The Torn Veil – Bab 6 Mobil Ayah

Bab 6. Mobil Ayah

Setelah kematian ayah, mobilnya, Mercedez Benz berwarna biru diparkir di garasi, dibungkus dengan kain hitam, menjadi peringatan bagi kami terhadap seseorang yang telah mengisi kehidupan kami dengan kebahagiaan, kini telah pergi laksana matahari yang bersinar dari langit yang cerah meninggalkan kami menjadi sejuk dan kedinginan. Mobil tersebut menandakan bahwa pemiliknya seorang yang kaya. Keberangkatan ayah tiap pagi dengan mobil ini untuk bekerja telah merupakan bagian dari tata-cara hidup kami. Mobilnya sendiri sudah cukup bagus, namun hadirnya ayah didalamnya menambahkan keagungan tersendiri. Waktu beliau duduk si sebelah sopirnya; Majid, mengenakan ikat kepalanya yang seakan-akan mengatakan betapa bangga perasaannya mengantar seorang majikan seperti itu. Kami anak-anaknya juga merasa bangga ketika kami dibawa kemana-mana dengan mobil ayah. Putera-puteranya ke sekolah atau mesjid bersamanya dan saya pergi bersama ayah sewaktu beliau mencari-cari pengobatan untuk penyakitku. Kadang-kadang beliau meluangkan waktu mengadakan perjalanan melihat-lihat pemandangan ketika saya dibawanya keluar dari kamar yang sunyi keluar kejalanan menuju Lahore mengunjungi sanak keluarga kami.

Kini, mobilnya diam tak bergerak-gerak. Tidak ada seorangpun yang mau mengendarainya termasuk kakakku Safdar Shah. Secara teratur Majid membuka tutup kainnya, membersihkan badan mobil berwarna biru juga perlengkapannya yang terbuat dari bahan chrome sampai semuanya menjadi mengkilat laksana kaca. Ia menggosok dashboard yang terbuat dari papan jati dan melapiskan lilin pada alas tempat duduk dari kulit sehingga terpancar bau kemewahan. Dengan cara serupa itu ia membersihkan mesin serta menaruh gemuk pada setiap bagian yang bergerak, memasang dongkrak dibawahnya sedemikian rupa sehingga mobil itu tidak bertumpu lagi diatas roda-rodanya. Sambil berkata Majib berbicara pelan sekan-akan ditujukan ke mobil itu. Para pelayan wanita melaporkannya padaku sambil cekikikan. “Nona perlu mendengarkan si Majid. Ia kurang waras. kepada mobil ia berkata :’Engkau tidak mati’ “. Saya mendengar mereka :“Tenanglah, anda jangan mentertawakan hal-hal semacam itu”. Perasaanku tidak enak. Jangan-jangan ayah dapat mendengar, lalu beliau dapat muncul dari bayangan-bayangan sekitar bungalow seperti keremangan senja menyusup masuk dan memberi perintah agar mobilnya disiapkan, kemudian mengendarai seolah-olah tidak ada apa-apa yang telah terjadi. Seakan-akan membenarkan kemungkinan ini, tiba-tiba seorang pelayan wanita datang berlari-lari kepadaku menceritakan bahwa ia melihat ayah berjalan di dalam rumah. “Apakah beliau berbicara kepadamu?” tanyaku. Ia menggeleng. “Tidak Bibi-Ji.” Beliau tidak memandang kepada saya tapi langsung lewat pintu itu. Ketika itu melihat kedalamnya tidak ada orang, kamar itu kosong.

Saya tidak memarahinya karena telah berhayal berlebih-lebihan, tetapi merasa heran kenapa justru bukan saya yang berkesempatan melihat wajah yang sangat kucintai itu. Namun, mobil itu merupakan simbol dari status diriku yang tidak mempunyai arti lagi. Apakah mobil itu harus tetap ditempatkan dalam garasi selamanya – merupakan gema dari hari-hari yang telah berlalu? Apakah saya akan tinggal disini tanpa memiliki kemampuan, hidup dalam kenangan-kenangan dalam sepanjang sisa umur hidupku.

Kakak-kakaku telah menjalani kehidupannya masing-masing dan walaupun mereka setia memenuhi perintah ayah, saya tidak mau memiliki perasaan bahwa saya menjadi beban dan kekuatiran bagi mereka. Kesuramanku terlihat oleh kakak-kakak perempuanku, pada suatu hari Samina menanyakan hal ini padaku, adikku, apa yang merisaukan pikiranmu dan membuatmu begitu sedih? Ketika kuceritakan padanya ia berkata kau tidak pernah menjadi beban bagi kami, kami sangat mencitaimu. Jadi kalau datang suasana kelam seperti itu, saya mencoba menghibur diriku terhadapnya sedapat mungkin. “Lihat Gulshan, engkau sangat beruntung mempunyai keluarga seperti ini. Dapat saja kau miskin seperti halnya salah seorang pembantu kita. Kau dapat saja mempunyai seorang ayah yang tidak mencintaimu begitu pula kakak-kakak dan tidak memperdulikanmu, engkau cukup terpelajar, mempunyai atap tempat bernaung dan ayah telah mengatur sehingga semua kebutuhanmu terpenuhi. Sekarang manfaatkanlah situasimu sebaik baiknya, kenangkanlah hari-hari sewaktu di Mekah ketika engkau begitu dekat dengan Allah dan Nabinya. Ingatlah kata-kata ayah bahwa Allah akan menyembuhkan engkau dan jika itu belum lagi cukup bagimu, ingatlah tentang suara yang kau dengar didalam kamar ini yang memberitahukan kepadamu tentang Nabi Isa si Penyembuh itu. Ketika kupertimbangkan semua, telah cukup rasanya kekuatan untuk menarik saya keluar dari keputusasaan. Setiap hari saya melatih diri mensyukuri berkat-berkat bagiku, melepaskn beban yang menindih satu demi satu sehingga rohku dapat bagkit namun dibawahnya mengalir ketakutan yang sudah berakar – mungkin saya tidak akan pernah dapat disembuhkan.

Saya melaksanakan sembahyangku malah lebih tekun lagi dibandingkan sebelum ini.

Hari-hari saya lalui dengan suatu pola yang tetap, diatur dengan 5 waktu sembahyang, saya bangun jam 3.00 setiap pagi dan membersihkan diri untuk fajar qe namaz sembahyang subuh, lalu membaca Alquran bahasa Arab sampai tiba waktu sarapan yang saya lakukan didalam kamar. Sesudah sarapan Salima dan Sema akan mengganti pakaianku lalu mengisi waktuku dengan membaca buku agama atau surat kabar, mendengar radio atau menulis surat untuk kakak-kakakku. Dan setelah itu makan siang. Menyusul waktu istirahat lalu sembahyang sore, Zohar qe namaz, sembahyang lohor. Waktu anak bibi pulang dari sekolah, saya dibawa kehalaman dengan kursi rodaku untuk melihat mereka bermain. Dua jam menjelang senja, tibalah waktu untuk ashar qe namaz sembahyang ashar, lalu kira-kira dua jam sesudah senja Magrib qe Namaz, sembahyang magrib, senja hari. Akhirnya, tibalah sembahyang malam dimana banyak hal-hal baik didoakan yaitu isha qe namaz.

Para wanita tidak diharuskan ke mesjid. Malahan kami melaksanakan ibadah sembahyang kami dengan tenang di rumah. Lebih baik saya tidak makan daripada saya menghentikan permohonan doa walaupun ibadah sembahyang ini saya lakukan tanpa sepenuhnya menyadari apa yang saya katakan. Pola-pola ini telah merupakan suatu keterikatan dengan ayahku, suatu pertanda bahwa saya; berpegang teguh pada iman kami. Beliau telah mengajarkan kepadaku bahwa jika saya setia, saya akan bertemu dengannya di surga, langsung sesudah kematian dimana saya akan memiliki tubuh baru. Semua wanita di surga akan menjadi muda dan cantik, begitulah ajaran yang saya terima namun, Nun jauh didalam relung-relung hatiku terdapat ketakutan yang lebih kelam dibawahnya dan sulit bagiku untuk berani menentangnya apalagi untuk dapat untuk mengungkapkannya kepada seseorang.

Tentunya Allah murka kepadaku dan karena itulah dia mengambil ayahku timbul ketakutan dalam diriku kepada Allah yang kami sembah ini. Ia tersembunyi dariku dibelakang sebuah tirai kegelapan dan tidak dikenal, tidak ada tanda daripadaNya yang dapat saya lihat dipermukaan kehidupan ini.

Dalam banyak hal, rumahku sudah merupakan sebuah surga di waktu itu. Letaknya diatas tanah yang hijau, subur, diairi oleh 5 sungai : Jhlem, Ravi, Indus, Chenab dengan bendungannya yang baru dan Saltaj serta kota kami merupakan suatu sumber air pendukung bagi kota Lahore.

Bagiku, rumah ini merupakan tempat bernaung dari dunia luas, penuh dengan matamata yang menatap juga pertanyan-pertanyaan yang memalukan tentang ketidakmampuanku. Tempat inipun merupakan tempat beristirahat dari suatu dunia yang penuh dengan kecelakaan, pembunuhan, kedalam dunia mana saya tidak pernah akan dapat kawin atau mencari nafkah.

Sambil mendengarkan siaran berita bahasa Urdu dari program BBC London dari surat-surat kabar maupun TV, saya mendengar tentang dunia diluar sana yang penuh dengan kesukaran dan dalam kedaan yang seperti ini betapa saya merindukan agar ayahku ada bersama-sama sehingga saya dapat membicarakan dengannya tentang apa yang saya dengar atau lihat. Begitu banyak hal tidak dapat saya pahami sepenuhnya dan saya telah kehilangan seseorang kepada siapa saya dapat memperoleh penjelasan dan pengajaran agar saya dapat membentuk pendapat-pendapatku.

Tentu saja masih banyak percakapan yang berlangsung dirumah paman saya membicarakan tentang pengelolaan rumah tangga dan perdagangan. Dengan Bibi saya berbicara tentang anak-anaknya, para pembantu, cuaca, bunga-bunga dihalaman, perkawinan dan penguburan dilingkungan keluarga serta teman-teman. aya berbicara dengan kakak-kakak perempuanku tentang anak-anaknya serta desasdesus pribadi dari hidup berkeluarga dan sesekali dunia secara umum. Begitu banyak kesulitan yang terjadi dibagian dunia yang lain. Disini di pakistan kita merasa damai. Negeri ini adalah “tanah suci” demikianlah pendapat mereka mengenai situasi dunia. Disamping semuanya secara teratur kulakukan ialah pembicaraan dengan para pebantu dengan Munshi, ketika ia datang ke pintu kamarku yang setengah terbuka sekali setiap bulan sambil menyampaikan laporan tentang pembiayaan yang dilaksanakan dan disimpannya dengan sangat hati-hati. Paman yang mendesak untuk menjalani prosedur ini. Uang adalah benda yang licin dan ada banyak lubang yang dapat menyebabkan lolosnya dalam rumah tangga kami. Beliau tidak mau dituduh sebagai seorang yang tidak bertanggung-jawab. Secara khusus saya berbicara dengan kedua pembantu wanitaku yang telah begitu lama bersama-sama denganku dan sangat mencintaiku sebagaimana juga halnya perasaanku terhadap mereka. Walaupun demikian mereka tidak menyadari tentang perubahan yang sangat rahasia yang terjadi dalam diriku selama 3 tahun ini sesudah ayah meninggal ketika saya mulai menguji tentang pendapat-pendapat yang sampai saat itu selalu kuterima saja tanpa bertanya-tanya. Dimalam hari sesudah anak-anak tidur serta paman dan bibi telah beristirahat di kamarnya, ketika rumah telah menjadi sunyi dan lengang sesudah bunyi azan (panggilan sembahyang) terakhir. Pada saat-saat seperti itulah saya cadangkan untuk membaca terjemahan Al-quran dalam bahasa Urdu. Bagian yang saya cari semua yang ada sangkut pautnya dengan Nabi Isa (Yesus). Namun yang kutemui malah membingungkanku. Jika Ia adalah seorang penyembuh yang begitu berkuasa, kenapa hanya begitu sedikit yang diceritrakan tentang Dia dalam Al-quran.

Pada suatu hari saya bertanya:“Bibi, apakah bibi mengetahui sesuatu tentang Nabi Isa itu”?. Bibi memegang ujung syalnya dan menaruhnya melewati pundaknya. Dengan tegas ia berkata seakan-akan mendeklamasikan kata-kata dari suatu pelajaran yang telah dipelajarinya dengan baik: “Ia adalah satu-satunya Nabi dalam Al-quran suci yang mencelikkan mata orang buta serta membangkitkan orang mati dan Ia akan datang lagi. Tapi saya tidak tahu dalam Surah yang mana hal ini ditulis.”

Waktu saya mecoba menunjukan Quran bahasa Urdu saya kepadanya, beliau menampik: “Kau seorang terpelajar. Kau dapat membacanya, tapi kami akan tetap berpegang pada pendapat kami sebagaimana yang dianjurkan Nabi Muhammad kepada kami,” katanya. Dari sini saya melihat bahwa sebenar-benarnya beliau tidak mau mebicarakan tentang hal ini tapi tentunya beliau telah menyebarkan cerita kepada anggota keluarga yang lain sebab Safdar Shah menanyakan kepadaku tentang hal ini dengan suatu cara yang bijaksana. Dua kali sebulan dia datang dan tinggal sehari dua hari untuk mengadakan pemeriksaan terhadap hal-hal yang menyangkut pengelolaan rumah serta menjengukku untuk mengetahui bagaimana keadaanku. Kakakku perempuan, Anis, tiap bulan berkunjung dan Samina sesering mungkin datang dari Rawalpindhi dan akan tinggal beberapa hari lamanya tidak ada seorang adik yang dapat perhatian sedemikian besar namun toh rasa begitu kesepian.

Safdar Shah mengambil Al-quran berbahas Urdu dan berkata: Saya merasa gembira karena kau tetap setia dengan agamamu, “Gulshan apakah kau tidak lagi membacanya dalam bahasa arab sebagaimana diajarkan ayah padamu?” Tidak, kataku, saya membaca kedua-duanya secara rutin, bahasa arab saya baca dipagi hari dan Urdu dimalam hari. Saya ingin lebih dapat mengerti tentang artinya, ia senang mendengarkan penjelasanku ini. “Bagus”, cukup baik bagimu untuk membaca keduaduanya tapi jangan sampai kau lupa sehingga tidak lagi membaca yang ditulis dalam bahasa arab, ia lalu meninggalkanku dengan kesan bahwa saya semakin dalam meyakini Iman Islam. “Dengan kehendak Allah, Saya mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit kusta dan membangkitkan orang mati”. Telah ber-tahun-tahun saya membaca Alquran suci dengan setia dan tekun serta bersembahyang dengan teratur, namun lama kelamaan saya merasa kehilangan akan semua harapan bahwa keadaan saya akan dapat berubah. Kini bagaimanapun saya mulai percaya mengenai apa yang tertulis mengenai Nabi Isa adalah benar bahwa Ia melakukan Mujizat-mujizat, Ia hidup dan Ia dapat menyembuhkanku.

“Oh Isa anak Mariam dalam Al-quran suci difirmankan bahwa Engkau membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang kusta serta melakukan mujizat-mujizat. Karena itu sembuhkan juga saya! “.

Sambil memanjat kan doa harapanku menjadi makin kuat. Aneh rasanya selama bertahun-tahun saya melakukan sembahyangku, belum pernah saya merasa yakin bahwa saya dapat disembuhkan. Tasbih yang saya bawa dari menunaikan ibadah haji saya ambil dan mengucapkan Bismillah sesudah setiap doa saya menambahkan “Oh Isa, anak Mariam, sembuhkanlah saya.” Berangsur-angsur caraku berdoa berubah sampai saya berulang kali berdoa antara waktu-waktu sembahyang dan pada setiap biji tasbih “Oh Isa, anak Mariam, sembuhkanlah saya”.

Semakin banyak saya berdoa semakin dekat rasanya saya ditarik ke arah pribadi bayangan yang urutannya No.2 dalam Al-quran dan memiliki Kuasa dimana Nabi Muhammad sendiri tidak menyatakan memilikinya.

Dimanakah ada tersurat bahwa Nabi lain menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati?. Jika saja saya dapat membicarakannya dengan seseorang keluhku namun tidak seorangpun yang ada.

Saya terus berdoa menurut cara ini kepada Nabi ini, Isa, sampai akan ada terang yang diberikan lagi padaku. Sebagaimana biasanya, jam 03.00 pagi saya sudah terbangun dan sedang duduk-duduk ditempat tidurku membacakan ayat-ayat yang telah kuhapal sambil mengucapkan ayat-ayat itu hatiku telah menaikkan serangkaian doa: ” Oh Isa anak Mariam, sembuhkanlah saya”. Lalu dengan tiba-tiba saya berhenti dengan lantang saya berkata agak keras sebagai cetusan perasaanku yang selama ini telah terdorong masuk kedalam pikiranku: “Saya telah melakukan hal ini sebegitu lama tapi toh masih saja lumpuh.” Saya dapat mendengar gerakan gerakan perlahan dari seseorang yang sedang bangun untuk mepersiapkan air sembahyang subuh. Tidak lama lagi Bibi akan masuk menjengukku. Walalupun saya telah mencetuskan pernyataan itu, namun pikiranku terpusatkan pada suatu kedaan yang mendesak terhadap permasalahanku “Kenapa saya belum juga disembuhkan, walalupun saya telah berdoa selama 3 tahun?. Lihat, Engkau hidup disurga, dan dalam Alquran difirmankan bahwa: Engkau yang telah menyembuhkan orang-orang, Engkau dapat menyembuhkan saya, tapi toh saya masih lumpuh sepeerti sediakala, kenapa tidak ada jawaban kecuali keheningan yang membatu di dalam kamar yang mengolokolokan doaku.” Saya menyebut lagi namanya dengan putus asa mengadukan masalahku. Masih tidak ada jawaban, kemudian sambil gemetar menahan kesakitan saya mengeluh ;

“JIKA ENGKAU SANGGUP, SEMBUHKANLAH SAYA – JIKA TIDAK KATAKANLAH!, SAYA TIDAK AKAN MELANJU\TKAN PERJALANAN MELALUI PERJALANAN INI LAGI!.”

Apa yang terjadi berikutnya merupakan suatu yang sulit bagiku untuk melukiskannya dengan kata-kata. Saya menyadari bahwa seluruh ruangan itu penuh dengan cahaya. Mula-mula saya mengira bahwa mungkin cahaya itu datang dari lampu baca disamping tempat tidurku, lalu kulihat bahwa cahaya lampu itu kabur, apakah itu sinar fajar. Masih terlalu pagi untuk itu.

Cahaya tersebut makin bertambah sinarnya makin terang sehingga melebih terangnya siang hari.

Saya menutup wajahku dengan syal, saya sangat ketakutan. Lalu terpikir olehku jangan-jangan, si tukang kebun menyalakan lampu diluar untuk menyoroti pepohonan. Kadang-kadang hal itu dilakukannya dengan maksud mencegah pencuri-pencuri ketika buah-buah mangga sedang masak atau untuk mengawasi penyiraman dikala sejuk malam.

Saya mengeluarkan wajahku dari syal untuk melihat-lihat. Tapi pintu-pintu dan jendela-jendela tertutup rapat dengan tirai-tirai dan alat penutupnya dengan baik,

kemudian saya menyadari kehadiran sosok-sosok tubuh yang mengenakan jubah panjang, berdiri ditengah-tengah cahaya itu beberapa meter jauhnya dari tempat tidurku. Ada 12 sosok tubuh disitu berbaris namun sosok tubuh di tengah yang ke-13 yang lebih besar dan lebih bercahaya dibandingkan dengan yang lain.

“Ya Allah”, teriakku dengan keringat mengalir di dahiku. Saya menundukkan kepala dan berdoa, “Ya Allah siapakah gerangan orang-orang ini dan dengan cara bagaimana mereka dapat memasuki kamarku sedangkan semua jendela dan pintu terkunci rapat?” Tiba-tiba suatu suara berkata : “Bangkitlah, inilah jalan yang telah engkau caricari. Akulah Isa (Yesus) anak Mariam, kepada siapa engkau telah berdoa dan kini Aku berdiri didepanmu. Berdirilah engkau dan datanglah kepadaKu”. Saya mulai menangis, “Oh Yesus, saya seorang yang lumpuh, saya tidak dapat berdiri.” Ia berkata, “Berdirilah dan datanglah kepadaKu, Akulah Yesus”. Ketika saya masih sangsi Ia mengatakannya untuk keduakalinya. Lalu, karena saya masih ragu-ragu Ia mengatakannya untuk ke-tiga kalinya, “BERDIRILAH !”.

Dan saya, Gulshan Fatima, yang telah lumpuh ditempat tidurku selama 19 tahun, merasakan kekuatan baru mengalir masuk kedalam tungkai-tungkai dan lengan-lenganku selama ini tidak berfungsi sama sekali. Saya menaruh kakiku kelantai dan berdiri kemudian saya mengambil beberapa langkah dan jatuh pada kaki dari visi tersebut. Saya sedang mandi didalam cahaya yang sangat murni dan sinarnya sama terang dengan gabungan cahaya matahari dan bulan. Cahaya itu mengalir masuk kedalam hatiku dan kedalam pikiranku, lalu banyak hal yang menjadi jelas bagiku pada saat itu juga.

Yesus menumpangkan tangannya keatas kepalaku dan saya melihat sebuah lobang ditangannya darimana sebuah sinar masuk memancar ke pakaianku sehingga bajuku yang berwarna hijau itu sampai berwarna putih. Ia bersabda: “Akulah Yesus. Akulah Immanuel, Akulah jalan kebenaran dan hidup, Aku hidup dan Aku akan datang segera. Lihatlah, mulai dari sekarang apa yang kau lihat haruslah kau saksikan kepada umatKu, UmatKU adalah umatmu dan Engkau harus tetap setia menyaksikan terhadap umatKU.”

Ia berkata: “Sekarang engkau harus menjaga agar jubah dan tubuhmu ini tidak bernoda. Kemanapun engkau pergi, Aku akan menyertaimu dan sejak hari ini hendaklah engaku berdoa demikian : Bapa kami yang ada dalam surga, dipermuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMU, jadilah kehendakMu dibumi seperti didalam surga, berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya tiap hari dan ampunilah kesalahan-kesalahan kami sebagaimana kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat, karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin”.

.
Ia menyuruh saya mengulang-ulang doa itu sampai benar-benar masuk tenggelam kedalam hati sanubariku. Doa itu dalam keindahannya yang sangat mendalam begitu berbeda dengan doa-doa yang telah saya pelajari untuk dipanjatkan, sejak masa kanak- kanakku sampai sekarang ini. Allah dipanggil, “Bapa”, itulah satu sebutan yang begitu erat menggengam di dalam dihatiku yang dapat mengisi kekosongannya. Saya ingin untuk dapat tetap tinggal disana, di kaki Yesus mengucapkan doa yang menyebut nama baru bagi Allah – “Bapa kami”, tetapi visi Yesus lebih lanjut mengatakan padaku : “Bacalah lebih lanjut dalam Al-Quran, Aku Hidup dan akan segera datang.” Hal ini telah diajarkan kepadaku dan mendengar ini timbul kepercayaan didalam diriku terhadap apa yang telah saya dengar, banyak lagi yang dikatakan Yesus. Saya begitu penuh dengan sukacita yang tidak dapat dilukiskan, saya melihat ke tangan dan ke kakiku, sudah ada daging disitu. Tanganku belum sempurna, namun begitu terasa ada kekuatan dan tidak lagi lunglai dan tidak berguna.

“Kenapa Engkau tidak sembuhkan saya sampai sempurna?” tanyaku. JawabanNYA datang dengan penuh kasih :”Aku mau kau menjadi SaksiKU”. Sosok-sosok tubuh itu lalu naik dari pandanganku, makin lama makin lenyap.

Saya berkeinginan agar Yesus tinggal lebih lama lagi. Lalu saya menangis tersedu-sedu, kemudian cahaya itu lenyap dan saya tinggal sendirian berdiri ditengah-tengah kamarku mengenakan sebuah jubah putih dan mataku terasa berat karena cahaya yang mempesonakan itu. Sekarang malah cahaya lampu yang ada disisi tempat tidurku rasanya menyakitkan mataku dan alis mataku terasa sangat berat menekan diatasnya, saya mencari-cari didalam laci sebuah rak yang diletakan rapat ke dinding. Didalamnya saya menemukan sepasang kaca mata hitam yang biasa kupakai di halaman. Saya mengenakannya dan dapat membuka mataku serta dapat melihat lebih enak, dengan berhati-hati saya menutup laci lalu berpaling dan memandang sekeliling kamarku. Sama saja keadaanku seperti ketika saya baru bangun tidur. Jam masih berdetik diatas meja disamping tempat tidurku menunjukkan waktu hampir jam 04.00 pagi. Pintu terkunci rapat begitu juga jendela-jendela dengan tirai-tirainya masih tertutup seluruhnya terhadap hawa dingin, bagaimanapun saya belum membayangkan tentang kejadian itu karena buktinya kumiliki didalam tubuhku. Saya melakukan beberapa langkah lalu beberapa lagi. Saya berjalan dari dinding ke dinding, keatas dan kebawah lagi. Tidak salah lagi, anggota-anggota tubuhku telah sehat sempurna pada sisi yang sebelumnya lumpuh.

Oh, betapa sukacita perasaanku. “Bapa !”. seruku. “Bapa kami yang disurga”. Ini merupakan sebuah ungkapan doa yang baru dan indah sekali. Tiba-tiba ketukan terdengar dipintu. Rupanya Bibi, “Gulshan,” katanya dengan tergesa-gesa, “Siapa yang ada dikamarmu ber-jalan-jalan”. ‘Saya sendiri, Bibi’. Terdengar satu tarikan nafas yang pendek, lalu bibiku berseru lagi, ‘Oh, itu tidak mungkin, tidak bisa terjadi. Bagaimana kau dapat berjalan!.Engkau berdusta padaku.’ “Baiklah, masuklah kemari dan lihatlah sendiri!. “ Pintu terbuka per-lahan-lahan dan dengan penuh ketakutan bibi melangkah masuk kedalam kamar. Beliau berdiri dengan tubuh menekan kedinding dalam ketakutan dan ketidak percayaan, matanya terbelalak dan menatap kewajahku yang justru berseri-seri. “Kau akan jatuh!” katanya. “Saya tidak akan jatuh”. Saya tertawa merasakan adanya kuasa dan kekuatan dari kehidupan baru yang menjalar melalui pembuluh-pembuluh darah saya. Bibiku melangkah maju perlahan-lahan kedepan, tangannya dibentangkan ke depan seperti seorang buta meraba-raba mencari jalannya. Ia mengangkat lengan bajuku dan melihat lenganku montok dan sehat seperti keadaan yang sekarang. Kemudian beliau meminta saya duduk ditempat tidur dan memandang kearah kakiku yang telah sempurna seperti kakiku yang sebelah lagi.

Aneh rasanya melihat engkau berdiri. Saya harus membiasakan diri untuk ini katanya. Beliau meminta padaku untuk menceritakan bagaimana kejadiannya tadi, kuceritrakan pada bibi dari permulaan pertama tentang ramalan ayah lalu suara dikamarku pada malam kematian ayah. Kemudian saya menceritrakan masa 3 tahun membaca tentang nabi Isa (Yesus) didalam Al-Quran diakhiri dengan pemunculanNYA padaku dan kesembuhanku. Waktu tiba pada cerita tentang Yesus yang berkata agar saya menjadi saksiNYA, bibi menyela dengan tidak ada umat Kristen di Pakistan sini untuk kau pergi menyaksikannya dan tidak perlu bagimu untuk pergi ke Amerika atau Inggris. Kesaksianmu adalah memberi sedekah kepada orang miskin.

Pada waktu orang-orang akan datang meminta makanan ataupun uang padamu, itulah yang akan menjadi kesaksianmu.

Sampai saat itu saya belum lagi mempunyai kontak mengenai tugas yang diamanatkan Yesus padaku untuk pergi ke Inggris kah atapun ke Amerika.

Namun,  dengan kata-katanya yang masih nyata dan tetap: Apa yang telah engkau lihat dengan matamu sendiri, haruslah engkau saksikan kepada umatKu.

UmatKu adalah umatmu, maka sebuah ungkapan doa mulai terbentuk dalam pikiranku: Yesus, dimanakah umatMu?

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: