The Torn Veil – Bab 4 Pesta Kawin

Bab 4. Pesta Kawin

Perjalanan kembali dari Ibadah Haji rasanya hampir sama menggairahkan seperti waktu akan berangkat kesana.

“Biarkanlah saya menjamahmu,” kata Samina yang terus menerus ingin mendengarkan tentang semua yang telah kami lihat dan lakukan. Keadaan semacam inilah yang dialami para jemaah Haji sesudah kembali dari Mekkah, kerumunan orang di Lahore akan bergegas gegas ke-stasiun meneriakkan “Ya Muhammad dan Ya Rasul Arbi, serta akan berusaha akan menyentuh si Haji begitu turun dari Kereta api dari Karachi. Dengan berbuat begitu artinya mereka memperoleh beberapa berkat secara cuma-cuma sedangkan bagi orang lain memerlukan biaya besar. Kegembiraan itu berlangsung sebulan dan selama itu para anggota keluarga berdatangan baik dari jauh maupun dekat, demikian pula kaum kerabat dari kota datang membawa hadiah kecil, hal seperti ini merupakan tradisi bagi mereka yang pulang haji dengan selamat.

Anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib, menerima oleh-oleh air suci dari sumber air Zam-zam. Satu botol dihadiahkan kepada Mauvi yang datang mengunjungi ayah dan berduskusi tentang Hadist selama berjam-jam setiap minggu. Setiap orang berkata kepadaku “Allah memberkati engkau dengan pengertian yang baru”, sebab saya telah menunaikan ibadah haji.

Apa yang kami kehendaki yaitu tentu kesembuhanku, namun hal ini belum dikabulkan, kalaupun ada secara sembunyi2 mengeritik dibelakang-belakang tentang hal ini. Tidak ada yang sampai ketelingaku, kaum keluarga hanyalah mengeluh dan menciumku seraya mengucap “Allah akan menyembuhkanmu nanti, Bibi-Ji kita harus pasrah dan tawakal pada kehendakNya”.

Jadi walaupun dalam hatiku terbetik kesedihan nyata karena kegagalan tujuan perjalanan kami, namun dari aspek lain terasa adanya pertumbuhan, saya telah melihat begitu banyak orang dikota kami yang menabung seumur hidupnya namun toh tetap tidak cukup memiliki uang untuk menunaikan ibadah Haji. Kehebatan perasaan yang saya alami dan saksikan di Kaabah tetap melekat dalam hatiku sebgaimana sufi perjalanan perasaanku dimana dengan berjemaah menuaikan ibadah haji ke Mekkah merupakan simbol yang kelihatan. Tujuan para jemaah adalah agar mereka dapat menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Islam berarti “Berserah diri”.

Pada usia 14 tahun itu saya belum dapat melakukannya dengan rapi, namun seingatku betapa kuat kepastian itu bertumbuh sehingga saya terdorong untuk harus menghindari segala sesuatu yang dapat menajiskan saya, supaya saya dapat membaktikan diriku sebaik-baiknya untuk bersembahyang.

Ketika azan dikumandangkan, saya bersujud dengan suatu hasrat hati yang jelas diatas tikar sembahyangku, berkiblat menghadap ke Kaabah, sambil Salimah menopangku, hal ini kulakukan bukan karena apa yang telah diajarkan, tapi karena saya merasa bahwa saya membutuhkannya. Di waktu2 lain disiang hari dengan jari2ku saya menelusuri biji2 tasbih yang kami bawa dari Medinah, mengulang-ulang perkataan “Bismilah” (dalam Nama Allah) disetiap biji tasbih, karena tidak ada cara lain yang kuketahui untuk dapat mengungkapkan seruan hatiku yang mendambakan suatu jawaban bagi kesembuhanku. Walaupun saya tidak memahami pengetahuan tentang Allah dalam hal ini serta tidak ada kemajuan yang dialami, namun saya terus melaksanakan terus cara seperti ini bila perlu sepanjang sisa hidupku.

Setelah masa gembira sepanjang sebulan itu berlalu, keadaan di bulan Juli terasa lebih terang, saya merasa bahwa ayah tertekan kerana keadaanku. Tiba2 beliau berucap “mari kita mengadakan pesta kawin”. Oh ayah, saya dapat menari-nari kegirangan, saya senang akan perjamuan kawin, sepanjang ingatanku perjamuan kawin pertama yang saya ketahui ialah perkawinan kakak perempuanku yang tertua dengan sepupu kami,waktu itu usiaku baru 4 tahun dan Anis Bibi 14 tahun, teringat olehku baju merah yang dijahitkannya untukku terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan untuknya, pakaiannya disulam secara gemerlapan dengan hiasan emas dan ia mengenakan perhiaan indah dirambutnya serta sebuah mahkota dan cincin mutiara yang dikenakan di hidung, ditangan kanan ia mengenakan 5 cincin diikat oleh sebuah “pujangla” ke gelang yang dipakaikan mengelilingi pinggangnya dan diatas semua ini ada dupatta (syal) terbuat dari suera berkualiteit paling baik, hampir sepanjang waktu saya duduk didekat lutut dan ia memegang saya erat, dengan sikap melindungi memelukku selayaknya saya memeluk bonekaku.

Di waktu pemuka agama masuk untuk melaksanakan upacara perkawinan baginya kurasakan dia gemetar, lalu saya menepuk pipinya dibawah kerudung yang ternyata basah dengan air mata. Semua tamu pria menemani pengantin pria dikamar sebelah sedangkan semua wanita bersama kami, sesuai adat-istiadat pengantin pria belum pernah melihat wajah calon istrinya, kecuali waktu mereka masih kanak-kanak dan belum menyadarinya, namun hal ini tidaklah menjadi masalah, ia akan mencintainya semua orang sayang pada Anis Bibi yang begitu mirip dengan Ibu kami almarhumah.

Pesta kawin itu berlangsung meriah, beberapa orang terpandang hadir, banyak hadiah diberikan, mas kawin yang kami bawakan besar nilainya dan tentu ayah telah mengeluarkan banyak biaya, 21 bagian dari semuanya menjadi hak milik Ansi Bibi yang membawanya kerumahnya yang baru, berikut uang, emas, hadiah2 dan bagi keluarga pengantin pria merupakan suatu keberuntungan, tiap orang berkata bahwa pesta itu merupakan yang terbaik yang pernah diselenggarakan di kota kami.

Sewaktu Anis Bibi datang untuk mengucapkan selamat tinggal padaku, saya memeluknya erat2 sambil menangis terisak-isak, bagiku sepanjang yang kuketahui ia adalah ibuku, saya akan datang sesering mungkin menjengukmu katanya. Nyatanya besoknya ia kembali sebelum meninggalkan kami dan menetap bersama mertuanya. Pasangan muda ini masih tinggal bersama orangtuanya secara bergantian sampai mereka dinilai telah cukup dewasa untuk berdiri sendiri.

Perkawinan Safdar Shah diselenggrakan dirumah pengantin wanita dan merupakan kebalikan dari pelaksanaan pestanya Anis, para wanita keluarga kami tidak hadir, kami menunggu sampai mereka membawa Zanib, si pengantin wanita datang keesokan harinya ke rumah kami bersama mas kawinnya yang indah2. Ia tinggal selama 2 hari kemudian kembali kerumah orangtuanya selama seminggu, pasangan ini telah bertunangan sejak anak-anak, namun sesuai adat kebiasaan mereka belum bertemu satu-sama yang lain, namun ada beberapa hal yang lain yang telah mengalami perubahan.

Pengantin wanita lebih tua, ketika itu berusia 18 tahun, ia tinggal bersama kami sementara Safdar Shah menyelesaikan sekolah dagangnya disebuah universitas di Amerika sebelum terjun ke bidang perdagangan disebuah pabrik pengepakan di Lahore. Sesudah itu mereka pindah di Lamanabad dan memiliki sebuah bungalow yang indah kepunyaan mereka sendiri. Saya senang ketika iparku tinggal bersama kami, ia menemaniku di kamar atau duduk bersamaku di halaman ditempat khusus bagi para wanita, disana tiap hari saya didorong diatas kursi rodaku selama cuaca mengijinkan, diantara bunga-bunga mawar dan pohon orcis dan jeruk dan mangga serta disegarkan oleh percikan2 air yang disemprotkan dari mata air kecil. Selama kami disana tukang kebun menyingkir jauh sampai tidak terlihat dari tempat kami.

Tidak lama sesudah waktu itu Samina kawin dan tinggal dipinggir kota Rawalpindindi bersama keluarga suaminya. Lalu menyusul Alim Shah. Ia baru saja lulus dari sekolah Hukum dan tinggal di Samanabad bersama istrinya dan menjadi seorang Pejabat di Badan Gs. Perkawinanku tentu saja tidak mungkin dilangsungkan. Kami telah membebaskan sepupuku dari tali pertunangan, kemudian ia kawin dengan seorang sepupu yang sangat cantik dari pihak keluarga lainnya. Jadi, ayah dan saya sendiri yang tinggal dan sejak waktu inilah dimulai masa hidupku yang paling berharga dimana saya dapat ditemani lebih dekat rasanya dibandingkan sebelumnya. Semua anaknya yang lain telah terurus dengan baik dan pikiran ayah sudah tenang. Jika datang waktunya untuk membuat perhitungan dihadapan Allah, beliau tidak disalahkan karena gagal melaksanakan tugasnya. Di antara kami terjalin ikatan yang erat dan sangat dalam dijalin dari kasih sayang keluarga serta keyakinan akan agama kami. Inspirasi dan penuntun kami adalah ayah kami.

Masih ada dua anggota keluarga yang belum saya sebutkan. Mereka datang sesudah masa perpecahan tahun 1950, setahun sebelum saya dilahirkan. Banyak orang kehilangan tempat tinggal dikedua belah pihak yang bersengketa dengan ayahku, sesuai dengan tanggung-jawabnya, memasang iklan disemua surat kabar bila ada keluarga Sayed yang mengalami musibah seperti itu agar datang. Tidak lama kemudian, pasangan ini tiba dari Karachi dan menjadi bagian keluarga kami. Paman menjadi seorang “saudara lelaki” kehormatan dan ayah membantu menjalankan tugas rumah-tangga sesudah ibuku meninggal dunia dan beliau ganti mengurus saya. Saya menyukai keluarga ini, mereka baik dan sopan dan perhatianku terisi dari kekosongan dirumah dengan kehadiran 2 anak mereka putera berusia 12 dan puteri berusia 8 tahun.

Bibi adalah seorang wanita yan baik hatinya, sangat berterima kasih karena mendapat naungan di atas kepalanya, tapi masih mengenang akan penderitaan-penderitaan yang dialami keluarganya waktu negara Pakistan didirikan. “Mengerikan, mengerikan. Saya melihat dengan mata kepalaku sendiri sewaktu kakakku dibunuh…..oh, kau tidak tahu bagaimana menderitanya kami…” disini ia berhenti merasa sakit.

Secara bertahap pengalaman sedihnya itu memudar ketika melihat masa depan yang cerah sedang menunggu anak-anaknya. Puterinya dididik sama halnya dengan puteranya. “Ia akan menajadi dokter” kata Bibi bangga. Abas akan menjadi tentara”. Ini jabatan-jabatan terhormat, lebih-lebih bagi seorang gadis. Kecenderungan modern dalam pendidikan menimbulkan masalah. Apa yang dapat mereka lakukan? Hanya ada beberapa bidang kerja yang terbuka bagi para wanita, beberapa diantaranya terutama jika tinggal di kota-kota besar akan mendapatkan tantangan dari cara-cara berpikir tradisional yang mau melihat gadis-gadis kawin dan berumah tangga secepat mungkin.

“Apakah anda juga berpikir begitu? kata bibi. Saya tersentak dari lamunanku. “Mungkin” kataku. Oh, tentu kata bibi. Puteriku akan menyelesaikan pendidikannya sehingga memenuhi syarat untuk menjadi dokter. Bayangkan betapa bermanfaatnya bila ia memiliki kemampuan ini sesudah berkeluarga kalau anak-anaknya sakit. Saya tidak memperdulikan celoteh seperti itu lebih dari satu jam, seraya merentangkan kakiku. Saya hanya perlu memberikan komentar seadanya disana-sini agar percakapan kami tetap jalan.

Baginya, hal ini merupakan hiburan sedang bagiku mungkin dapat memikirkan hal-hal lain lagi. Paman dan Bibi telah banyak mengatasi kesulitanku dengan para pelayan, karena pada setiap rumah-tangga ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dimana menjaga harta-kekayaan adalah tanggung-jawab kami.

Salima telah bekerja dengan kami sejak saya berusia 7 tahun. Ia seorang gadis desa pamalu berusia 14 tahun sewaktu pertama kali ditugaskan untuk menjagaku. Setelah makin dewasa ia dibantu oleh Sema yang juga berasal dari keluarga yang sama. Ada juga pembantu-pebantu lain yang diatur oleh Munshi atau klerk dari kantornya yang terletak didepan pintu masuk bungalow. Ia bertugas mengurus pembelian barang, mengatur menu agar cocok dengan keperluannya, memesan perbekalan dan meposkan surat. Tamu-tamu diterima dan dijamu sebagaimana mestinya, tagihan-tagihan dilunasi dan pertanggungan jawab atas pelaksanaan kerjanya diajukan setiap minggu. Petugas yang lebih rendah kedudukannya tapi penting fungsinya adalah chowkedar si penjaga pintu gerbang. Apabila para tamu membunyikan bel-gerbang maka chowkedar berkewajiban menanyakan apa keperluannya dan jika melihat bahwa orang itu baik-baik diteruskannya kepada Munshi yang selanjutnya akan membawa mereka kepada anggota keluarga yang diperlukan.

Ada 4 tukang kebun. Diaka kepalanya, mengawasi pembelian tanaman serta penggalian tanah untuk menanamnya dan mengatur pot-pot tanaman dihalaman yang disinari matahari waktu musim dingin dan di serambi yang terlindung pada musim panas. Tukang kebun kedua melaksanakan perintah Dika dan yang ketiga bertanggung-jawab atas sumur-sumur agar air tersedia dengan cukup untuk menyemprotkan kebun. Anak lelaki Dika memotong rumput dan mengatur agar segala sesuatu tersusun rapih. Kami mempunyai seorang Koki pria dan pembantunya. Saya tidak pernah kedapur – saya tidak diperkenankan masuk kesana. Rahmat Bibi ialah pembantu yang mengolah susu. – ia membuatkan mentega segar tiap pagi dari susu kerbau milik kami.

Lahraki membawa makanan ke meja sedangkan Sati membantunya. Mereka juga melakukan pekerjaan rumah-tangga lainnnya. Jadi tugas dan tanggung-jawab terbagi-bagi dan kepentingan kami satu dengan yang lain ada ketergantungannya. Upah-upah mereka tidak tinggi karena sebahagian besar dari pembantu itu tinggl didalam dan dijamin makanan serta pakaiannya. Pada waktu itu saya menilai bahwa mereka tidak bekerja sekeras orang-orang lain yang bekerja diluar.

Tidak ada keinginan dalam hatiku untuk berlaku kasar terhadap para pembantu kami dan saya merasa girang karena Bibi, dalam setiap waktu dan keadaan bila perlu menegur mereka juga tidak berteriak-teriak. Sekali saya mendengar adanya pertengkaran dengan dhobi/tukang cuci yang menghilngkan beberapa potong jubah yang indah. Saya selalu heran bagaimana pakaian-pakaian kotor ini dalam waktu seminggu sudah kembali menjadi putih bersih, dilicinkan dengan seterika arang dan dikembalikan kepada kami dalam keadaan bersih rapi – padahal keluar dari rumah pencucian yang berlumpur dan hanya dilengkapi dengan sebuah pompa tangan disampingnya guna menjalankan air atau mengairi saluran air bagi keperluan pencucian. Seorang dhobi tdak pernah menjadi kaya tapi umumnya ia hidup layak. Upahnya tidak diterima dalam bentuk uang tunai tapi berbentuk pemberian misalnya gandum atau kini beras. Apa yang tidak dipakainya ditukarkannya dengan barangbarang yang diperlukan di desa. Bukanlah suatu kehidupan yang jelek. Saya malah berharap jika sampai saya kehilangan semuanya, saya dapat hidup sebaik kehidupan di dhobi itu. kata ayahku seraya memangku tangannya menandakan perasaan puasnya atas rumah serta tanahnya.

Saya mempuyai seorang guru, Razia yang datang mengajari saya atas kesulitankesulitan yang kutemui dalam memahami pengetahuan tetang agama Islam, Urdu, sejarah India dan Pakistan, matematika, persia, dasar-dasar ilmu pengetahuan. Sebagai ganti bahasa inggris saya mempelajari bahasa Urdu lanjutan. Razia merupakan seorang wanita yang baik yang penuh perhatian, tinggi dan cantik. Sewaktu memasuki kamarku rasanya ia membawa hembusan angin segar dan saya berterima kasih karena dengan bantuannya saya menjadi tertarik pada dunia sekelilingku, mendengarkan warta berita radio dan program-program agama serta menonton TV. yang dibeli ayah sekembalinya dari Mekkah untuk melunnakkan perasaan kecewaku waktu pulang.

Pada suatu hari Razia berkata: “Kini anda sudah siap mengahadapi ujian. Dalam waktu tidak lama lagi saya tidak akan datang untuk memberikan pelajaran bagimu.” Saya begitu girang menghadapi apa yang akan diujikan sampai-sampai tidak menyadari sepenuhnya betapa saya akan merasakan kehilangan atas pelajaranpelajaran kami. Saya lulus ujian dan sesudah itu sehari-harian duduk tanpa kegiatan. Ada seorang lagi murid Razia sehingga ia tidak dapat sering datang untuk mengunjungiku. Namun ayah selalu datang tiap malam dan beliau akan duduk membaca surat kabar dan memberitahukan kepadaku berita hari itu baik mengenai perdagangan maupun tentang kejadian-kejadian di kota.

Kadang-kadang kami berjalan-jalan. Pernah terpikir olehku bahwa daerah kami merupakan pusat daerah Punjab dan dengan sendirinya juga merupakan pusat Pakistan. Disamping kwalitas binatang piaraan dan kehidupan industrinya yang bertumbuh ditempat ini juga terkenal sebagai pusat peristiwa romantisnya. Ada sebuah batu Nisan dari suatu pasangan muda yang dipisahkan semasa hidupnya namun dipersatukan dalam kematiannya. Saya mendengar perincian ceritera ini mula-mula dari Samina lalu ayah membawa kami berziarah dan melihat batu pualam putih yang merupakan peringatan terhadap pesan kedua kekasih yang menyedihkan itu.

Cerita mengenai “Her” yang berati “cantik” serta “Ranjha” yang telah bertunangan dengannya. Akhirnya Raja mendengar mengenai hubungan ini dan membatalkan perkawinannya. Tapi doli (kendaraan temantinnya) membawanya kepada Ranjha dan kendaraan ini justru menjdi kereta jenazah bagi keduanya. Pamannya membubuhkan racun dalam minumannya waktu ia meninggalkan rumah. Dalam tradisi Romeo dan Juliet asli, Ranjha membunuh dirinya.

Cerita-cerita semacam ini menalari perasaan romantis kami, lama kemudian sesudah ,mendengar ceritera ini saya membanding-bandingkannya dengan perasaan ayahku terhadap Ibuku. Perasaan ini bukanlah perasaan-perasaan yang dibuat-buat dan dikendalikan oleh nafsu-birahi namun benarbenar merupakan cinta sepenuh hati yang mendorong pengorbanan dirinya bagi kekasihnya selama masa hidupnya.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: