The Torn Veil – Bab 3 Air Kehidupan

Bab 3. Air Kehidupan

Kamp haji atau tempat istirahat bagi para jemaah, letaknya cukup jauh dari mesjid Haram. Abdullah, si penunjuk jalan yang telah dicarikan untuk kami oleh kawan kami Sheikh, menjemput kami dipintu masuk. Beliau dan Ayah berjabat tangan dan berpelukan:

“Alhanwa Salan (Selamat Datang)” kata Abdullah. “Demikian juga bagi anda” jawab ayah.

Cara penerimaan yang sederhana seperti ini dimana seorang arab menerima kita sama derajad sebagai saudara merupakan ciri-ciri Haji.

“Silahkan masuk, kami menerima anda dalam nama Allah” kata Abdullah. “Saya telah menerima surat dari sheikh yang mulia, kamar-kamar bagi anda semua telah saya pesan”.

Pembicaraan dilanjutkan mengenai domba yang akan dikorbankan. Ayah memesan 2 ekor bagi kami masing-masing termasuk para pelayanku sehingga semuanya berjumlah 8 ekor. Getaran kegembiraan terasa mengalir dalam diriku.

Perjamuan Kurban (Idul Adha) yang merupakan penghormatan bagi si orang tua yaitu Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya Ismail, merupakan puncak acara dari upacara naik haji.

Ayah meneliti lagi agar doa-doa kami mempunyai kemujaraban khusus karena darah anak domba yang begitu banyak dikurbankan.

Kamar-kamar kami semuanya berderet di satu tingkat. Ada 2 kamar yang mempunyai kamar mandi disampingnya, sangat sederhana dilengkapi secara biasa, ada tempat tidur kecil (charpais). Saya merindukan kasur katun yang ditaruh diatas “palung” seperti dirumah. Kisi-kisi dari benang dengan kasur berisi bahan rambut diatasnya bukanlah merupakan tempat istirahat yang memadai terutama bagi seorang lumpuh dibagian kiri tubuhnya karena sulit membalikkan badan. Namun semua ini adalah tahapan yang harus dijalani waktu menunaikan ibadah haji.

Berhari-hari sesudahnya, beratur-ratus ribu orang akan berbondong-bondong masuk ke Mekkah, berjejal-jejal masuk kehotel-hotel dan wisma-wisma. Hanya sedikit keleluasaan yang ada namun tidak terlihat adanya pameran kekayaan. Kebaikan akan hilang bila seseorang bersungut-sungut, angkuh dan sombong atau kehilangan kesabaran waktu menjelajahi dalam terik matahari serta kondisi-kondisi yang menekan, demikian penjelasan ayah. Sebuah kipas angin listrik dilangit-langit kamar kami menghalau udara sekitar yang panas. Di jendela2 dipasang tirai2 hijau, ditutup guna mencegah sinar matahari masuk dan hal ini memberi sedikit perasaan seolaholah kami berada di dalam sebuah bejana akuarium. Disamping itu terdapat tutup-tutup logam tipis darimana saya dapat memandang garis-garis kubah mesjid besar dari jauh mengarah keatas seperti layaknya jari-jari tangan.

Sambil berbaring diatas kasur kecilku, saya mendengar bunyi seretan-seretan sandal kulit tak bertumit yang tak berkesudahan yang dipakai oleh para jemaah. Bunyibunyian ketika tiba ketelinga kami terdengar seperti gumaman berbagai bahasa asing. Disela-sela alunan bunyi terdengar alunan ayat-ayat Al-Quran dan Allahu Akbar Allah Maha Besar. Kegembiraan merayap dalam sanubariku. Hadirnya saya ditempat itu, baik rasanya, cukup untuk melanjutkan hidup ini. Pelayan-pelayanku juga merasakan hal yang sama.

“Betapa beruntungnya kami menjadi pelayan nona dan dapat ikut berjemaah Haji” kata Salima ketika bersama-sama Sema membantu memandikan saya dengan air dingin untuk kedua kalinya hari itu. Bagi mereka hal ini merupakan keuntungan besar karena sebegitu banyak orang saleh diseluruh dunia juga mendambakan untuk dapat datang dan hadir disini pada waktu seperti ini, namun tidak sempat ataupun tidak mampu, baik karena waktu atau biaya. Waktu untuk melaksanakan haji dapat berlangsung selama sebulan jika semua tempat suci dikunjungi.

Ayah sempat bertemu beberapa kawannya dari Lahore, Rawalpindi, Peshawar dan Karachi, namun kali ini mereka sama sekali tidak membicarakan tentang harga katun atau gandum. Oh, tidak disini hal-hal duniawi ditinggalkan demikian pula semua perbedaan mengenai kelahiran, negara asal, derajat, jabatan atau status.

Di dalam ruang makan besar di Kamp Haji, pelayan-pelayan duduk makan bersama dengan tuannya, semua perbedaan telah ditutupi oleh Ihram – pakaian Jemaah Haji. Para pria mengenakan sehelai katun sederhana dilingkarkan sekeliling bagian bawah tubuh dan helai lainnya sekeliling bahu. Para wanita mengenakan pakaian-pakaian putih panjang dengan penutup kepala dan kaos kaki putih tapi tidak memakai kerudung. Menuruti jejak nabi, dimata Tuhan semua manusia sama. Ayah memberi penjelasan serius dan mendalam:

“Begitu engkau mengenakan Ihram, maka engkau telah meninggalkan hidupmu yang lama dan masuk ke dalam hidup yang baru. Dengan kata lain hal ini merupakan pembungkus mayatmu. Dengan mengenakan pakaian ini, jika engkau mati, maka engkau langsung naik sorga, tanpa henti”.

Di jalan-jalan waktu beliau menuju mesjid untuk bersembahyang, ayah bertemu dengan seorang kawan lama sejak masa sekolah: “Attau-lah ada disini. Beliau seorang Muslim sejati – ia memberi sedekah kepada orang miskin di Pakistan. Dan ia seorang yang sangat alim. Kali ini merupakan kunjungannya yang ketiga”. Memberikan sebahagian dari penghasilan kita untuk meringankan kemiskinan dinamakan Zakat atau pemberian sedekah, merupakan rukun Islam yang ke tiga. Rukun ke-4 ialah kepatuhan menjalankan ibadah puasa sejak fajar sampai matahari terbenam selama bulan ke-9 tahun Hijrah yaitu bulan suci Ramadhan. Sesudah menunaikannya barulah pajak kemiskinan atau zakat dipersembahkan. Ayahpun sangat alim, pikirku, karena ayah memberi sedekah dan kali inipun merupakan kunjungan yang ketiga dan siapa lagi yang mengajarkan saya berdoa kalau bukan ayah?

Saya memandangi dahinya. Jelas terlihat adanya bekas-bekas tekanan disebut mihrab, seperti petunjuk untuk arah ke Mekkah yang dipasang disetiap mesjid. Tanda ini terbentuk karena dahi berulang-ulang kali ditekan ketika waktu sembahyang. Dengan melihat tanda ini seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut taat berdoa – ibadah sembahyang merupakan rukun Islam yang kedua.

Selama sisa hari pertama itu saya tidak keluar tapi tinggal dirumah berdoa, membaca Al-Qurann suci kalau tidak menyiapkan diriku untuk kunjungan ke Kaabah besok, yang akan sangat melelahkan, diterik matahari, berdesak-desakkan dengan begitu banyak orang. Salima dan Sema membawa makanan kekamar dan tinggal bersamaku. Begitu banyak orang namun begitu damai rasanya kata Salima pada malam harinya. Jalanjalan penuh sesak dengan para jemaah namun suasana tenang. Tidak terasa adanya ketergesa-gesaan atau kebingungan. Dengan hadirnya ditempat ini rasanya seperti di Surga – semua keinginan rasanya terpenuhi.

Ketika Muazzin mengumandangkan azzan dari menara-menara mesjid waktu matahari terbenam, setiap orang di Mekkah berhenti ditempatnya dan berpaling kearah Kaabah, lambang yang begitu kuat mempersatukan jutaan umat Islam di ke-4 penjuru dunia. Mereka berdiri tegak, tangan terbuka pada tiap sisi wajahnya dan berdoa: Allah Maha Besar. Tangan diturunkan lalu yang kanan ditaruh diatas yang kiri, bagi wanita diatas pinggang, bagi pria dibawahnya. “Dipermuliakanlah Dikau oh Allah. Dan terpujilah Engkau; terpujilah namaMU dan diagungkanlah KuasaMU dan tidak ada lain yang layak disembah selain Engkau”. Diikuti beberapa doa lain, Al fatiha, beberapa ayat suci Al-Quran kemudian Allahu Akbar. Disini para jemaah membungkuk bertopang pada pahanya, tangan dilutut : “Betapa MuliaNya Tuhanku, Maha Besar!. Mereka berdiri tegak, tangan disamping. “Allah telah mendengar doa mereka yang telah memujiNya; Ya Tuhan Terpujilah Engkau”. Kemudian mengucapkan “Allahu Akbar” mereka sujud menyembah :” Terpujilah Engkau Ya Tuhan yang Maha Tinggi (3 kali). Lalu tegak, kemudian duduk berlutut: ” Oh Allah!. Ampunilah kasihanilah saya. Mereka berdiri tegak kembali.

Tata cara ini merupakan pematuhan terhadap pelaksanaan satu rakaat lengkap yang diikuti oleh beberapa pengulangan pegerakan dan doa. Sebagai seorang yang cacat / sakit, upacara suci ini saya lakukan dengan bantuan para pelayanku, duduk, dan mihrab diatas tikar sembahyangku menunjuk kearah Kaabah. Apakah saya akan terjaga dari mimpi indah ini dalam kamarku dirumah atau apakah saya benar-benar mengucapkan doa itu disini. di pusat dunia ? Perasaan menanti-nanti menggelitik hatiku, menimbulkan suatu sukacita yang besar. Untuk dapat hadir di sini saja Oh Tuhan, sudahlah cukup walau pun bila saya tidak dapat berjalan. Untuk dapat memandang dengan mata-kepala sendiri Rumah-Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim sudahlah merupakan suatu pemberian yang dapat dinikmati sepanjang sisa hidupnya.“Benar kau telah hidup selama 14 tahun sebagai seorang yang lumpuh” kataku kepada diriku sendiri, namun disini dimana Iman terasa menjadi kuat sekali karena begitu banyak doa terpusatkan, Allah akan mendengarkan doa keluargamu dan Nabi Muhammad akan meminta kepadaNya untuk menyembuhkan engkau.

Ketika saya membayangkan Tuhan, tidak terlintas dalam pikiranku suatu gambaran tentang Dia karena bagaimana mungkin seseorang dapat menggambarkan Mahluk yang Kekal Abadi itu? Dia yang walaupun dipanggil dengan 99 sebutan dalam Al-Quran suci, masih tidak dikenal, tidak terdapat sifat kemanusiaan yang dapat digunakan untuk membandingkanNya, begitulah ajaran yang kami terima. Tapi bibirku mengucapkan kata-kata Al-Fatuha yang berharga: Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya padaMu sendiri kami memohon pertolonganMu, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan bagi orang yang Engkau perkenan.

Bagi seorang Muslim, hidup merupakan sebuah jalan dan tiap-tiap pribadi berada di suatu tempat pada jalan itu yang terletak antara waktu kelahian dan kematian, penciptaan dan penghakiman. Saya pun telah menempuh jalan ini yang walaupun tidak dapat saya lihat akhirnya, namun dapat menjalani sampai akhir hidupku.

Besok paginya kami semua bangun sebelum fajar dan sesudah bersembahyang serta sarapan kami mulai berjalan menuju Kaabah. ayah telah mengatur agar saya dibawa diatas sebuah kursi roda, para pembantuku berjalan disampingku dan ayah didepan. Banyak orang sakit dan tua dibawa cara demikian. Saya duduk bertopang dagu agar tegak menyenangi pemandangan yang terlihat dan salah satu kesibukan paling besar sedang berlangsung dimana beribu-ribu pria dan wanita dari segala umur dan pelbagai kebangsaan bersama-sama beriringan menuju Rumah Allah. Belum pernah seumur hidupku saya melihat begitu banyak manusia disuatu tempat, begitu tekun menuju satu tujuan, tidak di Lahore atau Rawalpindi, waktu ayah membawaku dengan mobil ataupun selama di London. Arus manusia mengalir ke depan dengan satu tujuan, satu akhir, berdoa sambil berjalan seraya mengucapkan ayat-ayat suci Al-Quran berulangulang yang mengalun dan berirama. Dinding-dingding bagian luar yang begitu kekar, dijajari dengan gerbang-gerbang mengelilingi Masjidil Haram yang telah berusia tua.

Sebelum masuk kami diharuskan untuk diperiksa oleh para petugas pria dan wanita yang ditempatkan didepan pintu-pintu gerbang. Ayah telah mengingatkanku tentang hal ini: “Ada desas desus bahwa orang-orang kafir telah berusaha lebih dari sekali untuk menerobos ketempat-tempat suci kita guna melakukan beberapa kejahatan dan merusakkannya.

Apa yang terjadi dengan mereka Ayah? Saya menyelidik dengan penuh ketakutan. Oh saya harap mereka ditembak katanya. Saya gemetar mendengar hukuman itu, namun setuju bahwa mereka pantas menerima ganjaran demikian bagi penghinaan itu.

Kami masuk gelanggang besar itu yang didominasi oleh menara-menara yang tegap. Ditengah-tengah berdiri mesjid yang mulai dibangun pada abad ke-8 dan kini telah diperluas agar dapat menampung beribu-ribu jemaah. Rombongan kami berjalan melewati permadani2 dan sambil menjinjing sepatu yang kemudian diganti dengan sejumlah karcis. Lalu kami berjalan melewati sebuah gerbang menuju ruangan terbuka yang luas di tengah-tengahnya berdiri bangunan besar berbentuk kubus yang dikenal sebagai Kaabah. Rumah Allah, dipasangkan tirai brokaat hitam dihiasi dengan sebutan-sebutan untuk Tuhan yang disulam emas. Seluruh ruang terbuka itu putih warnanya karena hadirnya beribu-ribu jemaah, semua dengan muka menghadap ke Kaabah. Orang-orang berjalan atau berlari mengelilingi Kaabah menurut arah yang berlawanan dengan arah jarum jam. Lorong-lorong batu pualam kelihatannya bersinar dari pusat tempat itu.

Kami berjalan sepanjang salah satu lorong ini dan tiba disebuah kawasan berbentuk linkaran di tempat mana saya dipindahkan kesebuah tandu kayu yang diusung 4 pria berbadan tegap sebelum kami diarahkan masuk kedalam kerumunan kelompok orang banyak yang berputar-putar. Kami berjalan megitari Kaabah, berjalan 3 kali, berlari 4 kali, saya berguncang-guncang diatas tandu, keadaanku laksana setumpuk busa diatas deburan air pasang surut. Setiap kami melewati Batu Hitam yang terletak disudut timur laut itu yang ditempatkan oleh Nabi Muhammad dengan tangannya sendiri, kami mengangkat tangan dan berseru Allahu Akbar – Allah Maha Besar.

Perjalanan itu penuh dengan lonjakkan-lonjakkan bagiku dan saya memandang kearah ayah dengan cemas, namun kelihatannya beliau tidak menyadari akan teriknya matahari, desakan orang banyak atau keadaan yang tidak enak. Dapat hadir disini sudah merupakan segala sesuatu yang diingininya. Pada perjalanan keliling kami yang terakhir, kami datang ke Batu Hitam tersebut.

Saya teringat akan apa yang diceritrakan kepadaku bahwa batu ini dijatuhkan kepada Nabi adam oleh Tuhan. Batu ini merupakan simbol yang kuat sekali dalam iman kami telah disentuh Tuhan, Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Para pengusung mendorong kami kedepan dan menurunkan tanduku. Saya dibantu menyuruk kedepan untuk dapat mencium Batu Hitam tersebut. Batu itu diselaputi dengan perak dan disemprotkan dengan minyak wangi. Saya menutup mata untuk merasakan sentuhan Nabi. Batu itu tidak terasa seperti Batu sama sekali. Di bibirku terasa hangat dan rasanya ada perasaan damai mengelilingiku. Saya berkata : ‘sembuhkanlah kiranya saya, demikian pula yang lainnya.’ Namun tidak ada sesuatu yang terjadi. Salima dan Sema mengangkat saya tegak dan kami melanjutkan lagi. Saya tetap menunduk menghindari mata Ayah yang risau.

Berikutnya kami menuju ke tempat Nabi Ibrahim berdoa dan saya memanjatkan satu permohonan doa yang sangat kami dambakan : Sembuhkanlah kiranya saya. pintaku. Upacara berikut ialah berlari antara Safa dan Marwa, 2 bukit kecil mengitari mesjid besar kira-kira 1 km jarak antaranya. Diceritrakan bahwa Hagar dan Ismail dikuburkan dibawah gundukan-gundukan bukit-bukit ini. “Suatu permainan akbar” pikirku, tapi saya menyimpannya dalam hati. Tidak ada yang tertawa disini karena setiap orang melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya kembali ke sebuah kursi roda untuk melanjuntukan perjalanan sepanjang lorong batu pualam antara Safa dan Marwa sebanyak 7 kali, menelusuri perjalanan Hagar waktu mencari anaknya Ismail sesudah keduanya diusir. Menurut ceritera turun temurun, Tuhan membuka sebuah mata air; Abb-a Zam-zam (Air Kehidupan) di dekat tempat ini. Orang-orang membeli air tersebut dan meminumnya dari mangkuk logam. Ayah ingin agar kami semua minum dan membeli satu kirbat air untuk diserahkan ke Kamp Haji. Sebagiannya akan dibawa ke Pakistan. Sisanya akan memandikan saya. Upacara upacara ini menghabiskan waktu hampir sehari-harian tanpa makan atau istirahat dan kini kami kembali ke kamp haji menunggu perjalanan berikutnya.

Perjalanan tersebut ialah menuju Arafah, sebuah tempat yang terletak kira-kira 7 mil dari Mekkah dimana umat Islam mengatakan bahwa Tuhan menguji nabi Ibrahim dengan memintanya mempersembahkan anaknya yang sulung Ismail sebagai kurban. Setelah Tuhan melihat ketaatan Nabi Ibrahim, Ia menghentikan pengorbanan itu dan menggantikan dengan seekor domba jantan yang terjerat didalam belukar. Kami mengunjungi Mina dalam perjalanan kembali dari sana untuk melemparkan batu ke arah 3 tiang yang melambangkan setan-setan yang menggoda Nabi Ibrahm agar menolak mempersembahkan anaknya. Setiap orang menertawakan tiang-tiang buruk tersebut sambil melemparkan batu atau sepatunya. Melemparkan sepatu berarti suatu penghinaan yang besar.

Sesudah itu kami pergi ke tempat mempersembahkan kurban, tepat diluar kota dan berdiri berbaris sampai kami menemui si tukang jagal yang telah mengetahui tentang domba-domba yang akan kami kurbankan. Ia memegang pisau di satu tangan dan tangan yang lain memegang domba, lalu saya memegang pangkal pisau itu seraya si tukang jagal melaksanakan pemotongannya. Darah domba jantan itu mengalir ke palungan penadahnya dan binatang ini meronta-ronta serta bergoyang goyang seakan akan mau melarikan diri. Saya tidak merasakan sesuatu perasaan terhadap domba itu – kematiannya diperuntukkan bagi pemenuhan perintah untuk mempersembahkan kurban. lalu tukang jagal lainnya datang dan mengambil domba tersebut kemudian mengulitinya.

Kami tidak dapat menunggu lama untuk melihat seluruh upacara persembahan domba kami sampai semuanya disembelih karena begitu panjang antrian, namun semuanya terlaksana dengan teratur. Domba-domba kami dihitung satu persatu dan akan dipersembahkan kemudian. Kami melihat ketika orang lain datang menggantikan tempat kami untuk mengurbankan domba, kambing atau untanya. Bisa sampai 6 orang bersama-sama bergabung mengurbankan seekor unta kata ayah.

Saya senang sekali bahwa kami tidak tinggal terlalu lama guna mnyempatkan diri melihat seekor unta dikurbankan. Saya tahu bagaimana akhirnya daging-daging itu. Ayah telah menceriterakan padaku : “Sebagian disedekahkan kepada fakir miskin – mereka makan daging enak selama musim haji. Kebanyakan akan dibakar. Daging2 itu tidak tahan untuk disimpan pada keadaan panas seperti ini.”

Jemaah haji tinggal di Mina selama 3 hari dan pada hari yang kedua dapat mulai lagi mengenakan pakaian biasa sehingga jalan2 yang ber-abu dan panas menjadi mekar dengan warna-warni pelbagai pakaian nasional yang dipakai. Para pria mencukur kepalanya sampai pendek / botak dan para wanita memotong rambutnya sekurangkurangnya 3 cm. Setiap orang saling mengucapkan “Selamat Naik Haji”.

Hari-hari ini ialah hari perayaan sahabat dan handai taulan baik teman lama maupun yang baru. Juga merupakan waktu untuk menyelesaikan perbedaan2 dan berdamai satu sama lainnya. Dunia akan menjadi tempat yang membahagiakan bila kita mempertahankan semangat haji sepanjang hidup kita kata ayah. Namun, kami tidak tinggal di Mina, karena kedaan saya yang cacat dan kembali ke Kamp haji, begitu kembali saya duduk diatas sebuah tempat duduk yang ada sandarannya dipegang oleh Sema untuk dimandikan, mengucapkan doa-doa sambil di sirami air Zam-Zam oleh Salima disekujur tubuhku dari sebuah ember plastik.

Sesungguhnya pada waktu saya berharap agar dapat disembuhkan dari kelumpuhan itu tapi tidak ada sesuatu apapun terjadi tubuhku masih sama berat dengan timah, perasaanku lebih berat lagi, waktu para pembantu mengangkat dan mengeringkan tubuhku lalu memakaikan pakaianku. Tidak lama kemudian ayah yang telah menunggu dikamar sebelah dan mengharapkan saya berjalan sendiri masuk lewat pintu itu, datang menyongsongku. Hari ini bukanlah Kehendak Allah, tapi kita tidak akan putus asa, Allah Maha Besar katanya kemudian tanpa sepatah katapun beliau melangkah keluar.

Sesudah melangsungkan Upacara2 ini para Haji pulang ketempat untuk mendapatkan penghormatan di negerinya masing2. Beberapa orang malah membubuhkan predikat Haji didepan namanya atau menempatkan pada papan nama tokonya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang2 jujur, saya mau mempercayai sebahagian dari mereka kata ayah dengan secercah senyuman tersungging dibibirnya.

Kebanyakan orang seperti kami, pergi ke Medinah kota kedua yang paling penting bagi umat Islam, jauhnya 400 km ditempat mana Nabi Muhammad tinggal selama 10 tahun sesudah Ia dikeluarkan dari Mekkah dan dari sana pada tahun 622 menyebarkan agama Islam sebagai awal mula masa Islam, Ia tinggal disana pada bagian akhir hidupnya dan kami bermaksud melihat kuburannya.

Banyak ceritera yang begitu berkesan bagiku sebagai kanak2 terpusatkan sekitar kota ini. Mesjid di Madinah sangat mengagumkan, kami berjalan diatas permadani tebal, indah dan memberikan penghormatan pada Nisannya Nabi Muhammad. Nisan itu ditutup dan diberi permadani serta dikelilingi kaca, orang2 berjalan mengitarinya dan mencium nisan itu melalui gelas dengan ciuman jarak jauh. Mereka juga memasukkan uang dan karangan2 bunga, para petugas memungutnya dan menghiasi nisan itu. Disekeliling halaman itu orang2 duduk dan menyanyikan lagu2 rohani, karena ayah berstatus Pir, maka beliau meminta izin agar saya diperbolehkan berada di Nisan Nabi Muhammad. Para petugas membukakan pintu bagiku dan saya duduk didekat pintu dalam sebuah kursi roda selama 2 atau 3 menit sambil berdoa. Hal ini merupakan pengalaman yang menakjubkan.

Kami mengunjungi Nisan2 lainnya disitu lalu kami akhiri dengan berkunjung ke taman kurma Siti Fatima. Nabi Muhammad membangunnya bagi putrinya, kami membeli sekeranjang yang beratnya 15 kg kurma (sangat mahal) untuk dibagi-bagikan pada sanak keluarga dirumah.

Di Medinah kami mohon diri dari Qasi, ayah memberikan padanya sekedar baksish sebagai suatu pemberian dalam sebuah amplop, dia begitu menyenangkan dan bersifat menolong sehingga kami merasa cukup sedih waktu melihat mobilnya membelok menuju kearah tempat Sheikh dengan membawa salam dari kami.

Dari Medinah kami terbang ke Baitulmukadish (Jerusalem) ditempat mana kami bertemu dengan jemaah yang penuh sesak dari kepercayaan Islam, Yahudi dan Kristen. Musim Haji tiap tahun berbeda waktunya selama 10 hari sesuai perhitungan bulan dan tahun ini bertepatan dengan masa raya Paskah Yahudi dan umat Kristen. Mesjid di Jerusalem dinamakan mesjid Al-Aqsa mesjid yang terjauh kearah mana Nabi Muhammad berkiblat sebelum Mekkah dijadikan Pusat Agama Islam baginya. Kubah batu karang yang didirikan tepat disebelahnya mempunyai sangkut paut dengan Nabi Ibrahim, Daud membelinya dan Soleman membangun Kaabahnya, disini yang dihancurkan Titus dan disini Nabi Isa berjalan dan mengajar.

Sekarang orang2 Yahudi meratap pada sisa dinding itu, karena mereka telah kehilangan KemuliaanNya. Kami hanya tinggal semalaman disebuah penginapan dekat Kubah dibatu karang dan saya tidak pergi kesana karena perasaanku cukup kecewa sebab tidak mengalami kesembuhan.

Besoknya kami berangkat menuju Karbala di Irak untuk melihat tempat dimana cucu Nabi Muhammad Husein serta keluarga dan para pelayannya sejumlah 72 orang dikuburkan, hal ini merupakan akibat dari peperangan yang mengerikan sewaktu Husein dan ke 72 pengiringnya yang gagah berani bertempur melawan Khalifah Yazid dari Syria dan disini mereka mati sahid. Sejak waktu itu kami Muslim Shiah selalu mengenangkan ulang tahun kematiannya dengan pawai perkabungan di jalan2 dimana para pria dan anak2 lelaki berjalan sambil memukul mukul dirinya, dalam bulan Muharam orang2 mengenakan pakaian hitam dan tidak ada seorangpun dikota seperti Jhang akan berpikir untuk menyelenggarakan perkawinan bagi keluarganya. Kami berdoa memohonkan kesembuhan di Karbala, tapi tidak ada yang dikabulkan.

Kami telah menjalani Ibadah Haji selama sebulan dan sesudah waktunya pulang kerumah, ketika sedang menunggu pesawat ke Karachi, ayah memandangku: Tuhan menguji engkau, demikian pula aku, jangan putus harap. Mungkin pada suatu waktu dalam hidupmu engkau akan disembuhkan. Ayahku tercinta yang baik begitu sabar dan setia, beliau berusaha membangkitkan semangatku dan ia merasakan akibat yang diinginkannya, imanku yang lemah bangkit kembali. Saya berkata baiklah saya tidak akan putus harap, saya akan tetap setia pada Nabi dan Allah, lalu saya tertawa untuk menunjukkan bahwa sebenarnya saya tidak kecewa.

Kembali dengan keadaan yang sama halnya dengan pada waktu datang. Beliau menunduk dan menciumku, saya mengharap hal seperti ini darimu katanya. Para pembantuku membisikkan: Bibi tunggulah kehendak Allah. Jadi kami terbang menuju Lahore melalui Karachi dengan adanya perasaan bahwa terdapat beberapa berkat imbalan khusus yang melekat dalam diriku karena ibadah haji ini. namun menyadari bahwa kami harus menunggu waktu Allah untuk dikabulkan, kami dijemput oleh keluarga kami di bandara beserta para pembantu kami. Mereka membawa karangan2 bunga berwarna ungu & kuning berbau harum dikalungkan dileher kami. Meraka semuanya menjamah kami dan mengucapkan Allahhu Akbar karena merupakan suatu berkat bila seseorang menyentuh seorang haji, mereka memandang padaku masih lumpuh tapi tidak berikan sesuatu komentar.

Ayah berkata pada saudara2ku lelaki dan perempuan,” Allah bukannya Tuhan yang tidak adil, kita harus bersabar menantikan waktu Allah, benar, adik kamupun harus memiliki kesabaran untuk menunggu.”

Kami bermalam di Lahore disebuah bungalow milik salah seorang keluarga dan perjalanan pulang dilaksanakan keesokan harinya dalam sebuah iringan mobil untuk mendapat penyambutan dari anggota rumah tangga lainnya dengan suatu ucapan Selamat Datang dengan penuh sukacita.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: