The Torn Veil – Bab 9 Baptisan

Bab 9. Baptisan

Pendeta Aslam Khan adalah seorang yang baik sekali, rasanya beliau dapat mengerti akan semua masalah yang sedang saya hadapi. Dalam waktu singkat beliau menjadi Aba-Ji (Ayah) bagiku. Ama-ji yaitu nyonya Aslam Khan dengan caranya sendiri juga seorang yang baik. Beliau keras pendiriannya, kurus, selalu sibuk dirumah dan mengharapkan agar saya juga sibuk. Ketika saya tiba, beliau menunjukkan padaku kamar tamu dengan tempat tidurnya yang sederhana dan segera teringat olehku tempat tidur (palungku dirumah dengan alas tali anyam-nya lebar serta dilengkapi dengan “gada” atau kasur katun lunak diatasnya. Katanya “Inilah kamarmu. Laci-laci untuk pakaianmu ada disini, kamar mandi disana. Ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan sebab begitu banyak tamu yang datang. Maafkan saya. Saya harus mengatur beberapa pekerjaan dengan para pembantuku. Apapun yang anda perlu mintalah kepada pembantuku.” Kemudian beliau berlalu.

Saya berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati pendeta dan nyonya Aslam Khan, tapi saya belum pernah melakukan sesuatu pekerjaan rumah-tangga sebelumnya, jadi saya begitu bodoh dan kikuk serta rasanya tidak senang bila mendapat kritikan terhadap kesalahan waktu melaksanakan tugas-tugas kecil yang diberikan padaku. Ketika tuan rumahku datang dibelakangku dan meraba-raba hiasan yang barusan saya bersihkan dari debu, saya merasa malu dan marah tapi perasaanku saya tekan didalam hati, bergejolak sehingga merusak suasana hari-hari permulaanku dirumah itu. Saya ingin berpaling padanya dan berkata, “Anda benar Ama-ji, saya tidak melaksanakan dengan benar, tapi ketahuilah bahwa sebelum kemari, saya belum pernah mengerjakan sesuatu pekerjaan apapun sendiri. Saya belum pernah mencuci piring, menyapu ruangan, mengatur tempat tidur, mencuci pakaianku, menyisir rambuntuku bahkan mengenakan pakaianku sendiri masih dibantu. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh banyaknya pembantu dirumahku, tapi karena saya terbaring ditempat tidur, tidak berdaya selama bertahun-tahun lamanya.”

Tapi maksud seperti itu TIDAK ku utarakan. Kedengarannya seolah-olah mencari-cari alasan dan yang buruk lagi ialah kalau di matanya terlihat perasaan bangga. Beliau dapat menjawab bahwa kini saya sudah sembuh oleh sebab itu seharusnya berusaha belajar atau bahwa sebenarnya saya sangat malas. Jadi, beberapa malam saya menahan diri, kurang tidur dan suatu bisikan mencemooh rasanya terdengar dalam ruangan yang gelap. “Belum terlambat” kata suara itu. “Kakak-kakakmu sedang menangis. Kenapa anda tidak kembali saja.”

Terlihat wajah-wajah paman dan bibi memandang padaku dengan sedih. Karena tidak dapat tidur, saya bangun merayap-rayap dalam kamar sampai pergumulan untuk mengenyahkan bisikan-bisikan itu menjadi sebegitu meningkat sehingga saya berseru kepada Yesus, “Saya telah menyerahkan diriku padaMU dan saya rasa bahwa saya berada pada jalan yang benar sebagaimana yang telah ENGKAU tunjukkan kepadaku. Mengapa wajah-wajah itu bermunculan mengejek saya?” Kemudian terdengar suatu suara yang tenang dan halus, “Aku selalu menyertaimu, mereka tidak dapat mencelakakanmu.” Lalu saya merasakan kedamaian, begitu kata-kata Yesus memenuhi pikiranku serta mengenyahkan bisikan-bisikan yang mengejekku.

Setelah kira-kira seminggu berlalu, kesulian-kesulitan itu mulai dapat kuatasi. Saya lebih aktif dibandingkan dengan waktu dirumah sendiri sehingga saya dapat tidur lelap dan rasanya tempat tidur “charpai” itu tidak keras lagi. Saya membaca sesuatu yang merubah sikapku seluruhnya dalam melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. “Lalu Ia berdiri dari meja makan, mengambil baju luarNYA dan menyandang sebuah handuk dibahuNYA. Setelah itu ia menuangkan air kedalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-muridNYA, mengeringkannya dengan handuk yang dililitkan sekeliling pinggangNYA. (Yoh. 13:4,5).” Hal seperti ini merupakan yang baru bagiku. Didepanku disini dipertunjukkan suatu contoh kerendahan hati dan pelayanan yang tidak pernah akan kulupakan, yang menyentuh sampai kelubuk hatiku yang terdalam dari perasaan keangkuhanku. Sambil melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadaku, saya bentangkan dihadapanku contoh dan teladan yang sempurna dari Yesus yang menjadi seorang pelayan bagiku. Kemudian rasanya tidak sulit bagiku untuk melayani orang lain bagiNYA.

Saya tinggal di rumah itu 5 minggu sebelum pembaptisanku. Waktu saya menanyakan kepada Pendeta Aslam Khan tentang pengunduran waktu itu, beliau berkata “Oh, saya harus mengurus beberapa hal.” Kemudian kuketahui bahwa beliau ingin mengawasi saya beberapa waktu untuk meyakinkan bahwa saya bersungguh-sungguh mau dibaptiskan.

Adalah suatu hal yang tidak baik, bila telah menempuh langkah ini kemudian mundur lagi daripadanya. Tapi saya bertambah gelisah karena takut dipergoki. Saya ingin tahu apakah keluargaku melakukan penyelidikan kepada Razia, jadi saya menulis surat kepadanya “Saya masih mempunyai beberapa transaksi dagang disini sebelum saya kembali, tolong jangan beritahukan keluargaku dimana saya berada. Dalam waktu secepatnya saya akan menerangkan semua ini kepadamu.” Kemudian kuketahui bahwa Razia dan ibunya benar-benar memegang janjinya dan berhasil menyembunyikan rahasiaku, walalupun hal ini menimbulkan banyak kesulitan pada mereka. Dengan perasaan girang kini dapat kuceritrakan bahwa ia telah menikah – seorang kawan yang setia, jujur yang pada waktu itu membelaku mati-matian walaupun tidak memahami akan apa yang sedang kulakukan. Selama menumpang dengan keluarga Pendeta dan Ibu Aslam Khan, saya mengikuti ibadah di Gereja Methodist Warris Road. Diantara jemaah itu saya menemukan suatu kemerdekaan yang tidak kuketahui sebelumnya dalam menjalankan ibadahku. Begitu banyak hal yang berbeda disini. Hal pertama kuperhatikan waktu masuk ialah dekorasi. Didalam tempat ibadah dulu dekorasinya abstrak murni ayat-ayat Al-Quran dengan ubin, kubah serta permadaninya bercorak-corak. Cahaya dan bayangannya juga dipakai untuk efeknya. Tidak terlihat olehku gambar manusia atau gambar Tuhan, karena bagaimanakah makhluk yang diciptakan dapat membayangkan Penciptanya. Disini terdapat kaca berwarna dijendela-jendela dengan sebuah gambar Yesus sedang berdoa, ada bunga-bunga diatas meja dan bunyi musik. Pada lengkungan dinding gereja bukan huruf-huruf lain yang tertulis melainkan Firman ini:”LIHATLAH AKU BERDIRI DIMUKA PINTU SAMBIL MENGETUK” .

Saya merenungkan Firman ini. Di Pakistan, bila orang mengetuk pintu atau gerbang dilakukan berkali-kali dan dengan keras, tetapi Yesus telah mengetuk kedalam hatiku dengan begitu lembut rasanya. Hal berikut yang ku perhatikan ialah cara yang indah sekali, dimana para keluarga dapat duduk bersama-sama – pria, wanita dan anak-anak. Orang-orang bujangan diikut-sertakan kedalam kumpulan kekeluargaan ini. Dirumah, biasanya hanya para pria yang dapat pergi kerumah ibadah. Para wanita melaksanakan ibadah sembahyangnya dirumah. Saya menyadari bahwa betapa sedikitnya pengajaran yang diterima bagian terbesar dari mereka, tapi dikatakan bahwa derajad wanita lebih rendah dari pria, walaupun ditekankan bahwa mereka haruslah diperlakukan dengan adil dan mempunyai hak yang sama. Para pria mewakili kaum perempuannya di mesjid. Betapa berbeda keadaannya dibandingkan dengan disini, dimana Allah berhubungan dengan masing-masing pribadi melalui Yesus, yang mati bagi setiap orang. Firman Tuhan dalam Alkitab berkata bahwa tidak ada perbedaan golongan (Yahudi atau Yunani), kelas (budak atau yang merdeka juga jenis kelamin pria atau wanita). Disini terjalin cara perlakuan sama derajad yang baru dan indah rasanya. Allah menerima ibadatku sama halnya dengan penerimaanNYA terhadap ibadat saudara-saudaraku seiman yang lain di dalam Kristus dan persekutuan bersama yang dinyatakan sebagai tubuh Kristus. Saya merasakan adanya tali pengikat yang tidak kelihatan ini menjalin dengan erat semua gereja secara bersama dalam persekutuan Kristen yang baru ini dalam doa yang dipanjatkan bagi orang-orang sakit dan tua serta bagi mereka yang mempunyai masalah/mengalami kesulitan. Hal ini saya rasakan ketika mereka menyambutku masuk kedalam persekutuannya. Lama kelamaan saya mulai merasakan seolah-olah persekutuan dalam gereja ini telah mengambil-alih tempat keluargaku yang kutigggalkan. Disini saya mempunyai banyak saudara lelaki dan wanita. Saya perhatikan bahwa khotbah pendeta berkisar pada hal-hal yang sederhana tapi menyangkut pokok-pokok yang amat mendalam yang diambil dari sebuah kitab yang begitu berarti bagiku. Melalui pengajaran-pengajarannya saya mendengar Tuhan Yesus berkata-kata, tidak secara langsung seperti yang dilakukanNYA kepadaku dikamarku, tapi dengan suatu cara dimana Alkitab diaplikasikan kedalam hidupku.

Saya juga memperhatikan bahwa pendeta itu berkhotbah seolah-olah mau meyakinkan kepada beberapa pendengarnya. Saya mulai menyadari bahwa beberapa orang yang menyebut dirinya “orang-orang Kristen” tidaklah memiliki niat yang sungguh-sungguh seperti saya. Saya telah dibesarkan disuatu lingkungan keluarga orthodoks yang ketat sejak lahirku dan mungkin tidak menyedari bahwa keadaan semacam ini juga terjadi pada orang-orang non-Kristen juga. Tuan rumahku telah mengingatkan saya agar tidak banyak berceritera tentang diriku. Bagaimanapun saya menceritakan sedikit tentang penyembuhanku dan pengalihan imanku, dan jemaat di gereja itu keheranan, “Apakah anda maksudkan bahwa Yesus menampakkan diriNYA kepadamu didalam kamarmu dan menyembuhkanmu?” Saya heran kenapa pengalaman seperti yang terjadi atas diriku itu jarang. Tentu saja Yesus dapat berkarya seperti yang dilakukanNYA padaku dalam setiap kehidupan umatNYA yang percaya. Apakah demikian? “Tergantung pada Imanmu” kata Aba-Ji ketika saya menanyakan hal ini padanya. Pernyataan ini kedengarannya berlaku secara umum. Disana saya melihat adanya suatu prinsip yang dilibatkan – bahwa iman merupakan kunci bagi kesinambungan pengalaman Kristiani yang indah ini, begitu pula kehidupan mujizat yang telah kualami. Saya berpikir kembali dan mengenang betapa imanku telah bertumbuh tanpa saya harapkan sejak kegagalan untuk mendapat kesembuhan di Mekkah. Iman ini telah datang seakan-akan suatu karunia, iman ini yang sanggup memindahkan gunung. Saya telah dibesarkan dalam keadaan tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Tangisan dan seruanku telah sampai kependengaran Allah yang tidak saya kenal, tetapi yang mengenal saya dan Dia telah mengisi hidupku. Dalam kesunyian malam, saya berikrar untuk tetap mempertahankan kekuatan imanku, tanpa memperdulikan rintangan apapun yang harus kuhadapi.

Akhirnya tibalah hari pembaptisanku, tanggal 23 April. Dilaksanakan dalam ruangan disebuah rumah dimana sebuah tanki air minum khusus ditempatkan bagi keperluan seperti ini. Bapak dan Ibu Major serta beberapa kawan kami berkumpul. Pendeta dari Warris road memimpin upacara tersebut yang berlangsung sederhana namun sempurna. Begitu saya dibenamkan kedalam tanki itu saya merasakan bahwa saya meninggalkan si Gulshan yang lama beserta dengan keinginannya yang lama dan muncul Gulshan yang baru, “dikuburkan bersama DIA didalam baptisan lalu bangkit kedalam pembaharuan hidup”. Para tua-tua yang hadir memberikan nama baru bagiku : Gulshan Esther. Saya membaca kemudian bahwa Esther adalah seorang saksi pada rajanya tentang umat Allah, orang Yahudi dan karena itu ia menghadapi bahaya. Rasanya, keadaan ini cocok dengan kasus yang terjadi padaku.

Sesudah pelayanan itu para wanita datang memberikan ciuman didahi dan para pria menjabat tanganku ketika mereka menyambutku masuk kedala gereja Kristus. Saya merasakan kehangatan aliran Kasih yang Kristiani yang sejati dari mereka. Setelah mereka pergi bapak Aslam Khan menanyakan bagaimana perasaanku :”Baik” jawabku,”tapi sekarang saya mau menyaksikan apa yang telah terjadi”. Beliau menganggukkan kepalanya. “Anda dapat memberikan kesaksian dengan perilakumu. Tidak perlu memberi kesaksian hanya dengan mulutmu.” Namun teringat olehku akan kata-kata Yesus padaku, “Engkau adalah saksiKU. Saksikanlah kepada umatKU”.

Saya memandang padanya, kepala menengadah seolah-olah menolak untuk dihalang-halangi. “Tapi saya merasakan bahwa Yesus menghendaki agar saya bersaksi. Bolehkah saya berbicara di gereja?”. “Saya rasa anda belum siap untuk itu. Anda harus menjadi saksi dirumah untuk dapat memenuhi panggilan ini. Allah akan menerimanya.”

Tapi beliau tidak mengenal tentang Gulshan Ester ini. Saya berkata: “Baik, jika saya tidak dapat bersaksi disini, saya harus pulang dan menyaksikan-nya kepada keluargaku. Bagaimanapun saya ingin melakukannya”.

Beliau kelihatannya benar-benar cemas mendengarnya, “Tidak, tindakanmu itu membahayakan dirimu. Mereka sama sekali tidak akan senang dengan pembaptisanmu dan mereka akan mencelakakan engkau”.

“Saya tidak percaya bahwa keluargaku akan melakukan sesuatu tindakan yang mencelakakan saya, namun saya tidak akan pergi sebelum waktu yang memungkinkan. Sebagai gantinya dapatkah bapak mengirim saya ke Sekolah Alkitab sehingga saya dapat belajar lebih banyak untuk bersaksi pada mereka?”

Cukup lama beliau menatapku dan saya bertanya-tanya apa gerangan yang dipikirkannya. Saya mulai merasa agak malu dengan caraku yang lancang memaksakan kehendakku. Saya masih muda dan memiliki perasaan menggelora ingin melakukan sesuatu tugas yang saya yakini telah diperuntukkan Allah bagiku, namun saya belum menyadari ketika itu betapa belum berpengalaman dan mentahnya diriku ini. Saya baru saja melangkah masuk memulai masa bakti ibadah (kehidupan rohani)-ku.

“Saya rasa hal inipun belum dapat kita lakukan” kata bapak Aslam Khan dengan tegas. “Anda masih muda sekali dalam iman ini, tapi jika anda harus mendapatkan sesuatu tugas Kristiani maka kami dapat mengirimkan anda untuk bekerja di ‘SUNRISE SCHOOL FOR THE BLIND (SUNRISE, SEKOLAH UNTUK ORANG BUTA)’ “

Beliau memberikan sedikit penjelaan tentang sekolah itu dan bagaimana mereka melayani anak-anak buta yang tidak dapat dididik dengan sistim normal. Beliau merasa bahwa ia dapat mencarikan pekerjaan bagiku disana sebagai salah seorang ibu pengasuh. Saya setuju dan sambil memikirkannya timbul perasaan gembira dihatiku. Saya telah menghadap kepala sekolahnya dan dalam waktu yang sangat singkat telah diatur bahwa beliau datang menjempuntuku dengan mobilnya. Ketika keesokan harinya kami mengendarai mobil melewati jembatan Old Ravi dengan air sungainya yang agak kotor lalu masuk ke halaman sekolah “Sunrise” yang berbentuk empat persegi, rasanya saya sedang melepaskan diri dari hidupku yang lampau. Mulai dari sekarang saya adalah manusia baru dengan nama baru dan mempunyai tujuan yang baru. Masa-masa yang saya lalui sebagai seorang ibu pengasuh di Sunrise school for the blind Lahore, menandakan suatu tahapan pertumbuhan. Dari keadaan tergantung pada orang lain, saya mendapatkan suatu perubahan yang drastis, tiba-tiba diserahi tanggung-jawab untuk mengasuh sekolompok anak-anak kecil yang buta dan harus melayani kebutuhan-kebutuah fisik mereka. Dalam suatu dunia yang sama sekali baru bagiku, saya harus belajar mengatasi permasalahan, berdiri diatas kaki sendiri. Hal ini bukanlah tugas yang mudah. Memang tidak gampang, tapi masih lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Bangunan berbatu bata merah yang kokoh ini telah mengalami banyak perubahan sejak dibangun oleh pendirinya, seorang India, Sir Ganga Ram sebagai sebuah rumah sakit kusta. Abunya ditempatkan di rumah di bagian dalam sebuah ‘ samedhi ‘ yang keadaaanyya sudah menyedihkan. Nona Fyson mengambil alih lembaga tersebut pada tahun 1958 dan merubahnya menjadi sekolah Kristen bagi orang – orang buta, dan beliau pensiun taun 1969. Saya mengenangnya dengan perasaan sedih yang mendalam. Bagiku bangunan ini merupakan bangunan yang terlindung untuk belajar hidup dalam dunia yang berada di luar kerudungku.

Sebagai suatu tanda pemutusan terhadap cara hidupku yang lama, saya memotong rambutku menjadi pendek dan menjahitkan dua baju putih yang saya pakai bersama ‘shalwar kameeze’ waktu ke luar. Di sini, dengan perasaan girang saya menerima upahku yang nyata – bukan dalam bentuk mata uang rupee karena gajiku hanya 40 rupee per bulan, tapi dalam curahan kasih sayang yang luhur dari anak-anak asuhanku yang masih kecil-kecil. Umur anak-anak di sekolah itu berkisar antara 5 – 16 tahun, separuh beragama Islam dan separuhnya beragama Kristen, dan mereka bekerja sama serta bermain bersama dengan sangat bahagia. Satu-satunya yang memisahkan mereka hanyalah pengajaran agama serta waktu pelaksanaan sembahyang.

Ada 40 anak dalam seksiku di sekolah itu. Tugasku ialah menjaga anak-anak lelaki yang lebih kecil, menemani mereka makan, menuntunnya waktu bermain di halaman sekolah dan tidur di asrama mereka. Saya juga bertugas mengurus pakaian-pakaian mereka dan beberapa kerja cuci – mencuci, membantu mereka muncici sendiri, mengatur tempat tidurnya dan mengawasi pelaksanaan sesuatu tugas yang belum dapat mereka kerjakan dengan baik ; mencuci piring-piringnya sesudah makan. Saya juga bertugas membersihkan jendela-jendela dan meja-meja. Di samping itu saya harus mengajarkan pelajaran Alkitab kepada anak-anak dan setiap dua minggu sekali saya mendapat giliran membawa mereka ke gereja.

Ada dua ibu pengasuh lagi, mereka bersaudara bersepupu, beraga Kristen. Mulanya bereka tidak ramah, hanya berbicara di antara mereka saja dan tidak menyapa saya walaupun kami sama-sama bekerja secara dekat serta menunjukan perasaan ketidaksenangannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Namun, sesudah beberapa hari mereka menjadi hangat terhadapku dan mulai membantuku menyelesaikan pekerjaan yang sukar bagiku serta menjadi penterjemah bagiku terhadap kepala sekolah yang hanya berbicara Inggris dan tidak berbicara bahasa Urdu.

Sekarang, jika mereka pergi mengambil pasta atau sabun di kantor Kepala Sekolah, mereka juga meminta bagianku. Mereka membantuku bila saya menemui kesulitan karena kemampuanku yang terbatas. Pekerjaan-pekerjaan itu lebih kasar dari apa yang biasa saya lakukan sebelum ini padahal tangan-tanganku halus. Pada minggu pertama, tanganku menjadi begitu berkeriput karena sabun yang kami gunakan ketika mencuci pakaian. Lalu sebelah tanganku melepuh waktu bekerja di dapur. Akhirnya sewaktu sedang membersihkan meja, tanganku terluka dan berdarah. Sangat tidak enak rasanya.

Rosina, salah seorang mereka, menemaniku menghadap Kepala Sekolah sebagai penterjemahku. Beliau sangat simpatik, namun sewaktu memberikan salep kepada Rosina untuk lukaku beliau berkata, “Saya tidak dapat melakukan sesuatu apaun untuk membebaskanmu dari tugas ini. Maafkan saya, tapi bila anda tidak dapat melaukannya maka anda terpaksa harus berhenti bekerja. Coba lihat, apakah kawan-kawanmu yang lain dapat membantumu.”

“Jangan kuatir, kami akan menolongmu,” kata Rosina menghiburku waktu kembali ke asrama dan saya memberikan senyuman terima kasih untuknya.

Kembali di kamaru saya mengeluhkan kesukaran-kesukaran kepada Sumber Penghiburanku yang tidak pernah mengecewakanku. Segera saya sadari, bahwa tanganku hanya terluka saja – itu pun mungkin karena keteledoranku sendiri – tangan – tangan Kristus telah dipakukan ke kayu salib untukku dan penderitaan-penderitaanku sama sekali tidak ada bandingannya dengan penderitaaNya.

Bagaimana pun secara tidak terlihat, saya sedang dan akan menghadapi perjuanganperjuangan yang lebih serius. Begitu tiba di Sunrise saya menelpon kakaku laki-laki yang lebih muda, Alm Shah. Kukatakan padanya, “Saya rasa kaka perlu tahu bahwa dengan sesungguh-sungguhnya saya telah menjadi seorang Kristen dan kini saya bekerja di sebuah sekolah untuk anak-anak yang buta di Lahore.” Terdengar sebuah tarikan napas panjang di ujung telepon itu, “Apa-apaan yang telah kau lakukan ini ?” kata Alim Shah, “Mari, pulanglah ke rumah dan lupakan semuanya ini.”

“Sekarang saya telah menemukan Jalan, Kebenaran dan Hidup, bagaimanakah saya dapat melupakan semua ini begitu saja ?”

Ia berkata, “Apakah kau sudah menjadi gila ? Jika kau tetap mengatakan hal semacam ini padaku maka pintu rumahku akan tertutup selamanya untukmu. Sepanjang yang menyangkut diriku, bagiku, kau sudah mati.”

“Baiklah, coba katakan kepadaku tentang hal ini : bagaimana saya dapat meninggalkan kebenaran dan kembali kepadamu? Saya tidak dapat melakukannya, betapa pun harganya !”

Nada suaranya kecut dan datar, “Baiklah, bila demikian pintu rumahku akan tertutup bagimu, kau sudah mati ! Saya tidak mau melihat mukamu lagi dan kaupun tidak akan melihat mukaku lagi!

Saya tersenyum karena pernyataan itu, “Baiklah, jika pintu rumahmu tertutup maka pintu rumah Bapaku di Surga terbuka untukku. Jika bagimu saya telah mati, hal itu karena saya telah mati di dalam Yesus Kristus, dan jika kakak pun mati di dalam Yesus Kristus maka kakak juga akan hidup dan kemudian kakak akan berjumpa denganku.” Ia menjawab dengan membantingkan gagang teleponnya.

Pada hari yang sama, saya menulis usrat untuk pamanku, mengatakan bahwa saya telah menjadi seorang Kristen dan telah dibaptiskan. Saya juga menulis untuk Safdar Shsh, mengatakan hal yang sama. Saya menunggu-nunggu untuk melihat apa reaksi yang akan mereka lakukan melalui suatu penantian yang cemas, dengan perasaan rindu akan pengertian mereka agar mau menerima saya sebagaimana keadaanku sekarang dan mengijinkan saya tinggal bersama mereka lagi. Tapi jauh di lubuk hatiku saya tahu bahwa keadaan ini kelihatannya tidak mungkin menjadi kenyataan. Mereka tidak akan pernah memberikan kemerdekaan padaku untuk beribadah sesuai dengan keinginanku bila saya pulang.

Selama ini saya tidak percaya terhadap seorang pun di sekolah itu. Hal ini sejalan dengan nasihat pendeta Aslam Khan. Saya berada dalam suatu posisi yang sulit, di mana begitu banyak tantangan sedang berkembang dan menunggu waktu ; dan pendeta yang baik hati itu benadr-benar khawatir terhadap keselamatanku serta orang-orang Kristen lainnya yang tersangkut denganku. Jadi ketika anak-anak menanyakan padaku tentang diriku, saya menghindar untuk menjawabnya secara langsung. Tapi ada banyak bahan yang dapat saya ceritakan pada mereka. Mereka senang mendengarkan bila saya menceritakan pada mereka tentang kisah-kisah Alkitab.

” Oh Ba-ji”, serunya kalau sudah tiba waktunya untuk tidur, “ceritakan satu cerita lagi.”

” Baiklah, hanya satu cerita lagi dan sesudahnya lampu akan dipadamkan. Lalu saya akan membacakan pada mereka cerita-cerita yang diajarkan Tuhan Yesus tentang 99 domba yang selamat di dalam kandangnya, sedangkan seekor lagi hilang di bukit-bukit. Saya ceritakan pada mereka tentang si anak bungsu yang memintakan semua harta warisan dari ayahnya lalu memboroskan semuanya sampai tidak ada seorang pun juga yang mau berkawan dengannya dan tidak orang tua yang mau mengambilnya sebagai menantu. Saya ceritakan juga tentang kisah yang ada di dalam Al Quran mengenai Abraham dan Ishak serta Ismail juga Sarah dan hagar. Umat Islam percaya bahwa Abraham ( yang dkenalnya sebagai nabi Ibrahim ) mempersiapkan anaknya Ismail untuk dikurbankan. Menurut Alkitab yang hendak dikurbankan ialah Ishak, yaitu anak perjanjian.

Di sekolah itu ada peraturan yang melarang untuk menonjolkan perbedaan pada ajaran agama ( warna agama ) apabila kami mengisahkan cerita Alkitab kepada anak-anak Islam, jadi saya patuh akan ketentuan ini. Saya menceritakan kedua versi tersebut pada mereka lalu bertanya, ” Mana yang benar ?” Tentu masing-masing kelompok akan berkata bahwa versi merekalah yang benar. Setidak-tidaknya, mereka mengetahui dari saya tentang kedua versi cerita itu.

Kami menyanyi bersama-sama. Saya mengajarkan nyanyian-nyanyian rohani serta koor-koor pada mereka dan semua anak ini menyukainya. Sebuah lagu yang paling digemari dan dinyanyikan dengan penuh semangat ialah :

” Nyanyikanlah kepadaku berulang-ulang, kata-kata kehidupan yang ajaib, biarlah saya dapat melihat lebih banyak lagi keindahannya, kata-kata kehidupan yang ajaib.”

Kira-kira sesudah jam 9 malam kegiatan harian kami berakhir lalu saya memperoleh waktu untuk membaca dan mempelajari Alkitab seorang diri. Setiap kali saya membukanya, saya menemukan hal yang sama terjadi : rasanya seakan-akan ada seorang penterjemah bagiku yang membantuku untuk mengerti. Jika saya bertanya pada diriku di suatu malam : ” apa artinya ini ?”, maka saya dapat memastikan bahwa sebelum beberapa hari berlalu saya telah dapat mengerti tentang hal tersebut. Kesadaran rohani sedang bertumbuh. Cara belajar semacam ini sama dengan apa yang saya dapatkan dari anak-anak yang buta itu. Mereka menghadapi semua rintangannya dengan sabar dan sukacita. Untuk itu saya mencintai mereka dan sambil mengawasi mereka, saya juga mendapatkan pelajaran-pelajaran. Mungkin saya begitu memahami situasi mereka karena sewaktu memperhatikan mereka bermain-main saya merasa bahwa sayu pun buta terhadap Kasih Allah, sekarang saya sudah dapat melihat.

Lalu rekasi dari keluargaku datang. Saya menerima sepucuk surat dari Safdar Shah. Saya telah menunggu-nunggu suratnya dengan perasaan takut. Sebagaimana biasa, ia memulai suratnya dengan kata-kata sopan dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengira untuk mendengar berita semacam itu dariku : ” Kau adalah adik perempuanku yang tercinta. Selama ini kau sangat mencintai Allah dan selama ini ayahku juga sangat mencintaimu dan kau banyak belajar tentang Islam dari beliau. Sebenarnya saya tidak perlu mengatakan hal ini kepadamu – kau paham tentang hal itu. Kau seharusnya tahu bahwa anak perempuan dari keluarga Sayed tidak diperbolehkan melakukan seperti apa yang kau lakukan sekarang. Kau harus kembali, adikku Alim Shah telah memberitahukan kepadaku bahwa kau telah memeluk agama Kristen dan percaya pada Yesus sebagai Anak Allah. Hal ini adalah suatu tindakan yang salah baik bagi keluarga maupun agama kita. Kusarankan padamu agar segera setelah membaca surat ini kau datang ke rumahku dan dengarlah nasihatku. Kau sendiri tahu bahwa saya memegang semua akte dari seluruh kekayaan/harta yang dimiliki atas namamu. Harta ini tidak dapat diberikan kepada seorang Kristen yang sebelumnya adalah seorang Sayed.” Ia menambahkan bahwa seluruh Pakistan telah mengetahui bahwa sekarang saya telah menjadi seorang Kristen dan karena itu tidak mempunyai hak atas harta ini. Surat itu ditutupnya,

“Jika kamu tidak meninggalkan Kekristenanmu maka saya tidak akan berdiam diri dan akan mengerahkan segala kemampuanku untuk menarikmu kembali. Agamaku memperkenankan saya untuk membunuh seorang adik perempuan yang telah murtad dan menjadi pemeluk agama lain.”

Saya terkenang akan bungalowku denga dindingnya yang bercat putih dan saya mau menangis. Apa yang saya hadapi ini tidak adil rasanya. Tapi sambil berdoa untuk keadaan ini saya menemukan Firman dalam Yohanes 14 :1-4 :

“Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu ada banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”

Kata-kata ini memberikan penghiburan bagiku. Untukku telah dijanjikan mendapat sebuah tempat tinggal di atas ( Surga ). Saya merobek surat itu dan membuangnya ke keranjang sampah. Lalu saya pergi berkumpul dengan yang lainnya. Ikut menyanyi bersama sambil menghayati kata-kata nyanyian : “Yesus Kawan yang Sejati.”

Tiga hari kemudian datang rekasi ketiga – sebuah surat dari pamanku, dari rumah. Panjangnya 10 halaman, ditulis di atas kertas blok note putih di dalam amplop biru. Di dalamnya beliau mengatakan bahwa mereka sangat rindu kepadaku, menyebutkan nama Salima dan Sema – “Siapa yang akan mereka layani sekarang ?” Berita ini cukup memukul perasaanku. Di dalam surat itu beliau meminta padaku untuk kembali ke rumah dengan kata-kata yang penuh dengan kasih sayang dan ditutup dengan: “Apakah anda telah menjadi kafir ? Kami berdoa semoga anda kembali lagi ke keislaman-mu dan ke rumahmu !”

Cahaya matahari menyinari anak-anak yang sedang bermain di rerumputan di tengah-tengah halaman asrama itu, tapi di tempat saya berdiri sambil memegang surat itu terasa adanya suatu bayangan ketakutan dan kebimbangan yang kelabu sedang menggenggamku dengan tangannya yang basah dan berkeringat. Saya melipat surat itu seraya berdoa, “Oh Tuhan Yesus, saya tidak pernah melakukan suatu kesalahan pun terhadap mereka, kenapa mereka memperlakukan saya sedemikian ?Kini saya benar-benar dikelilingi mereka, dapatkah Tuhan memberikan kepadaku, jawaban yang harus saya utarakan kepada mereka ?”

Ketika ada waktu tersedia bagiku untuk memikirkan hal itu lagi, saya melihat suatu sudut pandang yang berbeda sekarang. Mereka tidak mau memberikan harta milikku kepadaku, jadi setidak-tidaknya saya terbebas dari beban-beban yang disebabkan olehnya. Saya dapat membaktikan diriku untuk melayani di sekolah bagi orang-orang buta, pergi ke gereja serta beribadah. “Bukankah keadaan ini lebih baik bagiku bila dibandingkan dengan hidupku yang tanpa daya, tanpa guna yang kujalani selama ini, lumpuh di atas tempat tidurku ?” kataku kepada diriku sendiri. Sehari penuh saya berpikir dan berdoa untuk jawabanku dan ketika menjawabnya saya menjawabnya, saya menuliskannya di atas secarik kertas putih dari buku catatan :

Paman Yang Kekasih, Surat Paman telah saya terima dan saya menyadari akan semua yang telah paman utarakan. Dengan rasa hormat saya yang sedalam-dalamnya saya ingin menunjukan lima kenyataan :

Saya telah menemukan jalan yang adalah jalan lurus kepada Allah. Yesus berkata : “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9)”. Jika paman pergi ke suatu rumah manapun, paman tidak dapat masuk kecuali melalui pintunya. Ada satu pintu menuju kepada Allah dan pintu itu ialah Yesus. Siapapun yang tidak menerima jalan Kristus, tidak dapat mengetuk pada pintu itu. Para Nabi adalah penjaga-penjaganya (chowkedars).

Saya telah menemukan Kebenaran. “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa ? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? “

Saya telah menemukan Kehidupan. Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (Yoh 11:25) Saya telah menerima pengampunan atas dosa-dossaku.

Saya telah memperoleh kehidupan yang kekal. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.(Yoh 3:16)

Paman menyebut saya seorang kafir, marilah datang dan saksikanlah melalui kelima kenyataan yang telah saya temukan. Bila paman tidak dapat menunjukan sesuatu bukti tentang tuduhan ini, saya peringatkan untuk jangan menyebut saya seorang kafir.

Saya tidak menyinggung sama sekali tentang harta – benda atau hal-hal lainnya. Sejak saat itu sampai sekarang saya belum lagi mendapat jawaban atas suratku ini. Sesudah itu, selama beberapa bulan saya dibiarkan tanpa gangguan, tapi kemudian saya mengetahui bahwa beberapa minggu setelah menerima jawaban suratku, paman dan bibi mengemasi barang-barangnya, kabarnya pergi menuju Karachi dan meninggalkan rumah kami, ada yang mengatakan bahwa mereka pergi ke Iran karena mereka adalah penganut Muslim Shiah. Hal ini mereka lakukan karena merasa takut terhadap kemarahan Safdar Shah yang menuduh mereka sebagai penyebab, sehingga harus mempertanggung-jawabkan semua yang telah terjadi.

Kembali ke buku utama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, – Matius 28:19

%d blogger menyukai ini: