaki lima, dimana kita dapat membeli apa saja dari biji kopi sampai permadani bahkan air-suci yang dibawa dari kota Mekkah serta toko-toko yang menjual barang dagangan dari Barat. Kami melihat kota lama dengan rumah-rumah dagang bertembok tinggi, kokoh, ada yang retak-retak diperindah dengan balkon-balkon berkisi-kisi dari lobang mana para wanita “harem” biasanya mengintip peri-hidup dijalan-jalan tanpa terlihat oleh orang-orang yang lewat dibawah.

Yang paling kontras ialah rumah-rumah baru yang dibangun didaerah pinggiran kota. Waktu tidak ada minyak terdapat kemiskinan serta berbagai masalah lainnya, kata Qasi, namun kini dengan memiliki banyak minyak kami mempunyai makanan yang baik dan anak-anak dapat belajar. Kami berhenti untuk melihat minyak yang sedang dipompakan keluar dari tanah pada suatu tempat. Saya tidak menyukai bau tempat itu.

Waktu kami meninggalkan Sheikh untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah, yang dilaksanakan dengan cara yang mewah dan menyenangkan karena beliau bersikeras supaya kami membawa mobil serta sopirnya. Ayah mengucapkan terima kasih padanya dalam sebuah pidato perpisahan singkat: “Anda telah menunjukkan pada kami kemurahan hati yang hangat sekali, demikian pula persahabatan yang membuat pelaksanaan perjalanan kami menjadi mudah. Sheikh dapat saja memperlakukan hal yang sama pada setiap pengunjung, namun saya tahu beliau khusus melakukannya bagi kami karena beliau adalah kawan lama keluarga serta kawan dagang ayahku yang memberi keuntungan dalam transaksi domba dan kambing dimana daerah kami sangat terkenal untuk ini.

Kami berangkat pagi-pagi sekali habis sembahyang subuh menuju Mekkah, karena kami ingin memiliki waktu yang cukup, untuk melihat segala sesuatu sepanjang perjalanan. Jalan besar terdiri dari 4 jalur, baru, bagus benar, dapat menampung arus aliran jemaah tak berujung yang terus maju sepanjang 85 km perjalanan ke Mekkah. Banyak orang berjalan kaki, dengan mengendalikan nafsu mereka bergerak maju siap menahan apa saja pada keadaan yang dapat menjadi semacam lapangan pembakaran waktu matahari makin meninggi. Hal ini dilakukannya bukan karena mereka miskin tapi karena ingin mengingat dan merasakan perjalanan Nabi Ibrahim ketika mencarikan tempat perlindungan bagi Sitti Hagar dan Ismail. Walaupun saya tidak mengakuinya, namun saya hampir merasa gembira sebagai seorang lumpuh sehingga saya tidak perlu berjalan dibawah teriknya matahari dalam suatu pertarungan yang panas. Saya mengetahui bahwa semangat haji bukanlah seperti ini sebab seharusnya secara keseluruhan perlu pengorbanan dan penyerahan, karena itu saya tidak mengutarakan sesuatu.

Qasi, si sopir menunjuk pada keran-keran air yang terdapat sepanjang jalan, demikinan pula lampu-lampu listrik bergantungan diatas tiang-tiang agar menyinari jalan bagi para jemaah; Raja melakukan hal ini. Beliau sendiri yang datang bersama para Menteri dan Pangerannya lalu melakukan banyak perbaikan terhadap fasilitasfasilitas ditempat-tempat suci. 28 km sebelum tiba dikota terpampang tanda yang memberi peringatan kepada kami “Daerah terlarang. Hanya diijinkan bagi umat Islam.”. Terdapat beberapa tentara yang dipersenjatai ditempat-tempat masuk dan mereka memeriksa pas semua orang. Si sopir berbicara kepada tentara tersebut dan kami diperkenankan untuk memakai mobil lebih lanjut. Kami maju dengan perlahan sekali, mendekati bukit-bukit melalui sebuah jalan yang dipotong dari batu-batu karang, melewati sejumlah besar jemaah berjubah putih yang mengikuti langkah Nabi Ibrahim ketika melihat Sarah mengusir sahaya perempuan dengan puteranya. Telinga kami dipenuhi dengan bunyi-bunyi doa yang diucapkan dari ayat-ayat suci Al quran dengan pernyataan : Tidak ada Tuhan lain kecuali Allah. Muhammad adalah rasul Allah.

Kemudian kami mengelilingi sebuah bukit dan kota suci tersebut berwarna putih bersinar dalam cahaya mentari pagi yang menghangat, tiba-tiba muncul merupakan sebuah pemandangan dibawah kami. Sopir menghentikan mobil dan secara otomatis seruan jemaah keluar dari bibir-mulut kami:

“Labbaika Allahuma labbaika”. Disini hambaMU berdoa untuk melayani Engkau; oh Allah. Disini hambaMu berdoa untuk melayani Engkau. Tidak ada kawan sekerjaMu. Disini hambaMU berada untuk melayani Engkau; untuk kemuliaanMu, Kekayaan dan keagungan dunia. Tidak ada kawan sekerjaMu. Kotanya Nabi Muhammad kata ayah.

Coba bayangkan, Nabi berkhotbah di jalan-jalan ini. Suatu perasaan yang aneh datang dan berdiam didalam hatiku. Semua ketakutan tentang masa depan terangkat. Saya merasa menyatu dengan semua jemaah ini, mencari suatu kuasa yang tidak dapat saya lihat, sama kekal dan misteriusnya dengan ketujuh bukit yang mengelilingi kota itu.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: