The Torn Veil – Bab 5 Getirnya Kematian

Bab 5. Getirnya Kematian

Saya tidak senang untuk mengingat-ingat akan apa yang terjadi kemudian walaupun dalam kepahitan dan getirnya kenangan ini, tersirat adanya penghiburan bersamanya. Ayah kami yang begitu kuat fisiknya jatuh sakit. Kejadiannya dibulan Desember 1968 ketika hujan turun dengan lebatnya cuaca dingin ayah terlalu lama bekerja di real estatetnya dipedalaman dan ketika pulang keadaanya basah kuyup dan kedinginan, malam itu beliau demam waktu akan masuk tidur. Keesokan harinya pagi2 beliau masih juga berusaha sekuatnya ke kantor walaupun mukanya pucat dan berkeringat untuk menjalankan perdagangannya, lalu kembali lagi kerumah malam harinya. Keadaannya memburuk waktu bernapas, suaranya tidak enak terdengar, dokter datang dan memberikan pengobatan begitu juga pemuka agama (Mullah) mendoakannya. Demamnya hilang lalu Majid membawanya kembali bekerja. Tidak lama sesudah itu beliau pulang dalam keadaan pingsan yang susah bernapas. Keluarga dekat berkumpul mengelilinginya dan kami membulatkan niat dan kemauan kami membantu beliau berjung melawan sakitnya yang kini sudah diketahui yaitu pneumonia, seharusnya ayah masuk rumah sakit, tetapi beliau bersikeras untuk tinggal dirumah dan masih berusaha untuk bekerja dari kamar tidurnya.

Selama 2 atau 3 hari beliau berjuang, kemudian datanglah perobahan yang kami takutkan akan terjadi. Beliau sedang mengalami kekalahan dalam perjuangannya dan kami tak berdaya menolongnya, beliau mulai memberi nasihat kepada kami juga instruksi2 tentang pembagian harta miliknya dan beliau menyerahkan aktanya kepada Safdar Shah yang mendapat kuasa dari ayah untuk maksud ini. Walaupun keadaan telah payah, namun ayah tetap memikirkan diriku. Beliau memandang padaku sambil terengah-engah berkata,” Saya mewariskan harta bagimu yang banyak, walaupun kau menggunakan 100 pelayan engkau tidak akan menjadi beban bagi siapapun. Jagalah paman dan bibimu serta berikanlah pada mereka apa yang dibutuhkannya.”

Kami saling berpandangan dengan perasaan cemas. Hal ini tidak akan terjadi kami berseru sambil bertangis-tangisan, beliau melepaskan diri dari rangkulan kami laksana air yang surut dari permukaan bumi dan tidak sanggup kembali lagi, kecuali bila ada bantuan dari pengaruh matahari. Saya duduk dikursi roda di sampingnya dan sambil memiringkan badan memandang beliau dengan bingung “ayah jangan tinggalkan kami”. Kami membutuhkanmu, jika ayah pergi, saya ikut pergi. Tangisku tanpa menyadari akan apa yang kukatakan, beliau membuka matanya dan dengan lemah menaruh tanganya diatas kepalaku.

Keadaan ini adalah beban bagimu tapi sekali-kali jangan engkau membunuh diri. Jangan lupa bahwa engkau merupakan milik keluarga Sayed, keluarga Nabi Muhammad, engkau akan masuk surga, jadi jangan sekali-kali membunuh dirimu, karena bila kau lakukan itu, engkau akan masuk neraka. Jangan pedulikan keluhan – keluhan seperti para istri tua, tapi hiduplah dengan cara benar dan nanti kita semua akan berkumpul kembali bersama Ibumu. Sampai disini beliau mengangkat badannya sedikit seraya merangkul tanganku dengan gemetar, matanya memancarkan semacam cahaya yang aneh dan tetap seolah-olah mendapat suatu penglihatan. Sambil bersusah payah beliau bertutur :

“suatu hari kelak Tuhan akan menyembuhkan engkau, Gulshan, berdoalah kepadaNya, lalu beliau terkulai jatuh, punggungnya diatas bantal, napasnya menjadi berat dan pelan. Matanya tertutup, saya tetap duduk disana menangis dengan perasaan pahit. Bagaimana saya dapat mempunyai kekuatan Iman jika ayah tidak bersamaku, kataku sambil menjerit.

Lalu Safdar Shah mulai menangis, jangan tinggalkan kami, kami masih memerlukanmu, engkau adalah ayah sekaligus ibu bagi kami. Saya memandang kearah kakaku, ia seorang pedagang yang keras, tidak kusadari bahwa ia mempunyai perasaan yang begitu lembut terhadap ayah yang telah membesarkannya serta menjaga kami melalui masa kanak-kanak dan remaja. Ayah membuka matanya. Beliau melakukan suatu usaha yang luar biasa untuk dapat tetap bersama kami sesuai kemauannya. “Jagalah adik perempuanmu” katanya kepada setiap anaknya dan satu demi satu bergantian mereka bersumpah untuk mematuhinya. Kemudian beliau meminum air, mengucapkan beberapa ayat suci Sura Yasin yang kami ikuti mengucapkannya bersama lalu beliau menutup mata selama-lamanya.

Keadaannya tetap demikian, bernapas dengan berat dan perlahan selama beberapa jam kami berjaga-jaga disampingnya dan pada jam 8 pagi tanggal 28 Desember 1968 beliau meninggal. Kawan-kawannya para Maulvi mengucapkan Sura Yasin : “Dan ketika terompet berbunyi, mereka bangkit dari kuburnya dan bergegas lari menuju Tuhannya. Mereka akan berseru: Aduhai bagi kami. Siapa yang telah membangkitkan kami dari tempat perhentian kami. Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih : Para Rasul telah mengajarkan kebenaran!. Dan dengan satu teriakan mereka akan berkumpul di hadapan kami. Pada hari itu tidak ada jiwa yang kena menderita ketidakadilan sedikitpun. Engkau hanya akan menerima hadiah sesuai pahalamu. Pada hari itu penghuni Surga tidak akan memikirkan hal yang lain kecuali kebahagiaannya. Bersama para istrinya, mereka akan berbaring dibawah pepohonan yang rindang di atas balai-balai lunak.Mereka akan memperoleh buah-buahan dan semua yang diinginkannya.”

Dengan berlinangan air mata kami mengucapkan bacaan tradisional ini dan percaya bahwa dengan demikian akan memudahkan perjalanan kematian ayah kami. Lalu Samina mencium wajahnya yang telah mati dan kami semua mengikutinya. Selama beberapa jam kemudian almarhum menjadi milik anggota keluarga pria dan para tetangga yang telah terlatih dalam melaksanakan upacara kematian. Para pria dan pelayan-pelayan membersihkan tubuhnya dan memakaikan padanya selembar kain kapan putih khusus yang dulunya dibawa almarhum sewaktu pulang dari haji, disiapkan bagi pemberangkatan pada perjalanannya yang terakhir. Pakaian itu terdiri dari atas sebuah kemeja panjang bersama 2 helai kain untuk dilingkarkan melingkari pinggang dan melalui bahu. Mereka mengenakan sebuah sorban dikepalanya dan membungkusnya dengan kain putih, menempatkannya didalam sebuah peti yang penuh dengn tulisan-tulisan doa dan ayat-ayat suci Alquran sekelilingnya. Peti ini dibiarkan terbuka selama 6 jam untuk memungkinkan para wanita dan keluarga datang memberikan penghormatan. Lalu peti tersebut ditempatkan diluar halaman, sementara orang-orang yang berkabung berjalan mendekat, memandang dan lewat di dekatnya dalam suatu aliaran manusia yang tak kunjung habis, tiap orang membungkuk menciumi peti tersebut dan mengucapkan sebuah doa atau memberikan ciuman penghormatan dari jarak jauh.

Ayah adalah orang terpandang dan dihormati, seorang guru agama, seorang Pir yang memiliki murid-murid sendiri, demikian pula beliau adalah seorang tuan tanah serta pedagang terkemuka. Penguburan almarhum sore itu sama-sama merupakan pusat perhatian masyarakat maupun keluarganya. Seribu orang berpartisipasi termasuk keluarga, anggota masyarakat perdagangan, wakil keagamaan dan banyak muridnya. Penguburan ini merupakan penguburan bagi seorang tokoh. Sebagai keluarga Sayed, kami mempunyai bagian khusus tersedia di pekuburan kota dan disitulah ayah dibaringkan dalam sebuah mausoleum ditempat mana istrinya dimakamkan. Hanya para pria yang pergi kekuburan.

Maulvi memimpin pembacaan doa dan setiap orang sujud sambil menaikkan doanya. Kemudin peti diturunkan keliang lahat dan orang-orang yang berkabung menebarkan tanah diatasnya. Sebuah chader atau tangkai-tangkai bunga yang diikat bersamasama ditaruh diatasnya. Bagiku saya sudah beku dengan kedukaan, tidak bergerakgerak. Salima dan Sema sibuk masuk keluar diawasi bibi untuk memandikan saya dan menukar pakaianku, membawakan bagiku susu panas seraya mengurut-urut kepalaku untuk mengurangkan rasa-sakit. Samar-samar saya menyadari bahwa ada penjaga ditempatkan diluar pintu.

“Tidak, ia tidak mau menemui siap-siapa. Pada keadaan sekarang ini sebaiknya ia dibiarkan seorang diri”. Bahkan anggota keluargapun tidak diijinkan masuk kekamarku. Rupanya saya tertidur, karena begitu sadar, jam saya menunjukkan pukul 3 pagi dan saya berbaring tidak bergerak-gerak beberapa lama, mendengarkan bunyi-bunyi gemericik pelan menandakan bahwa para pelayan telah bangun bersiap-siap untuk hari pagi. Kami sedang mengalami suatu kejadian yang paling buruk dalam hidup kami, namun kehidupan sehari-hari harus tetap berlangsung.

Merupakan hal yang salah, dimana saya seorang yang lumpuh, tidak berguna dibiarkan hidup sedangkan beliau meninggal, pikirku. “Tuhan, saya tidak dapat hidup seperti ini yang mungkin masih 30 tahun lagi. Tolonglah bawa saya kepada ayahku. Kenapa Tuhan begitu jauh dan berdiam diri saja. Mungkin nenek-moyangku telah melakukan dosa besar. Mungkin Tuhan ingin melihat lebih banyak kesabaran dalam diriku…ya, tetapi kesabaran telah kumiliki, namun saya masih saja sakit. Jadi bagaimana? Menggantung diriku?. Dengan sebelah tangan saja, tidak mungkin kulakukan ini. Racun? Dimana saya dapat memperolehnya? Jika saja saya mendapatkan sebuah pisau ataupun gunting……..barang-barang ini disimpan terkunci.” Sewaktu pikiran ini datang, terdengar suatu suara lain menggantikannya.” Engkau tidak akan pernah bertemu dengan ayah atau ibumu di Surga jika engkau membunuh dirimu”.

Sebagai seorang sayed, secara otomatis saya mempunyai hak untuk masuk surga walalupun saya gagal menunaikan ke 5 rukun Islam, tapi membunuh diri dapat membatalkan hak itu. Mungkin sesudah ini saya tidak pernah disembuhkan. Perasaanku rasanya seperti diremas-remas, air mata mengalir tanpa terbendung lagi. Pada waktu itulah, dalam keadaan yang tidak mempunyai harapan untuk mendapatkan pertolongan apapun saya mulai berbicara kepada Tuhan, benar-benar berbicara kepadaNya, tidak sebagaimana yang selama ini saya lakukan dengan menggunakan serangkaian doa untuk mendekati Dia melalui suatu jalan keliling yang jauh. Tergerak oleh suatu kehampaan yang luar biasa menyelimuti diriku di dalam, saya menaikkan doaku seakan akan bercakap-cakap dengan seseorang yang benar-benar mengetahui akan keadaan dan keperluanku.

“Saya mau mati”, kataku. “Saya tidak lagi mau hidup dan itulah akhir segalanya”. Saya tidak dapat menjelaskannya tapi saya tahu bahwa seruanku didengar. Rasa-rasanya seakan-akan suatu kerudung yang selama ini menutupi diriku dengan sumber-sumber kedamaian telah diangkat. Sambil melilitkan syal disekelilingku lebih erat karena kedinginan, saya berbicara lebih tegas lagi dalam ungkapan doaku.

“Dosa besar apakah yang telah kulakukan sehingga Engkau membuatku hidup semacam ini?. isakku. “Tidak lama setelah lahir, Kau mengambil ibuku pergi dan kemudian Engkau membuatku lumpuh dan kini Engkau mengambil Ayahku pula. Katakanlah, kenapa Engkau menghukumku dengan sebegitu berat?”

Suasana begitu hening dan terdapat kesunyian yang mendalam sehingga saya dapat mendengarkan debaran jantungku.

“Aku tidak mengijinkan engkau mati, Aku akan memeliharamu agar hidup”

terdengar suara yang begitu pelan dan lembut laksana hembusan angin bertiup melewati saya rasanya.

Saya tahu ada suara yang berbicara menggunakan bahasaku dan datangnya begitu bebas-lepas, suatu cara yang bebas untuk mendekati Tuhan Yang Maha Tinggi, yang sampai saat itu rasanya Dia tidak memberikan suatu pertanda/indikasi bahwa Dia malah tahu bahwa saya ini hidup. Dengan ragu saya bertanya:

“Untuk maksud apa saya dibiarkan hidup? Saya seorang yang lumpuh. Waktu ayahku masih hidup saya dapat berbagi rasa mengenai segala sesuatu dengannya. Sekarang, setiap menit dari hidupku rasanya seperti seabad. Engkau telah membawa ayahku pergi dan meninggalkan saya tanpa harapan, tidak ada gunanya lagi hidup ini.”

Suara itu tedengar lagi, bersemangat namun pelan.

“Siapa yang mencelikkan mata orang buta dan siapa yang menyembuhkan orang sakit serta siapakah yang mentahirkan orang kusta dan siapa yang membangkitkan orang mati? Akulah Yesus (Isa), anak Maryam. Bacalah tentang Aku dalam Alquran di Sura Maryam..!!”

Saya tidak tahu berapa lama percakapan ini berlangsung – 5 menit?. Setengah jam?. Tiba-tiba azan pagi terdengar dari mesjid dan saya membuka mataku. Semuanya terlihat biasa saja di kamarku. Kenapa tidak ada orang yang datang membawakan air bagiku untuk membasuh diri? Kelihatannya saya diberi lowongan waktu damai dan sendirian, khusus bagi pertemuan yang aneh ini.

Pada hari itu beberapa hari kemudian, hampir saya dapat meyakinkan diriku bahwa saya telah bermimpi, yaitu ketika bersama-sama dengan kakak-kakak perempuanku dan anggota keluarga lainnya kami berziarah ke kuburan. Disana semuanya begitu tenang dan damai serta bunga-bunga segar yang telah diletakkan diatas gundukan tanah berwarna coklat. Namun dengan perasaan ngeri saya memandang kesana. Ayahku semasa hidupnya tidak mengijinkan sebutir abupun menyentuhnya, kini telah dikuburkan dibawah benda kotor itu. Keadaan semacam ini begitu mengerikan untuk direnungkan.

Ketika kembali dari kunjungan yang menyedihkan ini, kami mulai masuk ke masa 40 hari perkabungan. Selama masa ini Safdar dan Alim Shah akan mengabaikan pekerjaannya dan pada waktu itu orang-orang berdatangan baik dari jauh maupun dari dekat, yang penting atau sederhana mengunjungi kami sambil memberikan penghormatan mereka bagi kenangan ayah kami. Tidak diperbolehkan menyalakan api untuk memasak dalam rumah kami. Diharapkan bahwa kami dapat menggunakan seluruh waktu itu untuk mengenangkan almarhum serta mempercakapkan tentang beliau dengan semua tamu yang datang. Para pengunjung kami duduk di lantai menunjukkan rasa hormatnya dan membicarakan hal-hal yang baik yang telah dilakukan almarhum dan dengan demikian menghormati kenangannya serta menghibur keluarga. Hal ini merupakan suatu kebiasaan yang baik, memungkinkan kesedihan tersalurkan sebaik-baiknya dan membawa bantuan dari masyarakat bagi keluarga yang kehilangan orang yang dikasihinya.

Waktu kami kembali dari kuburan, dengan suatu keadaan tertekan yang mendalam, terjadi sesuatu yang aneh. Salah seorang pembantu wanita tiba-tiba berteriak seraya menunjuk-nunjuk kearah sebuah kursi, “Saya melihat beliau sedang duduk di sana” teriaknya. Tidak ada seorangpun yang kaget mendengarnya. Perasaan bahwa almarhum masih hadir, tidak dengan serta merta meninggalkan rumah kami dan dalam hal semacam ayahku, kami belum percaya benar bahwa beliau telah pergi. Rasanya beliau seakan-akan baru saja melangkah keluar memberikan beberapa perintah kepada tukang kebun dan sesudah itu masuk kembali. Saya memandang pembantu wanita tadi serta berpikir dengan heran, kenapa justru dia yang melihat ayahku.

Bibi masuk kekamar tidurku dan duduk menemaniku sebentar, memijat kepalaku untuk mengurangi rasa-sakit kepala yang disebabkan karena banyak menangis. “Pamanmu dan saya akan menjagamu sebagimana layaknya ayah dan ibumu. Pandanglah kami seperti itu dan cobalah menerima kehilangan ini sebagai takdir dari Tuhan. Dia telah membawa ayahmu ke surga”.

Ketika bibi telah pergi untuk melakukan sesuatu pekerjaan, saya teringat akan kejadian tadi pagi, saya meminta Alquran berbahasa Arab dan mulai membaca Sura Maryam. Namun sulit bagiku membacanya dalam bahasa Arab untuk mengerti sepenuhnya walalupun irama pengucapan ayat-ayatnya yang mengalun memudahkan untuk dihafal. Pada saat itu timbul suatu pemikiran yang berani dibenakku. Kenapa saya tidak membaca dalam bahasaku sendiri? Saya menulis sebuah nota untuk Salima dan kuberikan padanya ketika ia datang untuk mengganti pakaianku.

Tolong berikan pada si pembawa, terjemahan Alquran terbaik dalam bahasa Urdu, demikian isi notaku, “bawa nota ini ketoko buku dan tanyakan terjemahan Alquran bahasa Urdu terbitan perusahaan Taj” kataku. Mintalah uang pada bibi. Dengan hormat Salima mengangguk dan berjalan keluar. Dua jam kemudian ia muncul kembali dengan buku terbungkus surat kabar. “Bagus”,kataku. “Sekarang pergilah dan buatkan sampul untuk buku itu”.

Malam itu ketika seisi rumah telah sunyi sepi, saya membuka sampul sutera hijau serta mengeluarkan Alquran bahasa Urdu tersebut. Saya memegang Kitab itu sebentar ditanganku. Begitu inginnya saya mendengar kembali suara itu yang memberi kepastian bahwa doaku didengar dan bahwa ada jalan kepada kesembuhan dan pengharapan. Secara naluri saya ketahui bahwa cara untuk dapat mendengarkannya lagi yaitu dengan mematuhi tata-cara membacanya. Karena itu dengan penuh rasa ingin tahu dan sedih, tanpa terbetik sedikitpun tentang pemikiran bahwa betapa pentingnya langkah yang kuambil ini. Saya mengucapkan “Bismillah”, membuka Kitab itu dan mulai membaca:

“Malaekat berkata kepada Maryam :”Allah menyampaikan padamu sukacita dalam suatu Firman daripadaNya. Namanya ialah Mesias, Isa anak Maryam. Budinya tinggi baik didunia maupun diakhirat dan Dia akan disenangi Allah. Dia akan mengajar orang waktu ditempat pembuaiannya serta selama mudanya dan akan memimpin kepada suatu kehidupan yang benar……”.

Pada hari ke-3 setelah ayah meninggal, Safdar Shah datang sebagai kepala Keluarga Salah satu sorban ayah dikenakan dikepalanya dalam sebuah upacara oleh 2 orang paman – dan sejak itu ia bergelar Pir dan Shah dalam keluarga kami. Ia diharapkan dapat menjawab pertanyaan keagamaan. Ia akan menjadi seorang Pir yang baik. Beberapa yang menyandang gelar itu tidak berpendidikan dan percaya tahyul.

Selama 40 hari rumah perkabungan penuh dengan para tetangga, pengunjung dan murid-murid serta para istri mereka. Mereka datang melayani kami, berlaku baik, membersihkan rumah dan menjamu para pengunjung lainnya dengan makanan. Mereka juga membawa pakaian bagi keluarga dimana dengan rasa hormat, kami diharuskan mengenakannya. “Pakaian-pakaian ini adalah pakaian kematian, bukan kehidupan. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan kematiannya,” kata Anis Bibi sambil menarik-narik baju Shalvar kameeze-nya dengan perasaan tidak enak. Masa perkabungan diakhiri dengan 2 kegiatan. Kubur disemen dan sebuah batu Nisan diteggakkan disana. Tiap orang diundang ke perjamuan tradisional mengakhiri perkabungan itu yang dikenal dengan nama “chalisvanh”. Sebuah tenda besar didirikan dan sebuah toko setempat diserahi mengurus makanan. Mereka menempatkan tungku-tungku masak dan mengisi 150 periuk besar dengan beras. Pilau kacang ercis dicampur daging ayam dihidangkan bersama nasi manis dan setiap orang duduk diatas “durree” ditanah dan dan makan dari piring-piring baja memakai tangannya.

Saya tidak menghadiri upacara ini karena saya benci menjadi pusat perhatian dan dikasihani karena keadaanku yang cacat, namun saya mendengarkan segala sesuatunya. Sekarang Safdar Shah harus kembali ke Lahore tapi sebelumnya Ia datang menjenguknya dan duduk dikursi yang selalu dipakai ayah, wajahnya kelihatan cemas. Ia memegang dokumen yang berkaitan dengan hartaku yang diwariskan ayah. Saya tahu apa yang hendak dikatakannya dan saya telah siap dengan jawabannya. Ia memulai, “Adikku yang kekasih, saya mau mengajakmu untuk datang dan tinggal bersama kami, tapi ternyata paman dan bibi ada disini menjagamu. Sebagaimana kau ketahui, ayah mewariskan bagian terbesar dari hartanya. Tentu saya saya tidak berkeberatan mengenai hal ini dari segi apa pun karena ayah begitu prihatin dengan keadaanmu dan beliau khusus memikirkan untuk kesenangan serta kebaikanmu. Tapi karena kau adalah seorang wanita yang kaya, engkau boleh memilih tinggal dimanapun yang kau inginkan, termasuk di Lahore.

Saya menyela,” Terima kasih Kakakku, tapi saya tidak akan meninggalkan rumah ini, tempat saya dibesarkan. Saya tidak mau ke Lahore.” Kakakku memandangku dengan teliti. Apakah cukup baik bagimu untuk tetap disini mengenang-ngenang? Dapat juga saya mengenangkan di Lahore. Disini saya sudah terbiasa dengan segala sesuatu kataku. Saya tidak menambahkan alasan lainnya – bahwa hanya disini dalam suasana tenang dan kesendirian, saya dapat meneruskan usaha pencarianku dalam Alquran tentang Nabi dan Penyembuh, Isa (Yesus).

Baiklah, jika demikian yang kau rasakan, jadilah kata Safdar Shah. Rasanya Ia terlihat lega. Saya kira sudah tiba waktunya kita untuk mematuhi wasiat ayah mengenai pengelolaan keuangan. Diatur bahwa Safdar Shah yang menyimpan uang di Bank di Lahore darimana saya dapat mengambilnya. Sebagai kepala keluarga, saya akan menanda-tangani chek terhadap Muslim Commercial Bank tiap bulan untuk biaya hidup kami. Uang akan kuserahkan kepada paman untuk mengelola urusan rumahtangga. Kakakku Safdar Shah akan mengunjungi kami 2 kali dalam sebulan guna memeriksa rekening. Saya tahu segala sesuatu akan beres kata Safdar Shah. Ayah kita mewariskan banyak harta bagi keleluasaanmu selama beliau masih hidup. Jadi, hal ini diurus sampai kakakku merasa puas kemudian ia meninggalkan kami.

Mereka semua telah pergi, satu demi satu meninggalkan saya menghadapi suatu eksistensi yang suram tanpa adanya teman atau sahabat dekat bagiku untuk berbagi kesunyianku, walaupun saya bukannya tidak ditemani. Sebegitu kakaku pergi, bibi datang kekamarku : “Engkau sangat beruntung memiliki sebegitu banyak harta sebagai hakmu katanya. Waktu saya masih seumurmu, orang-orang berpikir bahwa tidak pantas bagi seorang wanita untuk mngetahui begitu banyak hal mengenai perdagangan……, tapi ayahmu (semoga kenangan padanya diberkati) telah memperlakukanmu sama halnya seperti anak lelakinya.” Ia keluar lagi dan begitu kesunyian menyelimutiku, saya membuka Alquran bahasa Urdu dan membaca kembali bagian Sura Imran yang kini telah menjadi pusat perhatianku yang sungguh-sungguh;

“Dengan Kehendak Allah saya mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan penyakit kusta dan membangkitkan orang mati”. Ada begitu banyak hal yang tidak kumengerti.

Banyak ahli yang pandai memcoba memberi tafsiran mereka tentang Nabi Isa (Yesus) sebagaimana yang difirmankan dalam Sura Imran ini : yaitu seorang makhluk yang dijadikan dari debu seperti Nabi Adam, namun seseorang yang dengan Kuasa Allah mengadakan semua mujizat ini. Saya tidak sangsi sedikitpun bahwa Nabi ini penting, tapi siapakah Nabi ini yang mengetahui tentang kebutuhanku dan dapat berbicara padaku dari atas surga seolah-olah Dia hidup? Saya kehilangan sahabatku yang sangat kucintai dan di hadapanku terbentang suatu kehidupan yang hampa. Namun, sebuah benih telah ditanam dan tumbuh didalam hatiku untuk mencari dan menimbulkan rahasia tentang Nabi yang misterius ini yang terselubung di dalam halaman-halaman Alquran yang suci.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: